Tentang Serpihan Cahaya

“Apalah arti sebuah lilin dalam kehidupan? Mungkin ini sering dipertanyakan. Sebab lilin hanya sebuah benda kecil dan kegunaannya pun baru tampak ketika lampu listrik dirumah kita padam. Tapi, lilin adalah cahaya. Dan menurut teori Einstein, cahya merupakan bentuk sebuah materi. Berbeda sangat dengan kebalikannya, yaitu gelap. Ini bukanlah materi. Ia pun juga tak memiliki daya. Ia adalah keadaan hampa cahaya. Karena itulah, meskipun kecil, seserpih lilin selalu dapat mengusir gelap.”

Tuhan memisalkan petunjuk sebagai serpihan cahaya dan kesesatan sebagai segumpal kegelapan. ini mengisyaratkan bahwa pasukan kesesatan tidak memiliki sekitpun daya di depan pasukan cahaya. Ia hadir ketika pasukan cahaya hilang. Sadarlah wahai kawan, bahwa gelap yang menyelimuti diri kita dapat diusir denga mudah jika kita mau menyalakan serpihan cahaya lilin kembali. Disanalah tersimpan secerca asa dan tempat berhentinya kubangan kegelapan. Ia toh tak berwujud dan tak berdaya. Kita tidak perlu memanggil matahari untuk mengusirnya. Tidak juga bulan.

Tak ada yang dapat kita selesaikan dengan hanya sumpah serapah kutukan saja. Sama seperti tak bergunanya, ratapan keluh kesalmu pada goresan lembar hidupmu yang lalu. tak perlulah kita mengumpat bencana yang telah kita dapatkan. Sebab kedua tindakan itu tidak menunjukan sikap positif dalam menghadapi realita. “Adalah lebih baik menyalakan serpihan cahaya lilin daripada mengutuk kegelapan”

Setiap manusia punya serpihan cahaya itu didalam dirinya. Tinggal pilihan dirinya saja, mau sadar atau tidak. Serpihan cahaya itu bernama harapan. Cahaya harapan ini yang membuat api semangat seorang manusia tak mau mati walaupun disiram dengan berbagai cercaan, hinaan dan rintangan yang ada disekitarnya. Dan kalaupun mati, sebatang lilin ini mampu dihidupkan lagi dengan nikmatnya syukur dan tempaan kesabaran. Kedua unsur ini mentrendensikan intensitas cahayanya menjadi lebih kuat dan terus menguat, tak mudah meleleh oleh kemalasan dan kepenatan serta tak mau mati oleh tiupan rintangan sekitarnya.

Akhirnya tutuplah matamu dan nyalakan serpihan cahayamu, lalu : “Katakanlah,telah datang kebenaran. Sesungguhnya kebatilan itu pasti sirna”. Jadilah cahaya dalam hidup yang sesingkat ini. Karena kau tidak akan bisa membuat lembaran sejarah hidup untuk kedua kalinya. Hidupmu indah kawan bila kau tahu. Bukan karena teman-temanmu, bukan juga orang tuamu, dan bukan pula orang yang kau kasihi saat ini. Tapi hidupmu bisa indah karena serpihan cahaya yang disusupkan Tuhan kedalam relung jiwamu.

Demi matahari dan sinarnya di pagi hari

Demi bulan apabila ia mengiringi

Demi siang hari bila menampakkan dirinya

Demi malam apabila ia menutupi

Demi langit beserta seluruh binaannya

Demi bumi serta yang ada di hamparannya

Demi jiwa dan seluruh penyempurnaannya

Allah mengilhamkan sukma kefasikan dan ketaqwaan

Beruntung bagi yang mensucikan-Nya

Merugi bagi yang mengotori-Nya

One thought on “Tentang Serpihan Cahaya

  1. Bait itu seperti kutipan ayat, kalau aku tidak salah, “demi malam apabila ia menutupi” ya…rasanya benar, itu kutipan ayat kan????
    Gelap??
    hmmm…..selalu tidak nyaman dalam gelap…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s