Feeds:
Tulisan
Komentar

Sometimes

Sometimes I think

Why do people need to know love

when they know

that love is sweet, if accepted

that love is bitter, if rejected

..

Sometimes I thought

Why did God create a love

Why did God create a hate

Why did God create a jealousy

Maybe He wanted to tell you something about the human

..

Sometimes I feel confused

When people have to feel sad when desperate

When people have to feel nervous when he failed in his life

When people must feel to be patient when the obstacles confronting

When humans have to stop for a moment when it has gone far

..

The more I thought, I am more aware

That love, hate and jealousy that there are to color our lives

The more I thought, I am more believe

That everything must have lesson

Dia menteri terbaik Kabinet Gotong-Royong. Pantas saja Presiden Yudhoyono  mengangangkatnya kembali menjabat Menteri ESDM (Enerji dan Sumber Daya Mineral) Kabinet Indonesia Bersatu. Dia menteri pemberani mengambil kebijakan tidak populis demi kepentingan kemandirian bangsa. Berani menaikkan harga BBM mengikuti standar harga internasional. Di kalangan perminyakan dunia, dia juga sangat disegani. Terbukti, dia satu-satunya Sekjen OPEC yang dipercaya sekaligus merangkap Presiden OPEC (2004).

Dr. Ir. Purnomo Yusgiantoro, M.A., M.Sc kelahiran Semarang 16 Juni 1951 memperistri Sri Murniati Sachro dan memberinya tiga orang anak, Lucky A. Yusgiantoro, Filda C. Yusgiantoro, dan Inka B. Yusgiantoro, sebelum menjadi menteri dikenal di belakang layar saja sebagai pembelajar dan tenaga ahli tentang pemanfaatan ekonomis sumberdaya energi dan mineral. Sangat berbeda dengan para mantan Menteri Pertambangan dan Energi yang pernah ada sebelumnya, mereka itu sebelum diangkat biasanya sudah lebih dahulu dikenal luas oleh publik. Namun justru ia dianggap lebih berhasil hingga layak diacungi jempol.

Kemunculan nama Purnomo Yusgiantoro awalnya dicap buruk sebab dia adalah pembawa kebijakan tunggal menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), mengikuti standar harga internasional. Itu, artinya harus terjadi kenaikan harga yang signifikan.

Tak mengherankan jika sepanjang kepemimpinannya sebagai Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), sejak 26 Agustus 2000 hingga 23 Juli 2001 di era Kabinet Persatuan Nasional pimpinan Abdurrahman Wahid, menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono, kemudian berlanjut di era Kabinet Gotong Royong pimpinan Megawati Soekarnoputri pada 23 Juli 2001 hingga 20 Oktober 2004, Purnomo telah melakukan beberapa kali kenaikan harga BBM secara bertahap agar persis mendekati harga pasar internasional. Demikian pula, terjadi tak kurang 10 kali kenaikan harga tarif dasar listrik (TDL).

Kebijakan Purnomo menaikkan harga BBM dan TDL dianggap aneh. Rakyat turun ke jalan berdemo dan DPR ikut menekan, hingga Pemerintah suatu kali untuk pertamakalinya dalam sejarah pernah mengalah mau menurunkan harga BBM. Presiden Megawati Soekarnoputri mengakui perasaannya selalu berat hati setiap kali harus menandatangani Keppres kenaikan harga BBM dan TDL.

Purnomo Yusgiantoro menjadi sangat tidak populis di dalam negeri hanya karena kebijakan tunggalnya menaikkan tarif BBM dan TDL. Namun, di luar negeri nama besarnya justru amat disegani sebagai ahli perminyakan. Terbukti, ia bisa merangkap jabatan Sekjen dan Presiden OPEC, sebuah organisasi kumpulan 11 negara pengekspor minyak terbesar dunia. Jabatan rangkap ini adalah pertama kali terjadi dalam sejarah OPEC.

Karena keberhasilannya menjabat Menteri ESDM, kepada Ir. Purnomo Yusgiantoro, M.A., M.Sc, Ph.D sudah selayaknya diacungi jempol. Ia mendasarkan kebijakannya menaikkan harga BBM dengan logika dan alasan yang bisa diterima oleh masyarakat luas. Jika di era Orde Baru yang otoriter dan tertutup, setiap kenaikan harga BBM potensial menimbulkan kerawanan sosial politik, Purnomo berhasil mengelola potensi konflik sehingga tidak menimbulkan gejolak yang berarti di masyarakat. Salah satu kiatnya, untuk setiap kenaikan harga BBM ia menganggarkan sejumlah dana kompensasi sosial BBM sebagai subsidi, semacam jaring pengaman sosial kepada rakyat kecil yang membutuhkan.

Purnomo lebih suka jika subsidi BBM puluhan triliun rupiah diberikan dalam bentuk subsidi langsung kepada kelompok miskin, daripada menetapkan harga BBM murah namun artifisial saja. Ia, bahkan sudah berpengalaman melakukan proyek percontohan subsidi langsung dipindahkan dari dana kompensasi sosial BBM melalui delapan jalur.

Subsidi dialihkan untuk membiayai beras murah, subsidi kesehatan, subsidi pendidikan, dan pembiayaan infrastruktur. Dengan cara demikian masyarakat percaya bahwa subsidi, yang untuk tahun 2004 besarnya Rp 63 triliun, benar-benar sampai ke rakyat miskin. Untuk makin mempertegas tekadnya menolong rakyat miskin, Purnomo meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ikut mengaudit penyaluran dana kompensiasi tersebut.

Isi hati Purnomo sesungguhnya sangat berorientasi kepada rakyat miskin. Ia melakukan pilihan dalam menaikkan harga. Sebab terbukti, dari kelima macam BBM minyak bakar, minyak tanah, minyak solar, minyak diesel, dan premium, Purnomo menetapkan minyak tanah yang harganya Rp 700 per liter dan harga pasar Rp 2.700 per liter sebagai prioritas yang terakhir dinaikkan.

Purnomo lebih dahulu memprioritaskan pendekatan harga mekanisme pasar kepada minyak bakar, minyak diesel, dan premium yang konsumennya dianggap mampu membeli dengan harga pasar. Menyusul kemudian solar, lalu terakhir kali minyak tanah. Karena, demikian Purnomo, jenis minyak tanah menyangkut kepentingan masyarakat banyak yang umumnya ekonominya sederhana.

Purnomo tak mau mundur dari kebijakan menaikkan tarif BBM dan TDL hingga 10 kali, walau didemo masyarakat ditekan DPR hingga dicap tidak peka terhadap beban masyarakat. Purnomo sangat yakin betul hasil akhirnya akan positif bagi masyarakat miskin, dan masyarakat pada akhirnya akan bisa memahami kenaikan asal bisa dibuktikan bahwa apa yang dilakukan bisa dirasakan secara konkret oleh masyarakat.

Profesional Mumpuni

Dengan beragam keahlian, pengalaman, jaringan pergaulan di dalam negeri dan luar negeri, serta ditunjang tingkat pendidikan tinggi dan profesionalisme yang memadai, lengkap sudah Purnomo Yusgiantoro sebagai seorang teknokrat dan ekonom sekaligus pelaku utama di bidang energi dan sumberdaya mineral yang mumpuni.

Sebagai penentu kebijakan nasional di sektor energi dan sumberdaya mineral, ia komit menjalankan lima program yang menjadi prioritasnya. Yakni komitmen tentang pemulihan, restrukturisasi sektor, restrukturisasi BUMN, pemberantasab KKN, dan mendorong otonomi daerah di sektor energi dan sumberdaya mineral.

Purnomo komit mempercepat pemulihan ekonomi terutama ekonomi makro. Ia komit melakukan restrukturisasi sektor energi dan sumbedaya mineral mengingat sudah semakin tidak terbendungnya arus keterbukaan. Ia serius mempersiapkan lima rancangan undang-undang (RUU) Minyak dan Gas (Migas), Listrik, Pertambangan, Energi, dan Panas Bumi. Kelima RUU menjadi dasar bagi kebijakan lanjutan di masa mendatang.

Ia komit melakukan restrukturisasi BUMN terutama yang berada di bawah kementeriannya, seperti Pertamina dan PLN.

Tujuan restrukturisasi agar BUMN bisa memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Ia juga komit menangani kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) secara lebih tuntas dengan tujuan menciptakan pemerintahan yang baik dan bersih. Ia komit pula mendorong terwujudnya otonomi daerah di sektor energi dan sumberdaya mineral.

Purnomo sudah matang dalam berbagai ladang pengabdian baik di dalam maupun di luar negeri. Tak heran jika setelah menjadi menteri jabatan Sekjen dan Presiden OPEC dipercayakan kepada pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 16 Juni 1951 ini.

Sebelum menjadi Menteri, lulusan Lemhannas KRA XXV yang memperoleh penghargaan Wibawa Seroja Nugraha tahun 1992, ini adalah Wakil Gubernur Lemhannas (Lembaga Pertahanan Nasional) September 1998-Agustus 2000.

Purnomo Yusgiantoro mempunyai pengalaman beragam di bidang perminyakan.

Demikian pula di bidang ekonomi, organisasi perminyakan internasional, termasuk sebagai pemikir dan penggagas kebijakan. Pendidikan tinggi yang berhasil dicapai hingga setingkat Ph.D banyak menunjang tugas-tugas pengabdiannya.

Lulusan Sarjana Teknik pada Fakultas Teknik ITB Bandung, tahun 1974, ini adalah pemegang dua gelar S-2. Ia meraih gelar M.Sc pada Colorado School of Mines, Golden Colorado (Fakultas Pertambangan) tahun 1986, dan gelar M.A bidang ekonomi pada University of Colorado at Boulder Main Campus, Colorado, Amerika Serikat (Ilmu Ekonomi) tahun 1988. Ia pun mencapai gelar akademis tertinggi S-3, Ph.D bidang ekonomi mineral dan sumberdaya alam dari Colorado School of Mines, Golden, Colorado juga tahun 1988.

Kepandaian Purnomo menurun pada ketiga anaknya. Ketika bersama keluarga masih menetap di AS, sebelum menyelesaiakan S-3 bidang ekonomi mineral, dua anaknya Lucky dan Inka berhasil mendapatkan penghargaan dari Presiden Amerika Serikat kerena berhasil masuk 10 besar terbaik lulusan SMA di seluruh AS. Lucky, yang sudah memberikan cucu kepada pasangan Purnomo dan Sri Murniati Sachro, penyandang gelar master dari Colorado State University, menyelesaikan program beasiswa untuk mendapatkan gelar doktor di Colorado.

Demikian pula Inka, pemegang gelar master pada teknik industri dari Columbia University, yang bekerja pada Merril Lynch dengan penghasilan 150.000 dolar AS per tahun, melanjutkan studi untuk meraih gelar doktor di University of Michigan. Sedangkan Filda, lulusan Teknik Kimia ITB Bandung, menyelesaikan beasiswa untuk mendapatkan gelar master dalam fragrance and perfume di Universite de Versailles, Perancis.

Pada tahun 1993-1998 Purnomo Yusgiantoro sudah menjabat sebagai Penasehat Menteri Pertambangan dan Energi. Ia pernah pula menjadi Gubernur OPEC, berkedudukan di Wina, Austria tahun 1996-1998. Kemudian, sebagai Ketua II Bidang Pemasaran Dalam dan Luar Negeri Dewan Komisaris Pemerintah untuk Pertamina 1993-1998, Tim Ahli Panitia Ad Hoc I BP MPR RI dalam mempersiapkan GBHN Pelita VII 1997-1998. Ia adalah anggota Pokja Wanhankamnas dalam mempersiapkan GBHN Pelita VII, sekaligus anggota Panitia Deptamben dalam menyusun GBHN Sektor Pertambangan dan Energi Pelita VII.

Dia dikenal sebagai pengajar yang baik. Hal itu terlihat dari aktivitasnya yang beragam di berbagai lembaga pendidikan. Ia adalah pengajar di berbagai kursus kepemimpinan seperti Lemhannas, Seskogab, Suspim Pertamina dan PLN, Sespanas, dan pengajar pada Kursus Atase Pertahanan Dephankam.

Widyaiswara Lemhannas untuk mata ajaran Globalisasi, dan Dewan Penyantun Universiats Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, ini tercatat pula sebagai staf pengajar pada Program Pasca Sarjana Magister Manajemen dan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan (IESP) Universitas Atma Jaya sejak tahun 1993, dan pada Program Magister Manajemen STIE LPMI Jakarta sejak 1990.

Di almaternya Departemen Ekonomi University of Colorado at Boulder ia pernah mengajar pada tahun 1989, dan sebelumnya pada tahun 1983-1985 mengajar di Fakultas Teknologi Mineral Universitas Trisakti Jakarta.

Jika di dalam negeri Purnomo Yusgiantoro adalah Dewan Pendiri dan Penyantun The Indonesian Institute for Energy Economics (IIEE), di tingkat internasional ia aktif sebagai anggota Dewan Internasional pada International Association for Energy Economics (IAEE), dan sebagai anggota Badan Penasehat Pacific Economic Cooperation Council.

Pengarang dua buku berjudul “Ekonomi Energi: Teori dan Praktek” terbitan LP3ES tahun 1999, dan buku “Analisis dan Metodologi Ekonomi Indonesia, Manajemen Keuangan Internasional Ekonomi Energi”, ini juga aktif di beragam forum organisasi dan kerjasama internasional. Seperti di APEC, UNCTAD, UNDP, ESCAP, OPEC, Multilateral Produsen-Konsumen, ASEAN, serta pada forum kerjasama bilateral antara Indonesia dengan Australia, Jepang, Amerika Serikat, Norwegia, Korea Selatan, Taiwan, Kanada, dan lain-lain.

Sebagai Sekjen dan Presiden OPEC, Purnomo adalah pemimpin Konferensi Luar Biasa tingkat Menteri OPEC ke-129, yang diselenggarakan pada tanggal 10 Februari 2004 di Alger, Aljazair. Konferensi Tingkat Menteri ini merupakan pertemuan pertama OPEC yang dipimpin oleh Indonesia, sejak terpilih menjadi Presiden OPEC untuk periode tahun 2004. Untuk sekadar diketahui saja, adalah keinginan 11 negara anggota OPEC agar Purnomo merangkap jabatan Sekjen dan Presiden, pertamakali terjadi di dunia.

Hal itu terjadi tak lain karena tingginya kemampuan profesionalisme dan dedikasi pria yang, sikapnya sebagai Menteri tetap saja bisa bicara ceplas-ceplos, menyenangkan, dan penuh wacana tiap kali pers mencoba beradu argumen atas segala kebijakannya yang tak populis di sektor energi dan sumberdaya mineral, seperti kenaikan harga BBM dan TDL.

Ketika pada awal Agustus 2004 harga minyak melonjak tinggi, menembus rekor yang puluhan tahun tak terpecahkan, bahkan dalam bahasa Purnomo disebutkan “gila”, seluruh dunia kalang kabut jadinya. Ancaman resesi ekonomi global mengemuka, bahkan menjadi salah satu tema isu kampanye pemilihan presiden tahap kedua di tanah air. Nama Purnomo Yusgiantoro serta merta menjadi sorotan dunia. Ia lalu diminta agar bertemu dengan pejabat berpengaruh di Amerika Serikat dan Inggris, demi mencegah kemungkinan terjadi resesi global.

Ketika ia pada 14 September 2004 memimpin pertemuan penting OPEC, yang ditambah diikuti sejumlah negara non-OPEC dan para produsen minyak raksasa dunia, posisi harga minyak masih di atas 40 dolar AS per barrel untuk harus diturunkan menjadi sekitar 30 dolar AS per barrel.

Purnomo agaknya berhasil memimpin kementerian ESDM, sebagaimana ia berhasil memimpin keluarga dan organisasi OPEC. Ia telah menyelesaikan tugas kementeriannya dengan baik sekaligus mempersiapkan yang terbaik kepada penggantinya. Ia ingin meninggalkan kementerian ini dengan tidak neko-neko, melainkan penuh kedamaian sebab ia datang dengan baik dan keluar ingin dengan baik pula.

Ia telah mempersiapkan diri dengan baik untuk itu termasuk memunculkan keinginan untuk kembali mengajar. Kalau pun tidak diterima di kampus, Purnomo menyebutkan sudah mempunyai modal lain yakni menyanyi. Modal itu sudah pernah dibuktikan oleh mantan Ketua Panitia Perayaan Natal Nasional 2004, yakni dengan merekam suaranya ke dalam bentuk kepingan piringan hitam CD.

Romantisme Awan

Dan terbisiklah cahaya mentari

Menghangatkan dalam kesederhanaan

Dalam lambaian ombak lautnya

meluapkan asa lewat kepulan indahnya


Mereka gembira dan menari-nari

Menyirat kisah romantisme awan

Terbang tinggi dibiru langitnya

Menunggu waktu  untuk merintikkannya


Didalam bukunya yang berjudul “New Ideas From Dead Economists”, Told G. Buchholz mengatakan bahwa ekonomi adalah ilmu memilih. Dia bukan memberitahu kita apa yang dipilih, tetapi menolong kita mengerti konsekuensi-konsekuensi dari pilihan-pilihan kita. Dunia yang penuh keterbatasan menyebabkan kita tidak dapat mendapatkan semua sekaligus. Artinya, kita harus memilih salah satu pilihan dan menanggung konsekuensi dari apa yang kita pilih itu.

Ilmu ekonomi biasanya selalu bersanding dengan ilmu politik. Apa sebabnya? Politik adalah proses yang menentukan pandangan-pandangan (values) siapa yang akan berlaku di negara. Sehingga, politik adalah proses untuk menentukan pilihan kita. Karena itulah ekonomi sangat dekat dengan politik.

Dalam dunia energi Indonesia, pengembangan lapangan migasnya tidak pernah lepas dari campur tangan investor asing. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan terbatasnya anggaran dana yang dimiliki oleh Indonesia sendiri. Bisa dibayangkan, Indonesia membutuhkan biaya eksplorasi US$ 3-4 miliar per tahun dengan perhitungan rasio kesuksesan eksplorasi 10-20%. Biaya sebesar itu tidak mungkin dibebankan kepada keuangan negara, apalagi jika dipandang dari segi prioritas biaya-biaya negara lainnya.

Untuk itu, perlu pemilihan kontrak kerja sama yang jelas antara pemerintah sebagai pemilik sumber daya migas dengan investor asing sebagai pengelola migas itu sendiri. Menurut Johnston, ada dua pilihan metode kontrak umum yang digunakan pemerintah sebuah negara untuk menentukan kebijakan pengembangan lapangan migas. Yang pertama adalah Product Sharing Contract (PSC) dan yang kedua adalah Kontrak Karya (KK). Dalam sistem PSC, negara diakui sebagai pemegang hak milik (ownership) sumber migas. Sedangkan dalam sistem KK, hak milik dari negara dialihkan kepada perusahaan yang memproduksi migas.

Sampai saat ini, Indonesia masih bersikukuh pada penggunaan PSC sebagai metode kontrak dengan investor asing. Pasalnya, sistem ini mampu memberikan penghasilan minimal 65% bagi negara. Sebaliknya, sistem royalti hanya memberikan bagian ke negara maksimum 47%, yakni royalti 17% dan pajak 30%.

Berpulang pada UU No. 22 tahun 2001, sebenarnya Indonesia tidak memiliki keharusan untuk mempertahankan kontrak PSC sebagai sistem pilihan. Undang-undang ini memberikan keleluasaan kepada pemerintah untuk menghapuskan sistem PSC. Sebagai gantinya, pemerintah bisa menggantinya sistem kontrak karya atau sistem royalti.

Dan hal ini diperkuat dengan berhembusnya angin segar ke telinga investor asing, bahwa pemerintah Indonesia sempat mewacanakan untuk mengubah sistem PSC menjadi sistem KK pada tahun 2008 lalu. Namun ternyata kabar itu hanya menjadi angin yang lewat lalu. Banyak kalangan pemerintah yang beranggapan bahwa perlu pengkajian dari segi perundangan-undangan apalagi jika dibenturkan dengan UUD 1945  pasal 33 ayat 2 dan 3.

Kata “menguasai” dalam pasal tersebut mengacu tidak hanya pada penguasaan lahan saja, tapi juga termasuk fungsi kontrol dalam pengelolaan lapangan migas tersebut. Jadi para investor asing tidak akan dilepas begitu saja untuk mengelola sesuai dengan keinginan mereka, tanpa adanya kontrol dari pemerintah. Saya sangat setuju atas tindakan tegas pemerintah untuk tetap memilih sistem kontrak PSC ini.

Sesuai dengan apa yang telah disampaikan Told G. Buchholz diawal tulisan ini tadi, kini Indonesia memiliki resiko atas pilihan sistem kontrak PSC-nya. Cadangan minyak dan gas yang masih belum tereksplorasi, rasanya pemerintah Indonesia harus menggebrak sebuah kebijakan baru untuk dapat meningkatkan perekonomian Indonesia ditengah krisis finansial global saat ini. Setidaknya ada lima hal yang perlu dilakukan pemerintah untuk meningkatkan daya jual lapangan migas Indonesia di mata dunia.

Yang pertama adalah mempermudah birokrasi dan regulasi, hal ini dapat dicerminkan pada masih banyaknya lapangan migas yang kandas akibat sulitnya birokrasi untuk berinvestasi.

Yang kedua adalah peningkatan dana depletion premium migas untuk peningkatan kemampuan nasional  di bidang energi nasional agar dapat menarik perhatian investor asing,

Yang ketiga adalah pengutamaan perusahaan nasional dalam pengelolaan kontrak lapangan migas yang sudah habis, dengan mempertimbangkan program kerja, kemampuan teknis dan kemampuan keuangan yang telah dimiliki perusahaan nasional tersebut.

Yang keempat adalah pengkajian rinci untuk mengkombinasikan sistem PSC negara Indonesia dengan sistem negara-negara maju dengan tetap berasaskan Pancasila dan UUD 45. Banyak sistem negara lain yang dapat dicontoh untuk lebih memperkuat kontrol pemerintah tanpa mengganggu kepentingan investor.

Yang kelima adalah penentuan pajak migas yang sesuai. Indonesia termasuk dalam negara yang paling tinggi menetapkan pajak dalam berbagai bidang apalagi ditambah dengan intervensi dari lembaga pemerintahan lainnya seperti otoritas pajak dan pemerintah daerah.

Jika aku boleh..

Tuhan, Jika aku boleh bertanya

Adilkah ini untukku?

Ketika orang lain boleh menyapa dirinya

Aku hanya bisa mengunci mulutku dalam keheningan

 

Tuhan, Jika aku boleh berkata

Nikmatkah ini untukku?

Ketika orang lain boleh berbicara dirinya

Aku hanya bisa menghindarkan diriku untuk menjauh

 

Tuhan, Jika aku boleh bertutur

Ujiankah ini untukku?

Seandainya dia tahu

Sebenarnya ini terlalu berat

 

Tapi aku tahu ada hikmah dibalik ini

Karena harapan dan mimpi selalu tak punya batas

Ia menjulang tinggi melampaui batas keraguan

Dan suatu saat pasti Kau bisikkan maksud semua ini

Sesekali adalah wajar kalau kita merasa malas melaksanakan sesuatu yang sebenarnya telah biasa kita lakukan. Namun menjadi tidak wajar kalau kita terus bermalas-malasan pada sesuatu yang seharusnya kita lakukan. Produktivitas menurun, progresivitas melamban, dan kontribusi memudar. Rasa malas adalah musuh besar bagi orang-orang yang bermimpi besar didalam hidupnya. Mereka sangat jijik ketika melihat dirinya menjadi seorang yang “lenje”, “lemot” atau istilah lainnya yang mirip seperti itu.

Mari kita telisik peristiwa ini lebih dalam. Sebenarnya karakter diri kita dibentuk oleh dua hal : kekuatan pikiran dan kebiasaan.

Kekuatan pikiran merupakan sumber dari segala gerakan-gerakan tubuh Anda. Apa-apa (selanjutnya saya menyebut dengan istilah : “kata”) yang ada di otak Anda akan terimplementasikan dalam perbuatan Anda. Misalnya begini, ketika Anda ingin berjalan menuju suatu tempat maka pertama-tama otak akan memproyeksikan kata “membaca” dengan neuron-neuronnya dan menyalurkannya pada otot-otot tangan dan mata Anda untuk membaca. Uniknya, semakin Anda sering mengulang kata-kata ini didalam otak Anda semakin lama respon Anda akan semakin cepat. Pernahkah Anda membuka halaman beberapa buku dengan cepat sekali tanpa harus berpikir lagi? Selamat! Anda telah berhasil menggunakan satu dari sekian banyak kekuatan pikiran dalam hal-hal kecil dalam hidup Anda.

Satu lagi yang mempengaruhi karakter adalah kebiasaan. Kebiasaan merupakan hasil dari akumulasi perulangan perbuatan kita sehari-hari. Kebiasaan membantu seorang manusia mengerjakan sesuatu secara lebih efektif dan efisien. Sampai disini, telah kita ketahui bersama bahwa seseorang yang mampu mengembangkan kebiasaannya dengan baik kebanyakan menjadi sukses. Bahkan Stephen R. Covey sampai-sampai membuat buku yang berjudul 7 kebiasaan efektif untuk manusia yang ingin mencapai kesuksesaan yang luar biasa. Pada intinya, kebiasaan baik akan menghasilkan banyak hal positif dan kebiasaan negatif menghasilkan banyak hal negatif.

Namun izinkan saya untuk menyentil diri Anda dengan pertanyaan ini : Apakah Anda -yang notabene mungkin telah mengasah kekuatan pikiran otak dan kebiasaan Anda dengan baik- pernah merasa malas ditengah kesibukan Anda sepanjang hari? Fakta membuktikan bahwa walaupun kita telah mengasah kekuatan pikiran dan kebiasaan kita dengan baik, tetap saja rasa malas itu akan tetap muncul di waktu-waktu tertentu. Ia datang tanpa dijemput, dan muncul begitu saja mengikis produktivitas Anda, merusak progresivitas Anda, dan mengurangi kontribusi Anda.

Menurut saya, penting sekali menanggulangi permasalahan ini, karena hampir sebagian besar bangsa kita  mengalami permasalahan seperti ini. Mulai dari sektor publik hingga sektor privat terjangkit penyakit “malas”. Saya tidak dapat membayangkan, ketika nanti tidak akan ada lagi orang yang bermimpi besar yang lahir karena didalam otaknya telah tertempel kata “malas” pada otaknya.

Sebenarnya dalam buku manajemen dan ergonomis telah banyak meluncurkan banyak solusi-solusi untuk mengatasi rasa malas ini. Namun karena terlalu teoritis dan sistemik, saya tidak akan membahasnya disini. Saya ingin menyederhanakan solusi permasalahan ini dengan beberapa cara sederhana yang terbukti ampuh mengatasi permasalahan malas didalam hidup saya.

Yang pertama adalah sibukkanlah diri Anda pada hal yang bersifat produktif. Dengan sibuk, Anda akan menyadari betapa pentingnya harga sebuah waktu luang. Anda tidak akan lagi membuang waktu luang Anda untuk bermalas-malasan karena Anda tahu bahwa pekerjaan Anda menumpuk dibelakang sana. Ukurlah dengan baik batas kemampuan Anda, karena ketika Anda telah mencapai batas kemampuan Anda maka berhentilah sejenak, dan berilah reward pada diri Anda sebagai ganjaran kerja keras selama itu. Indikator batas kemampuan Anda dapat dilihat dari tidak seimbangnya antara effort (kerja) yang Anda berikan terhadap impact (hasil) yang anda terima, disana telah terjadi ineffective dan inefficient lagi.

Yang kedua adalah jangan pernah sekalipun biarkan Anda memberikan kesempatan untuk bermalas-malasan. Cara ini cocok sekali dilakukan ketika Anda sedang membangun sebuah kebiasaan tertentu. Contohnya seperti ini, Anda adalah seseorang yang ingin membiasakan diri untuk lari pagi pada hari-hari tertentu. Namun karena spare waktu yang Anda miliki adalah banyak, mungkin terkadang ada sebuah keinginan untuk menundanya dihari esok. “Ah, besok saja. Saya sedang malas hari ini”, mungkin itu yang ada di benak Anda saat itu. kalau memang terjadi hal demikian, segera cut (potong) lintasan pikiran itu dan segera lakukan apa yang telah Anda rencanakan. Dengan memotong lintasan pikiran itu, secara otomatis tidak akan membiarkan otak Anda memberikan stimulus rasa malas pada tubuh Anda. Dengan segera melakukannya, Anda akan menyadari bahwa sebenarnya hal itu mudah untuk dilakukan. Biasanya setelah itu, akan muncul komitmen kuat untuk konsisten melakukan apa yang Anda inginkan.

Yang terakhir dan tak kalah pentingnya adalah lingkungan pilihan Anda. Jika Anda berkumpul terlalu lama dengan orang-orang malas maka Anda pun akan ikut malas-malasan. Jika kita dekat dengan seorang penjual parfum, maka kita akan kecipratan harumnya pula, dan jika kita dekat dengan seorang pandai besi, maka kita akan kecipratan aroma besi itu pula. Jadi tak dapat dielakkan bahwa lingkungan mempengaruhi diri kita. Sekuat apapun kebiasaan baik yang ada pada diri Anda, kalau Anda terjun pada lingkungan yang melawan kebiasaan diri Anda maka lambat laun Anda pun akan larut pada kebiasaan-kebiasaan lingkungan itu. Memang tidak sekaligus, namun perlahan tapi pasti kosa kata “malas” akan mulai bertengger didalam pikiran Anda dan mulai melunturkan kebiasaan-kebiasaan baik didalam diri Anda.  Untuk itu perlu adanya penyeimbangan lingkungan yang baik dan lingkungan yang buruk. Agar kita mampu melakukan kontrol terhadap diri kita dengan baik.[]

Memang tidak salah kalau Anies Baswedan pernah mengatakan bahwa masa depan Indonesia ditentukan oleh para pengusaha. Bermula dari analisis Ruling Class-nya yang sangat terkenal, Anies mencoba memilah-milah sejarah kepemimpinan Indonesia dari zaman ke zaman.

Ruling Class pertama dimulai oleh kaum cendekiawan yang terdidik pada zaman Belanda lalu di era 1900-an. Mereka muncul dalam kancah kepemimpinan Indonesia dengan semangat persatuan dan kemerdekaan untuk membentuk pilar-pilar dasar Indonesia. Ruling Class berikutnya diestafetkan pada kaum militer yang berdiri tegak antara zaman orde lama dan orde baru. Kepemimpinan Indonesia didominasi oleh rezim militer seperti BKR yang nantinya menjadi cikal bakal terbentuknya TNI beserta sejumlah kecil satuan militer Indonesia lainnya.

Tidak berhenti sampai disitu, Ruling Class kembali bertransformasi untuk menjawab tantangan di zamannya. Tampuk kepemimpinan Indonesia beralih ke tangan para aktivis mahasiswa diera tahun 1960-an. Ruling Class ini masih terus bertahan hingga saat ini, dengan bukti bahwa kita masih dapat menemukan dari sederet banyak pemimpin Indonesia saat ini banyak yang berasal dari aktivis mahasiswa baik itu di intra kampus maupun di ekstra kampus.

Ternyata tidak dapat dihindarkan lagi bahwa Ruling Class akan kembali bertransformasi. Semakin terbukanya era pasar bebas dunia dan berkembangnya isu  globalisasi, memacu para pengusaha untuk menunjukan taringnya di kancah sektor publik untuk mengakomodasi kepentingannya. Dalam arti lain, bisa dikatakan bahwa para pengusaha berusaha menempati posisi-posisi strategis pemerintahan.

Hal ini hampir tepat seperti apa yang telah diramalkan Max Weber, bahwa akan tiba suatu saat dimana kepemimpinan tradisional yang mengacu pada tradisi kepemimpinan absolut zaman feodal, tergantikan oleh kepemimpinan rasional yang lebih fleksibel menghadapi tantangan zaman. Momentum inilah yang disebut oleh Anies Baswedan sebagai era Ruling Class ke-4 : Enterpreneur.

Jadi ada baiknya sekarang kita semua menyadari bahwa pengembangan semangat entrepreneur tidak bisa lagi dipandang sebelah mata saja. Entrepreneurship menjadi sangat penting dikembangkan, mengingat trend kepemimpinan Indonesia masa depan akan diisi oleh berbagai macam pengusaha. Namun kini yang perlu dianalisis lebih dalam adalah bagaimana cara mengembangkannya itu sendiri?

Pada dasarnya, jiwa enterpreneurship adalah sebuah karakter yang tersimpan didalam jiwa manusia. Ia sudah ada dan berada didalam semua jiwa manusia, namun perkembangannya bergantung pada individu itu sendiri. Jika ia mengembangkannya, maka ia akan menjelma menjadi sebuah gerakan entrepreneur yang nyata didalam kehidupan manusia. Jika ia menguburkannya, ia akan selamanya tersimpan didalam jiwanya dan akan mati.

Adalah pertanyaan yang menarik ketika kita bertanya kapankah momentum yang tepat untuk mengembangkan jiwa entrepreneurship ini. Dari semua kisah kebanyakan perjalanan kesuksesan pengusaha di berbagai di dunia ini, tampaknya dapat ditarik sebuah benang merah bahwa pengembangan jiwa pengusaha mereka itu dimulai sejak mereka menjadi mahasiswa. Momentum mahasiswa menjadi begitu penting karena disana mereka dapat mengaktualiasikan diri mereka sebagai seorang insan cendikia yang memiliki ide segar dengan  kualitas yang sangat tinggi dan membawa semangat perubahan besar. Jika hal tersebut dapat dibalut dalam jiwa entrepreneurship yang kuat maka bukan tidak mungkin buah karyanya bisa bernilai ekonomis dan berdaya guna untuk kehidupan bangsa ini.

Kita patut bersyukur karena dewasa ini ada berbagai upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak terkait yang berjuang menumbuhkan dan memacu pertumbuhan jiwa-jiwa entrepreneurship pada diri mahasiswa. Berbagai macam kompetisi Business Plan dan Pemberian Modal Nyata Usaha yang diselenggarakan oleh baik pihak kampus maupun ekstra kampus turut meningkatkan indeks potensi mahasiswa untuk mengasah jiwa entrepreneurship mereka.

Terakhir, perlu kita fahami bersama bahwa ketika berbicara tentang entrepreneurship artinya kita berbicara tentang ilmu praktis. Jadi, walaupun ilmu ekonomi tidak dapat dilepaskan dari entrepreneurship tapi bukan berarti hanya mahasiswa dari jurusan bisnis, manajemen, atau ilmu ekonomi saja yang punya peluang besar menjadi seorang pengusaha sukses. Ada banyak cerita pengusaha Indonesia yang membuktikan, bahwa seorang scientist ataupun engineer pun mampu menjadi seorang pengusaha yang sangat sukses dalam skala Indonesia atau bahkan skala Asia Tenggara. Mereka tidak menguasai teori ekonomi, namun mereka menguasai praktis dari ekonomi yang terus mereka asah semenjak bangku kuliah. Jadi setiap mahasiswa berhak untuk menjadi seorang pengusaha sukses. Jangan pernah membatasi diri kita dengan hanya kapabilitas/ core competence yang kita miliki ini saja.

***

Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater

Salam Ganesa

Ryan Alfian Noor

 

Dalam buku Kamus Besar Bahasa Indonesia, telah gamblang disebutkan bahwa idealisme (idealism) adalah sebuah bentuk penjelmaan norma-norma dasar yang bersifat luhur, dalam prinsip-prinsip dasar yang dipegang seorang manusia. Dari sini, sudahlah jelas bahwa idealisme tidak terikat dengan oleh variabel waktu. Alih-alih ia menjelma menjadi keabadian dalam pribadi hidup manusia, yang tak lekang oleh waktu. Idealisme lah yang membedakan antara mana yang hitam dan mana yang putih.

Idealisme sebenarnya telah terbentuk secara kontinu sejak kita kecil. Orang tua mengajarkan kita untuk “ini”, orang tua kita mengajarkan untuk “itu”, mereka mengarahkan pola hidup kita agar sesuai dengan yang mereka inginkan agar kita dapat menjadi seorang manusia yang baik (becoming a right human). Seiring dengan waktu, kita tumbuh menjadi manusia remaja dan  akhirnya pola hidup ini akan kita bawa dalam dunia sosial kita. Baik itu di sekolah kita, pada lingkungan sanak-saudara kita, atau bahkan lingkungan teman bermain kita.

Disana, nilai-nilai dasar pola kehidupan kita mulai dibenturkan pada realita-realita sosial yang terkadang tidak sejalan dengan pemikiran kita. Disana pula, lunturnya idealisme juga mungkin tidak dapat terhindarkan lagi. Ada manusia yang mampu bertahan mempertahankan idealismenya sehingga ia disebut dengan manusia “idealis”, namun ada pula manusia yang akhirnya terbawa arus lingkungannya sehingga pada akhirnya mengantarkan ia menjadi seorang manusia “realistis”. Hal ini adalah nyata dan benar. Banyak manusia yang pada awalnya memiliki idealisme yang sangat tinggi, namun dalam sekejap saja ia gugur dan menyebabkan ia menjadi seorang manusia realistis.

Ketika berbicara tentang dunia kemahasiswaan, tak dapat dielakkan lagi bahwa sebuah kata “idealisme” sewajarnya harus melekat didalam diri seorang mahasiswa. Apa pasalnya? Dunia kampus adalah dunia yang penuh dengan nuansa pendewasaan diri. Disana mereka belajar membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mereka mematangkan emosi mereka, mereka mengasah keahlian mereka, dan mereka melakukan proses pendewasaan disana. Idealisme menjadi sebuah hal yang paling penting merasuk kedalam jiwa seorang mahasiswa sehingga menyebabkan mereka menjadi seorang “mahasiswa” dalam arti sebenarnya.

Melirik pada fungsi, peran, dan posisi mahasiswa Indonesia yang sangat strategis, dalam tataran hubungannya secara vertikal pada pemerintah dan hubungannya secara horizontal pada rakyat, idealisme merupakan harga mati dan sebuah nilai yang sangat dipertaruhkan. Bisa kita bayangkan bersama ketika aparatur hukum telah bobrok, pemerintahan telah bertindak semena-mena, rakyat tertindas dan terlantar, maka mahasiswa haruslah menjadi agen perubahan di lini terdepan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Mahasiswa harus melawan semua hal yang memang tidak sesuai dengan idealisme yang mereka pegang dan mereka yakini.

Dunia mahasiswa memang penuh dengan kisah dan romantikanya. Tetapi pernahkah timbul pertanyaan didalam benak kita semua ,bahwa bisakah idealisme seorang mahasiswa dipertahankan dalam dunia pasca kampus? Negeri ini telah banyak menghasilkan generasi-generasi yang memiliki nilai intelektualitas yang tinggi. Tokoh-tokoh tua seperti Akbar Tandjung, Abu Rizal Bakrie, Megawati Sukarno Putri, Muhammad Yusuf Kalla, Harmoko, Arifin Panigoro, Suharto, dan sederet nama lainnya telah mewarnai dunia belantara politik Indonesia. Ada sebagian dari mereka yang sampai detik ini masih memiliki idealisme yang sangat membara, sehingga ada beberapa torehan prestasi yang mereka ciptakan untuk perkembangan negeri ini. Namun ada pula sebagian dari mereka kehilangan idealisme, sehingga ada yang menciptakan “prestasi” korupsi mengeruk kekayaan bangsa ini untuk kepentingan dirinya sendiri.

Dari sini kita bisa banyak belajar, perlu ada upaya keras untuk mempertahankan idealisme kita sebagai manusia yang idealis. Pelajaran tidak hanya berakhir disana. Saat ini pun proses pengguguran dan pelemahan idealisme manusia idealis semakin meraja lela. Banyak para alumni-alumni mahasiswa yang kini terjerat pada pola pikir yang instan untuk memperkaya dirinya. Tidak usah lah lagi kita heran ketika melihat fenomena terbelinya idealisme  dengan sesebuah onggok uang. Ada yang rela menggadaikan idealismenya untuk kepentingan oknum tertentu, padahal dia tahu bahwa dia akan menghancurkan negaranya sendiri. Mau jadi apa negara ini jika semua manusia idealis nya terbeli oleh sebuah kekayaan duniawi yang akan punah itu. Apalagi jika ditambah dengan tantangan krisis moral dan finansial global yang dapat dengan mudahnya menggilas kemerdekaan negara kita kapanpun oknum tertentu itu mau.

Masa depan negeri ini ada ditangan para pemuda-pemudi Indonesia. Merekalah yang mengisi pos-pos penting dan strategis dimasa depan kelak. Merekalah yang menentukan arah dan gerak negeri kita ini. Merekalah yang membuat bangsa kita menjadi besar atau bangsa kita menjadi kecil. Meminjam istilah dari Pak Habibie, Bangsa SuperPower hanya bisa dibentuk oleh bangsa yang memiliki IPTEK yang tinggi dan IMTAK yang luhur. Mari, kita (baca: pemuda-pemudi) persiapkan diri kita, jiwa kita, intelektualitas kita serta idealisme kita semua untuk menjadi manusia yang idealis dan membangun masa depan negara dan bangsa kita.[]

***

Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater

Salam Ganesa

Ryan Alfian Noor

Aku membuka gembok kesendirianku

Mencoba mengeja apa itu cinta

Aku memegang apa yang disebut sukma

Membersihkannya, dari segala panah-panah syaithan

..

Dan dia pun sedang berdiri disana

Mempertahankan apa yang disebut dengan iman

Merajut hatinya yang bening

Menggapai mimpi dan mencapai citanya

..

Ingatkah aku dengan kisah Ali Bin Abi Thalib?

Yang siap menjadi perisai hidup sang Rasul

Yang menjadi orang yang cerdas akal dan pikirannya

Yang menjaga fitrah kesuciannya sampai hingga waktunya

..

Dan ingatkah dia dengan kisah Fatimah Binti Muhammad?

Yang selalu istiqamah dalam berbuat

Yang menjadi anak berbakti kepada orang tuanya

Yang menjaga fitrah kesuciannya sampai hingga waktunya

..

Inilah kisahku dan dia

Bagai dua kasih yang tak tersampaikan

Biarkan hanya aku dan Tuhanku yang mengetahuinya

Dan tidak akan kubiarkan sedikitpun syaithan merusaknya

..

Maka kini kepakanlah sayap cita dan impianmu

Terbanglah tinggi mencapai apa yang kamu inginkan

Aku menunggu disana, Karena aku mencintaimu

Dan aku tidak akan menghalangi cita-citamu

“N”

Dia telah membuka mataku

Dengan cahaya ajaibnya

Dia menyentuh jiwaku pertama kali

Dengan jari-jemarinya yang bersemangat

..

Dia telah membangkitkan jiwaku

Dia membawaku ke taman kasih sayang

Dimana hari menjadi seperti mimpi

Dimana malam menjadi sebuah pesta

..

Dia menyibakkanku berbagai rahasia

Dia menyanyikan puisi kehidupan nyata

Dia mengubah musim semi kehidupanku

Dia mengisi keheningan malam dengan musiknya

..

Dia membuatku paham akan makna hidup

Dia merelakan aku masuk kedalam surganya yang murni

Dia mengepakkan sayap-sayap disekitarku

Dia menerbangkan aku pada cita dan mimpi yang tinggi

..

Dia adalah harapan tiada batas

Dia bagai cahaya api yang menghangatkan

Dia mempesona bak indahnya mawar ungu

Dia menarik anak sungai yang menyanyi pada kedalamannya

..

Dia seperti pohon yang kuat dan kokoh

Dia bertahan menghadapi badai dan sinar matahari

Dia tegap berdiri terguncang tiupan sepoi angin dini hari

Dan dia memiliki cahaya kebaikan

..

Dia condong ke hamparan rumput hijau

Dia lebih indah daripada irama lira

Dia mampu melayari cakrawala jiwa

Dan dia adalah …….

 

 

 

Tulisan Sebelumnya »