Lelaki Masa Depan

Saat Anda membaca judul tulisan kali ini, mungkin Anda akan membayangkan bahwa saya akan memberikan penjelasan kepada Anda bagaimana menjadi lelaki dambaan zaman ini. Kalau Anda berpikir seperti itu, saya ucapkan SELAMAT karena Anda benar. Tulisan ini terealisasikan sebagai buah keterkesanan saya ketika membaca buku Salim A. Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang, pada Subbab Ah-Bay-Say. Untuk lebih jelasnya baca bukunya sendiri.

Mari kita cek paradigma Anda tentang bagaimana menjadi lelaki dambaan zaman ini. Pertama, bayangkanlah seorang David Beckham. Ia menjadi sebuah icon pria metroseksual dunia. Ia digandrungi bukan hanya karena umpan-umpan yang akurat dan tendangan bebasnya yang membahayakan. Tetapi ia juga menjadi trendsetter gaya rambut dan perawatan kulit. Parfumnya, pakaian, bahkan mobil yang ia gunakan menjadi mode. Ia menjadi seorang “teladan” bagi pria di Inggris dan Amerika sana. Bahkan hasil riset Euro RSCG pada paro tahun 2004 yang coba memantau pria-pria itu, dan hasilnya sangat mencengangkan. 89 persen responden mengaku bahwa merias dan mempercantik penampilan diri adalah hal penting bagi mereka.

Sekarang mari kita tinggalkan David Beckham, dan kini coba bayangkanlah seorang Barack Obama. Siapa yang tidak kenal dengan orang ini? Orang yang menjadi Presiden kulit hitam pertama di Negara yang dikenal paling demokratis di dunia ini, Amerika Serikat. Ia terkenal dengan kesahajaan dan kesederhanaannya. Bahkan Istrinya, Michelle Obama, pernah mengatakan, “Jika kau teliti lebih jauh jas dia – Obama – maka kau akan lihat bagian yang berlubang didalam jasnya.” Begitulah dia. Obama dikenal sebagai orang yang rendah hati. Ia tidak pernah membedakan mana orang kaya dan orang miskin. Obama disukai, disayangi, dan dicintai sebagian besar warga Amerikanya.

Sekarang kalau Anda boleh memilih, manakah yang Anda pilih? Apakah Anda ingin menjadi seorang pria “pesolek” yang tampan dan mungkin mampu membuat para wanita merasa dan mengatakan “WOW’ kepada Anda? Atau Anda ingin menjadi seorang pria sederhana yang punya wawasan luas, solutif, dan dicintai oleh bangsa Anda? Jawaban ada ditangan Anda.

Marian Salzman, kepala riset RSCG bersama Ira Matathia dan Ann O’Relly di paro tahun 2005 merilis buku barunya, The Future Men. Siapakah pria masa depan menurut riset mereka?Apakah pria metroseksual? Ok, bagi Anda yang tadinya bersemangat untuk menjadi pria metroseksual, maka Anda harus siap-siap kecewa karena Anda bukan yang dimaksud pria yang ada didalam buku itu. Pria masa depan itu disebut denga Pria Uberseksual!

Kata “Uber” diambil dari istilah bangsa Jerman yang artinya “diatas” atau “superior”. Konsep Uberseksual mengunggulkan faktor kualitatif. “Pria Uberseksual”, kata Salzman, “Adalah pria yang menggunakan aspek positif maskulinitas, seperti kepercayaan diri, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap orang lain dikehidupannya. Pria uberseksual sangat peduli pada nilai dan prinsip hidup. Pria jenis ini lebih memilih untuk memperkaya ilmu dan wawasannya di sela-sela waktu kosong yang ia miliki.” Barack Obama merupakan satu dari contoh beberapa pria uberseksual yang dimiliki dunia ini.

Dunia, kata Marian Salzman, jauh lebih berharap kepada pria yang menghabiskan waktunya untuk membaca buku dan mengikuti banyak pelatihan, mencermati perkembangan terakhir yang ada di dunia ini, dan menganalisis berbagai peristiwa daripada mereka yang sibuk berhura-hura, pergi kesalon, menata rambut, mempermak wajah, dan memperkaya aksesorisnya. Saat ini dunia membutuhkan seorang pria yang peduli akan lingkungannya, kepada permasalahan bangsanya ketimbang pria yang menghabiskan waktunya untuk menggunakan uangnya untuk mempercantik kulitnya.

Salim A. Fillah mengatakan dengan indah dibukunya. Menjadi pria uberseksual bukannya tidak menarik secara penampilan. Mereka menarik, dan uniknya semua itu terjadi secara alamiah tanpa dibuat-buat. Kedatangan ia sangat dinantikan semua orang dan kepergiannya membuat orang bersedih. Apa yang menjadi rahasia mereka? Sekali lagi Salim A. Fillah berkata bahwa pria uberseksual seperti gelas yang berisi minuman manis dan pria metroseksual seperti gelas yang kosong. Pria metroseksual selalu mencoba menarik perhatian para wanita. Sebaliknya pria uberseksual sangat menghormati wanita, namun uniknya yang sekaligus menjadi kehebatannya adalah mereka lebih memilih pria sebagai sahabat-sahabatnya. Intinya  pria metroseksual memperjuangkan dirinya sendiri, sedangkan pria uberseksual memperjuangkan prinsipnya.

Pria-pria inilah yang ditunggu dan dirindukan umat ini. Pria yang mampu mengutamakan kepentingan publiknya diatas kepentingan privatnya. Pria uberseksual yang meletakan harga dirinya dan bukan pada penampilannya. Pria yang bersih hatinya dan rindu akan kebaikan umatnya ini. Kini cobalah jawab kembali pertanyaan saya, apakah Anda ingin menjadi seorang pria metroseksual ataukah pria uberseksual? Tidak usah dijawab, azamkan saja di benak Anda dan laksanakan apa yang Anda yakini itu. Apapun pilihan Anda, Dunia ini pasti akan memilih orang-orang yang dibutuhkannya saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s