Setiap manusia memiliki tiga kompetensi didalam dirinya yaitu energi perasaan, energi rasionalitas, dan energi fisik. Ketiganya saling bersinergi mempengaruhi kinerja seseorang. Sebagai seorang manusia yang efektif, kita harus tahu bahwa energi feeling adalah kompetensi dasar yang harus senantiasa diasah karena energi ini merupakan energi yang kekal dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu dibandingkan kedua energi lainnya yang bisa habis. Dan hebatnya lagi, energi perasaan ini mampu mengalir dari satu orang ke orang lainnya yang ada disekitarnya. Jadi ketika ada seseorang yang memiliki energi persaan yang besar, maka niscaya teman-teman yang ada disekitarnya akan merasakan getaran hebat energi itu pula.

Pernahkah Anda merasakan rasa sakitnya seorang Ibu yang sedang “melahirkan” seorang anak? Menurut fakta yang ada, dibutuhkan waktu berjam-jam bagi seorang ibu untuk mampu melahirkan dengan normal. Seorang calon ibu harus mengeluarkan energi fisik yang sangat besar  untuk mengeluarkan calon anaknya dari -maaf- lubang yang ukurannya lebih kecil daripada ukuran buah hatinya. Lalu coba Anda pikirkan secara rasional!  apakah tidak mungkin kalau pemberian energi fisik yang berlebihan tadi malah mengancam hidup sang calon ibu ? bisa jadi pemberian energi fisik tadi menyebabkan pendarahan yang mungkin bisa menyebabkan kematian bagi sang calon ibu. Jadi kekuatan apakah yang membuat seorang calon ibu terus bertahan menghadapi keadaan sakit seperti itu? mengapa dia tidak menyudahi saja keadaan itu dengan menggugurkan kandungannya?  apakah ada sesuatu yang lebih besar lagi mengalahkan rasa takut yang luar biasa dan logika rasa sakit yang mempertaruhkan nyawa itu?

Begitulah ibu kita mengajarkan kepada kita semua akan arti energi perasaan. Energi perasaan ini telah menghancurkan tembok rasa takut dan sakit yang mungkin telah merasuk dijiwa dan pikirannya. Sebuah perasaan kuat untuk bertemu dengan buah hatinya, menyentuh jemari kecilnya, mendengar desahan tangisnya, dan mata buah hatinya yang indah telah menjadi energi yang sempurna membentuk tekad yang membara walau harus menghadapi kematian. Rasa takut itu hilang seketika dan logika sakit pun ikut sirna.

Mari kita belajar tentang energi perasaan lagi dari kisah berikut. Tersebutlah sebuah kisah tentang sebuah keadaan sulit yang melanda sebuah organisasi sehingga memaksa semua orang yang terlibat didalam organisasi itu untuk bekerja keras dan terus memutar otak sampai suatu ketika mereka semua lelah dan tidak tahu lagi harus melakukan apa. Ketika semua orang yang terlibat dalam organisasi telah pasrah dengan apa yang telah terjadi, maka kini telah tiba waktu untuk menguji seberapa besar energi perasaan seorang pemimpin yang mampu ia pancarkan kepada para pengikutnya. Ketika energi yang ia punya kuat, maka akan kuatlah pula energi orang-orang yang ada disekitarnya. Namun sebaliknya, ketika energi perasaan yang dimiliki pemimpin itu lemah, maka apalagi energi yang dimiliki oleh orang-orang sekitarnya pasti lebih lama lagi. Lagi-lagi kawan, kita belajar tentang besarnya efek energi perasaan ini.

Pusat dari energi perasaan ini adalah hati manusia itu sendiri. Hati bagaikan sebuah kertas putih, yang mana ketika terus dijaga maka akan terus terjaga warnanya. Namun ketika ada sebuah kemaksiatan sekecil apapun terjadi pada diri kita maka itu akan memberikan noda hitam pada kertas putih tadi, dan jika kemaksiatan  itu terus bertambah dan terpelihara maka akan terus menghitamkan kertas itu sampai suatu saat kertas itu menjadi kertas hitam. Saat itulah hati kita mati dan sumber energi perasaan itu tidak dapat kita gunakan lagi.

Semua manusia memiliki sumber energi perasaan ini, namun tidak semua manusia mampu menggunakannya. Sumber energi ini hanya bisa aktif ketika si pemilik sumbernya mau terus mengasahnya dengan berempati kepada orang lain. Energi perasaan hanya bisa diaktifkan oleh hati yang bersih. Dan hati yang bersih hanya bisa kita dapatkan kalau kita dekat dengan Tuhan kita. Maka tunggu apalagi? Mari mulai sekarang kita asah energi perasaan kita masing-masing dengan semangat.[]