Transendensi Perubahan Paradigma (Bagian I)

Sebelum membahas tentang paradigma komunitas lebih dalam, ada baiknya saya mengisahkan terlebih dahulu kisah Bangsa Viking, Norwegia yang punah karena kesalahan mereka sendiri pada Bagian I ini.

Bangsa Viking. Kita semua pasti pernah mengenalnya, atau mendengar kisah penaklukan mereka. Viking, adalah bangsa yang terkenal berwatak keras, petualang, tidak takut mati, dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi mereka. Dari Skandinavia, mereka berekspansi ke kepulauan Inggris, Irlandia, Eslandia, dan Greenland. Dan dari Greenland mereka sempat bergerak menuju Kanada dan daerah yang sekarang kita kenal dengan nama Amerika Serikat, jauh sebelum Columbus menginjak kakinya di benua baru tersebut.

Walau koloni Viking berhasil bertahan di Inggris, Irlandia, dan Eslandia; mereka ternyata gagal berkembang di Amerika. Bangsa Viking yang bermukim di Greenland pertama kali – yang dikenal dengan sebutan Greenland Norse – memang berhasil bertahan 400 tahun lebih di wilayah tersebut. Empat ratus tahun sebenarnya adalah waktu yang cukup panjang buat melakukan ekspansi ke wilayah selatan benua Amerika. Namun sejarah membuktikan Amerika akhirnya justru menjadi milik bangsa Eropa lainnya: Spanyol, Inggris, dan Perancis yang tiba 400 tahun kemudian. Padahal bila bangsa Viking berhasil, sejarah Amerika dan dunia pasti berbeda sama sekali dengan yang sekarang ini.

Berdampingan dengan bangsa Greenland Norse di Greenland selama 400 tahun hidup bangsa Indian Inuit yang budayanya lebih kuno dan barbar dibanding peradaban Eropa yang dibawa bangsa Viking. Namun setelah bangsa Viking lenyap, suku Inuit tetap bertahan sampai 400 tahun berikutnya (sampai bangsa Eropa lainnya datang). Kelebihan peradaban dan teknologi bangsa Viking ternyata kalah dari suku Inuit yang lebih bersahaja. Bila penjelasan lenyapnya bangsa Viking karena perubahan iklim, kenapa suku Inuit mampu bertahan?

Di sinilah Jared Diamond dalam buku Collapse mengajukan teori yang cukup menarik. Menurut Diamond, bangsa Viking punah bukan karena kalah perang dengan suku Inuit, atau karena teknologi mereka yang lebih inferior. Malah bangsa Viking datang dengan membawa ternak-ternak seperti sapi dan kambing yang seharusnya memberi mereka pilihan makanan lebih beragam dibanding suku Inuit.

Sebagai pendatang dari Skandinavia (terutama Norwegia), bangsa Viking tidak hanya datang secara fisik, tetapi membawa serta budaya dan cara pikir nenek moyang mereka di Norwegia. Malah karena keterasingan mereka, budaya tersebut mencengkram lebih kuat. Sebagai bangsa yang dikenal sangat konservatif, mereka menolak budaya lain secara keras. Akibat cara pikir tersebut, nilai-nilai yang membawa mereka sukses di tanah leluhur (dan berlanjut ke penaklukan di Inggris dan Irlandia), dianggap sebagai kebenaran yang tidak bisa diganggu gugat.

Pada awal mereka mendirikan pemukiman di Greenland, kondisi cuacanya memang tidak berbeda dengan Skandinavia, yaitu cukup hangat. Mereka juga masih mampu menjaga hubungan dengan Skandinavia lewat kapal-kapal dagang yang datang secara teratur. Tetapi saat iklim Greenland berubah, cara hidup dan cara pikir yang mereka bawa dari Skandinavia justu mencelakakan. Kapal-kapal yang sebelumnya datang teratur dari Norwegia juga menghentikan perjalanan karena cuaca buruk.

Sebagai contoh, bangsa Viking sebagaimana masyarakat Eropa Daratan kala itu mayoritas beragama Kristen. Dengan sumber daya mereka terbatas, pembangunan dan perawatan gereja (dan kehidupan para pendetanya) merupakan prioritas utama. Kapal-kapal dagang yang merapat ke Greenland kebanyakan membawa barang-barang untuk keperluan gereja, dan bukannya kebutuhan rakyat banyak seperti besi atau senjata (untuk berburu atau mempertahankan diri bila diserang suku Inuit).

Gaya hidup bangsa ini juga sangat Euro-sentris. Fashion yang lagi in di Eropa akan segera diikuti. Tidak heran, meski hidup di suhu yang dinginnya menusuk, kaum wanitanya tetap lebih suka memakai gaun panjang dengan jas keren buat kaum Adamnya; sementara suku Inuit yang tidak punya selera fashion sama sekali dengan enteng memakai pakaian yang paling cocok untuk mengatasi musim dingin: baju dari kulit binatang.

Cara pikir mereka yang konservatif juga membuat suku Greenland Norse menolak belajar dari suku Inuit yang menurut mereka barbar dan derajatnya lebih rendah. Akibatnya, cara berburu anjing laut dan ikan paus yang dikembangkan oleh suku Inuit gagal mereka pelajari. Inuit dipandang sebagai musuh (atau setidaknya kaum yang lebih rendah), dan bukan rekan yang bisa diajak bekerja sama.

Sebagai tambahan teori Diamond, menurut kesimpulan saya sendiri, kegagalan Viking bergerak ke arah Selatan tak lain tak bukan karena mereka tidak ingin kehilangan akses dengan daratan Eropa. Di Greenland, setidaknya mereka masih bisa mendapatkan suplai barang yang mendukung identitas mereka lewat kapal yang datang dari Norwegia. Namun bila mereka bermukim di wilayah yang lebih dalam (Kanada, Amerika Serikat), mereka akan kehilangan akses tersebut (karena jalur laut menuju ke daerah-daerah tersebut belum dikenal). Perjalanan mereka ke wilayah dalam Amerika (seperti yang bisa dilihat di film Pathfinder), hanya sebatas ekspedisi penjarahan sambil lalu dan bukan dengan tujuan penaklukan permanen dan membuka lahan untuk menetap di sana. Alasan inilah yang membuat nama Christopher Columbus dikenal, dan bukan petualang Viking seperti Erik the Red.[dikutip dari : http://itpin.com/blog%5D

Budaya dan nilai-nilai yang kita bawa memang mempermudah hidup. Kita bisa menjalani hidup sehari-hari tanpa perlu pusing apa yang harus dilakukan karena sudah diprogram otomatis oleh nilai-nilai budaya dan cara pikir yang sudah kita pelajari bertahun-tahun. (

Namun bila kondisi berubah, nilai-nilai tersebut bisa menjadi potongan puzzle yang diletakkan di tempat yang salah. Alih-alih mempermudah hidup, yang terjadi justru bencana. Sebagai contoh, berapa banyak dari kita yang masih berpikir kita hidup di dunia yang berkelimpahan; bahwa alam adalah untuk ditaklukkan dan dieksploitasi demi kepentingan umat manusia; bahwa makhluk hidup lain tidak berhak atas bumi ini; atau bahwa upaya penyelamatan bumi bukan masalah pribadi kita?

Maka benarlah kata Rhenald Kasali, bahwa semua komunitas perlu untuk berubah (bertransendensi) terhadap perubahan zaman. Karena bagaimanapun juga,  zaman akan menindas seorang individu atau bahkan mungkin sekaligus sebuah komunitas apabila tidak mau bertransendensi paradigma untuk mengimbangi tantangan zaman itu.

3 thoughts on “Transendensi Perubahan Paradigma (Bagian I)

  1. hello, i’m just looking for sabah topography, then ur kalimantan topography come up.

    out of sudden, i read ur article. i love to c things in different angels. pada saya, anybody need changes..yang mana ia harus seiring dengan keadaan semasa especially when technologies became the key factor. and i didn’t deny that we have others factor that drives the changes like culture, thinker and so forth. mungkin kerana dari dulu negara dunia ketiga suka mengikut-ikut maka hingga kini ramai dari kita alpa seperti yang dinyatakan oleh saudara mengenai potongan puzzle. we have to create our own image like mencipta sesuatu dan bukan duplicate sesuatu.

  2. Kira2 400thu lagi jika bumi ini masih ada seperti apa dunia.Mungkinkah ada bangsa yg punah.Masihkah amerika akan musnah kemudian tiba2 australia atau indonesia yg jdi ngara adikuasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s