Belajar Dari Ibrahim

Di momen yang spesial hari ini, yakni hari Idul Adha, hari dimana beberapa saudara muslim kita yang berhaji di Mekah sana dan memotong kurban. Semua ini tidak dapat dilepaskan dari napak tilas kisah Nabi Ibrahim, Istrinya (Siti Hajar), dan Anaknya (Nabi Ismail) yang sangat menyiratkan banyak pelajaran. Kali ini saya ingin menyampaikan beberapa ayat bagus dan indah di dalam Al Qur’an yang bagus, hal yang bisa kita pelajari dari Nabi Ibrahim.

1.       Ayat 4 surah Al-Mumtahanah

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.”

Dari ayat diatas ada 3 pelajaran yang dapat kita ambil :

1.       Ibrahim tidak pernah membenci seseorang karena sifatnya, tetapi Ibrahim membenci bahkan memusuhi seseorang atas dasar kekafirannya kepada Allah. Sekarang mari kita berkaca pada diri kita sendiri?Masihkah ada penyakit di hati kita kepada orang-orang yang punya sifat yang tidak kita senangi?

2.       Walaupun orang tuanya masih kafir namun Ibrahim tetap melakukan kewajibannya sebagai seorang anak untuk berbakti kepada orang tuanya. Sudahkah kita melakukan kewajiban kita sebagai seorang anak untuk berbakti kepada orang tua kita?dan sudah pulakah kita mendoakan keselamatan dan kesejahteraan bagi mereka?

2.       Ayat 124 surah Al Baqarah

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim tuntas menunaikan semuanya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.

Dari ayat diatas ada satu pelajaran penting yang dapat kita ambil. Bahwa Ibrahim telah melakukan semua perintah dan larangan Allah secara tuntas dan efektif. Sedikit mengutip dari perkataan John C. Maxwell dalam buku nya bahwa “Kemampuan Kepemimpinan adalah penutup untuk menetapkan tingkat efektivitas seseorang”, karena kemampuan Ibrahim yang sangat efektif dalam melakukan semua “kalimat” Allah maka pantas baginya untuk menjadi pemimpin manusia.

3.       Ayat 99 – 102 surah Ash Shaaffaat

Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Dari ayat diatas ada 3 pelajaran yang dapat kita ambil :

1.       Jadilah orang yang bersegera. Didalam ayat 99 disebutkan bahwa sesaat setelah dibakar, Ibrahim langsung menyegerakan untuk mencari dan menggapai hidayahnya. Disanalah dimulai perjalanannya untuk mencari Tuhan.

2.       Jangan pernah berputus asa. Ibrahim mengajarkan kepada kita bahwa kita harus tetap optimis dalam berikhtiar. Walaupun Nabi Ibrahim telah sangat tua dan belum pernah dikaruniai seorang anakpun, Ibrahim tetap optimis untuk berdoa untuk mendapatkan anak yang soleh. Walaupun secara sains dan logika itu sudah tidak masuk akal namun ketika Allah mengatakan “jadilah” maka terjadilah suatu hal.

3.       Peran seorang istri sangat penting untuk membentuk kepribadian seorang anak. Siti Hajar adalah salah seorang dari dua istri Nabi Ibrahim yang merupakan keturunan Afrika. Walaupun sempat ditinggal oleh Nabi Ibrahim di tanah yang tandus, namun beliau tetap tabah, bahkan mampu mendidik Ismail menjadi seorang anak yang halim (santun).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s