Beristirahatlah dari Kesibukanmu

Terkadang kita terlalu bersemangat untuk bekerja dan terus bekerja seakan-akan kita tidak punya waktu lagi untuk diri kita sendiri. Kalau telah terjadi demikian maka Anda terkena sebuah penyakit yang bernama “Uncontrolled Busy“. Sibuk itu boleh dan wajar. Namun kesibukan dan ritme kehidupan terpola yang berlebihan tidak baik untuk kita. Ada sebuah kisah yang mungkin kita bisa mengambil sebuah hikmah darinya. Kisah seorang penebang pohon. Berikut ini kisahnya :

**

Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.

Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.

Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu”.

Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku, bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?“, “Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu, saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga”. Kata si penebang.

“Nah, disinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal.

Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.

**

Bagi Anda penggemar buku Stephen Covey, mungkin kata mengasah kapak bukan hal yang asing lagi bagi Anda. Benar. Didalam bukunya 7th Effective Habits for People, Covey telah mengatakan kepada kita untuk selalu mengasah kapak kita. Otak manusia bisa dianalogikan seperti kapak. Kapak yang terus-terusan dipakai menebang akan menjadi tumpul. Sama seperti otak. Ketika otak terus-terusan dipakai dalam kehidupan dengan ritme yang terpola, maka otak kita akan menjadi tumpul. Daya kreativitas otak kita akan terbelenggu. Daya kritis otak kita akan membeku. Untuk itu kapak perlu diasah kembali agar menjadi tajam, sehingga dapat kembali menebang pohon yang banyak. Demikian pula dengan otak. Otak perlu diberi “makanan bergizi” berupa bacaan-bacaan baru, untuk menambah wawasan, pengetahuan dan spiritualitas kita agar otak kembali refresh untuk bekerja.

Sebagai seorang mahasiswa, saya menyadari sekali pentingnya hal ini. Untuk itu dalam setiap bulannya, saya selalu menyisihkan keuangan saya untuk membeli buku umum diluar mata kuliah profesi. Saya meyakini bahwa betapapun sibuknya otak untuk berpikir akademik dan organisasi, otak juga butuh istirahat dan mendapatkan asupan baru dengan bacaan-bacaan tadi. Sadar atau tidak, saya secara tidak langsung merasakan efek dari asupan-asupan itu seperti meningkatnya daya efektivitas kerja saya, bertambah luasnya wawasan saya, dan kreativitas baru dalam setiap kerja saya, sehingga kehidupan saya terasa sangat dinamis dan penuh tantangan baru lagi.

Nah sekarang beralih pada diri Anda. Bagaimanakah dengan Anda? Apa Anda termasuk orang yang sibuk? Sudahkah Anda menyisihkan uang Anda untuk mengasah kembali “kapak” Anda? Jika belum, lakukanlah segera. Dan rasakanlah kedahsyatan efek asahan Anda sendiri.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s