Bermetamorfosis

Bulan Ramadhan adalah bulan yang selalu sangat dinantikan oleh semua umat muslim. Bulan dimana pintu kebaikan dibuka selebar-lebarnya, dan menjadi kesempatan bagi semua umat muslim untuk menuai sebanyak-banyaknya amal kebaikan di bulan ini. Ramadhan dihadirkan sebagai momen untuk perbaikan diri, re-orientasi kembali tujuan hidup, dan menumbuhkan kembali kecintaan terhadap Allah, Rasul, dan Islam. Beberapa ulama menganalogikan seseorang pasca ramadhan seperti terlahir kembali setelah melewati masa “pencucian” selama satu bulan.

Metamorfosis. Satu kata yang sudah akrab sekali ditelinga kita. Pasalnya dari zaman SD dulu sampai sekarang, kata ini sering sekali didengungkan terutama dalam pelajaran biologi. Tetapi apakah kita benar-benar telah mengetahui apa sebenarnya metamorfosisis itu?. Pertama, mari kita sorot dari segi kebahasaan. Secara terminologis, metamorfosis berasal dari dua kata, meta dan morfa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ‘meta’, berarti prefix;sesudah;berubah;dan perubahan. Sedangkan ‘morfa’ berasal dari bahasa Yunani, morphus, yang artinya bentuk luar atau anaktomi. Jadi kalau digabungkan, metamorfa adalah perubahan bentuk luar. Akhiran –sis pada kata ini menyatakan sebuah proses, sehingga, metamorfosis adalah proses perubahan bentuk luar. Dan inilah inti dari metamorfosis : sebuah proses perubahan. Seiring dengan bergulirnya waktu, kata metamorfosis mengalami perluasan makna, jika dahulu hanya mampu menyatakn proses perubahan fisik yang dialami oleh hewan, zaman sekarang metamorfosis mampu menyatakan proses perubahan fisik, sifat, hingga keadaan, mulai dari perubahan fisik, sifat, hingga keadaan.

Heraclius mengatakan bahwa “There is nothing permanent except change”, yang artinya tidak ada suatu yang absolute kecuali perubahan, atau dengan kata lain, perubahan adalah sebuah kepastian. Sama seperti apa yang kita alami di bulan Ramadhan ini. Suka tidak suka, mau tidak mau, pasti kita akan berubah. Dari yang tadinya perut kita selalu terisi dengan makanan tiga kali setiap harinya, kini kita harus berpuasa sampai waktu berbuka tiba. Tapi yang paling penting adalah perubahan untuk menahan hawa nafsu. Dari mata yang sering melihat apa yang dilarang Allah, telinga yang sering mendengar apa yang dilarang Allah, mulut yang sering mengeluarkan kata yang sia-sia. Dari yang tadinya jarang ke masjid, pada bulan ini sering ke masjid. Semua perilaku kita berubah secara drastis seolah ini adalah sebuah sihir. Selama tiga puluh hari kita dilatih menjadi ‘manusia berubah’ yang telah bertansformasi dari fase jahiliyah ke fase orang yang bertakwa.

Menurut teori para ahli, untuk menjadikan sebuah perbuatan menjadi sebuah sifat perlu dilakukan pengulangan perbuatan itu selama lima belas hari berturut-turut. Jika kita kaitkan dengan teori tersebut, seharusnya perbuatan kita selama ramadhan ini, seperti rajin bersedekah, ke masjid, berpuasa, menjaga semua panca indera kita, akan menjadi kebiasaan kita hingga dua kali lipat. Tapi realita menjelaskan kepada kita bahwa tidak semua muslim dapat mengambil pelajaran bulan Ramadhan ini. Masih banyak yang menganggap bahwa puasa bulan ramadhan itu hanyalah sebuah ibadah ritual semata, tanpa harus ada tindak lanjutnya. Mari kita lihat terjemahan isi surah Al Baqarah ayat 183 kembali :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

Secara langsung dikatakan dalam ayat tersebut bahwa tujuan dari berpuasa adalah menjadikan manusia yang bertakwa. Jadi seharusnya kebiasan yang telah dibentuk selam bulan ramadhan ini menjadikan kita orang yang bertakwa bukan kewajiban tapi tanpa tindak lanjut. Oleh karena itu marilah kita segera berubah. Didalam surah Ar-Rad ayat 11 disebutkan :

“Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kum, kecuali mereka mengubah keadaan mereka sendiri”

Dalam ayat itu dijelaskan bahwa faktor yang paling mempengaruhi segala perubahan itu adalah sebuah keinginan yang kuat dari diri yang bersangkutan untuk berubah, barulah Allah akan mengubah keadaan diri yang bersangkutan.

Marilah kita ber-metamorfosis ala ramadhan. Bayangkan kita yang sekarang adalah ulat, dan bulan ramadhan ini adalaha fase kepompong, maka kita akan menjadi kupu-kupu sebagai hasil dari amal di bulan ramadhan kita. Jadi mari kita bersama-sama menghadapi masa perubahan, metamorfosis dengan gemilang. Karena inilah seni perubahan. Inilah ramadhanku, inilah proses metamorfosisku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s