Kedudukan Syiar Dalam Fiqh Dakwah

Banyak gemuruh suara dan sms yang kerap mendatangi saya, yang pada intinya bertanya, mengapa kalau kami mengadakan acara begini sedikit yang datang?mengapa kalau kami mengadakan acara begitu respon dari objeknya kok kurang baik? Dan masih ada beberapa kasus serupa yang terjadi dalam romantika kehidupan dakwah kampus. Untuk itulah saya mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dalam tulisan saya kali ini.

Perlu kita pahami bersama bahwa setiap kegiatan dakwah yang kita lakukan harus berpegang kepada tahapan-tahapan dakwah. Sebuah kegiatan syiar belum tentu cocok untuk tahapan dakwah tertentu karena objek kegiatan tersebut masih belum siap untuk mengikuti kegiatan tersebut. Dan bisa jadi pula,  ada juga kegiatan syiar untuk tahapan dakwah tertentu yang tidak cocok kepada objek kegiatan tersebut karena sebenarnya mereka bisa mendapatkan kegiatan yang lebih intens lagi daripada itu. Dengan memahami hubungan kegiatan syiar dan tahapan dakwah ini akan membuat kita lebih mudah menganalisis kegiatan syiar apa yang tepat untuk diberikan kepada objek dakwah kita.

Syiar dalam Fiqh dan Tahapan Da’wah

Mari kita bahas tentang fiqh dan tahapan dakwah terlebih dahulu. Tahapan dakwah (maraahidud-da’wah)  ini berpacu pula pada yang namanya fiqh dakwah (fiqh ad-da’wah). Tahapan dakwah adalah buah amal dari fiqh dakwah. Yang saya pahami, pada intinya fiqh dakwah terdiri dari lima bagian penting yaitu :

1.       Mengubah kejahiliyahan kepada berpengetahuan

2.       Mengubah berpengetahuan menjadi pola pikir

3.       Mengubah fikrah menjadi aktivitas

4.       Mengubah aktivitas amal menjadi hasil

5.       Mengubah hasil menjadi tujuan yaitu ridha Allah SWT

Ranah syiar dakwah kampus memegang peranan penting dalam fiqh kesatu dan kedua. Sedangkan fiqh ketiga sampai kelima telah menjadi ranah kaderisasi dakwah kampus. Saya akan lebih concern kepada tahapan kesatu dan kedua yang menjadi ranah syiar.

Berpegang pada satu dari beberapa ayat yang berkaitan dengan perintah syiar atau seruan Islam, di dalam surah Al-Jumu’ah ayat 2 disebutkan bahwa :

Dialah yang mengutus seorang rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS Al-Jumuah :2)

Mencoba bertali pada ayat diatas, dapat kita pahami bahwa rasul diutus kepada masyarakat Arab pada waktu itu untuk mengajarkan kitab dan hikmah (sunnah) kepada mereka dengan dakwah sembunyi-sembunyi dan yang nanti akhirnya dengan dakwah terang-terangan. Dalam fase ini, Dr. Syekh Mustafa Mashyur menyebutkan dalam bukunya, Fiqh Da’wah, sebagai tahapan tabligh dan ta’lim.

Mari kita coba relevansikan pada abad digital saat ini. Globalisasi yang digembor-gemborkan bangsa barat kepada bangsa diseluruh dunia telah berhasil mengintervensi pemikiran dunia Islam, termasuk kehidupan masyarakat Islam di Indonesia. Bisa kita temukan bahwa perayaan valentine’s day merupakan hal yang wajar dilakukan kawula muda Indonesia, perayaan Happy New Year yang menguras dana negara yang tidak sedikit, dan perayaan-perayaan hari lainnya lainnya yang tidak jelas sebab-musababnya. Bandingkanlah dengan perayaan-perayaan momen-momen besar Islam yang ada didunia ini, sungguh berbeda nyata apresiasinya. Belum lagi pemahaman-pemahaman tentang poligami, hijab wanita, dan hal-hal lainnya yang masih belum terjelaskan dengan baik. Permasalahan-permasalahan ini membuat umat ini laksana raksasa perkasa yang tertidur. Kita menyaksikan bahwa umat islam kembali pada kesesatan (kejahiliyahan) yang nyata. Hal ini terjadi karena mereka belum menyadari bahwa mereka dalam keadaan tersesat. Kini tibalah tugas para da’i untuk kembali menyadarkan mereka. Tidak ada kecuali, termasuk juga da’I kampus.

Ta’lim Dan Tabligh Di Dunia Dakwah Kampus

Kembali pada dunia kita, dunia dakwah kampus. Seperti kata Syekh Mustafa Masyhur tadi diatas, tahapan pertama yang wajib kita lakukan adalah melakukan penyadaran kembali pada objek dakwah kita, yaitu dengan tahapan yang seperti rasul ajarkan, yaitu dengan tabligh dan ta’lim. Kita harus mengingatkan kepada mereka kembali ajaran-ajaran islam. Namun perlu diperhatikan karena intervensi pemikiran yang luar biasa dari barat membuat kita harus berhati-hati dalam menentukan langkah dan metode. Karena jika salah langkah dan metode, maka bisa jadi objek dakwah kita akan antipati terhadap Islam itu sendiri karena ketidaktepatan pesan yang kita sampaikan. Belum lagi efek media barat yang telah berhasil memojokan brand umat Islam. Tentunya ini dalam melakukan kegiatan syiar ini. Maksudnya adalah menggunakan taktik jitu menyentuh hati objek dakwah dengan  baik, inklusif dan cerdas. Dan untuk itulah Sektor Syiar dan Pelayanan Gamais ITB terbentuk. Sektor inilah yang memikirkan bagaimana caranya agar Gamais ITB dapat bermain cantik dalam menjalankan kegiatan syiar dan pelayanannya. Kita fokus dahulu pada penjelasan syiarnya.

Dalam skala personal, kita tidak akan mampu mengajak mereka untuk sholat lima waktu kalau kita tidak melakukan penyadaran terlebih dahulu kepada mereka akan pentingnya sholat. Begitu pula dengan penyadaran akan bahayanya mengikuti budaya perayaan hari-hari yang telah diadopsi dari bangsa Barat seperti valentine’s day, dan kegiatan sejenis seperti itu.  Bahkan dalam skala makro pun, kita juga tidak akan bisa menghilangkan budaya kegiatan hedonisme yang dilakukan objek dakwah kita, ketika kita belum bisa menyentuh dan menyadarkan alam bawah sadar mereka bahwa apa yang mereka lakukan adalah hal yang kurang bermanfaat dan malah menjauhkan mereka dari ajaran islam. Itulah yang menjadi inti dari syiar, yaitu memberikan sebuah  penyadaran.

Begitu banyak kita saksikan ketiadatahuan objek dakwah kita sehingga membuat mereka secara tidak sadar melakukan bentuk-bentuk penyimpangan yang seharusnya tidak mereka lakukan. Tentu ini menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi para da’i-dai kampus menjalankan perannya.

Bentuk Ta’lim dan Tabligh Masa Kini : Media

Bentuk ta’lim dan tabligh ini tidak monoton harus mengadakan majelis ta’lim atau kajian-kajian sejenisnya, yang mengharuskan mereka duduk mendengarkan seorang ustadz berbicara didepan mereka. Dunia sekarang berubah, kegiatan manusia semakin padat membuat mereka berpikir berkali-kali untuk mengikuti sebuah kegiatan. Untuk itu kita harus bisa melaksanakan ta’lim dan tabligh yang bisa dilakukan secara instan dan namun mampu masuk ke dalam alam bawah sadar mereka. Apakah hal itu bisa dilakukan? Bisa, yaitu dengan menggunakan yang namanya MEDIA.

Media memegang peranan penting dalam kegiatan ta’lim dan tabligh yang dilakukan oleh Gamais ITB. Pemanfaatan media kertas dan internet menjadi prioritas utama dalam mensyiarkan Islam dikampus. Media kertas seperti poster atau leaflet merupakan sarana ta’lim yang efektif untuk menyadarkan objek dakwah kita. Begitu pula dengan penggunaan media maya. Saat ini Friendster dan Facebook tampaknya menjadi media yang cocok pula untuk mensyiarkan Islam. Sesuai dengan teori yang dibuktikan oleh pakar psikologi, dengan terbiasanya mereka melihat sesuatu yang sama setiap harinya, maka mereka cenderung akan mengikuti apa yang dilihatnya itu. Dan kita juga menginginkan hal seperti itu

Konten mediapun menjadi hal yang penting dan tak boleh diremehkan dalam hal ini. Mengenai pembahasan konten, hal ini telah saya bahas pada tulisan yang lalu yang berjudul “Cara Membuat Media Syiar yang Jitu dan Mewabah“. Sebenarnya selain melakukan kegiatan syiar, kita sebagai seorang da’I juga harus melakukan kegiatan pelayanan. Namun izinkan saya untuk membahas hal ini di lain kesempatan.[]

3 thoughts on “Kedudukan Syiar Dalam Fiqh Dakwah

  1. deuh, mentang2 kasek syi’ar, ngomongnya syi’ar mulu…
    coba deh, sinergikan dengan kaderisasi, kekeluargaan, keprofesian, dan pendanaan…

    hehe…

    oia, mau usul, buat gamais, gimana kalo para kepala2 sektor dan departemen di wilayah jadi staf sektor/deprtemen yang serumpun di gamais…
    contoh: kadep syi’ar garis (emang ka atthar sih =j) dan kasek syi’ar musa jadi stafnya kang ryan.
    kelebihan sistem ini, tidak hanya adanya hubungan kultural (sama2 1 rumpun), tapi juga struktural. jadi lebih mengikat.
    tapi (lagi), tanyain dulu ke orangnya mau atau ga *kayaknya ga bakal mau sih =(*

  2. @reza PH

    Insya Allah, ini akan menjadi sebuah buku yang isinya membahas tentang syiar, tapi belum dapat judul yang tepat..ada saran?..Insya Allah selesai 2 bulan lagi..

    Insya Allah saat ini kk sudah mencoba menginisiasi forum pertemuan para kasek syiar wilayah supaya dapat saling bersinergi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s