Feeds:
Tulisan
Komentar

“Dia Diantara”

-Special Song For Wedding of Uda Fanny and Uni Dwi @ 8 Nov 09-


Diantara semua keindahan

Yang ada didunia

Hanya sajalah Istri solehah

Yang paling mempesona


Diantara semua yang shalehah

Dialah yang terindah

Diantara semua yang terindah

Dialah yang paling mempesona


Diantara sang dewi

Semua Putri

Dialah yang paling menarik di hati


Diantara bidadari

Berwarna-warni

Dialah yang paling bertahta dihati


Diantara semuanya, dia teristimewa

Diantara yang ada, dialah yang terindah


Author : Ma’mun Salman

Singer : Ryan Alfian Noor

-Special Song For Wedding of Uda Fanny and Uni Dwi @ 8 Nov 09-

November Rain (2)

And this is only the story for longing of rain

Integrated in love and struggle

Boss present and began drizzling

In one sense of the beautiful inspiration

..

And now the sky smiles at me

In lines blush embarrassment

Implied message in the rain

Joy and sorrow recalled in livelihood

..

Rain in November that I’m waiting

Did you know, I miss you

Soon you’ll be aware

That I have been waiting for you at a limited time

..

Lonely, to make a big dream with you

At the place that we love almost

Where the fields are green

To see you once again, November Rain

..

By : Ryan Alfian Noor

November Rain (1)

November rain washed away my guilt
November rain washed away my pain
November rain – so tired I felt
November rain was not just any rain

Long I longed with deep torment
For so long my body waited
November rain, , , , Oh, sweet friend
November rain- slowly I faded.

November rain- I cried within
Steady and slowly, it kept on pouring
November rain, watered my skin
And deep inside, I heard my roaring.

November rain, it refused to quit
November rain kept on pouring
And alone outside, in the streets I wept-
dripping… dripping and falling.

By :Amy Phillip

Kekuatan Fokus

Setelah membaca setengah buku Outliers karangan Malcolm Gladwell, saya ingin sekali menulis artikel ini. Tulisan ini saya beri judul “Kekuatan Fokus”. Namun sebelum memulainya, saya ingin mengawali tulisan saya ini, dengan beberapa pertanyaan klasik yang mungkin sudah Anda tahu kebanyakan.

  • Pernahkah Anda tahu alasan mengapa hanya sedikit dari sekian banyak mahasiswa Indonesia yang memiliki puncak prestasi Internasional?
  • Pernahkah Anda tahu alasan mengapa banyak sekali mahasiswa MIT, Harvard, Cambridge, dan Universitas sekelasnya yang mampu memiliki puncak prestasi Internasional?
  • Kenalkah Anda dengan Nama Mark Zuckerberg, Bill Gates, Bill Joy, Steve Jobs, Robert OpenHeimmer, Sofwan Al Banna, Hasan Al Banna, Thariq Ramadhan, yang telah mengukir prestasi dunia mereka sejak duduk di bangku kuliah -bahkan beberapa dari mereka ada yang men-DO-kan diri mereka sendiri-?

Baiklah, ayo kita mulai sekarang. Waktu SD saya pernah belajar fisika tentang bab lensa. Masih terkenang dialam pikiran saya, waktu itu saya diajarkan bahwa sinar matahari yang dilewatkan pada sebuah lensa (waktu itu memakai LUP) akan dapat membakar kapas dan kertas. Ternyata rahasianya cukup sederhana. Sesuai dengan hukum alamnya, lensa itu hanya cukup mem”fokus”kan cahaya matahari yang melewatinya, sehingga terjadi akumulasi energi cahaya yang sangat besar kemudian diterima kapas atau kertas itu sebagai energi panas yang akhirnya mampu membakarnya. Sederhana bukan?

Mari kita analogikan konsep fokus lensa ini terhadap konsep fokus manusia. Kebanyakan dari manusia-manusia yang berhasil -bahkan sangat berhasil- di dunia ini karena memulai rangkaian hidupnya dengan sebuah fokus kerja. Fokus kerja mereka tidak dibangun dalam proses yang instan. Mereka telah membangunnya sejak lama, sehingga mampu menghasilkan sesuatu yang sangat luar biasa. Sama seperti konsep fokus lensa, ketika manusia mampu memfokuskan benak pikirannya terhadap sesuatu yang dicita-citakannya, maka akan terjadi sebuah akumulasi energi yang sangat luar biasa yang dapat menghasilkan suatu prestasi-prestasi yang jauh lebih dari yang dapat kita bayangkan.

Contoh mudahnya seperti ini. Jika Anda seorang siswa, pasti Anda semua pernah merasakan yang namanya ujian, ulangan, atau sejenisnya kan? apa yang Anda lakukan ketika menghadapi hari-hari menuju hal itu? saya rasa, kita semua kita pasti memiliki jawaban yang sama: belajar dengan keras dan cerdas. Suatu saat mungkin Anda lupa bahwa Anda sebenarnya kekurangan waktu tidur. Suatu saat mungkin Anda lupa bahwa Anda tidak mandi dalam satu hari itu. Dan mungkin juga, Anda bisa-bisa lupa bahwa sebenarnya Anda lupa untuk makan siang dan malam. Kekuatan fokus (yang belum terasah dengan baik) pada ujian membuat Anda melupakan segalanya. Sadar atau tidak, sebenarnya kini hanya ada satu kata didalam pikiran Anda yaitu fokus, fokus dan fokus. Mengapa Anda mampu melakukannya? Jawabannya adalah karena Anda telah memusatkan energi Anda pada satu tujuan dan Anda tidak ingin berpaling darinya. Dan ketika hari ujian itu tiba, maka Anda akan rasakan sendiri hikmah dari ke-fokus-an Anda. Anda dapat mengerjakan soal-soal dengan mudah dan mengerti karena Anda mengerti dan faham benar tentang masalah yang ada di kertas ujian itu.

Itu baru bagian yang sangat kecil dari kekuatan fokus dalam kehidupan kita sehari-hari. Sekarang, coba Anda bayangkan ketika kekuatan fokus ini mampu diaplikasikan dalam ruang lingkup yang lebih besar. Misalnya ketika Anda ingin meraih impian-impian Anda atau mencapai apa yang Anda inginkan. Maka tak salah ketika Soekarno hadir sebagai presiden pertama Republik Indonesia, karena beliau memfokuskan dirinya menjadi seorang pemimpin kharismatik dan orator ulung, serta mendirikan Partai Nasional Indonesia-nya. Maka tak salah ketika Muhammad Syahrir dijuluki sebagai seorang manusia “terpintar” Indonesia pada zamannya waktu itu. Maka tidak salah pula ketika Arifin Panigoro mampu menjadi seorang founding father dibangunnya perusahaan energi raksasa Indonesia yang dia beri nama MEDCO. Maka tak salah pula orang-orang yang saya sebutkan pada pertanyaan awal yang mengawali tulisan ini menjadi yang Mengapa mereka bisa melampaui manusia-manusia kebanyakan. Meminjam istilah Malcolm Gladwell didalam bukunya, mengapa mereka dapat menjadi outliers? Satu dari sekian banyak faktor, yang pasti mereka fokus pada masing-masing bidang yang mereka tekuni.

Sekarang mari kita berbicara pada dunia kita, dunia mahasiswa. Sudahkah kita fokus pada fungsi, peran dan posisi kita sebagai mahasiswa, atau lebih khususnya lagi saya tekankan pada “Mahasiswa Indonesia”. Mengapa saya membedakannya? karena sejarah kemahasiswaan Indonesia telah memberikan sebuah nuansa keunikan mahasiswa Indonesia dibanding sebagian besar mahasiswa dunia. Selain fungsinya sebagai manusia penuntut ilmu, mahasiswa Indonesia memiliki peran sebagai jembatan penghubung antara rakyat dan pemerintahnya, serta memiliki posisi pengawas gerak-gerik pemerintah. Akhirnya, dari sinilah bermula keorganisasian mahasiswa Indonesia yang memiliki unsur pendidikan politik. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya disajikan organisasi ekstrakulikuler berbasis hobi atau keprofesian saja didalam kampusnya.

Bagaimana cara mengukur kekuatan fokus kita dalam konteks dunia kampus? Jawaban ini tidak dapat dijawab dengan kuantitatif, namun dapat dijawab dengan kualitatif. Intensitas kekuatan fokus Anda dapat dinilai dari seberapa besar kontribusi yang telah Anda berikan untuk kampus Anda sebagai seorang akademisi, dan seberapa besar kontribusi yang telah Anda berikan pada organisasi yang Anda geluti. Tidak sedikit realita yang kita temukan, banyak mahasiswa yang aktif di banyak organisasi kemahasiswaan seperti Badan Eksekutif Mahasiswa, Unit Kegiatan Mahasiswa, atau Himpunan Jurusan, namun ia mengalami masalah dengan  nilai akademiknya. Tidak sedikit pula kita temukan, banyak pula mahasiswa Indonesia yang begitu getol dengan akademiknya secara kontinu bahkan dapat menuai prestasi keprofesiannya, namun melupakan pengembangan soft skillnya untuk mengikuti organisasi kemahasiswaan. Saya tidak ingin menghakimi hal itu salah atau benar. Itu semua pilihan. Namun jika saya boleh mengutip dan menggubah sedikit visi PPSDMS Nurul Fikri, seharusnya mahasiswa Indonesia yang ideal itu adalah mahasiswa yang memiliki jiwa spiritual yang komprehensif, integritas dan kredibilitas yang tinggi, berkepribadian matang, moderat, serta peduli terhadap bangsa dan negaranya. Artinya, sebagai mahasiswa kita memiliki dua fokus kerja yang saya sebut dengan Fokus Akademisi dan Fokus Aktivis.

Ketidakfokusan ini menyebabkan performa dan kancah mahasiswa Indonesia kurang terlihat dalam pergelutan dunia internasional. Sebenarnya ada, tapi masih sedikit. Terkadang mereka tidak bisa melakukan fokus akademisi sehingga dia tidak mampu berprestasi secara nyata di dunia kampusnya. Tapi terkadang mereka juga tidak bisa fokus aktivis sehingga kontribusi dia di organisasinya tidak terlihat. Bagaimanakah kunci dari semua permasalahan ini? Sebenarnya hal ini dapat diatasi jika seandainya Anda mampu 100% mengerjakan apa yang memang harus Anda kerjakan waktu itu. Pembahasan tentang 100% ini telah saya bahas pada tulisan saya yang lalu (silakan baca).

Sampai disini, mungkin akan timbul pertanyaan: Bisakah saya berfokus pada salah satu dari dua fokus tadi? sebenarnya, saya akan menjawabnya bisa. Tapi dengan sangat menyesal, saya harus memberitahukan kepada Anda bahwa pilihan Anda tadi akan berimbas pada kehidupan pasca kampus Anda. Anda akan mengalami disosilaisasi dengan rekan-rekan Anda nanti atau bisa jadi Anda malah kurang mahir dengan core competence di bidang Anda sendiri. Dengan perbedaan sistem pendidikan yang kita punya, sumber daya manusia Indonesia masih harus bekerja jauh lebih keras untuk mampu bersaing dan membangun negerinya sendiri ini.

Sebagai penutup dari tulisan ini, saya suka sekali mengutip pernyataan Malcolm Gladwell didalam bukunya Outliers yang berbunyi sebagai berikut:

“Dan yang lebih penting, orang-orang yang berada di puncak tidak hanya berlatih keras atau lebih keras dari orang lain. Mereka berlatih sangat jauh lebih keras.”

Baiklah, bekerja keras. Bekerja keras yang dibarengi dengan kekuatan fokus akan menciptakan sesuatu yang luar biasa, yang tidak akan pernah dapat bayangkan. Percayalah. Saya akan membuktikannya sebentar lagi.[]

Teruntuk Indonesia-ku

Tidak terasa kini kita telah sampai pada detik-detik dilantiknya Presiden Baru Indonesia beserta jajaran menteri-menterinya. Rasanya berita pesta demokrasi belum habis dengung dan dentingnya di telinga kita semua. Ada sebagian massa berpendapat bahwa pesta demokrasi Indonesia kali ini patut diacungi jempol karena tingkat keamanannya yang relatif terkendali. Namun tidak dapat dipungkiri, sebagian lainnya berpendapat bahwa pesta demokrasi Indonesia ini gagal karena adanya praktek permainan uang dan saling berkampanye hitam terhadap rival-rival politiknya. Tapi sudahlah, waktu itu sudah berlalu, biarkan itu menjadi pelajaran untuk kita semua untuk menjadi dewasa agar kita dapat mengembalikan jati diri bangsa kita sebagai bangsa yang besar dan heterogen in. Marilah kita sambut Wajah Baru Indonesia dengan penuh semangat membangun bangsa ini.

Namun bersamaan dengan peliknya suhu perpolitikan Indonesia, negeri ini kembali dirudung oleh berbagai bencana yang membuat ibu pertiwi menangis lagi. Gempa bumi kembali mengguncang meluluhlantakan sarana dan prasarana. Mulai dari gempa yang terjadi di Sumatra Barat hingga Ujung Kulon beberapa hari yang lalu, tampak menyimpan sebuah selipan pesan yang harus kita petik bersama hikmahnya. Mungkin ada hal salah yang telah kita lakukan sebagai ornamen bangsa ini, entah itu sebagai seorang pemimpin, sebagai seorang rakyat, atau bahkan sebagai seorang mahasiswa. Semuanya memiliki peran yang besar untuk mengembalikan senyum ibu pertiwi.

Ada tugas-tugas besar yang menanti kita semua dibalik peristiwa ini semua. Dari peristiwa detik-detik pelantikan pemimpin baru dan juga pembangunan kembali infrastruktur negara kita. Sekali lagi, ada tugas besar tersirat didalamnya. Dalam senandung syair-syiar lagunya berjudul “Badai Pasti Berlalu”, Chrisye telah memberikan pelajaran kita semua bahwa segala masa-masa sulit ini pasti ada akhirnya. Jadi tidak ada alasan untuk menyerah untuk terus mengasah kompetensi diri kita sebagai seorang mahasiswa untuk dapat berkarya secara nyata dalam kehidupan kampus maupun pasca kampus sampai bumi pertiwi ini tersenyum kembali.

Sebagai kalimat penutup, terkutip kata-kata Allah didalam kitab-Nya dalam Surah Al Baqarah ayat 286 sebagai motivasi kita bersama untuk jangan terus bersedih sekaligus untuk bersemangat untuk berkarya untuk negeri ini demi mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat, serta mendapatkan kebaikan dari Allah pencipta alam semesta. []


Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.

—–
Ryan Alfian Noor
Kepala Sektor Syiar dan Pelayanan Kampus GAMAIS ITB 2009

Manusia-Manusia Besar

Dalam dunia ini, terdapat dua jenis manusia yaitu : manusia besar dan manusia kecil. Ada manusia yang hidupnya penuh dengan kemewahan, namun nama mereka tidak pernah tercatat didalam lembar sejarah peradaban dunia ini karena mereka tidak pernah menghasilkan satu karya apapun untuk perkembangan peradaban ini.  Ada atau tidaknya mereka tidak ada artinya bagi kemajuan peradaban manusia. Inilah yang dimaksud dengan manusia kecil. Namun di belahan bumi lainnya, ada pula manusia yang hidupnya penuh dengan kesederhanaan, namun nama mereka tercatat dilembar sejarah peradaban dunia karena karya-karyanya yang sangat berharga untuk perkembangan peradaban manusia ini. Walaupun raganya telah mati, namun karyanya terus hidup bersemayam didalam kehidupan generasi-generasi setelahnya. Inilah yang dimaksud dengan manusia besar. Hal ini senada dengan yang dikatakan Sayyid Quthb, seorang pemikir besar Islam di era-1940 an, bahwa “Siapa yang hidup bagi dirinya, akan hidup sebagai manusia kecil dan mati sebagai manusia kecil. Siapa yang hidup bagi yang lain, maka ia akan hidup sebagai orang besar dan tak akan mati selamanya” Mari kita tinggalkan saja bagaimana rupa dan peran manusia-manusia kecil itu. Marilah kita berfokus pada lembaran-lembaran karya manusia-manusia besar saja..

Memang begitulah buku sejarah peradaban manusia. Pena-nya hanya bisa mencatat orang-orang yang mampu membawa perubahan besar untuk dunia ini. Sederet nama seperti Nabi Muhammad, Albert Einstein, Thomas Alva Edison, Muhammad Yunus, Nelson Mandela dan tokoh-tokoh besar lainnya telah tercatat didalam beberapa lembaran sejarah peradaban itu. Mereka sebenarnya sama dengan manusia-manusia kebanyakan, namun yang menjadikannya berbeda adalah kemauan mereka mendahulukan kepentingan orang banyak diatas kepentingan mereka sendiri. Mereka sadar bahwa ketika mereka memutuskan untuk menjadi manusia besar, mereka harus siap untuk kadang dicemoh orang sekitar karena pemikiran mereka yang sianggap paradoks dengan status quo didalam komunitasnya.

Nabi Muhammad dicemooh kaum mekah karena risalah suci yang dibawanya, Albert Einstein hampir dianggap idiot oleh ilmuwan-ilmuwan karena sejarah masa kecilnya, Thomas Alva Edison diejek karena penemuan-penemuannya yang belum berhasil saat itu, Muhammad Yunus giat berjuang keras membangun konsep Grameen Bank-nya saat dunia masih menutup mata dan telinga, Nelson Mandela yang memperjuangkan hak-hak rakyat kulit hitamnya terhadap kaum putih yang menjajah negerinya, dan kisah-kisah besar lainnya yang mewarnai kisah awal seorang manusia besar. Pada fase ini, para calon manusia besar diuji keyakinan dan keteguhan hatinya untuk memberikan kontribusi nyatanya untuk peradaban dunia. Mereka harus memberikan sebuah paradigma baru pada komunitas sekitarnya agar terjadi transendensi pola pikir yang baru yang loyal terhadap dirinya. Tidak sedikit calon manusia besar harus gugur di fase pertama ini karena keadaan sekitar telah mengalahkan keteguhan jiwanya. Namun tidak sedikit juga banyak calon manusia besar lainnya mengulang-ulang  kembali fase ini, seperti apa yang dialami Abraham Lincoln ketika dia berjuang menjadi orang nomor satu di negerinya.

Pada fase selanjutnya, calon manusia besar memiliki komunitas kecil untuk mendukung perjuangannya. Komunitas ini bertugas untuk memperjuangkan ide mereka agar penyebarannya meluas. Saat inilah transformasi masyarakat akan dimulai. Salah jika dikatakan, bahwa transformasi dilakukan oleh sejumlah besar orang, tetapi yang benar adalah transformasi selalu dimulai dari sejumlah kecil orang saja. Begitu pula hal yang terjadi pada tokoh-tokoh besar tadi. Nabi Muhammad telah mendapatkan komunitas kecil untuk membantu penyebaran risalahnya, Albert Einstein mulai membentuk komunitas ilmuwan kecil yang loyal kepadanya untuk membantu teori relativitasnya, Thomas Alva Edison bersama sahabat-sahabatnya mulai memasarkan barang temuan mereka hingga mendapatkan ribuan paten, Muhammad Iqbal bersama koleganya yang berhasil mendapatkan nobel perdamaian dan membuka perhatian dunia pada konsep Graamen Bank yang berhasil dilakukan di Bangladesh, serta Nelson Mandela yang menjadi orang terdepan kaum ras kulit hitam yang memperjuangkan hak-hak mereka di Afrika Selatan.

Pada fase ini, komunitas ini akan terlihat asing oleh orang kebanyakan akibat hal baru yang dibawakannya. Namun dari sinilah akumulasi kepercayaan masyarakat terbentuk karena ide dari calon manusia besar tadi mulai terbukti. Lambat-laun ide dari calon manusia besar ini akan diterima seutuhnya dengan mudah oleh komunitasnya. Mereka telah percaya bahwa manusia besar itu benar-benar memiliki sebuah keluhuran untuk mereka semua. Dan sejak itulah calon manusia besar telah berhasil mendapatkan ”gelar” sebagai manusia besar.

Berkaca pada problematika umat dunia saat ini, kehadiran manusia-manusia besar sangat dibutuhkan sebagai solusi atas problematika itu sendiri. Mulai dari problem keekonomian hingga problem kepemimpinan, kita semua butuh orang-orang besar. Mereka sangat dirindukan oleh umat manusia untuk menuliskan ide pada lembaran peradaban umat manusia. Setiap zaman pasti memiliki tantangan, namun bersamaan dengan itu pula akan lahir manusia-manusia besar yang akan menjawab tantangan itu dan menjadi pahlawan dizamannya.[]

8 Kata Yang Kunanti :

Riang
Suci
Terjaga
Cerdas
Terbuka
Senyum
Indah
Langit

Maybe, some people say that it is too hard to work in Service Company. With big and harsh risk in the job field in some of the most extreme environments, to provide oil companies with expert advice on which to base multi-billion dollar production decisions. Some others say that you must leave your family (your wife, your children, and others) in a long time because you must stay in the field to do your work, so they are choose to resign from this company in only for the short term.

But, sometimes you maybe read or hear that some people say that they have unforgettable experiences in the field, when they must work in the jungle and sleep with wild animal, when they must move to one country to other country to finish all of the demands of oil company, and the extremly sometimes they must works in war area. I think, maybe you can hear many other dangerous adventures which increase your adrenaline.

In several days ago, I read one of the service company’s magazine which told about their engineer’s lifes and their adventures when they work in the area. The magazine’s name is “Schlumberger Life”.  Now, I will share about the story and try to open your paradigm to see about service company’s life. Please enjoy it.

***diary

“Hi, I’m Eric Ayache. I’ve worked for Schlumberger for the past 13 years. The job has taken me to some pretty amazing places – many that are really extreme and tough to work in but that have allowed me to do things that I would never have been able to do in an ordinary job. My life with Schlumberger has been one continual experience . . . with the job and and my personal life just being different aspects of the same unfolding story. Here’s a snapshot of some of my adventures.”

AFRICA: MY FAVORITE CONTINENT ON EARTH
I started my Scmonkeyhlumberger life about thirteen years ago, when I joined Wireline. My first four years were spent in West and Southern Africa, working in remote areas of Congo, Angola, Gabon and South Africa. Having the opportunity to discover these countries, and many more while on days off, was an incredible experience. Often it was difficult to distinguish work from days off, watching from the deck of a supply boat humpback whales jump out of the water in pairs during the mating season, a pack of killer whales hunting down dolphins, or a huge, lone hammerhead shark circling the rig. I will never forget when I was sent to Gabon as second engineer on a remote well deep in the jungle. Discovering that I loved animals, the pilot of the four seater plane that took me from Congo to Gabon plunged down to fly just 100 meters above ground level, over surprised elephants and buffaloes in the savanna! This was to be one of many highlights of my time in Africa. After an additional six-hour ride in a dugout canoe on a river winding its way through the jungle, I finally reached the wellsite. Seeing the local hunters bursting out of the jungle carrying spears and freshly killed antelopes or boars to sell to the rig camp, while I was struggling on a hellish three-day logging job in pouring rain and ankle deep mud, was a great experience! And it was on that job I met a young Wireline pre-school trainee, Catherine Beneton, who has since become my wife. Thank you Schlumberger!

After two years of remote projects and exploration jobs in Angola, I started to move from country to country in the region, wherever exploration jobs or other needs arose. I could not believe my luck. While based in Cape Town, I had the opportunity to spend a weekend hunting with the pygmies in Cameroon, climb Pico Bioko in Malabo, go horse riding in the vineyards of Stellenbosch, and go cage diving with the great white sharks. Believe it or not, during these first three or four years, I honestly thought I should pay to do this job! Not only was the work exciting and challenging, I was constantly travelling around living a life of adventure; and on top of that, I was being paid.After almost four years on what has since become my favorite continent on earth, I had the desire to discover and work in other parts of the world, particularly the remote areas of the Middle Eastern deserts. Hence my transfer to Abu Dhabi, where I spent two months as a land engineer. There, while on week-long exploration loggings in the beautiful Bu Hasa field, I learned everything there is to learn about desert driving. But the infamous Abu Dhabi traffic jams finally took their toll, so I was delighted to be assigned to Masila in Yemen.

monkey

AH, YEMEN!
The land of the Queen of Sheba,  the ‘Arabia Felix’ of the Romans. The breathtaking and unique scenery in the Hadhramout; the hospitality of the bedus; the architecture of Shibam, Tarim; the Old Sana’a . . . driving to wellsites across the moon-like landscapes characteristic of the high plateaus of the Hadhramaut, I felt privileged and happy. During my two years in Yemen, I was fortunate to be able to get to know my surroundings and my neighbors quite well. I even spent five amazing weeks traversing the country from Sana’a to Mukalla, via Marib and the old sabean ruins of Shabwa – a fantastic journey through time, following the 4,000 year old incense trade route. From the sea port of Mukalla, I crossed over to Socotra, a fabulous ‘lost world’ of unique landscapes, endemic bird and plant species (like the amazing dragon blood tree), and a very special people born from a mixture of Arab, Indian and African traders who speak a unique language (Socotri). This is a place definitely worth a visit while it remains unspoiled. From Yemen, it was an easy jump to cross the Bab El Mendab to visit other extraordinary countries like Uganda and Ethiopia. Approaching on foot the mountain gorillas in the Virunga range; kayaking and rafting the Nile white water rapids below Victoria Lake; paddling around Lake Albert in search of the elusive dinosaur-like shoebill stork, and finding it; trekking in the Bale and Siemen Mountains of Ethiopia looking for the Abyssinian wolf, mountain nyala and gelada baboon – all endemic, rare species; bird watching along the little known Rift Valley Lakes of remote southern Ethiopia . . .

SVALBARD CALLING

Despite all these adventures, and a very challenging job as fiel service manager at the Masila base, my thoughts turned more and more to Svalbard. I had been there three years earlier to participate in a dog sledging expedition through the glaciers and sea ice. And now the Arctic was calling me, demanding that I spend a year there, as a dog sledging guide! It was an MBA of sorts – a Master’s in the Blizzards of the Arctic! The time spent there was another highlight of my life. But after ten months, I was ready to move on again.

monkey

THE SULTANATE OF OMAN –ANOTHER FANTASTIC COUNTRY
This assignment, once again, was a combination of very hard work and great opport

unities to discover a country from the inside. Trekking along the ‘Omani Grand Canyon’ in the Jebel Al Akhdar; diving among schools of thousands of swirling fishes; sea kayaking through deep fjords at sunrise, surrounded by dolphins; wandering through long abandoned Omani villages; tracking the fabled white Arabian oryx in the Jiddat Al Harasis with an old Bedu Harasi. On days off, I was able to visit surrounding countries I had not yet been to: beautiful and varied Iran, Tanzania, and the UAE. Flying a small Cessna low over the red sand dunes of the Sharjah desert and over flocks of pink flamingoes in flight, beautifully highlighted against the vivid blue of the Umm Al Quwain lagoons, was a dream come true!

THE BIGGEST ADVENTURE OF ALL
Our latest and most recent adventure may very well be the most challenging and enjoyable of all: the arrival of our first baby, little Inès Ayache! And, for the first time in our Schlumberger career, we are being transferred to our home country. To Paris, where the world of a product center awaits me, while Catherine completes her maternity leave before coming back to Schlumberger in a new position. This will give me time to discover my daughter, Paris and its surroundings, as well as the new Schlumberger Engineering, Manufacturing and Sustaining organization that I am now part of. Until we are ready to

go back overseas to share new adventures – this time the three of us – and take up challenging new professional positions . . .

***

Ok…Comes back to me! How do you feel now? are that any differences before and after read my article which picked up at www.slb.com? I wants all of you know there are many differents feel that people who ever take their career in service oil company with the other one who never feel how interesting work in there. If you like an adventure, challange work, a high dicipline, I think it doesn’t wrong when you choose the service company as your choice. You will feel different, no pain no gain…

universitie TOTAL

Bersama ini diinformasikan kepada mahasiswa dan alumni ITB mengenai Program yang ditawarkan oleh TOTAL E&P Indonesie berikut :

1.    TOTAL Scholarship 2010
Syarat yang harus dipenuhi :

  • Program Studi : Teknik Perminyakan, Teknik Geologi, Teknik Geofisika, Teknik Mesin, Teknik Industri, Teknik Elektro, Teknik Fisika, Teknik Material, Teknik Metalurgi, Teknik Kimia, Teknik Lingkungan, dan Manajemen Keuangan (SBM)
  • Lulusan Sarjana atau yang diperkirakan telah lulus pada bulan April 2010
  • IPK > 3,00
  • Nilai TOEFL minimal 550 atau mempunyai DELF diploma
  • Aktif berorganisasi
  • Mengisi form aplikasi total-scholarship


2.    TOTAL Summer School 2010

Syarat yang harus dipenuhi :

  • Program Studi : Teknik Perminyakan, Teknik Geologi, Teknik Geofisika, Teknik Mesin, Teknik Industri, Teknik Elektro, Teknik Fisika, Teknik Material, Teknik Metalurgi, Teknik Sipil, Teknik Lingkungan, dan Teknik Kimia
  • Mahasiswa/i semester 5 dan 7 (masih berstatus mahasiswa sampai dengan bulan Agustus 2010)
  • IPK > 3,00
  • Nilai TOEFL minimal 550 atau mempunyai DELF diploma
  • Aktif berorganisasi
  • Mengisi form aplikasi total-summer-school

Berkas aplikasi dikirimkan ke :
Kantor WRRIM/LPPM ITB
Jalan Tamansari No. 64
Gedung Rektorat Lt. 5
Bandung
selambat-lambatnya pada Jumat, 30 Oktober 2009 pukul 15.00 WIB

Click Here — To the Continued Information

Rasanya permasalahan pasokan energi listrik Indonesia merupakan hal yang tak asing lagi untuk dibahas. Sebenarnya masalahnya sangat sederhana, yaitu penambahan pasokan energi listrik yang tak berimbang dengan pertambahan penduduk dan industri Indonesia yang terus berkembang setiap tahunnya. Alhasil, pemadaman listrik di beberapa daerah di Indonesia dalam jangka waktu tertentu pun tidak dapat terhindarkan lagi, untuk menambal kekurangan energi listrik di daerah Indonesia lainnya. Mungkin cara seperti ini dapat kita sebut dengan “Tambal Sulam Energi Listrik”. Belum lagi permasalahan cash flow perseroan yang buruk, menambah babak belurnya perusahaan ini. Tampaknya kutukan rapor merah PT PLN belum bisa dilepaskan hingga saat ini.

Dari beberapa tahun silam telah ada aroma segar dari pihak pemerintah, bahwa akan dicanangkannya pembangunan pembangkit listrik 10 ribu megawatt sebagai solusi untuk menambah pasokan energi listrik ini. Sayangnya, rencana ini masih belum bisa terealisasikan karena kantong uang PT PLN semakin jebol akibat ketidakseimbangan harga penyediaan energi yang ditentukan mekanisme pasar dan harga energi listrik yang ditentukan pemerintah. Akibat hal ini, Wakil Direktur Utama PT PLN, Rudiantara, mengatakan bahwa PLN harus mencari pinjaman dana baik dari perbankan nasional maupun perbankan asing untuk merealisasikan proyek pembangunan itu. Jika hal itu dirasa masih kurang, PLN harus melakukan simulasi tarif baru hingga 30 persen alias yang tak lain akan menjadi cikal bakal naiknya tarif harga listrik Indonesia.

Disamping rencana pembangunan itu, ada lagi beberapa regulasi energi listrik pemerintah yang kini dirasa pihak legislatif harus dikaji ulang. Anggota Komisi Pertambangan dan Energi, Tjatur Sapto Edi, mengatakan harus dilakukannya subsidi silang dengan menaikan tarif listrik konsumen kelas atas dan tidak menaikan tarif listrik konsumen kelas rumah tangga.Selain itu, Tjatur juga mengusulkan bahwa perlunya pelepasan harga konsumen komersial untuk kelompok pelanggan kelas perusahaan dan industri karena dirasa sangat tidak adil.

Rasanya tak akan cukup berbicara solusi penyelamatan PLN dari sisi pemerintah saja. Sekarang mari kita bertanya, apakah segala daya upaya pemerintah itu cukup untuk menyelamatkan perusahaan ini? Apakah budaya konsumtif energi listrik dari sebagian besar masyarakat Indonesia itu berpengaruh dan perlu dipertanyakan? Mari kita lihat pemandangan kesehariaan di lingkungan sekitar kita. Masih banyak kita temukan pemakaian listrik yang berlebihan dan tidak sesuai waktunya. Lampu yang masih menyala dipagi hari, televisi yang tetap menyala walau tidak ada seorangpun yang menonton, kipas angin yang terus berputar setiap hari, dan hal-hal konsumtif lainnya yang seolah menjadi budaya yang sudah melekat untuk masyarakat kita.

Dengan melihat realita masyarakat yang ada, tak cukup tangan pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan ini. Walaupun pemerintah telah berusaha meningkatkan pasokan energi listrik dengan berbagai upaya, namun jika budaya konsumtif dari masyarakat tidak dapat dikurangi, maka upaya penyelamatan ini tidak akan pernah berhasil. Maka dari itu, perlu adanya sinergisasi antara pemerintah dan juga masyarakat. Dua arah penyelamatan, dari Up to Bottom (pemerintah ke masyarakat) dan Bottom to Up (masyarakat ke pemerintah).

Dari Up to Bottom, pemerintah berupaya memutar otak untuk merealisasikan pembangunan pembangunan pembangkit listrik 10 ribu megawatt untuk menambah pasokan energi listrik Indonesia. Dari Bottom to Up, masyarakat bahu membahu melakukan pencerdasan diri dan melakukan program penghematan listrik bersama yang difasilitasi pemerintah daerah setempat untuk menekan laju pertumbuhan pasokan energi listrik Indonesia. Kalau dua hal ini dapat berjalan dengan baik, maka resolusi penyelamatan perusahaan ini akan sangat mungkin dapat dilakukan dalam waktu yang lebih cepat.

Tulisan Sebelumnya »