Strategi Inovasi Mahasiswa dalam Perspektif Kacamata Bisnis

Beberapa bulan ini saya telah melihat banyak sekali lomba-lomba inovasi mahasiswa yang ramai mewarnai papan publikasi kampus saya. Mulai dari lomba inovasi business plan kewirausahaan hingga pembuatan robot berteknologi tinggi ada dikampus ini. Semua lomba ini sebenarnya bertujuan untuk menumbuhkan jiwa kreatif dari para inovator mahasiswa. Di sini, karya-karya mereka akan diadu, diuji, dan dipresentasikan. Selain itu, para inovator dari kalangan mahasiswa tersebut juga menyimpan harapan besar bahwa karya-karya mereka bisa dipasarkan dan diterima khalayak ramai.

Namun sejauh ini, Saya jarang mendengar adanya hasil karya dari lomba-lomba itu yang sukses di pasaran. Kemeriahan lomba itu seolah-olah langsung berakhir begitu kompetisi ditutup. Padahal untuk melahirkan inovasi tersebut, para mahasiswa harus rela mencurahkan tenaga, pikiran, dan tentu saja dana dari kantung sendiri yang tidak sedikit.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Apakah karya-karya tersebut, termasuk yang berhasil menembus babak final atau yang malah keluar sebagai pemenang, tidak layak untuk dipasarkan? Apakah inovasi-inovasi tersebut masih kurang inovatif?

Walau banyak penjelasan yang bisa diberikan, kita akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut melalui kerangka berpikir strategi inovasi dalam dunia bisnis. Berdasarkan cara berpikir kerangka ini, inovasi sebaik apa pun belum tentu akan berhasil di pasaran karena logika penemuan dengan logika pasar memiliki perbedaan yang cukup penting. Sayangnya, perbedaan tersebut jarang disadari oleh para penemu. Kegagalan melihat perbedaan tersebut bukan saja terjadi di kalangan mahasiswa Indonesia, namun juga di perusahaan multinasional. Untuk mengatasi perbedaan tersebut, inovasi tidak bisa dilihat semata-mata dari kaca mata penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga harus dari kaca mata strategi bisnis, terutama yang berkaitan dengan bisnis teknologi.

Sayangnya, sejauh ini para inovator Indonesia masih banyak yang tidak dibekali pengetahuan bisnis sama sekali. Mereka masih lebih banyak berkutat pada fitur-fitur dan fungsionalitas produk tanpa mengetahui bagaimana melihat hasil penemuan dari sisi konsumen yang lebih mementingkan manfaat dan solusi yang ditawarkan.

Untuk bisa diterima pasar, selain menawarkan manfaat nyata kepada konsumen, produk hasil inovasi harus memperhatikan kebiasaan konsumen. Inovasi dengan manfaat besar, namun mengharuskan konsumen mengubah kebiasaan mereka secara radikal akan sulit untuk diadaptasi secara luas. Beberapa peralatan yang tidak mengubah kebiasan konsumen akan cenderung mudah diterima daripada peralatan yang mengubah secara radikal kebiasan mereka.

Selain itu, beberapa bias kognitif pelanggan seperti status quo bias (kecenderungan mempertahankan kondisi sekarang), endowment effect (lebih menghargai apa yang sudah dimiliki), dan loss aversion bias (lebih suka menghindari resiko dibanding mencari manfaat baru), sering menempatkan inovasi baru pada posisi yang kurang menguntungkan. Karena bias-bias tersebut sudah berurat akar pada psikologi manusia, dibutuhkan upaya yang besar untuk menarik konsumen keluar dari zona kenyamanan tersebut.

Andaikata produk baru tersebut mampu melewati kedua hambatan di atas, inovasi baru masih harus berhadapan dengan produk yang menawarkan manfaat sejenis yang sudah beredar di pasaran. Produk lama tersebut umumnya sudah membangun ekosistem sendiri, mulai dari kesetiaan pelanggan, jaringan distribusi dan layanan purna jual, sampai ke persepsi publik. Kekuatan ekosistem tersebut tidak bisa digoyahkan hanya oleh produk baru yang menawarkan sedikit manfaat tambahan. Sulitnya konsumen mengadopsi himbauan pemerintah untuk memakai bahan bakar alternatif juga bisa dilihat dari konteks ini. Para konsumen yang sudah terbiasa dengan ekosistem BBM sulit untuk beranjak ke sistem lain karena pihak yang melangkah keluar dari ekosistem sendirian harus menghadapi resiko dan ketidakpastian yang besar.

Profesor Theodore Levitt dari Harvard Business School pernah mengatakan, “Konsumen tidak membeli bor, mereka membeli lobang.” Komentar Levitt tersebut memang benar. Namun dalam memperkenalkan produk hasil inovasi, pernyataan tersebut masih harus ditarik lebih jauh lagi. Konsumen tidak sekedar membeli lobang, mereka membeli lobang dari sistem yang sudah mereka kenal baik.

Selain masalah menjual lobang tersebut, para inovator juga harus berkutat dengan masalah perlindungan hak cipta dan paten. Lemahnya perlindungan hak cipta dan paten di Indonesia menyajikan tantangan tambahan, karena inovator harus memikirkan upaya-upaya perlindungan tambahan bila kepastian hukum tidak bisa diandalkan sepenuhnya.

Karena banyaknya hambatan yang harus diatasi inovasi baru, sementara para inovator sering dibatasi oleh dana dan sumber daya lainnya, mau tidak mau, mereka harus mencari bantuan ke teori-teori dan praktek dari dunia bisnis teknologi. Kegagalan inovator dalam melibatkan dunia bisnis membuat karya mereka hanya berhasil di tingkatan penjurian, namun sulit dipasarkan. Ironisnya, pengetahuan bisnis teknologi tersebut sering menuntut cara berpikir baru yang kadang bertolak belakang dengan cara berpikir para penemu. Sebagai contoh, para inovator sering melihat sistem sebagai sesuatu yang baku, rasional, dan mudah untuk diprediksi; sementara sistem pasar yang melibatkan banyak pemain penuh dengan ketidakpastian dan melibatkan aspek-aspek emosional.

Karena sulit mencari orang-orang yang memiliki kedua kemampuan yang bertolak belakang tersebut, perlu dibuat semacam mekanisme untuk menjembatani para inovator dengan para pemikir dan praktisi di dunia bisnis. Bila saja dunia usaha dan para inovator bisa berjalan beriringan dari awal, transfer pengetahuan antar kedua belah pihak bisa berjalan lebih intensif. Kesalahan-kesalahan inovator, terutama yang berkaitan dengan selera pasar, bisa dikenali sejak awal. Dengan demikian, hasil akhir produk setidaknya lebih mendekati selera pasar.

Selain menggandeng dunia usaha, para inovator bisa juga didampingi oleh seorang rekan dari sekolah jurusan bisnis. Langkah ini menawarkan beberapa manfaat nyata untuk kedua belah pihak. Pihak inovator bisa mempelajari pengetahuan bisnis dari rekannya, sementara rekannya yang berasal dari latar belakang pendidikan bisnis memiliki kesempatan untuk belajar mengenai dunia teknologi dan cara berpikir inovator. Dengan membentuk tim dari disiplin ilmu berbeda tersebut, presentasi karya ilmiah tidak berfokus melulu pada aspek teknisnya saja, namun juga pada business plan yang lebih solid. Cara ini sudah dipakai di negara-negara maju.

Lewat pertemuan dunia inovator dan bisnis tersebut, kita bisa berharap lahirnya karya-karya besar inovatif dari putra-putri Indonesia yang sukses, baik untuk pasar nasional atau pun internasional. Kelahiran karya-karya tersebut akan memacu inovator-inovator lain untuk lebih giat dan antusias, sehingga tercipta semacam virtuous circle demi kemajuan bangsa kita.

3 thoughts on “Strategi Inovasi Mahasiswa dalam Perspektif Kacamata Bisnis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s