Surat Cinta Untukmu : Pejuang Dakwah Kampus

Dari keringat kita..

Oleh kesulitan itu..

Dan untuk impian kita..

Aku tahu dan aku merasakan itu semua, kawan..

Inilah surat cintaku kepada kalian semua..

Para hamba-hamba pilihan Allah,

Saya memang belum hafal satu per satu nama dan raut wajah kalian. Memang kita belum punya cukup waktu untuk bertukar pikiran, bersenda-gurau, sambil bertukar cerita untuk saling mengenal lebih dekat. Tapi saya mencintai kalian. Ya! Saya mencintai kalian semua lebih dari diri saya sendiri karena Allah. Hati-hati kita insya Allah sudah dipersatukan oleh sebuah ikrar mulia, “terbentuknya kampus ITB yang lebih baik dan bermartabat serta mendapatkan kebaikan dari Allah pencipta alam semesta.”

Para pejuang dakwah yang tercinta,

Dihitung sejak langkah pertama kita memasuki gerbang rumah besar bernama Keluarga Mahasiswa Islam waktu itu, hampir satu, dua, bahkan tiga tahun kita menjadi keluarga. Dia tidak pernah menawarkan diri menjadi keluarga yang memanjakan. Bukan saja karena ia tak mampu. Tapi terlebih lagi karena ia yakin bukan itu yang terbaik untuk kita. Yang mampu dan ingin ia berikan adalah keluarga yang keras menempa dengan dasar cinta. Dia mengajarkan kepada kita, bahwa kita bukanlah kayu lapuk yang akan hancur oleh tempaan. Kita adalah besi baja berkualitas prima, sehingga tempaan akan menjadikan kalian pedang tajam penebas kezaliman dan tiang pancang penegak bangunan kebenaran. Bahkan kita juga adalah berlian. Tekanan dan gesekan akan membuat kita kian kuat dan bercahaya!

Kawan-kawan yang saya cintai karena Allah,

Jarangnya saya muncul dihadapan kalian, bukanlah tanda saya tidak menghargai kerja keras, cucuran keringat, kurangnya jam tidur, dan segala jerih payah yang telah kalian tumpahkan. Wallahi! Demi Allah! Saya iri dengan itu. Kita adalah umat terbaik, khairu ummah! Kita harus merebut takdir kita menjadi yang terbaik, terdepan, dan terhebat. Bukan karena rindu pujian, apalagi sekedar tepukan. Sama sekali tidak! Melainkan karena itulah bentuk pertanggungjawaban kita kepada Allah yang telah memberi kita kesempatan terbaik yaitu kehidupan, kecerdasan terdepan yaitu spiritualitas, dan ideologi terhebat yakni Islam! Allah telah memberi banyak hak istimewa, priviledges, kepada kita. Karena itu kita wajib mengembalikannya dengan memberi lebih banyak kepada kemanusiaan dan peradaban.

Jangan pernah rendahkan diri dengan meragukan kemampuan kita, kawan. Sejak berjumpa dengan kalian dalam berbagai kesempatan, saya yakin bahwa kalianlah yang terbaik, crème de la crème, sehingga kita mampu jika kita mau. Sekali lagi saya ulangi, dan akan terus saya ulangi sampai kalian semua yakin, sampai ini terngiang-ngiang tanpa henti di telinga Anda, menjadi gema suara hati yang tak mau mati: kita mampu jika kita mau! Untuk itu kita memang harus rela menanggung kepenatan, mengurangi jam tidur, menekan kebosanan, bertarung dengan kejenuhan, menaklukkan keraguan, bergumul dengan kerumitan, berbenturan dengan UTS dan UAS, dan melompat jauh keluar dari zona nyaman yang menina-bobokan kita. Memang kita harus berhadapan dengan banyak jadwal yang berbenturan, dengan sekian amanah yang tumpang-tindih, tanggung jawab yang susul-menyusul, kerja-kerja besar yang tak kunjung habis, berbagai kepentingan yang sungguh tak mudah dipertemukan, bahkan konflik yang terkadang panjang dan menyakitkan. Jauh-jauh hari Allah telah mengungkapkan dalam Al Qur-an:

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. [QS. Al Baqarah, 2: 216]

Wahai pejuang…

Yang kita butuhkan adalah kesempatan untuk belajar bahwa hidup adalah kumpulan pilihan, hidup adalah mengambil keputusan, dan hidup adalah menjalani konsekuensi dari setiap keputusan yang kita ambil.

Walaupun mungkin saya jarang mendengarkan jeritan masalah kalian, namun kalian semua mendominasi doa-doa saya, menari-nari dalam pikiran saya, bergelayut dalam ruang dan waktu yang saya lintasi, memacu saya untuk terus bekerja lebih keras lagi, mencari cara yang lebih cerdas lagi, dan senantiasa memeriksa niat agar lebih ikhlas lagi. Dan dalam surat ini saya bersumpah, wallahi, demi Allah, jika masih ajal saya belum tiba, saya akan melakukan segalanya, akan mengantarkan syiar islam terbaik untuk kampus ini. Doakan agar kita selalu dapat bersatu dalam ikatan ukhuwah islam ini.

“inspired from my life teacher : AM”

5 thoughts on “Surat Cinta Untukmu : Pejuang Dakwah Kampus

  1. Assalaamualaikum…
    Salam kenal. Sepertinya saya sering mendengar dan membaca nama antum di JMMI ITS. Ada beberapa artikel dalam bentuk hard copy disana ada nama antum. Sepertinya Ryan antum, dari T.Perminyakan ITB. Wallahualam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s