Kisah Alfi, Kader Ikhwan Gamais 2013 (Bagian 2)

Tak lain orang itu adalah Kahim PATRA ITB, Azwad (Mahasiswa Teknik Perminyakan ITB 2010). Azwad adalah orang ketiga dari mahasiswa TM yang menjalankan proyek bersama-sama Alfi dan Syufyan. Tiba-tiba saja Alfi kembali mengingat apa yang terjadi kurang lebih dua tahun yang lalu sebelum Alfi mendapatkan amanah sebagai Kepala Sektor Syiar Gamais 2013 dan baru mengenal Azwad.

Waktu itu, Alfi dan Azwad belum mengenal satu dengan lainnya karena masih belum satu program studi. Dulu, Azwad adalah seorang mahasiswa yang sangat hedonis, waktunya ia habiskan untuk berpacaran, bermain kartu bersama kawan-kawannya, kadang-kadang ia pergi kesebuah mall dan menghabiskan banyak uangnya disana untuk membeli sesuatu yang dia inginkan. Namun dibalik sifatnya itu, ia adalah mahasiswa yang cerdas dan tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu. Perkenalan antara Alfi dan Azwad terjadi ketika Azwad kalah angka tipis di dalam suatu kontes Contract Product Sharing, sebuah kontes dimana pesertanya harus membuat sebuah rencana pengembangan lapangan minyak dan menentukan suatu cara pembagian produksi kontrak yang paling efektif untuk perusahaan dan pemerintah, yang diadakan ITB bertempat di Aula Timur. Selesai Acara itu Azwad langsung menyalami Alfi dan berkata “Selamat ya, loe emang hebat, gue salut sama loe Alfi”. “Alhamdulillah. Loe sebenarnya juga hebat Wad, planning yang loe buat sangat baik, namun gue rasa loe hanya lemah di cara pembagian produksi kontraknya aja, karena sangat menguntungkan perusahaannya doang”, kata Alfi menyambut jabatan tangan Azwad. “Loe mau masuk program studi apa Fi?”, kembali Azwad bertanya. “Gue mau masuk TM nih, gimana dengan loe?”, Alfi menjawab. “Wah sama kita, moga kita ketemu ya disana. Sori banget nih Fi, kayaknya gue harus cabut sekarang soalnya udah ditungguin pacar gue, Tita, disana”, lanjut Azwad seraya tangannya menunjuk kearah seorang wanita di pojok Aula Timur dan mulai melangkah pergi. “Hati-hati ya, Assalamu’alaykum”, Alfi menutup perbincangan singkatnya. “Yo, Wa’alaykumsalam warahmatullahi wabarakatuh”, Azwad menjawab. Alfi sedikit terkejut karena Azwad menjawab salamnya dengan makhraj huruf arab dengan sangat fasih.

Satu tahun telah berlalu, bertemulah mereka di program studi perminyakan dan memulai persahabatan mereka. Ternyata Azwad pernah mendapatkan mentoring waktu SMA. Namun karena lingkungan yang tidak mendukung disekitar rumahnya, akhirnya Azwad pun terseret kedalam lingkungannya itu. Namun kini Azwad telah kembali. Azwad yang semakin lama semakin membaik akhlak dan perilakunya berkat dakwah fardiyah jitu dari Alfi. Dan akhirnya Azwad pun sekarang sudah ikut mentoring lagi bersama Alfi. Suatu hari, Azwad dan Alfi belajar bersama-sama belajar mata kuliah Statistika di lantai dua Perpustakaan Pusat ITB. Azwad tiba-tiba saja memecah suasana hening perpustakaan dengan berkata bahwa ia ingin menjadi seorang Ketua Himpunan karena dia mulai merasa gerah atas hedonisme yang terjadi di sana. “Wah bagus Wad, kalau gitu akan gue bantu deh”. Sontak saja apa yang dikatakan Alfi.

Didalam diri Alfi terjadi getaran hati yang hebat. Alfi ternyata mengazamkan dirinya untuk menjadi Ketua Himpunan juga. Awalnya, Alfi hanya kagum dengan Kahimnya yang bernama Fajri [TM 08] karena Fajri berhasil menggugah hati Alfi dengan kharisma dan kata-katanya. Namun Alfi yang waktu itu baru saja menjadi anggota baru PATRA ITB sudah menggebu-gebu menjadi Kahim. Entah itu sebuah ambisi atau sebuah panggilan untuk berdakwah disana. Lambat laun ternyata Alfi lebih aktif di Gamais, dan sempat juga dirinya menjadi Calon Kepala Gamais, bersama Bowo, Putra, Hilman, Iwan, dan Esa. Dan pada akhirnya syuro Dakwah Kampus memutuskan Bowo menjadi Kepala Gamais. Dan kini Bowo menunjuk Alfi sebagai Kepala Sektor SPK. Walaupun demikian, azzam untuk menjadi Kahim masih tersisa direlung-relung hatinya. Sampai saat itu ia masih merasa gundah karena ia merasa punya kewajiban pula untuk berdakwah di program studinya.

Namun pada hari itu di Perpustakaan, Alfi merasa bahwa kini ia mendapatkan orang yang tepat untuk menggantikan kewajiban dakwahnya ia di himpunan. “Loe, serius kan Wad. Udah tinggal 3 bulan lagi nih. Artinya kita harus siapkan strategi yang mantap untuk menggapai kemenangan.” Singkat cerita, akhirnya Azwad memenangkan pemilu Kahim. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari mesin politik Lembaga Dakwah Program Studinya dan kawan-kawan gaul yang mampu mereka rangkul. Azwad kini berada disayap himpunan dan Alfi berada disayap Gamais.

**

“Fi, udah beres belum makannya?” Ibu Ajeng mengejutkan Alfi dengan kata-katanya. “Alhamdulillah sudah bu, enak banget masakannya sampai-sampai piringnya aja hampir termakan”. Kemudian mereka berdua tertawa melihat bagian piring yang rusak dan mirip seperti hasil gigitan gigi. “Ibu, teman saya ada yang ulang tahun nih, enaknya dikasih hadiah apa ya bu?”,kata Alfi. “Cewek apa Cowok? Teman lama atau dekat?”, balas Ibu Ajeng. Kemudian Alfi menjelaskan seperti kisah yang baru saja ia ingat. Kemudian Ibu Ajeng membisikan sesuatu ke telinga Alfi. “Eureka Bu. Subhanallah, hadiah itu tepat sekali buat Azwad bu.” Para kakak satu rumah Alfi mulai kebingungan atas tingkah laku mereka berdua yang aneh. “Ok, bu akan segera saya lakukan hal itu. Terima kasih ya bu. Ini uangnya, untuk kembaliannya saya ambil Chocolatos aja ya bu.” Alfi segera mengambil coklat kesukaannya dan segera pulang ke rumahnya karena ia ingat bahwa ia harus memimpin rapat pagi ini.

Pukul 07.00. Alfi sudah mandi dan berpakaian rapi. Ia segera mengambil buku-buku kuliah yang telah ia taruh dimeja belajarnya, dan tidak lupa juga ia mengambil buku yang berjudul “Menjadi Aktivis yang Gaul, Kontributif dan Prestatif.” Karangan mahasiswa ITB yang bernama Ryan (TM 06), sebagai bahan yang akan ia bawakan sore nanti. Segera ia memanggil Novi dan Syufyan untuk berangkat bersama-sama.

**

Bangunan itu sudah cukup tua. Berdiri didepan kampus ITB dan selalu terdengar untaian lirik Adzan ketika waktu sholat wajib tiba dari dalam sana. Bangunan itu bernama masjid Salman ITB. Masjid yang menjadi basis pergerakan mahasiswa aktivis islam. Mulai dari yang beraliran keras sampai yang moderat berkumpul disana. Termasuk pula aktivis Gamais. Bentuk Masjid Salman termasuk dalam salah satu bangunan yang unik karena tidak ada tiang penyangga atapnya dan tidak memiliki kubah. Berkat posisinya yang dikelilingi dedaunan hijau membuat masjid ini selalu terasa sejuk dan nyaman. Banyak mahasiswa yang mencoba melelapkan matanya untuk beristirahat siang disana selesai kuliah. Ada tiga bagian di lingkungan Salman yang menjadi tempat berkumpul utama aktivis Gamais : Koridor Utara (Korut), Koridor Timur (Kortim), dan Taman Ganesa. Tempat itu mereka gunakan untuk rapat atau acara kekeluargaan.

Alfi bersama kedua kawannya pergi menyusuri penyebrangan menuju Salman. Novi hendak mengambil barangnya yang tertinggal di Sekretariat Gamais dan Syufyan hendak bertemu temannya di Masjid Salman. Tak lama kemudian akhirnya mereka sampai di area masjid Salman dan mulai memisahkan diri masing-masing. Seperti biasa Alfi harus terbiasa menundukan pandangan karena memang disana memang disebut area “lautan akhwat dan janggut”. Istilah ini didapatkan Alfi dari Azwad ketika bercerita tentang kehidupan SMA-nya. “Berbakti kepada Kedua Orang Tua, Pentingkah?” Alfi kemudian melihat sebuah spanduk Acara Ta’lim Pekanan Salman yang tergantung disalah satu sudut Masjid Salman. “Aku harus ikut” hati Alfi bersuara. Lalu segera Alfi membuka sepatu dan menitipkannya kepada petugas Salman dan segera menuju kortim untuk memimpin rapat sektoral SPK. Alfi melihat jam tangannya menunjukan pukul 07.20. sebagai seorang pemimpin, Alfi sadar betul kalau dirinya harus dapat menjadi teladan bagi para anggotanya termasuk dalam hal keteladanan waktu. Untuk itu sering kali Alfi sering memuhasabah dirinya setiap mau tidur. Dan kini sampailah ia di kortim dan segera mempersiapkan media rapatnya.

**

Di seberang pulau sana, dan masih di Indonesia. Seorang wanita kira-kira berumur 16 tahun baru saja memutuskan untuk berhijab ,namun ia tidak bisa melepaskan begitu saja sifat ketomboy-annya. Wanita ini baru mengenal dakwah saat masih SMA. Walaupun bersifat tomboy, wanita ini adalah anak yang berbakti kepada kakak dan orang tuanya. Wanita ini hanya tinggal bersama ayahnya selama bertahun-tahun. Wanita ini ternyata ingin memberikan kejutan kepada orang yang dicintainya  yaitu kakaknya yang telah pergi beberapa tahun yang lalu….(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s