Home » Book Review » Resume Buku : Api Sejarah

Resume Buku : Api Sejarah

Mungkin nama Ahmad Mansur Suryanegara bukanlah sebuah nama yang asing lagi bagi para peminat sejarah islam di Indonesia. Seperti yang tertera pada pembuka bukunya, sebenarnya sejarawan ini telah menuangkan berbagai pemikirannya diberbagai artikel yang tercecer dibeberapa media cetak Indonesia dan asing. Baru kali ini, dia berkesempatan mengumpulkan pemikiran beserta wawasan sejarahnya kedalam satu wadah buku yang berjudul “Api Sejarah” ini.

Sesuai dengan judul bukunya, saya ingin mengajak pada kita semua pada sebuah penggalan kata dari Bung Karno yang berbunyi : “Bangsa Indonesia terlalu banyak memakan abu sejarah, sedikit sekali dari mereka yang merasakan bara api sejarah”. Bangsa Jepang bisa bertahan dengan budaya bushido-nya karena mereka mampu merasakan sulutan api sejarah bangsa mereka. Bangsa Amerika Latin masih bersikukuh dengan pergerakan politik aliran kirinya karena mereka masih merasakan panasnya sejarah bangsa mereka. Dan masih banyak bangsa-bangsa lainnya di seantero dunia ini yang kehidupan masa kininya dipengaruhi oleh sejarah bangsa mereka. Sejarah ini seolah-olah membentuk karakter dan mental mereka untuk dapat bertahan dan maju bersaing dengan negara-negara lainnya.

Buku bercover hitam ini akan mencoba memberikan sebuah sketsa lintasan sejarah Indonesia yang panjang, berliku, serta gelap karena berbagai pendapat tabu sejarawan Indonesia. Buku ini akan meluruskan argumentasi sejarah Islam Indonesia yang miring karena argumentasi beberapa ahli sejarah Indonesia, memperbaiki pemikiran sejarah Islam yang bengkok oleh tipu muslihat kaum Orientalis Barat, serta mematahkan beberapa kekeliruan fakta Islam yang selama ini ditutupi oleh oknum tertentu. Berbekal lebih dari lima puluh sumber tertulis yang dia persiapkan, Ahmad akan mencoba membawa kita pada kemegahan sejarah bangsa kita, bangsa Indonesia.

Ahmad membuka isi bukunya dengan gedoran dahsyat tentang fakta-fakta pengaruh Islam di Indonesia yang selama ini masih belum jelas kebenarannya. Sebagai contoh, kalau didalam buku sejarah kebanyakan kita mengetahui bahwa bangsa Arab baru masuk ke Indonesia pada abad ke-13 M, maka Ahmad meluruskannya menjadi abad ke-7 M. Sepintas memang tidak terlihat apa perbedaannya. Namun ketika dikaji lebih lanjut, ternyata selisih enam abad ini sangat mempengaruhi kuatnya ajaran Islam di Indonesia hingga kepelosok pedalaman. Dalam beberapa lembar bukunya, tersajikan beberapa gambar-gambar koin yang menjadi kebenaran kuatnya ajaran Islam Indonesia sejak lama di Indonesia. Dari sini, Ahmad juga secara implisit menyampaikan pada para pembacanya bahwa sebenarnya bangsa Indonesia memiliki jiwa enterpreneurship yang tinggi karena banyak belajar dari pedagang Arab.

Setelah itu, kita diajak Ahmad untuk memasuki dunia politik Islam melawan imperialisme barat. Menariknya buku ini, Ahmad selalu memulainya dengan sumbu sejarah dimana suatu kejadian bermula. Jadi sebelum membahas politik Islam Indonesia, Ahmad bercerita terlebih dahulu bagaimana islam memandang politik, hingga berkembangnya paham imperialisme dan zionisme di negara-negara barat. Jadi kita akan faham mengapa bisa terjadi seperti ini dan mengapa bisa terjadi seperti itu. Setelah kita faham, barulah Ahmad menjelaskan dengan gamblang bagaimana cara politik islam melawan imperialisme barat. Pada bagian ini, kita akan menemukan sederet nama pahlawan nasional beserta kisah perjuangan perang mereka. Taruhlah nama Sultan Agung, Pangeran Diponegoro, Kiai Modjo, Sentot Alibasah Prawirodirdjo, Si Singamangaradja XII, Teuku Umar, Tjut Nja Dhien,  dan sederet nama pahlawan muslim lainnya akan kita temukan kisah heroiknya didalam buku ini. Sampai disini, Ahmad akan mencoba memahamkan sumber dan orisinilasitas sejarah pada para pembacanya dengan tiga ejaan yang digunakan dalam bukunya : Ejaan Ophusyen (1947 M), Ejaan Suwandi (1947-1972 M), dan Ejaan yang disempurnakan (EYD).

Tampaknya Api sejarah belum berakhir sampai disana. Pada bab terakhir dibuku ini, Ahmad mencoba menggeneralisasi kembali makna “ulama” yang selama ini telah dispesialisasi menjadi orang-orang yang identik pada pemahaman agama yang mumpuni saja. Sebenarnya didalam sejarah Indonesia, ulama memegang peranan penting dalam gerakan kebangkitan kesadaran nasional. Ulama Indonesia dalam memasuki dekade ketiga abad ke-19 dihadapkan pada perubahan sistem imperialisme kino menjadi imperialisme modern. Pergerakan bangsa barat pun semakin beragam, kalau dulu menggunakan peperangan senjata, maka dalam politik imperialisme modern mereka bergerak lebih “halus” lagi dengan melakukan beberapa intrik yang licik. Selain itu, pemberlakuan politik etis dan pendidikan imperialisme, pendangkalan ajaran agama, serta perubahan budaya membuat para ulama dan santri mengubah cara perlawanan uuntuk menjawab tantangan zamannya. Ulama telah menjadikan pasar sebagai arena memasarkan ide kebangkitan nasional.

Maka muncullah nama-nama ulama modern sekelas R.A. Kartini, Raden Dewi Sartika, Muhammad Hatta, Hadji Samanhoedi, Hadji Oemar said Tjokroaminto, E.F.E Douwes Dekker Danudirdjo Setiabudi, dan ulama-ulama lainnya yang berjuang lewat ranahnya masing-masing. Ada yang berjuang lewat tulisan kritik-kritik pedas pada imperialis barat, organisasi dagang, organisasi pendidikan, organisasi kemasyarakatan, bahkan ada yang berjuang lewat politik diplomatis yang moderat dan radikal. Mereka seolah terpisah namun sebenarnya satu bagai padi segar yang diikat seutas tali.

Disamping itu, muncul juga gerakan-gerakan kepemudaan yang dimotori santri-santri modern seperti M. Natsir, Muhammad Yamin, Muhammad Dahlan, dan pemuda lainnya yang semakin menguatkan perjuangan gerakan kebangkitan kesadaran nasional Indonesia. Puncaknya adalah termaktumnya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Disana, para pemuda dari berbagai agama, etnis, ras, dan daerah berkumpul dan berikrar bahwa mereka adalah satu kesatuan bangsa Indonesia.

Dalam penutup bukunya, Ahmad penutup penjelasannya sampai pada sejarah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, dimana didalamnya terdapat sistem tata negara berpartai-partai karena Indonesia menganut paham negara demokrasi beserta permasalahan-permasalahn pelik didalamnya.

About these ads

2 Comments

  1. Muhammad Dahlan=Ahmad Dahlan??

  2. ayyaka says:

    wah…bisa baca resensinya…hatur nuhun..btw saya cari bukunya ga nemu2 euy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Jawab Cepat

Mau tanya-jawab cepat dengan saya bisa langsung klik alamat ini:

http://ask.fm/ryanalfiannoor

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 161 other followers

%d bloggers like this: