Kisah Alfi, Seorang Kader Ikhwan Gamais tahun 2013 (bagian 1)

Inilah kisah impian saya ketika saya nanti melihat seorang kader Gamais di tahun 2013.

Alfi, atau tepatnya Noor Alfi Irriansyah adalah seorang Mahasiswa Teknik Perminyakan (TM) ITB 2010 yang berasal dari Kalimantan. Alfi dikenal oleh teman-teman seangkatan TM-nya dan teman-teman GAMAIS-nya sebagai orang yang sholeh namun tetap gaul dan fashionable. Sekarang dia aktif sebagai aktivis dakwah dan kini diamanahkan sebagai Kepsek SPK Gamais 2013. Dikelasnya, Alfi dikenal oleh dosen dan teman-temannya sebagai mahasiswa yang cerdas, catatannya yang rapi pun terkadang sering di fotokopi oleh teman-temannya. Alfi punya karakter yang melankolis, namun ketika mengikuti forum ternyata Alfi mampu mengubah karakternya dari melankolis menjadi koleris dengan menunjukan bahwa kepiawaian dia berbicara tentang politik, islam, atau berita global.

Suatu hari, tepatnya tanggal 28 Juni 2013 dalam kehidupan Alfi..

Waktu telah menunjukan pukul 03.00. Alfi segera mematikan alarm handphone Sony Erricson K530 nya dan segera bangkit dari tempat tidurnya.  Bersegeralah Alfi mengambil air wudhu untuk melakukan aktivitas rutinnya yaitu bercengkrama khusyuk bertemu dengan Tuhannya. Kurang lebih dia lakukan hal itu selama 45 menit setiap harinya. Setelah itu, sambil terus mengulang-ngulang hafalan 2 juz Al Qur’annya dia segera melihat Buku Agenda 2013 nya – sebuah buku tebal yang selalu dia isi dengan apa yang dilakukannya hari itu -. Schedule yang harus dia kerjakan hari ini adalah :

  • Pukul 08.00 = Rapat Sektoral SPK GAMAIS ITB
  • Pukul 12.00 = Ujian Teknik Pemboran II
  • Pukul 15.00 = Pembicara Seminar “Menjadi Aktivis Berprestasi”
  • Pukul 17.00 = Lari Sore
  • Pukul 20.00 = Belajar Geologi Struktur
  • Pukul 22.00 = Membaca buku “Menikmati Demokrasi”

Alfi menunjukan senyumannya. Alfi sangat bersyukur karena tanpa disadari pada hari itu dia telah berhasil menguasai sebagian besar materi Teknik Pemboran II yang padahal menurut mahasiswa TM, mata kuliah ini adalah mata kuliah paling susah. Selama ini ia tidak memiliki waktu yang banyak untuk belajar karena ia harus menjadi Steering Comite acara PMBR Gamais – Di tahun 2013, Acara PMBR Gamais telah menjadi acara yang ditunggu-tunggu oleh seluruh Mahasiswa ITB -, hal ini bisa terjadi karena berawal dari kebiasannya untuk membaca buku Diktat Pemboran II Mas Rudy Rubiandini setelah selesai sholat Qiyamul Lail.

Alfi segera keluar dari kamar menuju beranda rumah kontrakannya. Disana dia melihat teman satu wajihah dengannya, Novi (mahasiswa Teknik Sipil ITB 2010, sekarang memegang amanah kepsek Internal Gamais) yang sedang menjemur pakaiannya. Biasanya Alfi melakukan olahraga paginya dengan melakukan push up 30x, sit up 30x, dan skipping 30 menit di beranda atas rumah kontrakannya itu. Hal inilah yang menyebabkan Alfi punya stamina yang kuat, pernah dia memasang kertas publikasi Gamais dan memasang baliho hanya berdua dengan kedua teman baiknya, Novi dan Putra (Mahasiswa Teknik Geologi 2010, sekarang memegang amanah kadep MSDA GAMAIS 2013). Novi dan Putra juga memiliki stamina yang kuat di Gamais.

Setelah itu, Alfi kembali lagi kedalam rumahnya dan menuju kamar temannya yang bernama Syufyan (Mahasiswa TM 2010 juga, sekarang memegang amanah kasek Akpro GAMAIS 2013) untuk bertanya bagaimana perkembangan proyek mereka. Alfi dan Syufyan  termasuk dua dari tiga mahasiswa TM yang diberi kesempatan untuk menangani proyek dosennya yang bernama Mas Doddy Abdassah untuk melakukan Pengujian Formasi Sumur di kota Padangpanjang dan Padangpariaman.

“Allahu Akbar..Allahu Akbar..”, Adzan subuh telah berkumandang. Semua penghuni rumah kontrakan Alfi segera bersiap-siap menuju masjid Al-Arif. Pak Hanafi, dengan suara merdunya memimpin sholat subuh dengan sangat khusyuk di masjid ini. Dan seperti biasanya, Alfi selalu bertemu dengan kedua sahabatnya yang  tinggal terpisah hanya beberapa petak dari  rumah Alfi. Mereka adalah Putra dan Bowo (Mahasiswa Teknik Fisika 2010, sekarang menjabat Kepala Gamais 2013).  Tampaknya hari ini Putra  sangat lelah karena harus menyelesaikan deathline tugas Geologi Migasnya, tapi buku yang berjudul “Buku Putih GAMAIS ITB, karangan pendahulunya, Adi  (Mahasiswa Teknik Geologi 2006, kadep MSDA Gamais 2006) bersama tim MSDA nya” tak bisa lepas dari tangannya. Dan Bowo pun tampak tenang membaca Al Qur’an merah terawat pemberian Alfi dulu ketika Bowo milad ke-20.

Bowo tiba-tiba saja menghampiri Alfi, menjabat tangan dan mengucapkan salam kepada Alfi seraya bertanya “Gimana Fi, perkembangan PMBR kita tahun ini?”. “Dari sisi finansial, Gamais Corp telah menyediakan uang 200 juta untuk melaksanakan acara kita tahun ini namun itu masih kurang, tapi insya Allah ada alumni Gamais ITB yang juga merupakan pendahulu kita, Pak Rendy, Pak Tri Aji, dan  Pak Rohmad yang akan memberikan dana fresh money sebesar 100 juta. Jadi Insya Allah sisa dana 200 juta yang kita butuhkan akan kita usahakan lewat sponsorship lewat perusahaan-perusahaan yang dimiliki alumni Gamais dan perusahaan lainnya yang strategis”, Alfi menjelaskan dengan rinci dan dengan gaya lambaian tangannya yang khas. “Dari sisi kepanitiaan, Wijaya (Mahasiswa Teknik Elektro 2011, salah satu staf Alfi di Sektor SPK) telah melaporkan kepada ana bahwa setiap LDF telah memberikan 20 kader terbaiknya untuk menjadi panitia di Gamais Pusat. Dan Gamais wilayah pun sudah menyiapkan acaranya masing-masing, dan lagi-lagi Gamais Corps telah memberikan dana fresh money, 10 juta, untuk setiap Gamais Wilayah”, Alfi melanjutkan penjelasannya. Bowo hanya mengangguk-anggukan kepalanya dan melanjutkan perkataannya “Masih ingat gak Fi, saat kita ikut Gamais Super Camp di P4TK Depok, ketika kang Panji (Mahasiswa Teknik Fisika 2006, Kepala Gamais 2006) menceritakan kisah perjuangan BPH mereka yang  jatuh bangun membangun dakwah agar visi Gamais 2010 tercapai. Kira-kira gimana ya kalau kita membandingkan BPH mereka dengan BPH kita yang sekarang?apa perjuangan kita sudah sekeras mereka ya?Sekarang Gamais sudah mandiri secara finansial dan sistem syiar  dan kaderisasinya pun terus membaik”.

Tiba-tiba Putra menutup bukunya dan mendatangi kedua temannya,  dan dia berkata “perjalanan Gamais ini masih panjang akh, tugas kita adalah melanjutkan tugas mereka yang belum selesai, yaitu  mewujudkan kefutuhan kampus ITB“. Mereka berdua terdiam melihat Putra yang berbicara dengan gaya Padangnya yang khas. “Benar akh, perjalanan kita masih panjang dan kita harus bisa seperti para pendahulu kita, bahkan melebihinya”, jawab Bowo. Tidak lama kemudian mereka mengakhiri obrolan pagi mereka, dan mereka pulang ke tempat mereka masing-masing.

Waktu telah menunjukan pukul 06.00.  Alfi biasanya membeli sarapan pagi di “Warung Bu Ajeng”, tempat makan andalan Alfi karena jaraknya yang dekat dengan rumah kontrakannya. Sambil berjalan menuju warung itu, terlihat bibir Alfi yang komat-kamit  mengucapkan lafaz-lafaz Al-Matsurat Sugra. Dari jauh terdengar suara sayup-sayup, “Alfi gimana kabarmu pagi ini? Pagi ini Ibu masakkan makanan kesukaanmu, ayam bakar ala Bu Ajeng” ,  terlihat Ibu Ajeng yang menyapa Alfi dari kejauhan dan melambaikan tangannya. Sesampainya disana, ia bertemu dengan keempat kakak tertua penghuni  rumah kontrakannya yaitu Kang Aa, Kang Arif, Kang  Erry dan Kang Abbrian.

Ibu Ajeng sangat baik. Selain menjadi penjual nasi, Ibu Ajeng sudah dianggap Ibu bagi semua penghuni rumah kontrakan Alfi karena beliau dekat sekali dengan mereka semua. Maka tak heran jika Alfi dan semua kawan rumahnya sering berbagi masalah dan curhat kepada Ibu Ajeng. Ibu Ajeng dengan segala pengalaman hidupnya sering memberikan solusi kepada mereka semua. Dan yang paling membuat Alfi betah untuk berlama-lama disana adalah pelayanan yang diberikan Ibu Ajeng. Walaupun sedang hamil, Ibu Ajeng selalu memperlihatkan keprofesionalannya dalam melayani pembeli makanannya. Dan yang paling membuat Alfi kagum adalah marketisasi yang dilakukan Ibu Ajeng untuk menarik pelanggan-pelanggannya. Diam-diam, dari sinilah Alfi sebagai ketua SPK Gamais ITB banyak belajar dari Ibu Ajeng bagaimana cara melayani pelanggan (dalam konteks DK, disebut Objek Dakwah) dengan baik dan profesional.

Kemudian Alfi duduk bersama keempat akang-akangnya dan mulai berbincang-bincang tentang berbagai persoalan, mulai dari dakwah sampai infotaintment pun juga ikut terbahas. Sambil memakan ayam bakar sedap buatan Ibu Ajeng, tiba-tiba handphone Alfi berbunyi dan bergetar. Bunyi itu bukan bunyi sms ataupun sebuah panggilan. Alfi sangat mengenal bunyi itu. Bunyi itu adalah Bunyi dari Reminder Ulang Tahun. Segera saja Alfi mengambil handphone yang ada di kantong celananya. Dengan penuh tanda tanya yang besar, segera saja ia buka kunci otomatis handphonenya dan melihat siapa yang berulang tahun hari ini. Terlihatlah nama orang itu, dan  Alfi baru ingat kalau orang itu berulang tahun hari ini. Tak lain orang itu adalah …………….. (bersambung)

******

Nantikan bagian kedua dari cerita ini..

Dan nantikan juga Kisah Rahma, Seorang Kader Akhwat Gamais 2013..

6 thoughts on “Kisah Alfi, Seorang Kader Ikhwan Gamais tahun 2013 (bagian 1)

  1. komen2..

    ok2..
    ga percaya si-putra ngomong kyk gitu…

    si bowo kyknya ga pernah dapet alquran merah dari si alfi

    tokoh yg alami cuma bu ajengnya nih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s