Falsafah Kepemimpinan Hasta Brata

Ada buku yang bagus sekali dan baru aku baca sepintas. Bukunya berjudul “Susanto On Leadership” karangan DR.A.B. Susanto.  Buku ini mungkin hampir sama dengan buku-buku kepemimpinan lainnya. Namun ada sesuatu yang membuatnya lain. Ide-ide kepemimpinan yang dibawakannya ringan dan sangat enak untuk dibaca. Padahal didalam tulisan singkatnya itu terkandung makna yang sangat dalam tentang filosofi kepemimpinan, visi dan strategi, etika kepemimpinan, dan operasional dan taktikal dalam pandangan sipenulis, yang menambah wawasan kepemimpinan baru untukku.

Salah satu bahasan menarik didalam buku ini adalah tentang Falsafah Hasta Brata, falsafah jawa tentang kepemimpinan. Anda mungkin barangkali pernah mendengarkannya. Kepemimpinan adalah faktor utama yang sangat diperlukan untuk keluar dari segala bentuk kesulitan.  Semua sumber daya tidak dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa kepemimpinan yang efektif dan efisien. Ditengah kegalauan masyarakat mencari figur kepemimpinan, ada baiknya kita kembali belajar dari alam untuk bercermin dan memahaminya lebih baik. Bukankah Allah telah banyak memberikan pelajaran tersirat didalam alam ini? Maka tak ada salahnya kita belajar falsafah ini.

Seperti Raden Wibisana yang menerima wejangan dari Sri Rama tentang delapan ciri kepemimpinan alam yang mumpuni, yaitu Hasta Brata. Hasta berarti delapan, sedangkan Brata berarti langkah. Jadi Hasta Brata adalah delapan Langkah, watak atau sifat utama yang harus dipegang teguh dan dilaksanakan oleh seorang pemimpin.

1. Matahari.

Pemimpin harus seperti matahari, terang benderangnya akan memancarkan sinar, memberi petunjuk, memberikan arah tanpa pernah berhenti, segalanya diterangi, diberi sinarnya tanpa pilih kasih. Pemimpin harus dapat memberikan pencerahan dan bertindak seperti jalannya matahari,yang tidak pernah tergesa-gesa, namun pasti dalam membagi sinarnya kepada setiap mahluk tanpa pandang bulu.

2. Bulan.

Bulan bersinar kala gelap ketika malam tiba.  Bulan memberikan suasana tenteram dan teduh. Oleh karenanya pemimpin hendaknya rendah hati, berbudi luhur, serta dapat menebarkan suasana tenteram.

3. Bintang.

Letak bintang memang tinggi diangkasa pada malam hari, menjadi kiblat dan sumber ilmu Falak. Pemimpin harus dapat menjadi kiblat budaya dan tingkah laku. Mengapa seorang pemimpin harus mempunyai konsep  berpikir yang jelas? Pemimpin harus bercita-cita tinggi untuk mencapai kemajuan, teguh dan tidak mudah terombang-ambing, serta bertanggung jawab, dan dapat dipercaya  karena akan digunakan oleh para pengikutnya.

4. Awan.

Awan seakan menakutkan tetapi dengan cepat mampu berubah menjadi hujan yang memberi berkah dan sumber penghidupan bagi semua mahluk hidup. Nah, seorang pemimpin memang harus berwibawa, kadang-kadang juga boleh tampil disegani bagi siapa saja yang berbuat salah atau bahkan menakutkan bagi mereka yang melanggar peraturan. Namun harus selalu berusaha untuk memberikan dan meningkatkan kesejahteraan dari pengikut yang dipimpinnya.

5. Bumi

Bumi itu sentosa, suci, pemurah, dan memberikan segala kebutuhan yang diperlukan oleh setiap mahluk hidup. Bagaimana tidak? Bumi menjadi tumpuan dan tumbuhnya benih dari seluruh mahluk hidup. Sebagaimana bumi, pemimpin seharusnya bersifat pemurah, stabil, dapat diandalkan, dan selalu berusaha memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang dipimpinnya.

6. Lautan.

Lautan yang luas yang tidak pernah menolak apapun yang datang memasukinya, menerima dan menjadi wadah apa saja. Sebagaimana lautan, pemimpin hendaknya mempunyai hati yang luas, penyabarm idak mudah tersinggung bila dikritik, tidak terlena oleh sanjungan dan mampu menampung segala bentuk aspirasi yang ada.

7. Api.

Api yang panas membara, mampu berkobar dan membakar apa saja tanpa pandang bulu, tetapi api juga dibutuhkan, diperlukan di dalam kehidupan. Seorang pemimpin juga harus pandai didalam mengobarkan semangat orang-orang yang dipimpinnya, harus pandai membakar keyakinan dan kemauan gerak para pengikutnya. Namun api ini juga harus selalu berpijak kepada kebenaran dan keadilan. Api ini juga akan membakar, menyingkirkan siapapun yang bersalah tanpa pilih kasih dan pandang bulu.

8. Angin.

Angin meski tidak tampak tetapi dapat dirasakan berhembus tanpa henti, merata keseluruh penjuru. Keberadaan pemimpin harus dapat dirasakan di hati yang dipimpinnya, dan selalu berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Berupaya mengamati sampai ke pelosok penjuru untuk mencari tahu segala hal yang terjadi berkaitan dengan tugas dan kewajibannya, sehingga dapat menentukan kebijakan tanpa keraguan. Pemimpin bagaikan angin harus dapat memberikan kesejukan, hembusan di hati yang dipimpinnya.

2 thoughts on “Falsafah Kepemimpinan Hasta Brata

  1. ada buku-buku tentang kepemimpinan Hasta brata gak ??
    klo ada kasih tau donk apa judulnya, siapa pengarangnya dan siapa penerbitnya..
    karena aku mau buat tesis tentang hasta brata..
    tolong di bantu ya…

  2. pemimpin harus memiliki sifat air. pemimpin tidak merasa tinggi jika ada dibawah dan tidak merasa rendah jika diatas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s