Halo Kak Ryan, saya mau tny seputar jurusan perminyakan.. Maksud saya, gmn peluang pekerjaan bagi mahasiswa lulusan ITB & UPN atau Trisakti? Trus, gmn peluangnya bagi mahasiswi & mahasiswanya? Dengar2 khusus utk jurusan teknik, terkadang di lapangan itu yg jauh lebih diutamakan itu mahasiswanya dibandingkan mahasiswinya??? Karena kerja di lapangan itu sgt berat… Gmn sih Kak? Makasih sblmnya Kak..
Rika Anggraini
====================================================
“Keras”
“Panas”
“Kotor”
“Dibawah Tekanan”
Mungkin itulah pemikiran banyak orang tentang pekerjaan di dunia perminyakan. Banyak orang yang mengira bahwa bekerja di dunia emas hitam (baca: dunia migas), pasti akan berkutat dengan alat-alat berat, berada dicuaca panas dan dingin, memikul benda-benda berat, berlepotan minyak, dan kadang kala harus bekerja dibawah tekanan untuk memenuhi target kerja.
Tunggu dulu! Jangan cepat menyimpulkan demikian. Tidak semua pekerjaan di dunia migas adalah seperti itu berarti…..ada yang begitunya dong. Pekerjaan didunia migas sangat luas. Sama seperti perusahaan lainnya, perusahaan migas memiliki bagian human resources, finansial, supply chain, eksternal, dan tentu saja bagian engineering yang menjadi lokomotif berproduksinya sebuah perusahaan migas. Jadi semua disiplin ilmu bisa masuk disini. Dari yang sifatnya sosial kemasyarakatan hingga teknik memiliki porsi tugas masing-masing. Jadi jangan khawatir, baik pria maupun wanita dapat berkontribusi dalam industri emas hitam ini.
Merujuk pada pertanyaan Rika diatas, bagaimana dengan pekerjaan lapangan? Pekerjaan dilapangan itu bisa dibilang keras-keras lembek. Keras karena banyak sekali yang harus dikerjakan, lembek bisa terjadi jika saat tidak ada pekerjaan dilapangan. Singkat katanya: dinamis. Saya kira semua perusahaan pun juga demikian. Sangat cepat perubahan pola kerjanya.
Supaya dapat gambaran yang lebih menyeluruh, izinkan saya menggambarkan landscape stakeholder dari industri perminyakan ya…. Secara sederhana, ada dua komponen kerja utama dalam dunia migas. Ada komponen pemerintah dan komponen perusahaan. Komponen perusahaan ini dibagi lagi menjadi dua komponen: owner company dan service company.
Bekerja pada komponen pemerintah, bisa dilakukan jika negara tersebut memakai asas (Product Sharing Contract) dalam mengelola kekayaan migasnya. Dalam konsep ini, pemerintah memiliki hak untuk melakukan pengawasan dan menganalisis “iya/tidak” terhadap suatu kegiatan dilapangan. Di Indonesia, kita menggunakan asas ini. Lembaga yang didirikan oleh pemerintah sebagai perpanjangan tangannya di Kementrian ESDM (KESDM) dan BP Migas. Ada perbedaan yang banyak diantara keduanya, tapi tidak akan saya bahas disini.
Jadi, jika kita memiliki basic competency dalam negosiasi, finansial, ekonomi, manajemen, ataupun teknik bisa masuk kedalam lembaga pemerintah ini. Bekerja di lembaga pemerintah bisa dikatakan “tidak terlalu keras” karena lebih bersifat mengawasi target produksi dari migas, dan bisa memantaunya dari kantor lewat data-data yang ada. Salah satu wanita yang mungkin populer terlibat dikomponen pemerintah adalah Ibu Evita Herawati Legowo (Dirjen Migas). Silakan cari di internet jika ada yang belum tahu dan gali inspirasinya jika ingin berhasil seperti beliau.
Bagaimana dengan komponen perusahaan? saya rasa sudah sangat banyak ulasan tentang ini. Yang pasti, orang-orang yang bekerja di perusahaan migas mau tidak mau selalu harus “berteman” dengan lapangan. Jadi kadang ada panas-panasan dikit, kadang harus berani kotor, dan kadang juga harus kerja keras. Sepengetahuan saya hingga saat ini, tidak pernah ada halangan untuk wanita jika ingin bekeja dilapangan. Asal siap saja dengan segala tantangnya. Beberapa wanita yang terkenal dan bisa digali inspirasinya adalah Ibu Karen Agustiawan (Dirut Pertamina) dan Ibu Elisabeth Proust (Dirut Total Indonesie).
Perbedaan dari owner company dan service company adalah dari sisi aspek objective perusahaannya. Jika diibaratkan lapangan adalah pasien, maka owner company adalah dokternya dan service company adalah penyedia alat-alat yang dibutuhkan dokter. Layaknya seorang dokter yang sangat faham bagaimana kondisi pasiennya, begitu pula owner company. Owner company adalah pihak yang memiliki dan mengetahui keadaan lapangannya mau diapakan. Service company adalah pihak yang men-support owner company lewat konsultasi, alat, ataupun teknologi yang dimilikinya.
Dari segi beratnya pekerjaan, service company memiliki tugas yang lebih berat. Ini adalah fakta dilapangan.
Saya harus jujur, peluang untuk memasuki dunia industri migas (baik komponen pemerintah maupun perusahaan) bisa dikatakan semakin ketat. Selain jumlah lulusan universitas semakin banyak, saat ini industri migas memerlukan seseorang yang memiliki kompetensi yang oke dan juga softskill yang mantap. Kemampuan berbahasa dan gelar master/doktor juga sangat menjadi nilai tambah. Jangan lupa, saat ini kita tidak bisa menutup mata bahwa kita juga harus bersaing dengan lulusan dari luar negeri. Serius ini…….Kalau kita tidak berusaha, kita pasti akan terus bergantung pada pihak asing.
So, pesan saya….Tempalah besi selagi panas. Munculkan semangat untuk menjadi yang terbaik, cobalah untuk mengambil peran strategis dalam organisasi kampus/ekstrakampus, dan jangan menunda kelulusan terlalu lama. Semoga sukses. []

hlumberger life about thirteen years ago, when I joined Wireline. My first four years were spent in West and Southern Africa, working in remote areas of Congo, Angola, Gabon and South Africa. Having the opportunity to discover these countries, and many more while on days off, was an incredible experience. Often it was difficult to distinguish work from days off, watching from the deck of a supply boat humpback whales jump out of the water in pairs during the mating season, a pack of killer whales hunting down dolphins, or a huge, lone hammerhead shark circling the rig. I will never forget when I was sent to Gabon as second engineer on a remote well deep in the jungle. Discovering that I loved animals, the pilot of the four seater plane that took me from Congo to Gabon plunged down to fly just 100 meters above ground level, over surprised elephants and buffaloes in the savanna! This was to be one of many highlights of my time in Africa. After an additional six-hour ride in a dugout canoe on a river winding its way through the jungle, I finally reached the wellsite. Seeing the local hunters bursting out of the jungle carrying spears and freshly killed antelopes or boars to sell to the rig camp, while I was struggling on a hellish three-day logging job in pouring rain and ankle deep mud, was a great experience! And it was on that job I met a young Wireline pre-school trainee, Catherine Beneton, who has since become my wife. Thank you Schlumberger!










Indonesia adalah Negara yang memiliki banyak gunung berapi aktif di dunia, untuk itu Indonesia memiliki potensi akan energi panas buminya (geothermal) yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Potensi energi panas buminya diperkirakan sekitar 20.00 MW oleh pihak Pertamina dan nilai itu pun ada yang mengatakan sebesar 28.000 MW, bahkan potensi geothermal di Indonesia adalah yang terbessar di dunia yaitu 40 % dari potensi geothermal di dunia. Potensi yang begitu besar seharusnya dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh negara untuk memenuhi pemenuhan energi listriknya yaitu sekitar 10.000 MW yang ditargetkan oleh PLN. Memang sangat ironis Indonesia sebagai negara dengan potensi geothermal terbesar masih menganut pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dan bahan bakar fosil dan belum lagi permasalahan energi listrik yang sering terganggu akibat pasokan batu bara yang tidak lancar, energi listrik untuk energi geothermal yang termanfaatkan masih sekitar 800 MW (2 % saja). Jika Indonesia lebih serius lagi dengan meningkatkan ilmu pengetahuan, riset, dan pengalihan kebutuhan energinya terhadap energi terbarukan (renewable) Indonesia akan sepenuhnya terpenuhi energi listriknya tanpa menggantungkan energi yang non renewable (bahan bakar fosil).




