Transendensi Perubahan Paradigma (Bagian II)

Setelah berbicara pendahuluan perubahan paradigma pada Bagian I lalu, maka pada Bagian II ini saya akan memaparkan satu dari dua cara yang dapat dilakukan untuk melakukan transendensi perubahan paradigma sebuah komunitas.

1. Up to Bottom

Cara Up to Bottom adalah cara transendensi perubahan paradigma yang dilakukan oleh pemerintah atau pihak yang berkuasa. Dan untuk menjelaskan hal ini, tampaknya  akan cocok  ketika saya mengambil contoh cara yang dilakukan Jepang dan Dominika untuk mengubah paradigma rakyatnya.

Setelah bom atom Amerika telah meluluhlantakan Jepang, Rakyat Jepang benar-benar dalam keputusasan yang sangat luarbiasa. Namun untunglah sang pemimpin, kaisar Teno, memiliki jiwa dan pikiran yang besar sehingga mampu membalikkan paradigma rakyat yang telah putus asa. Sang Kaisar menanamkan nilai-nilai luhur nenek moyang mereka, Sang Samurai, kepada seluruh rakyatnya yang disebut dengan semangat Bushido untuk bangkit kembali dari kekalahan perang saat itu. Dan kita semua bisa melihat dengan kedua mata kita sendiri, Jepang menjadi “The Real Rising Sun Country” yang sangat maju ekonominya.

Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari sini? Pemimpin memiliki peran besar untuk mengubah paradigma pengikutnya. Cara berpikir masyarakat yang salah dapat kita perbaiki dengan mengangkat kembali nilai-nilai luhur universal yang dapat diterima oleh seluruh masyarakat itu sendiri. Disinilah peran pemerintah sangat sentral untuk menjadi penggerak motivasi sekaligus transformator paradigma, sebagai pemimpin harus bisa menjadi seorang penjaja ‘harapan dan impian’ agar dapat dijual kepada rakyatnya sehingga rakyatnya mau membelinya dalam mata uang ‘komitmen’. Komitmen inilah yang nantinya akan mentransendensikan paradigma lamanya menjadi paradigma baru.

Dari Negara Jepang, mari kita beralih kepada Republik Dominika. Cara Up to Bottomnya memang terkesan diktator. Namun ternyata cara ini mampu membuat transendensi paradigma rakyat Republik Dominika sehingga mereka terselamatkan dari  bahaya lingkungan.

Joaquin Balaguer merupakan pribadi yang kompleks. Tiga kali Balaguer menjabat dan diturunkan sebagai presiden Republik Dominika, sebuah negara kecil ke kepulauan Karibia. Walau dia berupaya menjaga tradisi demokrasi di Republik Dominika, dia juga memerintah negaranya dengan tangan besi. Walau Balaguer membiarkan praktek korupsi merajalela di sekitarnya, dia sendiri tidak pernah ketahuan memperkaya diri. Warga negaranya saat itu melihat Balaguer sebagai the necessary evil, persona jahat yang dibutuhkan karena Republik Dominika belum bisa menemukan sosok kuat lain yang pantas memerintah.

Yang jarang diketahui orang-orang luar: Balaguer dengan efektif berhasil menggunakan kediktatorannya untuk menyelamatkan negerinya dari bencana lingkungan.

Sebagaimana negara berkembang lainnya yang miskin, penebangan liar yang ditukangi para penguasa atau pengusaha merupakan hal yang umum. Begitu naik ke tampuk kekuasaan untuk pertama kalinya, Balaguer yang melihat pentingnya suplai air yang cukup untuk pembangkit listrik dan untuk keperluan lainnya, langsung melarang penebangan hutan untuk tujuan komersial.

Tentu saja penebangan tidak langsung berhenti. Para pengusaha kaya raya yang tidak takut dengan perintah tersebut meneruskan kegiatan mereka seperti biasanya. Di sinilah Balaguer menunjukkan keseriusannya. Dia tidak hanya berbicara, tetapi juga bertindak. Militer dikerahkan ke hutan-hutan dan peluru yang berbicara langsung kepada para penebang liar yang ketahuan melakukan kegiatannya. Message delivered and perfectly understood!

Di bawah Balaguer, para peri hutan di Republik Dominika hidup dalam kedamaian.

Sebenarnya apa yang dilakukan dengan pemerintah Jepang dan Dominika itu adalah sama, yaitu mentransendensi paradigma rakyatnya sehingga mereka memiliki cara pandang yang baru dalam melihat sebuah permasalahan.

Yang membedakannya adalah cara mereka mengimplementasikan transendensi paradigma itu sendiri. Di negara Jepang, rakyatnya cenderung mematuhi pemerintah mereka.  Sehingga ketika sang raja memberikan arahan tertentu, maka seolah-olah rakyatnya seperti pasukan perang yang selalu siap melakukan pekerjaan apapun itu. Pada dasarnya ini terjadi karena mereka sudah memiliki prinsip-prinsip dasar ‘Shogun’ yang mantap yang mendukung proses transendensi paradigma mereka sendiri.  Termasuk dalam mematuhi apa yang dikatakan pemimpinnya. Hal inilah yang menyebabkan proses transendensi paradigma Negara Jepang memiliki caranya sendiri untuk terjadi. Mereka telah ‘sadar’ secara langsung menjawab mengapa mereka harus berubah.

Lain lagi di Republik Dominika. Untuk mengimplementasikan sebuah transendensi paradigma di negeri ini diperlukan sebuah kediktatoran sang penguasa. Kediktaktoran inilah yang nantinya akan ‘memaksa’ terjadinya transendensi paradigma rakyatnya. Cara yang dilakukan negeri ini cocok untuk dilaksanakan untuk sebuah negeri yang rakyatnya belum memiliki kesadaran penuh untuk menjawab pertanyaan : mengapa mereka perlu melakukan transendensi paradigma. Tidak adanya kesadaran ini bisa terjadi karena berbagai hal. Dari berbedanya suku dan ras yang menempati negeri itu maka otomatis pula beragam pula budayanya. Belum lagi bentuk pemerintahan dan ideologi yang terus berganti-ganti seiring dengan perkembangan zaman mereka.

One thought on “Transendensi Perubahan Paradigma (Bagian II)

  1. Hi Ryan,

    Dari apa yang Ryan bahaskan di sini, seriously, i believe that dimensi pemikiran is very important. B’coz, pemikiran yg akan membentuk segala tindakan (e.g; bahasa, budaya, kepercayaan). Kejatuhan jepun pada suatu masa dahulu merupakan pengajaran yang sangat berharga untuk dijadikan contoh and i didn’t deny that pemerintah banyak memainkan peranan dalam mencorakkan pemikiran dan tingkah laku masyarakatnya. oleh sebab itu, saya katakan yang saya percaya dimensi pemikiran banyak mencorakan perubahan yang berlaku.

    cabaran yang saya nampak kini ialah, bagaimana untuk menyedarkan (awareness) masyarakat dan mencorakan dimensi pemikiran mereka. That’s my opinion. Tq.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s