Be 100 %

Pertama kali Anda membaca judul tulisan saya, mungkin Anda akan mengingat suatu brand iklan dari salah satu minuman berionisasi. Benar, minuman itu adalah Mizone, Be 100 %. Namun bukan minuman itu yang ingin saya bahas. Yang ingin saya bahas adalah tentang kesempurnaan kita dalam melakukan setiap pekerjaan kita.

Saya sangat tergelitik ketika membaca buku Peter F. Drucker yang berjudul “The Daily Drucker” – buku yang berkisah tentang inti tulisan-tulisan Drucker yang dirangkum selama 366 hari – sehingga ingin sekali menuangkan pemikiran saya di dalam tulisan ini. Salah satu tulisan terbaiknya ada, Drucker menulis sebuah kisah yang sangat menarik (cerita ini langsung saya kutip dari bukunya) :

Pemahat terbesar dari Yunani kuno, Phidias, sekitar 440 SM membuat patung yang sampai hari ini, 2400 tahun berikutnya, masih berdiri di atas atap Parthenon di Athena. Ketika Phidias memasukan tagihan, akuntan kota Athena menolak untuk membayarnya. “Patung ini berdiri di atas kuil, dan di bukit tertinggi di Athena. Tidak ada orang yang dapat melihat apa pun selain bagian depannya. Namun Anda meminta bayaran atas biaya memahat mereka seluruhnya, dengan memahat sisi belakangnya yang tidak dapat dilihat orang.” Anda keliru,” sahut Phidias. “Tuhan dapat melihat mereka.”

Ketika orang bertanya buku mana yang saya anggap terbaik, saya tersenyum dan berkata, “Yang berikutnya.” Meskipun demikian, saya tidak menganggapnya sebagai sebuah lelucon. Saya serius seperti Verdi yang serius ketika berbicara tentang menuliskan suatu opera pada usia delapan puluh untuk mengejar kesempurnaan yang selalu menghindar darinya. Walaupun sekarang saya lebih tua dari Verdi saat ia menulis Falstaff, saya masih berpikir dan mengerjakan dua buku lagi, yang masing-masing saya harap akan lebih baik dari buku saya yang sebelumnya, akan lebih penting, dan mendekati kesempurnaan.

Tidak ada mesin yang punya efisiensi sebesar 100 %, karena tidak ada mesin yang sempurna. Namun manusia terus melakukan perbaikan yang kontinu untuk meningkatkan efisiensinya mendekati 100 %, seberapa pun itu sulit dikejar. Sama seperti mesin, Anda juga bisa meningkatkan kinerjanya menuju kesempurnaan, seberapa pun itu sulit dikejar. Syaratnya hanya satu yaitu, Be 100 %. Artinya Anda menjadi 100 % dalam setiap pekerjaan Anda. Ketika Anda adalah seorang mahasiswa maka jadilah 100 % mahasiswa, ketika Anda menjadi seorang petinju maka jadilah 100 % seorang petinju, ketika Anda menjadi seorang entrepreneur maka jadilah 100 % seorang entrepreneur, bahkan ketika Anda telah menikah pun, Anda harus mencintai 100% pasangan Anda.

Didalam ilmu eksakta, 70 %, 80 %, atau 90 % berbeda dengan 100 %. Sama seperti kehidupan nyata. Ketika Anda hanya menjadi 70 % seorang mahasiswa, dan menyisakan 30 %  untuk memikirkan hal lain seperti organisasi yang Anda geluti, hutang-hutang Anda, atau film yang tadi Anda tonton, maka pekerjaan Anda sebagai seorang Mahasiswa tidak akan efektif, apalagi mendekati kesempurnaan. Factor negatif yang mungkin terjadi adalah Anda tidak akan konsen mendengarkan dosen berbicara atau catatan Anda tidak sesuai dengan kebutuhan Anda. Sama seperti pekerjaan lainnya, ketika Anda menjadi petinju, entrepreneur, suami, istri, atau dalam hal ibadah sekalipun.

Lalu muncullah pertanyaan, bagaimanakah kita bisa menjadi 100 %? Sebenarnya ini adalah pertanyaan klasik yang telah banyak pakar yang menjawabnya. Satu yang pasti, Anda harus memperbaiki manajemen diri Anda. Anda memiliki ruang privat dan ruang publik yang mana satu dan lainnya tidak boleh bercampur aduk dalam satu ruang yang sama atau sering juga disebut Zone of Indifference.

Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Teruslah perbaiki diri Anda hingga kinerja Anda mendekati kesempurnaan atau 100 %. Atasan Anda atau dosen Anda akan senang jika Anda melakukan tugas yang diberikan mereka dengan sempurna. Inilah yang menjadi kebiasaan/karakter bangsa barat sehingga mereka bisa maju daripada bangsa yang lain. Mereka menang dalam persaingan dengan bangsa lainnya karena mereka menunjukan kinerja terbaik mereka sehingga orang-orang yang berada di level atas mereka.

Mungkin karakter inilah yang hilang dari umat muslim yang terpecah-belah saat ini. Mungkin mereka tidak ingat bahwa Nabinya yang bernama Muhammad adalah orang yang be 100 % dalam hidupnya. Beliau dapat membagi kehidupannya sebagai seorang sahabat, panglima perang, pemimpin Negara, dan suami bagi istrinya. Tidak ada pihak yang merasakan ketidakpuasan terhadapnya, bahkan ketika beliau wafat semua pihak merasa sangat kehilangan. Kalau memang umat muslim memang ingin mengambil kembali gelar mereka sebagai “umat yang terbaik” maka mereka harus melakukan perbaikan dalam seluruh kinerjanya. Be 100 %.

One thought on “Be 100 %

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s