Enam Pilar Asasi Pemimpin Bermental Kaya

Menurut Stephen R. Covey, untuk mencapai pemimpin level 5 – yang disebut pemimpin yang punya trust and respect – mereka harus memiliki tiga pondasi mendasar dalam menjalani kehidupannya :

1.       Integritas (Integrity)

2.       Kematangan (Maturity)

3.       Kekayaan mental (Abundance Mentality)

Setiap pondasi ini memiliki penjelasannya masing-masing. Seorang pemimpin yang punya integritas tahu bahwa apa yang ia “katakan” harus sesuai dengan apa yang ia “lakukan”. Dia tidak bermuka dia, disatu sisi ia berkoar-koar tentang sesuatu, namun di lain sisi ia melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan perkataannya.

Pemimpin level 5 juga harus punya kematangan dalam menjalani kehidupannya. Jim Collins mengistilahkannya dengan “seseorang yang selesai dengan dirinya.” Seseorang disebut matang ketika orang itu sudah sadar bahwa dirinya memiliki rasa tanggung-jawab terhadap apa yang ia lakukan didalam hidupnya. Maka dari itu, seorang pemimpin level 5 tahu bahwa segala yang ia lakukan harus ia pertanggungjawabkan.

Dan satu hal pondasi penting lagi yang harus dimiliki pemimpin level 5 adalah kekayaan mental. Mereka sadar untuk menjadi seorang great leader mereka harus memiliki mental yang kaya karena mereka tahu bahwa tanpa mental yang kaya, mereka hanya akan menjadi seorang yang diktator yang hanya mementingkan dirinya sendiri tidak memikirkan regenerasi kelanjutan kepemimpinannya. Didalam islam, kekayaan mental ini disebut dengan qonaah (mental yang keberlimpahan). Setidaknya Covey telah merumuskan enam pilar asasi yang harus dimiliki pemimpin yang bermental kaya :

1. I am return to the right and basic source. (Saya kembali pada sumber yang mendasar dan benar)

Ketika mereka menghadapi suatu permasalahan yang pelik dan kompleks, maka mereka akan kembali pada sumber yang mendasar dan benar. Sebagai seorang muslim, saya meyakini sebesar-besarnya bahwa hanya ada dua sumber yang mendasar dan benar yang harus dijadikan sumber bagi mereka yang merasa pemimpin yang bermental kaya di dunia ini, yaitu Al-Quran dan Al-Hadits,  sumber-sumber lainnya – yang telah dirumuskan manusia – mereka jadikan sebagai sumber tambahan. Saat belajar suatu mata kuliah/buku, Anda pasti memerlukan buku referensi dasar untuk memberikan jawaban pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak Anda. Pun demikian juga sebagai seorang pemimpin, mereka juga harus bisa menjawab tantangan dan problematika zamannya dengan sumber yang mereka miliki.

2. I seek solitude and enjoy nature (Saya mencari kesunyian dan menikmati alam)

Seorang pemimpin yang memiliki mental yang kaya selalu memiliki waktu untuk menyendiri merenungi apa yang telah dia lakukan selama ini. Mereka dapat membagi waktunya dengan baik kapan mereka harus memenuhi hak publiknya dan hak privatnya. Mereka memuhasabah (mengintrospeksi) apa yang telah ia lakukan selama masa kepemimpinannya. Mereka meyakini bahwa ini adalah tugas yang penting karena waktu mereka terbatas untuk melakukan sebuah perubahan didalam masa kepemimpinannya. Karena itu mereka terus dan terus memperbaiki dirinya didalam sebuah kesunyian agar mereka khusyuk dan mendapatkan jawaban atas evaluasi dirinya.

3. I sharpen the saw regularly (Saya menajamkan gergaji saya dengan teratur)

Setiap orang punya senjata untuk menjalani kehidupannya. Kita ambil contoh seorang tukang kayu. Seorang tukang kayu mempunyai senjata yang bernama gergaji. Gergaji ini terus dia pakai untuk memotong pohon setiap harinya. Namun untung tukang kayu ini adalah orang yang sangat cerdas. Ia selalu mengasah gergajinya secara teratur sehingga gergajinya selalu tajam dan mampu untuk memotong pohon. Mari kembali pada tema kita kali ini, Lantas yang jadi pertanyaan adalah, “senjata apa yang dimiliki seorang pemimpin yang bermental kaya?” Jawabannya adalah kompetensi. Setiap pemimpin punya kompetensi dalam menjalankan tugasnya. Sama seperti si tukang kayu, pemimpin yang punya mental yang kaya sadar bahwa mereka harus senantiasa mengasah kompetensinya. Mereka yakin bahwa “since good is never good enough”. Mereka harus selalu siap menghadapi situasi dan kondisi yang senantiasa berubah sepanjang waktu, sumber daya yang selalu dinamis dan tantangan yang bertambah-tambah seiiring berjalannya waktu.

4. I serve others anonymously (Saya melayani orang dengan tidak diketahui namanya)

Inilah yang membedakan antara pemimpin yang bermental kaya dan pemimpin yang bermental miskin. Bagi mereka, kepopuleran itu bukanlah hal yang penting. Namun yang terpenting dan menjadi hal yang paling membahagiakan bagi mereka adalah mereka dapat melihat senyuman bahagia orang lain. Umar bin Khattab, seorang khalifah ketiga pengganti Rasulullah pernah mengangkat sekarung gandum sendirian dimalam hari untuk mengantarkannya kepada sebuah keluarga yang sangat miskin pada waktu itu. Mengapa ia melakukannya sendiri, padahal ia adalah seorang khalifah? Mengapa ia melakukannya pada malam hari? Dialah seorang pemimpin bermental kaya. Jawabannya hanya satu, karena dia hanya mengharapkan ridho dari Allah dan keikhlasan melayani orang lain.

5. I maintain a long therm intimate relationship with another person (Saya memelihara keakraban dengan orang lain)

Seorang pemimpin mungkin bisa menjadi seseorang yang penting didalam sebuah tim. Namun seorang pemimpin tidak akan mampu menggantikan sebuah tim. Itulah inti dari team work. Ada pemimpin dan ada pengikut. Keduanya harus memelihara keakraban mereka. Ciri lain kepemimpinan yang sukses adalah ia mampu menghasilkan generasi penerus yang sama atau bahkan lebih baik dari dirinya. Untuk itu pulalah ia harus memelihara keakraban dengan orang lain. Karena disana ia akan menjalankan kaderisasi, dan ia dapat memilih dan memilah mana orang yang tepat yang dapat ia kader untuk menjadi pengganti dirinya.

6. I am problem solver (Saya adalah ahli dalam menyelesaikan masalah)

Mereka berbeda dengan orang biasa. Ketika orang biasa berkata bahwa “kita punya masalah ini dan itu!” maka mereka telah berkata “Inilah solusinya”. Seorang pemimpin bermental kaya bosan terhadap pertanyaan dan pernyataan tentang problem yang dihadapi zamannya. Bagi mereka itu adalah hal yang sia-sia. Yang mereka harapkan hanyalah kehadiran mereka mampu memberikan solusi terhadap problem apa yang terjadi saat itu. Saat ini, negeri Indonesia butuh bukan hanya pemimpin visionary, yang mampu memimpikan sebuah hal yang indah tentang Indonesia, namun negeri ini butuh pemimpin transformatif, pemimpin yang punya visi namun juga sekaligus memiliki real step (langkah nyata) untuk mencapai visinya itu. Mereka itulah yang disebut dengan problem solver.[]

***

Sumber inspirasi : Bapak Arief Munandar M.E.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s