2011 at the Glance (will be continued)

Dalam tulisan saya kali ini, saya ingin kembali menuangkan ingatan saya pada kejadian-kejadian yang saya alami selama tahun 2011. Mudah-mudahan ini dapat menjadi motivasi dan pembelajaran bagi saya sendiri untuk menjadi lebih baik dan terus berkarya di tahun 2012.

JANUARI 2011 (YOU’RE GETTING OLD)

Pada bulan ini tepat saya berumur 22 tahun. Sebenarnya semuanya berjalan dengan biasa-biasa saja sampai sekelompok kawan-kawan mengerjai saya sewaktu acara Diklat Aktivis Terpusat (DAT) 2011. Dibelakang panggung, Herry (sang presiden) pura-pura merasa kecewa kepada saya karena saya bercanda sedikit berlebihan kepada dirinya.

Sewaktu Herry maju kedepan untuk memberi sambutan didepan panggung, saya juga ikut dipanggil maju kedepan. Parahnya, didepan beratus-ratus peserta saya di maki-maki. Wah, betapa malunya saya, saya yang waktu itu diamanahi sebagai salah satu mentri koordinator ‘dimarahi’ didepan umum. Untungnya hal itu Cuma skenario belaka.

Tiba-tiba Levina, sekertaris saya (yang sekaligus pembuat skenario ultah saya), muncul dibalik pintu samping bersama kawan-kawan mentri lainnya seraya bernyanyi lagu Happy Birthday to You. Dan semua peserta DAT pun akhirnya juga menyanyikan lagu tersebut. Diam-diam, saya berbalik ke belakang panggung sebentar untuk menghapus mata saya yang berkaca-kaca. Terima kasih semuanya kawan-kawan.

FEBRUARI 2011 (MY FIRST BOOK)

Pada awalnya,saya tidak pernah berpikir untuk membuat sebuah buku. Namun semenjak bertambahnya pengalaman saya mengisi acara LDK di berbagai daerah Indonesia, membuat saya bertekad untuk membuat sebuah buku tentang dakwah kampus. Jika dicermati, ternyata ada banyak permasalahan yang sebenarnya hampir sama dihadapi oleh setiap organisasi dakwah kampus namun belum ada referensi buku yang banyak menjawabnya. Maka saya ingin turut andil dalam hal ini dengan membuat buku.

Impian terbitnya buku saya akhirnya tercapai di bulan ini. Draft buku yang selama ini saya tulis secara konsisten selama 6 bulan berturut-turut akhirnya membuahkan hasil. Dengan bantuan Gamais Press, akhirnya buku yang berjudul “Membumikan Dakwah Kampus” rampung tercetak 1000 eksemplar. Buku ini merupakan buku pertama saya yang saya tulis saat saya masih mahasiswa.

Pada satu minggu awal, buku ini ludes tersebar 500 eksemplar ke seluruh penjuru Indonesia. Di titik inilah saya mulai aktif menjadi pembicara mandiri, tidak lagi atas nama FSLDK, ke beberapa kota di Indonesia. Launching buku pertama ini saya lakukan di Universitas Mulawarman yang berada di pulau kelahiran saya sendiri, pulau Kalimantan.

MARET 2011 (GOODBYE KM ITB)

Bulan ini adalah bulan terakhir sekaligus bulan perpisahan Kabinet KM ITB 2010-2011. Tiba-tiba saya teringat kembali bagaimana Herry mendekati saya dan menawari amanah sebagai seorang mentri sosial politik, sekertaris jendral, hingga mentri koordinator pada kepengurusan dirinya. Terus terang, sebenarnya saya memiliki nol pengalaman dalam dunia politik kampus sehingga saya enggan menerimanya. Namun setelah saya pikir-pikir, tidak ada salahnya jika saya menimba pengalaman yang banyak dari tawaran ini. Akhirnya saya putuskan menerima amanah sebagai seorang mentri koordinator dan otomatis menunda kelulusan saya pada bulan Juli 2010.

Ada banyak kisah suka dan duka di kepengurusan ini. Mulai dari mendemo seorang rektor hingga presiden, bergerak turun membantu korban bencana alam, mengkoordinasikan tiga mentri yang hebat-hebat tapi bawel dibawah saya, hingga memimpin pergerakan pengabdian masyarakat mahasiswa Indonesia, pernah saya rasakan disini.

Beruntung sekali saya mengenal kawan-kawan yang hebat di KM ITB. Penundaan kelulusan satu tahun telah terbayar dengan semakin luasnya jejaring koneksi yang saya miliki dan tentu saja pengalaman dalam memimpin organisasi besar dan berorasi tentunya.

APRIL 2011 (TODAY IS MINE)

“Akhirnya gw lulus juga” begitu hati saya berceloteh. Bulan ini adalah bulan kelulusan saya sebagai seorang sarjana strata satu (S1) dari ITB. Tepat di tanggal 09 April 2011, saya bersama kawan-kawan wisudawan lainnya disumpah  di gedung Sasana Budaya Ganesa (SABUGA). Tidak ada kesedihan di hari itu. Kalaupun ada yang menangis, itu pun adalah tangis bahagia orang tua yang melihat anaknya bisa lulus dari kampus yang katanya terbaik di Indonesia.

Mengawali masuk di Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral (FIKTM) pada tahun 2006, saya bersama 300an mahasiswa lainnya memulai debut kami sebagai seorang “mahasiswa baru” dalam tahap TPB. Setelah tahap TPB berakhir, saya melanjutkan kuliah di teknik perminyakan sesuai dengan impian saya sejak SMA bersama 99 mahasiswa lainnya.

Hingga 5 tahun berlalu, akhirnya saya bisa juga lulus dengan predikat nilai yang baik dibulan April 2011. Terima kasih kepada bapak-ibu saya, adik-adik saya, Tanoto Foundation, IA Gamais Foundation, sobat GAMAIS ITB, kawan-kawan KM ITB, dan teman-teman PATRA yang telah memberikan banyak pengalaman dan bantuan kepada saya hingga kuliah di ITB akhirnya terselesaikan.

MEI 2011 (BACK TO FORUM INDONESIA MUDA)

Saya memang pernah ikut Forum Indonesia Muda (FIM) IX di tahun 2010, namun saya tidak pernah aktif di forum itu pasca acara selesai. Bukannya saya tidak mau berkontribusi, namun amanah sebagai seorang mentri mengharuskan saya kembali ke kampus (selain mengerjakan tugas akhir) sehingga saya tidak bisa aktif terlalu banyak di organisasi luar kampus.

Selang satu tahun berlalu, Forum Indonesia Muda X mulai bergaung dilaksanakan. Saya yang merasa bersalah karena selama satu tahun tidak pernah aktif di forum itu akhirnya cepat-cepat ikut dalam kepanitiaan. Apapun tugasnya akan saya laksanakan. Ternyata eh ternyata, saya ditugaskan untuk langsung terjun menjadi seorang Host di hari pertama FIM bersama seorang sahabat yang bernama Mandira Bienna Elmir.

Disinilah momentum saya mulai aktif menjadi salah satu penggerak forum ini. Alhamdulillah, saya tidak terkena virus “activist post syndrome” yang katanya sering melanda mantan aktivis kampus karena bingung memiliki banyak waktu luang setelah amanahnya di kampus selesai. Hingga sekarang saya masih aktif dan senang berada di lingkungan forum itu.

JUNI 2011 (LET SMILE AT SINGAPORE)

Yang ini benar-benar tidak disangka. Saya beruntung diikutsertakan bersama Pak Dedi Panigoro, Om Fauzie Ikhsan, dan 6 peserta terbaik FIM X (Ibam, Rully, Milan, Tyas, Nunuy, dan Arina) untuk pergi ke Singapura. Saya benar-benar tidak pernah membayangkan bisa bepergian keluar negeri secara gratis dan plus diberi uang saku lagi. Hehe…

Ada banyak kesan yang saya dapat di negeri ini. Yang paling membuat saya tercengang adalah ketika saya mengunjungi National Library of Singapore. Saya melihat ada banyak sekali orang yang bergumul di kursi-kursi samping rak buku disana. Mulai dari muda hingga tua hadir disana dan serius untuk membaca buku yang dipegangnya. Padahal jelas-jelas hari itu adalah hari minggu, hari dimana biasanya orang-orang bersantai.

Selain berkunjung ke National Library, saya bersama kawan-kawan lainnya berkunjung ke Pengadilan Singapura, Rumah Duta Besar Indonesia untuk Singapura, kampus NTU, kampus NUS, dan kebeberapa pengusaha Indonesia yang telah sukses disana. Lalu, kami juga diajak oleh Pak Dedi ke Universal Studio dan melihat-lihat tempat rekreasi yang ada di negeri yang katanya salah satu pusat bisnis benua Asia.

Posted in Chief Ryan | 3 Comments

Menggali Cara Geopolitik Energi Negara Maju

Brian Hicks dan Chris Nelder mengatakan bahwa era puncak minyak sudah hampir habis di penghujung tahun 2005. Bisa dibayangkan, dalam kurun 40 tahun sejak minyak diproduksikan secara masif, dunia telah mengkonsumsi satu trilyun barel minyak. Tidak terasa, setengah cadangan minyak dunia sudah habis terpakai.

Masa kejayaan minyak di Indonesia malah lebih tragis. Tercatat dalam laporan BP Migas, penurunan produksi minyak Indonesia terus menurun sejak tahun 2002 hingga sekarang. Padahal sektor industri Indonesia sangat menggantungkan nasibnya terhadap energi fosil itu. Tak pelak lagi, proses industrialisasi Indonesia pun tersendat-sendat hingga akhirnya pemerintah melayangkan kebijakan mengimpor minyak. Sejak saat itulah Indonesia resmi mendapatkan julukan net importer dan neraca energi Indonesia selalu bernilai negatif.

Akankah hal ini akan dibiarkan terjadi, sementara Indonesia memiliki sumber energi alternatif lain yang banyak? Nusantara sangat beruntung karena secara geografis, terdiri dari negara kepulauan dan terletak di antara pertemuan tiga lempeng tektonik (Eurasia, Pasifik, dan Australia) sehingga banyak tanah yang subur akibat luapan lahar gunung api yang terbentuk. Kementrian ESDM telah mencatat bahwa gas alam, panas bumi, angin, matahari, air, dan uranium mendominasi di negeri ini dan sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber energi alternatif. Belum lagi dengan tanahnya yang subur, Indonesia sangat berpotensi untuk mengembangkan sumber energi baru bio-fuel.

Dengan semakin tingginya rencana pemerintah untuk menumbuhkan ekonomi sebesar 7% di tahun 2014, maka sudah dapat dipastikan neraca energi masa depan Indonesia pasti akan ikut membesar. Namun demikian, pemerintah masih tampak kurang serius menanggulangi permasalahan neraca energi ini. Amandemen UU Migas yang tak kunjung beres, belum adanya payung hukum yang kuat untuk Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi (EBTKE), dan pemadaman listrik bergilir merupakan sederet masalah yang masih dipertanyakan kapan selesainya. Ibarat rumput yang tumbuh kembali karena akarnya masih tertinggal, begitulah analogi permasalahan energi Indonesia.

Kerap kali pemerintah masih menganakemaskan energi fosil sebagai pemasok energi dalam negeri dan penghasil devisa. Padahal sudah jelas bahwa negeri ini tidak bisa lagi berharap pada energi fosil itu. Jika tak mau menjadi negara yang terus berharap dengan persediaan minyak, pemerintah harus serius mengembangkan sumber energi alternatif untuk memenuhi neraca energi nasional masa depan.

Saat ini, negara raksasa Chindia (Cina dan India) merupakan pasar yang penting bagi perekonomian dunia. Kedua negara ini memiliki ambisi yang ekstrim untuk menggeser peran Amerika yang telah mendominasi pasar internasional sejak lama. Akibatnya, pasokan energi dunia pun terpusat pada negara-negara besar ini. Tak bisa dihindari lagi, kini geopolitik dunia terpusat pada pemenuhan dan penyimpanan energi untuk meningkatkan harkat negaranya. Disamping mengimpor minyak, tercatat kini Cina dan India telah mengembangkan pula salah satu energi alternatif terbesar yang mereka punya (coal bed methane) sebagai tambahan pasokan energi masa depannya.

Sejalan dengan itu, beberapa negara di benua Amerika, Australia dan Eropa kini juga telah menetapkan kebijakan untuk menghemat, menyimpan minyak, dan juga mengembangkan energi terbarukan sebagai pengganti minyak. Di Amerika Serikat misalnya, terdapat kebijakan pemerintah yang mengharuskan setengah dari kebutuhan energi di Negeri Paman Sam itu harus dipenuhi oleh energi terbarukan pada tahun 2025.

Di samping itu, negara ini pun juga menggiatkan impor minyaknya secara maksimal untuk cadangan energi masa depan. Di Benua Australia, pemerintah lewat Australian Energy Regulator (AER) telah menetapkan kebijakan memberikan insentif dan biaya rendah pada setiap produser energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan masa depan. Pun dibelahan benua Eropa, telah terbentuk juga kesepakatan Uni-Eropa terhadap peningkatan pemakaian energi terbarukan menjadi 20% dalam energi 2020 guna mempersiapkan bekal energi beberapa tahun yang akan datang.

Dari skenario pemenuhan energi berbagai negara tersebut, telah terlihat jelas bahwa hampir seluruh negara maju telah bersiap-siap menghadapi era krisis energi masa depan. Skenarionya selalu sama, yaitu mengimpor minyak sebanyak-banyaknya dan mengembangkan energi alternatif untuk mempertahankan kemajuan mereka. Jika hal ini tidak ditindaklanjuti oleh negara berkembang (termasuk Indonesia didalamnya), maka bisa jadi negara berkembang hanya akan menjadi negara korban di masa depan.

Negara berkembang akan terus berada pada ketertinggalan industrinya, terus-terusan bergantung pada negara-negara maju, dan malah mengimpor kebutuhan energi lewat negara maju. Hal inilah yang oleh Ha-Joon Chang istilahkan sebagai efek Kick Away the Ladder. Pakar ekonomi Korea ini berpendapat bahwa kebanyakan negara-negara maju menggunakan kekuatan ekonominya untuk mengintervensi kebijakan politik (termasuk didalamnya kebijakan geopolitik energi) untuk mendapatkan terus-menerus kekayaan dan melarang negara-negara berkembang untuk melakukan hal serupa.

 

Inilah satu-satunya alasan, mengapa Indonesia harus menggeser paradigma lamanya yang terlalu bergantung pada sumber energi fosil menuju paradigma baru yang fokus pada pengembangan energi alternatif, sebagai tahap untuk mencapai kemandirian energi nasional seperti negara-negara maju lainnya. Ini adalah sebuah harga mati, jika Indonesia tidak mau menjadi korban geopolitik internasional (lagi) di masa depan.

Posted in Ke-Indonesia-an | 3 Comments

Tentang Makna “Harapan”

Bukan dengan keserakahan, kita hidup. Dan bukan karena sebuah khayalan, kita bertahan. Kita hidup karena harapan. Harapan yang membuat kita terus bernapas, tetap bergerak, dan tinggi bermimpi. Tanpa harapan, manusia akan hampa dan tidak akan memiliki jiwa yang menembus batas keterbatasan.

Harapan seperti api lilin kehidupan ditengah gelapnya malam. Ia menjadi imaji, pemantik terang, dan penenang sukma. Dengan harapan, semua manusia menambah keberaniannya. Dan dengan harapan pula, manusia percaya pada cita-cita. Harapan mengubah ketidakpastian menjadi peluang. Harapan juga yang menggeser paradigma sebuah ketidakmungkinan.

Bicara akan harapan, kita berbicara tentang “kita”, bukan “aku”, “kamu” atau “dia”. Harapan terpupuk karena orang disekitar kita. Harapan pupus adalah bersumber dari diri sendiri, namun harapan subur adalah bersumber dari kita dan juga kumpulan semangat doa dari orang sekitar kita.

Tentang harapan, mari kita belajar pada bijak bestari di sekeliling kita. Lihatlah semangat mereka saat terjatuh, perhatikan senyuman mereka saat mendapatkan beban masalah, dan rasakan spirit yang mereka curahkan saat memetik hikmah sebuah kecutnya kehidupan.

Harapan selalu dekat dengan sabar dan juga syukur. Ketika harapan sampai pada kenyataan, maka dia dekat dengan syukur. Dan ketika harapan berakhir sebelum sampai tujuan, maka dia dekat dengan sabar. Sungguh indah bukan kawan, tentang cerita orang yang memiliki pengharapan?

Aku menaruh harapan pada yang terharap. Lalu akankah harapanku akan tercapai sesuai apa yang aku harapkan?

Posted in Getar Jiwa | 1 Comment

Catatan 6: Jangan Mau Jadi Yang Tersisih

“Manusia tidak akan mengetahui kekuatan maksimalnya, sampai ia berada dalam kondisi dimana ia dipaksa kuat untuk bertahan”

Saya memulai catatan saya kali ini lewat ungkapan bijak bestari diatas, dengan harapan bisa mengingatkan kita semua bahwa segala sesuatu yang kita dapat di dunia ini berasal dari apa yang kita usahakan. Tidak mungkin ada hasil yang instan dengan usaha yang instan. Segala sesuatu butuh yang namanya “memulai”, “berproses”, dan “mendapatkan hasil”.

Saya kembali teringat saat saya hendak memulai kuliah di kampus ITB. Waktu itu, ayah saya masih mengalami masalah keuangan dalam bisnis lamanya sambil membangun bisnis baru. Saya sebagai seorang anak tahu persis bagaimana keadaan ekonomi keluarga dan sesekali sempat terbesit di hati ini untuk langsung bekerja dan membatalkan niat saya untuk kuliah di kampus berlambang gajah tersebut.

Dalam keadaan seperti itu, ayah tetap meyakinkan saya untuk tetap berkuliah. Saya diberikan kebebasan untuk memilih kampus negeri. Diam-diam, saya gundah. Keinginan kuat untuk menjadi “sesuatu” untuk negeri ini terus membuncah. Mungkin hal itu dapat ditengarai karena sejak SMA saya sudah terinspirasi dan senang membaca buku tentang kesuksesan dan biografi tokoh-tokoh dunia.

Bagi sebagian orang, mungkin masuk ITB itu mudah. Tapi bagi saya, masuk ITB bisa dikatakan tergolong sulit, selain karena faktor “miskin”nya informasi kampus Jawa di Kalimantan, saya juga harus berusaha secara akademik dan finansial untuk bisa bertahan disana.

Secara akademik, mungkin bekal pernah menjadi runner up umum di masa SMA dapat menjadi bekal kepercayaan diri saya untuk berkompetisi dengan siswa Jawa dan  luar negeri yang kuliah disana. Tapi secara finansial, saya merasa sangat bermasalah. Saya tidak mungkin ikut USM karena biayanya terlampau besar sehingga saya berharap penuh pada SPMB saja.

Tidak beberapa lama kemudian, masa pemanasan SPMB pun tiba. Saya memilih bertengger di Surabaya sambil ikut kursus di salah satu lembaga bimbingan belajar yang ada di kota tersebut. Surabaya menjadi pilihan saya karena saya sama sekali tidak punya kawan di kota Bandung. Selain itu, saya berkeinginan kuat untuk merasakan atmosfer kompetisi akademik di Jawa.

Saat pendaftaran tiba, saya memilih jurusan Teknik Perminyakan ITB dan jurusan Teknik Kimia ITS sebagai isian di lembar pendaftarannya. Saya mau tidak mau memilih ITS sebagai pilihan kedua karena peraturan mengharuskan memilih salah satu jurusan di tempat akan melakukan tes SPMB.

Sewaktu try out SPMB dilaksanakan, alhamdulillah nilai saya lumayan sering masuk kedalam 3 besar tertinggi dalam lembaga yang saya ikuti. Tetapi anehnya, saya tidak pernah mencapai passing grade untuk teknik perminyakan ITB. Kalau dingat-ingat, pencapaian maksimal saya waktu itu adalah melewati passing grade masuk jurusan astronomi ITB. Passing grade teknik perminyakan ternyata masih terlampau jauh. Saya sempat berpikir , “apakah kemampuan saya memang sampai segini dan akan tersisih di awal babak untuk masuk ITB?”

Tapi saya tidak menyerah. Saya tetap berusaha untuk berjuang maksimal. Saya coba meningkatkan waktu belajar saya dari yang awalnya sekitar 4 jam saja menjadi 10 jam setiap hari tanpa mengenal hari libur. Saya mencoba memahami setiap persoalan SPMB perlahan-lahan, sambil memahami apa saja kelemahan saya dalam mengerjakan soal. Buku-buku dari lembaga bimbingan belajar lain pun saya lahap agar perbendaharaan wawasan saya semakin luas. Ya, mungkin semua inilah yang bisa saya lakukan untuk bisa masuk ITB.

Dalam keberjalanan menuju tes SPMB saya menanamkan beberapa hal pada diri saya. Kesuksesan yang terjadi dimasa depan adalah hasil usaha dan keputusan saya dimasa kini. Saya memutuskan akan bekerja keras untuk mencapai impian saya. Saya lebih menyukai tersisih setelah bekerja keras, dibandingkan tersisih sejak awal tanpa berusaha.

Tidak lama kemudian, tes SPMB pun tiba. Alhamdulillah, tes itu saya bisa lalui dengan lancar dan bahkan saya dapat mengecek pekerjaan saya sebanyak tiga kali. Setelah tes itu berlalu, saya selalu minta pada orang tua saya agar mendoakan segala yang telah saya lakukan membuahkan hasil.

Tidak lupa pula, setiap malam saya dekatkan kepada Allah agar diberikan yang terbaik sambil membayangkan bahwa saya benar-benar telah menjadi mahasiswa ITB: mengikuti kegiatan keagamaan, menjadi aktivis, dapat bertemu dengan tokoh-tokoh Indonesia, keluar negeri, dan dapat lulus dengan predikat cum laude. Ya itulah impian saya.

Hari pengumuman tes tiba. Pengumuman dilakukan lewat dua media: media website dan media cetak. Pada awalnya saya hanya ingin melihat kabar hasil SPMB di website saja di warnet dekat kosan saya. Saya sudah mencoba berkali-kali ingin masuk namun saya tidak pernah berhasil masuk kedalamnya. Waktu itu saya berpikir bahwa tidak bisa masuk website artinya saya gagal lolos ke ITB maupun ke ITS. Saya hanya bisa tertawa kecut sambil pulang membeli media cetak yang mengumumkan hasil SPMB.

Ternyata Allah tidak menyia-nyiakan usaha hambaNya. Saya terkejut ketika melihat nama saya berada di dalam baris tabel peserta yang lolos SPMB. Alhamdulillah, saya benar-benar diterima di ITB. Saya langsung menelepon kedua orang tua saya dan semakin mendekatkan diri saya pada Allah sebagai bentuk syukur saya kepada Allah.

Sejak saat itulah detik kehidupan kuliah saya dimulai. Ternyata ITB tidak se”ngeri” apa yang dikatakan oleh banyak orang yang katanya mahal. Ada banyak beasiswa yang ditawarkan. Saya pernah mendapatkan tiga beasiswa sekaligus selama berkuliah disini. Ada beasiswa uang semester, uang bulanan, dan asrama. Selain itu, ITB juga menyediakan banyak kesempatan untuk berkembang di berbagai organisasi dan melebarkan jaringan ke banyak tokoh-tokoh Indonesia.

Dari pengalaman tersebut, saya belajar dua hal penting yang akhirnya saya terapkan pada saat saya kuliah. Dua hal itu adalah “jangan pernah mau menjadi yang tersisih tanpa berusaha maksimal” dan “selalu berusaha untuk standar usaha kita untuk mencapai impian”. Jika dua hal ini saja bisa dilaksanakan, pasti dia berpeluang besar untuk sukses dalam hidupnya.

Terkadang, saya masih belum menyangka bahwa usaha saya bisa sejauh ini. Saya bisa berkuliah di ITB dengan gratis, saya bisa merasakan dunia aktivis dengan baik, dan bisa lulus dengan predikat cum laude. Sebegitukah besarnya kekuatan dari keyakinan kita? Kalau benar demikian, saya tidak akan pernah cepat berpuas diri dan akan terus bermimpi untuk hal yang lebih besar.

Perjalanan hidup ini masih jauh dan masih banyak yang harus diperjuangkan. Permasalahan bangsa yang menggunung membuat kewajiban kita untuk bekerja dan berkarya lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Ada banyak hal yang harus diraih lagi untuk membangun negeri ini. Ah, saya tidak mau cepat-cepat menjadi yang tersisih. Mudah-mudahan kita semua seperti itu. []

Tulisan ini dipublikasikan di http://masukitb.com/


Posted in Pengembangan DIri | 10 Comments

Catatan 5: Menembus celah Keterbatasan

“……..Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath-Thalaaq : 7)

Catatan ini ingin saya tulis setelah saya menonton “Pengejar Angin”, sebuah karya Hanung Bramantyo yang bekerja sama dengan Pemprov Sumsel. Jadi film ini berkisah tentang perjuangan Dapunta, seorang anak perampok, yang ingin melanjutkan kuliah. Namun keterbatasan finansial dan lingkungan sekitar terkadang membuatnya ragu, apakah pilihan melanjutkan kuliah adalah lebih baik daripada melanjutkan karir bapaknya sebagai seorang perampok.

Saya rasa ceritanya cukup membumi dan bukan tidak mungkin kisahnya terejawantahkan secara nyata dibanyak daerah Indonesia. Saya yakin ada banyak putra daerah yang memiliki sebuah permasalahan Dapunta, namun sayangnya tak banyak yang bisa seperti Dapunta, yang mau bekerja keras ditengah keterbatasan dan mau mencari dukungan orang sekitarnya  sehingga akhirnya Dapunta bisa masuk UI dan juara lari tingkat provinsi.

Sahabat sekalian, kadang-kadang kita terlalu pasrah dalam sebuah keadaan, sehingga kita lebih memilih diam dan tidak mengerjakan apa-apa untuk menembus keadaan tersebut. Kita dibuat iri pada keberhasilan orang-orang yang sukses sehingga kadang tertutur pada mulut kita: “kok bisa ya dia bisa begitu?” “Hebat banget ya dia”. Kita berkata demikian seolah bahwa kita tidak akan bisa menyamai orang-orang yang sukses tersebut karena keterbatasan yang kita miliki saat ini.

Kadang-kadang kita lupa melihat sebuah proses yang dijalani orang yang luar biasa. Kita terlalu terpukau pada hasil yang dicapai seseorang tetapi lupa mencari jejak-jejak perjalanan yang ditapaki oleh si orang luar biasa tersebut. Padahal kalau kita telusuri rekam jejaknya, bisa jadi keadaan awal mereka itu kadang tidak jauh beda dengan keadaan kita saat ini.

Dari banyak hal yang membedakan, ternyata perbedaan utama kita dengan mereka adalah masalah kemauan. Lengkapnya, masalah kemauan untuk menembus batas keterbatasan. Memang tidak mudah untuk menembusnya, kita perlu pengorbanan dan kecerdasan. Selain itu, endurance diri mereka juga harus ditempa sesering mungkin karena kadang-kadang batas itu tidak mudah

Semua manusia sebenarnya diberikan kesempatan yang sama untuk mencoba. Namun tidak semua mengambil kesempatan tersebut, karena sebuah kosakata “takdir”. Manusia seringkali beranggapan bahwa dia saat ini adalah takdirnya. Padahal takdir itu tidak pernah mendahului usaha manusia. Makanya Allah berpesan dalam satu ayatnya: Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sampai kaum itu MAU untuk mengubah dirinya sendiri.

Sahabat sekalian, batas keadaan itu ibarat ruangan yang gelap. Untuk keluar dari sana, kita perlu memaksa diri untuk menggedor sebagian besar ruangan itu. Cari bagian lemahnya, dobrak, lalu temukanlah celah cahaya disana. Sekali sedikit cahaya masuk, maka semuanya akan jauh lebih mudah. Kita jadi tahu bagian mana lagi yang harus kita dobrak untuk dapat menghancurkan ruangan gelap itu.

Dalam kehidupan praktis kita, sebenarnya ada banyak cara buat kita untuk menembus celah keterbatasan. Bisa dengan memperbanyak membaca buku biografi orang sukses, membangun kebiasaan baik, dan senantiasa berada di lingkungan yang dapat membangun semangat kita. Namun semua itu tidak akan mudah jika kita tidak pernah memunculkan niat, kemauan, dan memaksa diri kita untuk melakukannya.

Percayalah, “pemaksaan” ini tidak akan berlangsung lama. Pada hakikatnya, pemaksaan akan membentuk sebuah karakter kuat dalam diri kita. Sebagai gambaran, pasti sahabat akan merasa susah sekali untuk membiasakan diri bangun sebelum fajar tiba pertama kalinya bukan? Sahabat perlu memaksa diri untuk membentuk kebiasaan tersebut. Tapi lihatlah dalam waktu 5-10 kali pembiasaan, maka kegiatan bangun sebelum fajar tiba tidaklah jadi masalah.

Kembali pada cerita Dapunta pada film “Pengejar Angin”, kita bisa melihat Dapunta adalah sosok pemuda yang memiliki jiwa pejuang tinggi. Dapunta tidak serta-merta cerdas tanpa suatu alasan. Dia menghabiskan waktu untuk belajar hingga jam 3 pagi. Dapunta juga tidak tiba-tiba menjadi pemenang kompetisi lari tanpa sebuah sebab. Dia menghabiskan waktu sorenya untuk menyusuri hutan sambil berlari. Maka wajarlah Dapunta sukses karena berkat kerja kerasnya.

Lalu bagaimana dengan kita? Kita sendirilah yang menentukan apakah kita ingin menjadi seseorang yang menembus batas keterbatasan atau pasrah saja pada keadaan. Sekali lagi, itu terserah kita. Mumpung masih muda, energi masih kuat dan otak masih bisa berpikir panjang, tidak ada salahnya untuk mencoba mendobrak keterbatasan kita masing-masing. Jangan sampai terlambat. []

Posted in Motivasi, Pengembangan DIri | 2 Comments

Mengurai Pemberdayaan Putra Daerah

Tumbuh atau mati setiap daerah bergantung pada pemuda didalamnya. Tidak salah ketika orang bijak pernah mengatakan bahwa jika di suatu daerah terdapat banyak pemuda yang baik, maka baiklah daerah tersebut. Dan sebaliknya, jika di suatu daerah terdapat banyak pemuda yang buruk, maka buruklah daerah tersebut.

Memang hal ini dapat diterima secara logis sebagai hal yang benar, mengingat pemuda termasuk dalam level manusia yang berumur produktif, dimana mereka menjadi poros utama dalam membangun daerah. Jika digambarkan secara statistik, hingga kini komposisi penduduk Indonesia masih berbentuk “piramida”, dimana jumlah pemudanya belum mencapai titik ideal dibandingkan kaum usia non produktifnya. Mungkin inilah salah satu faktor penghambat mengapa banyak daerah Indonesia yang masih belum bisa maju.

Sebelum berbicara tentang peran putra daerah lebih jauh, ada baiknya kita mendefinisikan terlebih dahulu makna putra daerah dengan beberapa bagian sederhana. Menurut Eep Saefullah Fathan dalam satu tulisannya, ia membagi putra daerah menjadi  4 kategori: genealogis, politik, ekonomi, dan sosiologis.

Pertama, “putra daerah genealogis,” yakni mereka yang sekadar memiliki kaitan darah dengan daerah itu tetapi tidak menetap dan) di situ. Putra daerah genealogis terbelah lagi ke dalam dua kategori: Mereka yang kebetulan dilahirkan di daerah bersangkutan dari (salah satu atau kedua) orang tua yang juga berasal daerah tersebut, dan mereka yang tidak dilahirkan di daerah tersebut tapi memiliki orang tua yang berasal dari daerah bersangkutan.

Kedua, “putra daerah politik”, yakni putra daerah genealogis yang memiliki kaitan politik dengan daerah itu. Misalnya: Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari daerah tertentu yang sebelumnya tak punya kiprah politik dan ekonomi di daerah tersebut atau Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Pusat yang oleh partainya ditempatkan sebagai kandidat dari daerah yang memiliki kaitan genealogis dengannya.

Ketiga, “putra daerah ekonomi”, yakni putra daerah genealogis yang karena kapasitas ekonominya kemudian memiliki kaitan dengan daerah asalnya melalui kegiatan investasi atau jaringan bisnis di daerah asalnya. Dalam konteks sistem politik dan ekonomi Indonesia, putra daerah politik dan ekonomi ini biasanya hanya berhubungan dengan daerah asalnya secara pragmatis belaka. 

Mereka membutuhkan daerah lebih banyak sebagai basis pemenuhan kepentingan politik dan ekonomi mereka sendiri. Tentu saja, sebaliknya, daerah itupun sedikit banyak bisa memperoleh keuntungan politik dan ekonomi dari mereka.

Keempat, “putra daerah sosiologis”, yakni mereka yang bukan saja memiliki keterkaitan genealogis dengan daerah asalnya tetapi juga hidup, tumbuh dan besar serta berinteraksi dengan masyarakat di daerah itu. Mereka sungguh-sungguh menjadi bagian sosiologis dari masyarakat daerahnya.

Dari empat kategori sederhana diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa walaupun sama-sama putra daerah, namun tidak semua memiliki sebuah motif yang sama terhadap daerahnya itu sendiri. Ada yang memberdayakan daerah untuk menguntungkan dirinya sendiri, ada pula yang menguntungkan kedua belah pihak: dirinya dan daerahnya sendiri. Putra daerah turut berperan untuk menentukan arah perkembangan daerah tempat mereka berada.

Ada banyak wacana dan rencana yang digulirkan secara makro untuk mengarahkan pembangunan Indonesia menjadi lebih baik. Namun semua hal itu tidak akan bisa dilepaskan dari suksesnya pembangunan daerah-daerah didalamnya. Mustahil Indonesia bisa maju, jika daerah-daerah didalamnya saja masih belum terurus dengan baik.

Peran putra-putra daerah tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Pembangunan mental dan pikiran putra daerah harus dipersiapkan secara matang dan sistematis baik itu oleh keluarga maupun pemerintah daerah itu sendiri agar mampu menjadi bagian sosiologis masyarakat sekitarnya. Adanya sebuah program pembangunan sumber daya manusia yang baik, dapat menjadikan putra daerah sebagai aset strategis  tuan rumah di daerahnya sendiri.

Kita mungkin sudah terbiasa dengan fenomena putra daerah cemerlang bermigrasi dan bersekolah tinggi diluar daerahnya. Sebagian besar dari mereka berdalih ingin mendapatkan penghidupan dan pendidikan yang lebih layak. Namun yang terjadi di lapangan tidaklah semulus seperti apa yang diharapkan. Kenyataannya ada yang sukses serta akhirnya “nyaman” ditempat barunya dan ada juga yang gagal serta akhirnya menjadi beban bagi daerah barunya. Ini merupakan realita nyata yang terjadi di Indonesia. Untuk memutus rantai permasalahan ini, perlu ada program dari pemerintah untuk memberdayakan putra daerah yang potensial dan bisa berkomitmen untuk kembali untuk membangun daerahnya.

India, Cina, dan Jepang merupakan salah satu negara yang sukses melakukan hal ini. Pemerintah tiga negeri itu melakukan sebuah terobosan untuk mengirimkan pemuda-pemuda mereka yang potensial ke negara-negara maju (Amerika dan Eropa) untuk mencari ilmu dan membangun komitmen mereka untuk kembali ke daerah asalnya. Walhasil, kita bisa melihat bahwa kualitas pemuda-pemuda yang potensial negara itu tidak kalah hebatnya dengan kualitas pemuda-pemuda negara maju sana. Industri elektronik di Beijing hampir sama hebatnya dengan industri elektronik yang ada di New York. Industri software di Balangore hampir sama canggihnya dengan industry software diSilicon Valley. Industri otomotif diToyotahampir sama briliannya dengan industri otomotif di Jerman.

Dengan pemberdayaan putra daerah potensial secara efektif dan tepat sasaran, maka percepatan pembangunan daerah pun dapat terlaksana dengan baik. Bukan tidak mungkin, putra daerah ini nantinya juga pantas menjadi pilar-pilar nasional pembangun bangsa di masa depan. Bukankah itu juga yang menjadi mimpi para founding fathers dari negara ini yang ber”bhineka tunggal ika”? Jadi tata pemerintahan nasional tidak

Di Amerika, pilar-pilar pembangun bangsa yang berada Washington berasal dari kumpulan pemuda-pemuda terbaik dari seantero daerah-daerah lainnya. Jadi, satu keputusan negara memang merupakan keputusan dari anak-anak terbaik bangsa dari seluruh penjuru Amerika.

Indonesia memiliki berpuluh-puluh juta putra daerah yang tersebar di seluruh penjuru pulau-pulaunya. Negeri ini memiliki peluang besar untuk maju karena memiliki jutaan putra daerah yang potensial. Tinggal negeri ini cerdik untuk membuat sebuah rencana membangun sumber daya manusianya. Sudahkah?[]

 

Posted in Ke-Indonesia-an | Leave a comment

Catatan 4: Berbicara Mimpi

Dalam Catatan Seorang Engineer saya kali ini, saya ingin berbicara tentang mimpi. Siapa yang tidak tahu mimpi? Mimpi adalah suatu peristiwa khayal yang seolah benar-benar dilakukan oleh manusia didalam pikirannya. Dia hadir bisa secara tidak sengaja atau sengaja. Terjadi tidak sengaja jika kita tidur, dan terjadi secara sengaja jika memang direncanakan oleh manusia. Pembahasan kita kali ini adalah tentang “mimpi” yang memang benar-benar disengaja pengerjaannya. Mimpi ini kadang bisa disebut sebuah pemikiran besar, kadang bisa disebut dengan visi, kadang bisa disebut dengan perencanaan. Mari kita kupas sedikit demi sedikit.

Kita Pasti Bermimpi!

Sekilas terlihat manusia bisa hidup tanpa harus bermimpi. Ada banyak orang di dunia ini yang bisa tumbuh berkembang dan bekeluarga tanpa harus membuat sebuah mimpi-mimpi. Mereka menjalani kehidupannya seperti prinsip air: biarlah terus mengalir tanpa harus diarahkan. Padahal tidak! saat mereka memutuskan kehidupannya seperti air yang mengalir, maka saat itulah mereka memutuskan bermimpi untuk berprinsip seperti itu.

Sebagai contoh, ada orang yang tidak ingin neko-neko dalam berkarir, tidak ingin menjabat apa-apa dalam kehidupan bermasyarakat, dan hanya ingin hidup nyaman di rumah. Sesaat dia telah MEMUTUSKAN tentang hal tadi, maka seketika itu pula sebenarnya ia telah bermimpi mendapati kondisi dia di masa depan seperti demikian. Benar tidak? Mari kita sebut saja orang-orang ini dengan sebutan pemimpi sederhana.

Jadi setiap manusia pasti bermimpi. Yang jadi pertanyaan sekarang, mengapa ada manusia yang menjadi permimpi besar dan pemimpi sederhana? Jawabannya ada 2: kecerdasan dia untuk mengenal dirinya (intrapersonal skill) dan kebutuhan untuk mencapai sesuatu (need of achievement).

Pertama adalah intrapersonal skill. Kecerdasan intrapersonal dikenalkan oleh Prof. Horward Gardner dan menjadi salah satu dari delapan kecerdasan manusia. Kecerdasan ini ditandai dengan kemampuan seorang manusia untuk bisa mengenal kelebihan dan kekurangan dirinya dengan baik. Adalah sangat berbeda antara orang yang telah mengembangkan kecerdasan intrapersonalnya dengan tidak. Orang yang tahu bahwa dirinya bakat dan minat dirinya tentu akan berbeda dengan orang yang tidak tahu sama sekali bakat dan minatnya. Iya kan? Ketika seseorang telah tahu siapa dirinya, maka dia cenderung untuk memiliki sebuah peta kehidupan yang lebih baik. Singkat kata, ia tahu bahwa dirinya ingin jadi apa dan secara otomatis ia akan lebih mudah untuk membuat sebuah mimpi yang lebih besar.

Yang kedua adalah need of achievement. Maksud dari teori yang dikenalkan oleh Psikolog bernama David McClelland ini adalah sebuah hasrat seorang manusia untuk mencapai sebuah capaian yang memuaskan, menguasai sebuah kemampuan tertentu, dan memiliki standar yang tinggi (wikipedia, red). Kebutuhan ini bisa muncul karena sejak kecil diajarkan untuk menjadi yang terbaik, karena pikiran positif, karena tertantang, atau karena kebanggaan jika mendapatkan kesuksesan. Seseorang yang memiliki kebutuhan untuk mencapai sesuatu cenderung memperbesar impian-impiannya. Dia tidak pernah cepat puas atas apa yang telah dicapainya saat ini. Selesai mengerjakan suatu pekerjaan, ia kerjakan sesuatu yang baru. Begitu seterusnya.

Bermimpilah dan Realisasikan Mimpi Kita!

Kemampuan untuk mengenal diri (intrapersonal skill) membuat hidup kita lebih terarah dan kemampuan untuk mencapai sesuatu (need of achievement) membuat hidup kita menjadi lebih terakselerasi dan efektif. Sebenarnya mau bermimpi sederhana atau besar adalah pilihan kita.

Yang pasti semakin kita bisa mengenal diri kita, maka kita akan lebih mudah membuat mimpi. Sebuah mimpi tidaklah harus saklek harus langsung besar dan mengawang-awang terlalu tinggi. Kita bisa memulai dari impian-impian sederhana terlebih dahulu. Jika mimpi yang satu telah selesai kita buat lagi impian yang lebih besar. Yang penting, kita tahu bahwa kita realistis dan mampu untuk mencapai mimpi itu. Buat apa membuat sebuah mimpi jika kita tahu bahwa tidak mungkin menggapainya. Betul tidak?

Kemampuan untuk mencapai sesuatu adalah bukan bermaksud untuk kesombongan. Saya ingin lebih mengartikan kemampuan ini sebagai bentuk usaha kita yang terbaik dalam menggapai impian kita. Bisa jadi ada banyak manusia di dunia ini yang punya impian yang sama, padahal impian itu terbatas. Misalnya begini, ada banyak orang ingin menjadi presiden, pengusaha, pemimpin perusahaan, atau bahkan memperistri seseorang (hehe..), namun tidak mungkin semua orang bisa mendapatkannya bukan? Hanya orang-orang yang memiliki daya juang yang tangguh saja yang bisa mendapatkannya. Daya juang yang tangguh ini bisa kita dapatkan ketika kita memiliki need of achievement yang baik.

Mimpi tidak mengenal kosakata umur. Tua atau muda bebas untuk bermimpi. Tidak ada kata terlambat untuk bermimpi dan merealisasikan mimpi kita. Ada banyak orang-orang yang tidak berumur muda lagi namun bisa tetap mencapai mimpinya. Asalkan ada tekad, kemauan, dan takdir dari Allah maka bukan tidak mungkin semua hal bisa terjadi. There is always time to do it right.

Selamat bermimpi! Ups….tapi jangan kelamaan bermimpi, entar ketiduran dan jadi terbawa ke alam mimpi. Segera bangkit dan realisasikan mimpi kita.

Posted in Pengembangan DIri | 7 Comments

Dunia Kasih

Di dunia kasih….
hanya dikenal tentang sebuah ikatan
di celah simpulnya,
Kita tumpahkan segala keluh-kesah
Hingga menghingar-bingar melipur lara

Di dunia kasih….
selalu hadir jiwa penuh kehangatan
dan guyurannya,
merentangkan sayap-sayap perekah
yang terus terbang meninggi serta mengangkasa

Di dunia kasih….
Terpintal sebuah benang kesabaran
di dalam gulungannya,
tersimpan sebuah kekuatan asah
menggebrak mimpi sambil menggapai cita

Posted in Getar Jiwa | Leave a comment

.:: 50 Impian R.A.N. ::.

Tulislah mimpimu dengan pinsil dan selembar kertas dan berikanlah penghapusnya pada Allah. Biarkan Dia yang menghapus bagian buruknya dan menggantinya dengan yang terbaik untukmu.

Di awal Bulan Syawal 1432 H ini, saya ingin mengevaluasi dan memperbaharui impian-impian saya di blog ini. Saya pernah menulis impian saya sendiri di tahun 2009, dan beberapa telah terlihat hasilnya. Ada yang tercapai, ada yang masih berproses, dan ada juga yang tidak tercapai. Apapun hasil yang saya dapatkan, saya senantiasa bersyukur kepada Allah karena saya yakin Allah pasti membalas sesuatu sesuai dengan apa yang saya usahakan.

Dalam tulisan ini, saya kembali mencantumkan 50 impian saya, dan akan saya benar-benar berusaha untuk merealisasikannya. Tulisan impian saya dibawah ini bukan termasuk narsis atau mau pamer. Saya menulis impian saya sendiri di blog ini agar dapat memotivasi diri saya sendiri dan kiranya para pembaca dapat mendoakan saya agar dapat merealisasikannya. Hehe….

#goodistheenemyofgreat

JEJAK-JEJAK MIMPI RYAN 

  1. Saya bisa meraih indeks prestasi 4 pada semester 6 (3,7 – Tidak Tercapai)
  2. Saya bisa kerja praktek di British Petroleum/ TOTAL Finaelf (Ganti Chevron – Tercapai)
  3. Saya bisa memiliki Handphone Sony Ericsson K530 kembali (Hilang, diganti Vivaz - Tercapai)
  4. Saya bisa memiliki sebuah net-book agar saya senantiasa dapat menuangkan pikiran saya dimana saja (Pakai uang sendiri – Tercapai)
  5. Saya bisa hafal 2 juz akhir semester 6 ini (masih 70% – Berproses)
  6. Saya bisa punya sabuk hijau akhir taekwondo akhir semester 6 ini (Sabuk Hijau – Tercapai)
  7. Saya bisa menjadi seorang muslim yang tangguh dan kuat secara jasmani (Subjektif saya sendiri – Tercapai)
  8. Saya bisa konsisten terhadap apa yang saya rencanakan (Subjektif saya sendiri – Tercapai)
  9. Saya bisa menguasai wawasan di bidang politik, sosial, budaya, hukum dan khususnya energi (Subjektif saya sendiri – Tercapai)
  10. Saya bisa mempersembahkan sebuah syiar Islam terbaik untuk Dakwah Kampus (Hanya Allah yang dapat menilai)
  11. Saya bisa menciptakan tim SPK yang kompak, kompak, kompak dan professional (Surplus Kegiatan dan Tim Solid – Tercapai)
  12. Saya bisa menjadi seorang kingmaker dan mencetak pemimpin SPK yang lebih baik dari saya (Agung Wijaya – Tercapai)
  13. Saya bisa meraih indeks prestasi 4 pada semester 7 (3,7 – Tidak Tercapai)
  14. Saya bisa menjadi asisten teknik Pemboran (Tidak bisa membagi waktu – Tidak Tercapai)
  15. Saya bisa melaksanakan tugas akhir bersama Mas Doddy Abdassah (Ganti: Mas Taufan Marhaendrajana – Tercapai)
  16. Saya bisa meraih indeks prestasi 4 pada semester 8 (4 – Tercapai)
  17. Saya bisa menamatkan 100 buku dan membuat resensinya (Tercapai)
  18. Saya bisa pandai dan lancar berbahasa inggris (Berproses)
  19. Saya bisa mendapatkan skor TOEFL minimal 550 (500 – Berproses)
  20. Saya bisa bisa bahasa berbahasa daerah lain di Indonesia (Berproses)
  21. Saya bisa membuat kedua orang tua saya bahagia (Berproses)
  22. Saya bisa membantu adik-adik saya menemukan bakat dirinya (Berproses)
  23. Saya bisa mencetak prestasi saat di asrama PPSDMS (Pernah Jadi Peserta Terbaik se-Indonesia - Tercapai )
  24. Saya bisa menyelesaikan buku saya yang berjudul “Bioritmik Syiar Dakwah Kampus” akhir bulan mei 2009 ini (Ganti Judul: Membumikan Dakwah Kampus – Tercapai)
  25. Saya bisa pergi ke kota-kota Indonesia dan ASEAN (Rencananya akhir tahun – Berproses)
  26. Saya bisa menjadi pembicara konferensi migas tingkat Internasional (insya Allah dilaksanakan saat S2 - Berproses)
  27. Saya bisa menjadi seorang yang berpengaruh di Kabinet KM tahun 2010 (Jadi Mentri Koordinator Bidang Pengembangan Kemahasiswaan KM ITB – Tercapai)
  28. Saya bisa menjadi orator dan pembicara yang professional (Pembicara Dakwah Kampus di banyak daerah Indonesia – Tercapai)
  29. Saya bisa menulis buku tentang dunia pengembangan diri pemuda. (Berproses)
  30. Saya bisa menamatkan 50 buku lagi beserta resensinya (Berproses)
  31. Saya bisa melihat pengunjung blog saya berjumlah 100.000 hits saat lulus dari ITB (Tercapai)
  32. Saya bisa lulus kuliah paling lambat bulan oktober tahun 2010 (Wisuda bulan April 2011 – Berproses)
  33. Saya bisa bekerja di MNC bidang Migas, TOTAL FINAELF INDONESIE E & P Balikpapan (Ganti Perusahaan: VICO Indonesia – Tercapai)
  34. Saya bisa memiliki pendapatan 20 juta rupiah per bulan pada akhir tahun 2013 (Insya Allah – Belum Tercapai)
  35. Saya bisa Umrah dan berkunjung ke masjid Nabawi (Desember 2011 – Berproses)
  36. Saya bisa melanjutkan pendidikan S2 ku di Amerika/Eropa tahun 2014/2015 (Alternatif : Colorado School of Mines, Stavanger University, University Texas at Austin, dan Stanford University – Berproses)
  37. Saya bisa punya seorang Istri yang Solehah, lebih muda dari saya, Innocence, ceria, punya pendirian yang kuat, manis dan cubby, siap hidup dinamis bersama, siap berjuang, siap kaya, siap miskin, mampu menutupi kekurangan saya.
  38. Saya bisa menjadi suami dan ayah yang baik.
  39. Saya bisa menjadi petinggi perusahaan energi Indonesia dan atau membangun bisnis personal dibidang energi.
  40. Saya bisa membuat buku bertemakan keluarga.
  41. Saya bisa hafal paling minimal 10 Juz Al Quran.
  42. Saya bisa memiliki pendapatan 100 juta rupiah per bulan dan sukses melanjutkan bisnis ayah pada tahun 2020.
  43. Saya bisa mendirikan asrama Beasiswa Kepemimpinan di Pulau Borneo.
  44. Saya bisa memiliki perpustakaan pribadi yang bisa dibaca oleh semua warga di kota saya.
  45. Saya bisa berkeliling dunia bersama istri saya.
  46. Saya bisa memiliki istri yang bisa menjadi seorang Ibu Walikota, Ibu Gubernur, dan Ibu Menteri yang mampu menjadi teladan bagi para wanita di Indonesia.
  47. Saya bisa menguasai bahasa Inggris, Cina, dan Prancis.
  48. Saya bisa memiliki empat orang anak yang nanti dapat menjadi seorang ilmuwan, usahawan, pengacara, dan dokter.
  49. Saya siap diamanahkan sebagai seorang ESDM 1 Republik Indonesia ketika pemerintah dan rakyat Indonesia menunjuk saya.
  50. Saya bisa mendirikan Borneo School of Mines di Pulau Kalimantan sebagai kampus pusat pengembangan migas dan energi terbarukan Indonesia.

Posted in Chief Ryan | 4 Comments

Profil Organisasi IKADZA

Dibawah ini saya lampirkan Profil Organisasi IKADZA (Ikatan Alumni Dakwah SMANZA). Semoga bermanfaat.

Posted in Advertisement | Leave a comment