Feeds:
Tulisan
Komentar

PEMECAHAN REKOR MURI
“Peta Indonesia Terbesar yang Terbuat dari Sampah”
5 Februari 2010 | 16.30 – 18.00 WIB
Lapangan Rumput Sipil

OPENING ITB FAIR 2010
Launching Majalah Keprofesian “Proficio!”
Launching Katalog Karya ITB FAIR 2010
Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Nuh, DEA (Mendiknas RI), H. Ahmad Heryawan (Gubernur Jawa Barat), Prof. Dr. Akhmaloka (Rektor ITB), Presiden KM ITB, Ketua ITB FAIR 2010
Pertunjukan LSS ITB, Tarian Kolosal Infinity
6 Februari 2010 | 08.30 – 10.00 WIB
Jam Ganesha

TALKSHOW KONFERENSI MAHASISWA INDONESIA
Key Note Speech: Suharso Monoarfa (Menpera RI)
Pembicara: Joko Widodo (Walikota Solo), Darmaningtyas(Pemilik Taman Siswa), Nurjaman Mochtar (Deputi News & Sport TVOne), Sugeng Prawoto (Pemred Metro TV), Anindya Bakrie (Presdir Bakrie Telecom, ANTV)
6 Februari 2010 | 10.35 – 13.30 WIB
Ruang 9231 GKU Timur

KONFERENSI MAHASISWA INDONESIA
“Momentum Kolaborasi Menuju Masyarakat Indonesia Mandiri”
6 Februari 2010 | 15.30 – 22.30 WIB
7 Februari 2010 | 08.30 – 18.15 WIB
Ruang 9231 GKU Timur

SEMINAR MATEMATIKA
“Best Career in the Future and the Mathematics Role Inside”
Pembicara: Budi Tampubolon (Aktuaris), Irma Savitri Widyasari (Profesional), Prof. Edy Soewono (Dosen ITB)
6 Februari 2010 | 10.00 – 12.00 WIB
Aula Barat

FINAL COMMUNITY DEVELOPMENT COMPETITION (CDC)
Key Note Speech: Anindya Bakrie (Presiden Direktur PT Bakrie Telecom)
6 Februari 2010 | 10.15 – 17.15 WIB
Aula Timur, RSG Planologi Lt.6
7 Februari 2010 | 09.00 – 12.45 WIB
Aula Timur

PAMERAN KARYA MAHASISWA
Pameran Karya Himpunan Mahasiswa ITB, GPL (Gerakan Peduli Lingkungan), ZWE (Zero Waste Event), Majalah Keprofesian Proficio!
6 Februari 2010 | 10.00 – 19.00 WIB
7 Februari 2010 | 08.00 – 19.00 WIB
Lapangan Basket, Jalan CC, Lapangan Parkir Labtek V & VIII, dan Selasar Labtek VI & VII

IDEA MALL
“Inovasi dan Inspirasi”
Inovasi Karya, Diskusi Cafe, Hall of Fame, Pojok Foto, Mimpi Anak Bangsa Tak Tercapai, Pameran Lomba Idea Mall (Video, Gambar, Esai)
6 Februari 2010 | 10.00 – 19.00 WIB
7 Februari 2010 | 10.00 – 19.00 WIB
CC Barat & Timur

DONOR DARAH
6 Februari 2010 | 10.00 – 17.00 WIB
7 Februari 2010 | 08.00 – 17.00 WIB
Selasar Labtek V

EDU KIDZ
Drawing Class, Paperclay Class, Origami Class, Cooking Class
6 Februari 2010 | 10.00 – 17.00 WIB
7 Februari 2010 | 08.00 – 17.00 WIB
Selasar Labtek VI

TUR FAKULTAS
Pengenalan Fakultas bagi Siswa SMA
6 Februari 2010 | 11.00 –17.00 WIB
7 Februari 2010 | 09.00 –17.00 WIB
Stand Registrasi: Boulevard

TALKSHOW IDEA MALL I
“Pemberdayaan Teknologi untuk Kemandirian dan Kemakmuran Bangsa”
Pembicara: Ir. M. Hatta Rajasa (Menko Perekonomian RI), Prof. Dr. Ir. Muhammad Zuhal, MScEE (Menristek RI 1998-1999), Kwik Kian Gie (Kepala Bappenas 2001-2004)
Moderator: Alfito Deannova (Presenter TV One)
6 Februari 2010 | 13.00 – 17.00 WIB
Aula Barat

PANGGUNG BERSINAR
Penampilan Band Himpunan Mahasiswa ITB
6 Februari 2010 | 13.00 – 16.00 WIB
7 Februari 2010 | 13.00 – 16.00 WIB
Tugu Soekarno

TALKSHOW GADING-GADING GANESHA
6 Februari 2010 | 16.30 –17.50 WIB
Tugu Soekarno

URBAN SITE
Komunitas Mural, Skate Board, BMX, Street Magcian, Ganesha Bicycle ITB, Atlas Parkur ITB, Capoeira ITB
6 Februari 2010 | 13.00 – 18.00 WIB
7 Februari 2010 | 13.00 – 18.00 WIB
Lapangan Cinta

ART & MUSIC PERFORMANCE:
“Save The Children, Save The Future”
Efek Rumah Kaca, BLP (Barry Likumahuwa Project), Baby Eat Crackers, RMHR (Rumah Musik Harry Roesli), Loedroek ITB, MGG ITB, Fashion Show Kriya ITB
6 Februari 2010 | 18.30 –23.05 WIB
7 Februari 2010 | 16.00 –17.45 WIB
Jam Ganesha

SEMINAR ECOCAMPUS
“Bergerak, Sinergis, dan Berkarya menuju ITB EcoCampus”
Pembicara: Prof. Dr. Akhmaloka (Rektor ITB), Dr. Alexander Sonny Keraf (KLH), M. Ridwan Kamil (Dosen ITB), Presiden KM ITB, Ganesa Hijau
Moderator: M.Bijaksana Junerosano (Social-Entrepreneur)
7 Februari 2010 | 08.00 – 12.00 WIB
Aula Barat

TALKSHOW IDEA MALL II
“Pemberdayaan Potensi Bangsa dalam Pengembangan Teknologi Berbasis Industri dan Masyarakat”
Pembicara: Drs. H. Suharna Surapranata, MT (Menristek RI), Adi Sasono (Menteri KUKM 1998-1999), Dr. Ir. Adik Avianto Sudarsono, MSIE (Dirut PINDAD)
Moderator: Najwa Shihab (Metro TV)
7 Februari 2010 | 13.00 – 16.00 WIB
Aula Barat

MALAM PUNCAK ITB FAIR 2010
Deklarasi Konferensi Mahasiswa Indonesia: Dr. Andi Alfian Mallarangeng (Menpora RI)
Jingle ITB FAIR 2010: Fruit n’ Salads
Pengumuman Juara CDC (Community Development Competition)
Cokelat, UKA ITB, UKIR ITB, MGG ITB, ITB Golden Voice, Teatrikal Infinity
7 Februari 2010 | 19.00 –22.30 WIB
Jam Ganesha

Ryan Apa Adanya [1]

Tahun 2006 adalah masa yang menyenangkan oleh Ryan. Tahun disaat Ryan mendapatkan tantangan mandiri di sebuah kota yang dipenuhi dengan kembang dan semilir angin sejuknya. “KOTA BANDUNG”, orang-orang disana mengatakannya. Tahun ini adalah momentum Ryan untuk pertama kalinya memakai jas almamater ITB.

“Kini aku sudah menjadi mahasiswa!!”, begitulah pekik didalam pikirannya.

Hari ini dia akan berkumpul bersama kawan-kawannya disebuah gedung Sasana Budaya Ganesa untuk dilantik secara resmi menjadi seorang salah satu civitas akademik institut terbaik bangsanya.

Waktu itu, Ryan masih ingat bahwa ia merupakan salah satu pemuda Kalimantan yang beruntung yang dapat duduk di Sabuga ITB bersama pemuda-pemuda lainnya. Ada perasaan membuncah didalam hatinya. Ada rasa senang karena dapat masuk fakultas idamannya, dan juga ada rasa sedih karena harus meninggalkan orang tuanya di Pulau seberang sana. Disana, Ryan melihat banyak tingkah laku calon teman-temannya. Di sela-sela ngantuknya mendengarkan Bapak Joko Santoso – sang Rektor ITB – sedang berpidato, dia coba melirik ke segala penjuru yang dapat dijangkau matanya.

Di satu sudut, Ryan melihat pasangan muda-mudi yang sedang asyik bercengkrama seolah ruangan besar sabuga ini hanya milik mereka berdua. Seandainya waktu Itu Ryan bisa berteriak, mungkin dia akan meneriakkan,

“Woi, Kalau pacaran jangan disini dong!”

namun sayang niat itu dia urungkan mengingat status dia yang hanya seorang mahasiswa diantara ribuan mahasiswa lainnya. Di sudut yang lain, ada orang yang sedang tertidur pulas tersandar lunglai diatas bangkunya. Dan di sudut terakhir dia lihat, ada juga ternyata bisa konsentrasi selama 2 jam  penuh memperhatikan pak Joko berkoar-koar.

Beberapa saat kemudian, ada selembar kertas berwarna merah yang disebar ke seluruh mahasiswa baru di sabuga. Entah dari mana asalnya. Dan surat itu akhirnya lewat juga di depan Ryan. Entahlah apa itu, tapi yang pasti kertas merah itu mengalihkan dunianya.

“Wah ternyata sebuah surat dari rektorat!”, itu jelas hatinya.

Apakah itu kabar baik atau bukan, Ryan belum tahu. Namun yang pasti itulah surat rektorat yang pertama dia dapatkan.

Bukan kepalang Ryan keheranan, ternyata surat itu berisikan larangan untuk mengikuti OSKM yang diadakan KM ITB. Isi surat itu tidak habis sampai disitu. Ryan melanjutkan lagi bacaannya. Walhasil, ditutuplah surat itu dengan adanya ancaman DO.

“Apaan ini! Drop Out! “

“Gila aja kalau aku yang baru beberapa menit lalu dilantik menjadi mahasiswa baru disini, langsung di DO gara-gara acara kayak ginian”, begitu koar didalam jiwanya.

Karena terbiasa tegas didalam dirinya, akhirnya Ryan memutuskan bahwa dia tidak akan ikut OSKM. Dia mungkin tidak faham bahwa OSKM akan mengubah diri dan karakternya menjadi lebih baik, tapi dia tahu benar kata “DO” bukanlah kata yang pantas disematkan dalam sederet sejarah hidup yang telah dia buat.

**

Beberapa menit kemudian berakhirlah acara itu. Ryan bergegas untuk keluar ruangan bersama teman-temannya yang lain.

“Hmph, hmph, hmph”

Ryan coba berdesak-desakan untuk keluar dari salah satu dari tiga pintu yang ada didalam Sabuga. Akhirnya langit biru diluar gedung Sabuga sudah terlihat. Ryan segera bergegas keluar untuk menampung sebanyak-banyaknya oksigen yang bisa dia hirup.

“Segar sekali rasanya kota Bandung ini!”, puas batinnya.

Sayang, kepuasan itu berlangsung hanya selama 2 detik pertama saat ia masih memandang langit. Saat ia mencoba mendaratkan pandangannya ke lapangan parkir, bulu kuduknya serasa bergidik. Ada sekumpulan orang-orang memakai jas almamater hijau berlambang gajah duduk. Ternyata mereka adalah panitia OSKM ITB 2006. Ada yang berambut gondrong, botak, dan afro membawa bermacam-macam bendera. Ada bendera yang bertuliskan “Keluarga Mahasiswa ITB” yang melingkar dalam logo Ganesa. Ada bendera-bendera lain yang bertuliskan PATRA, HMT, HME, HMIF, dan beberapa lainnya yang dia tidak kenal. Mereka semua tampak menjadi pagar di sisi kiri dan kanan ruas jalan seolah mencoba melindungi dan membimbing semua mahasiswa baru pada sebuah tempat. Beberapa saat kemudian, berlarilah seorang pria membawa pengeras suara yang naik disebuah podium yang terbuat dari kayu.

ITB”, serunya. Suaranya seolah menggelegar membelah langit.

ITB, ITB, ITB”, balas sahutan menyambar dari kawanan sekitarnya.

“Mari kita nyanyikan sebuah lagu untuk menyambut kawan-kawan mahasiswa kita yang baru keluar dari gedung Sabuga”, lelaki di podium itu berteriak-teriak layaknya orator ulung.

Dan kawanan disekitarnya mulai mendendangkan sebuah lagu. Sebuah lagu yang asing di telinga Ryan. Sebuah lagu yang pertama kali dia dengar saat menginjakan kakinya di ITB. Lagunya sederhana, namun sarat makna akan makna kebangsaan dan kemahasiswaan.

Kampusku, rumahku
Kampusku, negeriku
Kampusku, kebebasanku
Kampusku, wahana kami

Di sana kami dibina
Menjadi manusia dewasa
Namun kini apa yang terjadi
Ditindas semena-mena

Berjuta rakyat menanti tanganmu
Mereka lapar dan bau keringat
Kusampaikan salam-salam perjuangan
Kami semua cinta cinta Indonesia

Kaumku mahasiswa
Di mana kini kau berada?
Belenggu di sisi kirimu
Penjara di sisi kananmu

Berjuta rakyat menanti tanganmu
Mereka lapar dan bau keringat
Kusampaikan salam-salam perjuangan
Kami semua cinta cinta Indonesia
Kusampaikan salam-salam perjuangan
Kami semua cinta cinta Indonesia

Bersamaan dengan selesainya lagu itu, sampai pula-lah Ryan pada ujung pagar manusia itu. Kini Ryan sampai di pinggir jalan raya. Dalam diamnya, dia sedikit bertanya, “Apa aku ikut saja acara ini!”. Entah itu adalah sebuah idealisme atau bukan, tetapi yang pasti itu muncul begitu saja terlebih setelah mendengarkan lagu tadi. Namun otak rasionalnya berkata lain.

“Kamu ingin di ‘DO’ Ryan?”

Otak rasionalnya menghantui dan menyelimuti pikirannya. Jika ibarat perang, mungkin saat ini Ryan mengalami perang batin. Perang antara rasionalisme dan idealismenya. Tampaknya idealisme Ryan harus kalah kali ini. Ryan telah memastikan bahwa dia tidak akan pernah ikut OSKm. Mulai hari itu. Dan tentu saja juga di hari-hari berikutnya. Maafkan Ryan, KM ITB.

For My Dad

Is only a man

That love can not be measured

Deep ocean, as wide as the sky

so he breaks down the time

dripping with sweat and longing

For me

**

Didedikasikan untuk Ayahku yang sedang sakit


A Culture of Dicipline

A “culture of discipline” is a phrase used by Jim Collins (Good to Great) in his study of great companies. All of the great companies, those that far outperform others, have a culture of discipline. This does not mean that they spend their time disciplining people. When you have a culture of discipline you rarely need to discipline people.

A culture of discipline is not about punishing people, but it is about control. It is about self control. Disciplined thinking leads to disciplined action. All greatness, whether it be in athletics, music, art, business, leadership, healing arts and sciences, teaching, or sales, is a result of discipline.

Whether we are talking about an individual or an organization, it all starts with the question: “Who are you and what is your purpose?” Your purpose is found at the crossroads of that which you are passionate about and that which you are good at. Once we are clear about our purpose and the kind of person and/or organization we are, then we need to discipline our thinking in order to achieve it. Thoughts and behaviors that contribute to the purpose are then nourished and expanded.

Most people, and most organizations are undisciplined. We entertain thoughts in our minds that contradict our purpose. We allow behaviors in ourselves and others that should be unacceptable. In a culture of discipline we are clear about who we are and where we are going. We address contradictions honestly, first in ourselves, and then in others, and resolve them.

I worked with an organization where the senior leaders loved their work and worked very hard. They saw themselves as disciplined. Yet, they were very undisciplined. Leaders in this organization each went in their own direction. Some of them were noted for being unapproachable and cranky. Others avoided all conflict and said “yes” to everything. Another was known for flying off the handle whenever he felt threatened. All of these managers were talented people. Discipline is about practicing the thoughts and behaviors consistent with your purpose and your goals. It is about holding yourself accountable when you are inconsistent. Much of the talent and hard work of these managers was dissipated because thinking and behavior were not in alignment with purpose and values.

In a culture of discipline we live in alignment with our purpose and in accordance with our values regardless of what is happening in the world. A culture of discipline is responsive to whatever happens. A non disciplined culture has knee jerk reactions to both crisis and opportunity. This is because the motivator in these non disciplined cultures is fear. In a culture of discipline you are motivated by love–love for your purpose; love for those whom you serve; and love for your values. You live from the inside out. This makes you more stable, yet responsive to what is happening around you.

When opportunity presents itself, you don’t grab for it. You think about it. You ask: “Does this fit with my/our purpose? Is this something I/we are willing to do well? Can I/we be passionate about this?” Also, you want to know if it will contribute to your long term viability.

When crisis hits, you respond in ways that are consistent with your purpose and values. No short cuts! Collins wrote in Good to Great, that companies who stuck by their values tended to be more successful. The key, he found, was not in what values they chose, but that they stuck by their values, whatever they were.

In a culture of discipline we make a commitment to our mutual purpose and values. We refuse to allow behavior that is outside that framework. People who violate the purpose and values are given a chance to learn and to change. If they choose not to, they leave. A culture of discipline is not an authoritarian regime where one person is the enforcer. Those organizations tend to fall apart when the dictator leaves. The disciplined culture requires people to adhere to a consistent system, within which they have freedom and responsibility. In a culture of discipline we all help each other to stay on track by reminding each other through ongoing feedback and being a role model.

If you want to see if your organization has a culture of discipline, listen to the stories that are told. Are they stories of accomplishment and appreciation of the efforts of people? Or, are they stories tinged with negativity and criticism? Do people tend to be generous with credit for work well done, or do they mostly talk about what “I” did? Fear based and egocentric stories are ultimately demoralizing and feed negativity. Stories about people going out of their way to help people, and stories where credit is given to others consistently reinforce the purpose, the values, and the way of thinking that identifies the organization at its best. We discipline our minds away from negative and victim thoughts and toward thoughts of appreciation, understanding, problem resolution, and the possibilities to be found in any situation.

I must admit that I have often rebelled against discipline. I thought it would cramp my style or limit my freedom. What I have learned is that discipline enforced by a dictatorial person does cramp everyone’s style and limit freedom. Discipline agreed to by each individual does the opposite. Self discipline allows us to achieve excellence.

Discipline that grows out of a commitment to a common purpose creates a structure, a consistency that helps people to make wise choices. The unwillingness to accept poor behavior is reassuring. Employees see leaders behaving consistently and they are inspired to think and behave in alignment with purpose and values. Extensive work rules are not needed when people are already motivated.

Whether you lead an organization or just yourself, discipline will determine much of your success. Each day examine your thinking, your behavior, and your decisions. Ask: “Does this fit with my purpose? Is this a true reflection of who I am? Does this fit with my organization’s purpose and values?” Learn to say “No” to thoughts and behaviors that do not align with purpose and values. Say “Yes” to thoughts and behaviors that affirm your purpose. Thinking, and then doing the right things consistently will keep you on purpose and lead you toward greatness.

Aku ingin Sepertimu

Aku ingin selalu mewarisi sifat ikhlas,
Seperti ikhlasnya sang laut luas disana
yang tidak pernah protes terhadap apa yang
diberikan kepadanya melalui sungai.
Laut tidak pernah marah dan menolak
Apa saja yang diberikan oleh anak-anak sungai tersebut.
Dengan ikhlas dia menerima semua kotoran dari daratan,
Apakah itu sampah, kotoran & sisa aktivitas kehidupan manusia.

gelombang ombak yang dinamis
arus yang bergerak kuat
menampung semuanya.
dalam dekapan kedalaman samudranya
semua benda itu sudah menyatu dalam rumah besar lautan.
Laut selalu ikhlas memberi yang terbaik
Tidak pernah pamrih untuk berkontribusi.
Mulai dari garam yang begitu berperan dalam lezatnya
Semangkuk sayur kita
Sampai hasil minyak bumi yang membuat
Banyak manusia tergantung kepadanya.

Seperti kata orang bijak kepada kita
Tentang lautan,,,
Jika engkau ingin melapangkan hati
Dan membesarkan jiwa,
Sering-seringlah memandang lautan.

IPK Tinggi, Haruskah?

Alhamdulillah, selama 3,5 tahun berkuliah di ITB saya banyak belajar tentang makna kompetensi mahasiswa dan kaitannya dengan nilai indeks prestasi. Banyak hal yang ajaib terjadi. Pernah saya menemukan seorang mahasiswa yang kesibukan aktivitasnya luar biasa namun dia masih bisa memiliki IPK yang tinggi (standar IPK tinggi menurut saya : IPK > 2.9). Namun saya juga pernah menemukan seorang mahasiswa yang memiliki waktu sangat banyak untuk belajar namun IPK nya tidak terlalu memuaskan. Ada pula saya temukan, seorang mahasiswa yang memiliki IQ yang standar namun dapat memiliki IPK yang lumayan tinggi karena dia bersungguh-sungguh.

Dari beberapa fenomena ini, saya mencoba membuat sebuah hipotesis sederhana : Nilai IPK tidak ditentukan oleh seberapa banyak aktivitas yang dilakukan, namun Nilai IPK ditentukan dari seberapa kesungguhan seseorang yang mengetahui kapasitas dirinya untuk mencapai nilai IPK yang dia inginkan.

Dengan mengetahui kapasitas dirinya, ia bisa mengukur seberapa besar skala kesibukan aktivitasnya sehingga dia tidak mencederai ruang privatnya sebagai seorang mahasiswa dan ruang publiknya sebagai seorang aktivis. Sebenarnya mulai dari hal inilah muncul banyak excuse atau dalih seorang aktivis.  Dan  kalau diperhatikan lebih lanjut, sebenarnya dari sini kita juga dapat mengetahui seberapa tinggi ‘kelas’ aktivisnya.

Namun sekarang timbul pertanyaan menarik. Memangnya IPK tinggi itu buat apa ya? Apakah itu mempengaruhi kesuksesan saya? Mengapa kita harus bercapek-capek untuk mendapatkan IPK yang tinggi kalau misalnya itu tidak mempengaruhi kesuksesan saya? Inilah yang mau saya bahas di tulisan saya kali ini.

Sesuai dengan definisinya, indeks prestasi adalah nilai kredit rata-rata yang merupakan satuan nilai akhir yang menggambarkan mutu penyelesaian suatu program studi. Indeks Prestasi dihitung pada setiap akhir semester. Mungkin jika dianalogikan dengan zaman SD, SMP, dan SMA, indeks prestasi itu mirip dengan raport siswa.

Namun kita harus mengakui bahwa Tuhan kita telah menciptakan sesuatu berpasang-pasangan, selalu menemui hitam disamping putih, ada partikel ada gelombang, ada cinta dibalik benci, ada baik diantara buruk, dan begitu juga nilai IPK, ada tinggi ada rendah. Sehingga ketika seseorang memiliki IPK yang tinggi, maka pasti ada orang lain yang ber-IPK rendah.

IPK yang tinggi pun menjadi sasaran utama mahasiswa-mahasiswa agar memiliki akses yang lebih mudah dalam berbagai hal, dari perihal melamar beasiswa, program pertukaran pelajar, lamaran kerja di perusahaan bagus, melanjutkan jenjang lanjut hingga untuk “memuaskan” diri sendiri, orang tua, calon mertua, ataupun istri.

Namun tidak dapat dielakan pula ada mahasiswa yang sulit sekali mendapatkan IPK yang tinggi. Ada yang beralasan bahwa memang kemampuan intelektualnya (IQ) telah sampai pada batas maksimalnya, ada yang beralasan karena mereka memang malas untuk belajar, dan ada pula yang beralasan untuk hanya sekedar menunaikan amanah orang tuanya sehingga dia tidak memiliki effort yang tinggi untuk belajar.

Suatu saat saya pernah menemukan anekdot lucu, bahwa nilai IPK : 1-2 itu diperuntukan untuk calon-calon wirausahawan, nilai IPK : 2-3 itu diperuntukan untuk calon-calon karyawan, dan nilai IPK : 3-4 itu diperuntukan untuk calon-calon dosen. Terlepas benar apa tidak, tapi tampaknya memang trend-nya seperti itu.

Dewasa ini, paradigma seseorang (terutama di Indonesia) untuk melanjutkan studi hingga ke perguruan tinggi adalah agar cepat lulus dan mencari kerja. Sedangkan aspek fundamental lain yakni menjadi peneliti (researcher), inventor ataupun inovator hingga entrepreneur dibidang profesinya menjadi tujuan yang langkah para mahasiswa. Seyogianya seorang sarjana mampu menciptakan lapangan pekerjaan sebagai bentuk kontribusi bagi perkembangan ilmu, teknologi dan ekonomi masyarakat dan bangsa. Namun, tampaknya banyak perguruan tinggi saat ini memiliki sistem akademik yang cenderung hanya menjadi institusi “penyalur kerja“. [bersambung]

Hernando de Soto, seorang pemikir ekonomi dunia asal Peru pernah menegaskan bahwa sejak proses globalisasi mulai berlangsung, kondisi kehidupan di hampir semua negara terkesan meningkat, apalagi jika diukur dengan indikator-indikator lebih luas. Namun, seringkali pula peningkatan itu hanya ada dalam hitung-hitungan di atas kertas. Negara-negara maju dan kuat memang bisa meraih keuntungan, tapi tidak negara-negara berkembang dan miskin.

Pengalaman sudah membuktikan sejak proses globalisasi bergulir muncul pula isu-isu seperti perdagangan global yang tidak fair, juga sistem keuangan global yang labil yang menelorkan krisis. Dalam kondisi tersebut, negara-negara berkembang dan miskin berulang kali terjebak jeratan utang yang justru jadi beban. Belum lagi bermunculan rezim hak properti intelektual, yang malah menghabisi akses masyarakat miskin untuk mendapat obat-obatan dengan harga terjangkau.

Dalam proses globalisasi, seharusnya uang mengalir dari negara kaya ke negara miskin. Tapi, dalam beberapa tahun terakhir, yang terjadi justru sebaliknya. Sementara negara-negara kaya memiliki kemampuan untuk menahan risiko fluktuasi kurs dan suku bunga, negara-negara berkembang dan miskin menanggung beban fluktuasi tadi.

Mari berkaca pada isu perjanjian AFTA yang kini menjadi dampak sistemik globalisasi, pada sektor ekonomi Indonesia. Sebenarnya AFTA merupakan peluang bagi negara ASEAN untuk berkompetisi secara fair memasarkan produk hasil negerinya. Namun dengan kehadiran Cina yang turut meramaikan perjanjian ini, menjadikan semua bangsa di ASEAN menjadi was-was, termasuk negara Indonesia.

Dengan kemampuan Cina menghasilkan produk yang sangat murah, Ekonom Indonesia benar-benar khawatir kalau produk dalam negeri ini tidak mampu bersaing dengan negara itu. Hal ini diperkuat lagi dengan adanya fakta, banyak industri pengrajin Indonesia yang bangkrut akibat tidak mampu bersaing dengan produk Cina. Padahal itu terjadi jauh sebelum AFTA diberlakukan.

Mari beralih pada sektor kehidupan yang lain. Jika tadi Hernando lebih berfokus dampak sistemik globalisasi sektor fiskal, maka Marshall Mc Luhan, seorang penulis buku Understanding Media, lebih berfokus pada dampak sistemik globalisasi pada sektor budaya. Dia mengatakan, bahwa kini semakin nyata saja imbas teknologi komunikasi pada berbagai sektor kehidupan.

Media massa global seperti CNN, MTV, CNBC, HBO, BBC, ESPN, dan lain-lain, telah menjangkau dan menembus yuridiksi berbagai negara. Setidaknya informasi itu sering dimaknai di dalamnya mengandung kebudayaan, maka terjadilah penyebaran budaya global. Media massa berperan sebagai kekuatan trend setter untuk isu-isu global, baik persoalan politik seperti HAM, lingkungan hidup, maupun terorisme internasional, hingga ke persoalan budaya dan gaya hidup.

Dampak sistemik ini telah kini telah sampai di Indonesia. Ada dampak positif dan ada dampak negatif. Dampak positifnya adalah semakin mudahnya kita mengakses berita internasional dalam real-time saat informasi itu baru didapatkan. Namun disisi lain, dampak negatif pun tak dapat dielakkan juga. Tampaknya telah terjadi pergeseran nilai-nilai norma kesopanan yang dahulu kita pegang teguh sebagai identitas negara kita. Saat ini banyak beredar film Indonesia berkedok komedi atau horor, namun sebenarnya lebih banyak menonjolkan adegan vulgar yang mengikuti budaya hidup orang barat.

Sebenarnya masih banyak lagi dampak sistemik globalisasi yang mempengaruhi sendi-sendi kehidupan bernegara kita. Namun yang terpenting adalah bukanlah mendaftar efek sistemik apa saja yang telah didapatkan Indonesia. Yang terpenting adalah kini sudah saatnya rakyat dan pemerintah Indonesia sadar, bahwa saat ini bukanlah lagi waktu untuk bersantai-santai dan memperlambat gerak pembangunan. Kalau ini terus dibiarkan, maka negara kita akan tergilas oleh dampak sistemik itu sendiri.

Dengan adanya arus globalisasi dunia ini, Indonesia dihadapkan pada hanya dua pilihan saja : memilih hal ini sebagai sebuah peluang atau sebagai sebuah hambatan. Peluang berarti setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk memanfaatkan situasi ini dalam menghidupi kehidupannya dengan baik, sedangkan tantangan berarti setiap orang diberi kesempatan untuk berkompetisi dan menunjukkan kemampuannya. Sudah saatnya Indonesia melakukan akselerasi pembangunan disegala sektor menghadapi tantangan era globalisasi yang sudah hadir di depan mata.

Proses globalisasi ini membuat dunia menjadi kian sempit seperti persis yang dikatakan Thomas L. Friedman didalam bukunya yang berjudul  The World is Flat. Jadi janganlah heran, jika kita dapat menemukan dengan mudah berbagai produk luar negeri yang beredar di seantero negeri kita.

Disamping itu, globalisasi pun telah membuat seakan negara satu dan lainnya kehilangan batas-batas jelas teritorialnya serta berujung pada hilangnya status “negara–bangsa”, yang sama persis seperti ramalan Profesor Kenichi Ohmae didalam bukunya yang berjudul The End of Nation State.

Proffesor Kenichi Ohmae telah mewanti-wanti sejak lama kepada semua negara yang ada di dunia bahwa ada empat “I” yang akan membawa dampak sistemik globalisasi ini. Keempat “I” tersebut adalah Industri, Investasi, Individualisme, dan Informasi. Jadi sudah seharusnya Indonesia mulai berancang-ancang terhadap empat “I” ini.

Sudahkan industri kreatif Indonesia dikembangkan secara optimal? Sudahkah penanaman investasi di berbagai sektor Indonesia telah dimaksimalkan? Sudahkah ada penanggulangan efek individualisme sebagai efek kesenjangan si kaya dan si miskin di Indonesia di lakukan? Dan sudahkah sektor informasi di maksimalkan hingga sampai di pelosok desa terpencil Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan milik pemerintah saja, tapi milik semua bangsa Indonesia. Mari kita saling bahu-membahu untuk menciptakan sebuah peluang di era globalisasi ini.

Kenichi Ohmae

Described as “Mr. Strategy” worldwide, Dr. Kenichi Ohmae is regularly sought out as a public speaker and management consultant. Ohmae, according to the Financial Times of London, is “Japan’s only management guru.” In 1994, The Economist selected him one of five management gurus in the world. As an author he has published over 100 books, many of which are devoted to business and socio-political analyses. He has also contributed numerous articles to major publications (e.g., Wall Street Journal, Harvard Business Review, Foreign Affairs, New York Times). The Mind of Strategist (McGraw-Hill), Triad Power (Free Press), Beyond National Borders (Dow Jones Irwin), The Borderless World (Harper Business), The End of the Nation State (Free Press), and The Evolving Global Economy (editor, Harvard Business School Press), The Invisible Continent ミ Four Strategic Imperatives of New Economy (HarperCollins/Nicholas Brealey Publishing), are among the most popular of his books printed in English.

For a period of twenty-three years, Dr. Ohmae was a partner in McKinsey & Company, Inc., the international management consulting firm. As a co-founder of its strategic management practice, he has served companies in a wide spectrum of industries, including industrial and consumer electronics, financial institutions, telecommunications, office equipment, photographic equipment, industrial machinery, food, rubber, and chemicals. His special area of expertise is formulating creative strategies and developing the organizational concepts to implement them both for private and public sectors. Some of Japan’s most famous and internationally successful companies continue to seek his help in shaping their competitive strategies. Likewise, his counsel is also much in demand among Asian, European and North American-based multinational and governmental institutions. He has also played a vital role in assisting Asian Governments to develop future oriented-regional strategies.

Dr. Kenichi Ohmae is the Founder of “Reform of Heisei”, a citizen’s socio-political movement established on November 25, 1992, to promote and catalyze the fundamental reform of Japan’s political and administrative systems. Dr. Ohmae is also founder and Managing Director of the Ohmae & Associates, EveryD.com, Inc. (an internet platform for living rooms), Business Breakthrough (an around-the-clock interactive satellite television for business and management), Ohmae Business Developments, Inc. (entrepreneurial contest and venture incubation), General Services, Inc. (GSI). He is also Dean of Attacker’s Business School focused on entrepreneurship. From January 1997, he joined the UCLA School of Public and Social Research as Chancellor’s Professor of Public Policy. He currently serves as a member of the board of directors of Graviton, Square Co. Ltd., e-System Corporation, and ACI (Academy Capital Investment), as well as adjunct professor of Bond University, and is on the board of SEI (Center for Advanced Studies for Management) at The Wharton School (University of Pennsylvania). In September 2002, he was named the advisor of Liaoning Provice and Tianjin City in China.

Dr. Ohmae attended Waseda University (BS), the Tokyo Institute of Technology (MS), and the Massachusetts Institute of Technology (Ph.D. in nuclear engineering). Prior to joining McKinsey, he worked for Hitachi as a senior design engineer on Japan’s prototype fast breeder reactor. He received an honorary doctorate from Notre Dame University in 1995. He now resides in Tokyo with his wife, Jeannette, and two sons, who share his spare-time interest in music, sailing, marshal arts, motorcycles, and scuba diving.

Hujan Kita

Hujan turun deras di suatu bulan
Menyirami halaman depan yang selama ini gersang
Rerumputannya kembali tumbuh hijau
Yang dulu meranggas dimusim kemarau

Kali kecil naik sampai pinggang
Bau tanah basah menguap dari kebun belakang
Aroma pagi terasa hingga siang
Suasana hati sejuk riang

Lelah luluh tak tunggu larut
wajah – wajah pulas tak berkerut
seakan hilang semua kemelut
seakan hidup tanpa maut

Makna Kebahagiaan

All happy families resemble one another, each unhappy family is unhappy in its own way. (Leo Tolstoy, “Anna Karerina“)

***

Kebahagiaan. Seperti kata Tal Ben-Sharar, pakar tentang kebahagiaan dari Harvard University, adalah “the ultimate currency.” Makridakis, Hogarth, dan Gaba sewaktu menyusun buku “Dance of Chance” memberikan kuisioner ke lebih dari 750 mahasiswa dan dosen dengan pertanyaan berikut, “Anggaplah ada jin yang bisa mengabulkan 1 permintaan, permintaan apa yang akan Anda ajukan?” Apakah permintaan yang muncul di tempat teratas? Bila Anda menebak “KEBAHAGIAAN”, Anda tidak salah: 64% responden memilih kebahagiaan. Urutan kedua sampai keempat – kesehatan, kemakmuran, dan sukses – sebenarnya bisa juga dilihat sebagai sarana menuju tujuan akhir, kebahagiaan.

Obsesi kita terhadap kebahagiaan tidaklah sulit untuk ditebak. Hampir semua yang kita lakukan adalah demi tujuan akhir tersebut. Coba jawab pertanyaan mudah berikut ini, “Apa yang Anda lakukan saat ini?” Anda sudah menjawab? Bagus. Lalu dari jawaban Anda tadi, tanyakanlah lagi, “Mengapa Anda melakukan hal tersebut” Untuk mendapatkan uang? Untuk kenaikan gaji? Agar kelihatan lebih menarik? Agar sehat? Apa pun jawaban Anda, tanyakan lagi “Mengapa Anda ingin mendapatkan uang/kenaikan gaji/kesehatan/tampil lebih cantik/dsb ?” Sudah tahu jawabannya? Tanyakan lagi terus pertanyaan di atas. Boleh bertaruh, dalam hampir semua kasus, jawaban atas pertanyaan berantai tersebut akan tiba di jawaban pamungkas “Agar saya bisa mendapatkan kepuasan hidup atau dengan kata lain: kebahagiaan.

Obsesi kita terhadap kebahagiaan juga melahirkan ratusan bahkan ribuan buku yang membahas tentang cara-cara menjadi bahagia; atau setidaknya menjadi sukses (dengan asumsi kesuksesan akan melahirkan kebahagiaan; sebuah asumsi akan coba kita uji dan bahas pada artikel berikutnya). Walau kebanyakan buku-buku tersebut ditulis dengan niat baik penulisnya, tidak ada salahnya Anda berhati-hati menerapkan saran-saran yang mereka ajukan karena kebanyakan buku tersebut tidak didasarkan atas kesimpulan yang kokoh. Kita tentu tidak usah meragukan para penulis tersebut adalah orang-orang bahagia yang berniat baik menyebarkan “rahasia” kebahagiaan mereka kepada orang lain. Namun sering apa yang bekerja dengan baik untuk penulis tersebut, tidaklah selalu sesuai dengan kondisi kita. Kesimpulan yang ditarik dari satu contoh (dari diri si penulis tersebut atau beberapa contoh keberhasilan individu lain yang dicomot dari buku lain) bukanlah konklusi yang kuat. Kesimpulan yang kuat harus ditarik dari ratusan sampel yang representatif dan tak tercemar data atau proses analisis yang bias (seperti survivorship atau confirmation bias). Kadang para penulis tersebut sering mengaburkan antara “sebab” dan “akibat”. Sebagai contoh: Apakah sukses melahirkan kebahagiaan? Atau kebahagiaan yang menyebabkan kesuksesan? Atau antara kebahagiaan dan kesehatan. Mana yang sebab, mana yang akibat?

Bhutan dan Jepang sama-sama merupakan masyarakat Buddhis. Tak perlu didebat lagi: Jepang jauh lebih makmur dari Bhutan. Namun dalam survei kebahagiaan internasional, Bhutan secara konsisten menempati urutan atas (bukan teratas, tetapi cukup atas), sementara Jepang menempati urutan bawah. Ambil juga Cina dan Hong Kong yang memiliki budaya dan tradisi yang relatif sama. Hong Kong jelas lebih makmur dari Cina, dan memiliki sistem politik yang lebih bebas. Namun dalam indeks kebahagiaan, kedua negara tersebut menempati posisi yang relatif sama. Survei yang dilakukan Ed Diener dan Martin Seligman juga memberikan perspektif lain: Tidak ada perbedaan signifikan dalam hal kepuasan hidup antara para milyuner yang masuk daftar orang-orang terkaya versi Fortune dengan suku Inuit yang tinggal di Greenland atau suku nomaden Maasai yang tinggal di Kenya dan Tanzania. Bayangkan, satu kelompok memiliki kekayaan berlimpah yang bisa membeli apa pun yang mereka inginkan; dan kelompok lain hanyalah suku yang memiliki harta apa adanya. Tetapi tingkat kebahagiaan mereka relatif sama! Malah kepuasan hidup suku Inuit dan Maasai masih lebih tinggi dari penduduk Swedia yang termasuk negara makmur.

Bila Anda menyimpulkan dari paragraf di atas bahwa uang tidak bisa memberi kebahagiaan, jangan menarik kesimpulan terlalu cepat. Ingat: kita harus belajar berpikir dengan lebih kritis. Swiss dan Denmark, dua negara maju secara konsisten tetap menempati urutan teratas dalam survei kebahagiaan internasional; sementara penduduk di negara seperti Irak atau penduduk miskin yang sehari-hari harus mengais sampah untuk mencari sesuap nasi masih menempati posisi yang jauh nun di bawah.

Maka perspektif kebahagiaan memanglah sederhana, namun kompleks dijelaskan dalam bahasa manusia. Ia menjelma didalam diri manusia, menjadikan raganya sehat, berpikir jernih, dan jiwanya tentram. Dua kata kunci memaknai kebahagiaan secara hakiki : Bersyukur dalam kenikmatan dan bersabar dalam kesusahan. Semoga Anda dapat menjadi orang yang berbahagia. []

Tulisan Sebelumnya »