Reuni Surga

Suatu hari tepatnya di taman di surga Firdaus.

Seperti biasa, suasana saat itu tidak terasa terik namun tidakpula terasa dingin yang terlalu sangat. Angin taman itu pun berasa sangat sejuk. Burung-burung surga berkicau dengan merdunya, membuat siapapun yang mendengarnya pasti tersenyum sepanjang harinya. Tampak disana sebuah istana yang besarnya tidak dapat digambarkan dengan perumpamaan apapun dengan benda yang ada di alam dunia yang lalu. Dipinggir-pinggirnya ada banyak pohon yang buahnya sangat menggiurkan untuk disantap. Dan tidak lupa pula terdapat mata air salsabil yang mengucurkan air terus menerus seperti air terjun yang menemani sungai yang berkelok-kelok dengan indahnya. Celah langit surga pun menaungi keindahan surga dengan pelanginya.

Sebuah kerumunan manusia sedang berkumpul disana. Tinggi badan mereka tidak seperti tinggi manusia pada umumnya. Tinggi mereka sekitar 20 hasta. Tak ada terlihat satupun kerut pada wajah mereka. Semua wajah mereka bersih dan bercahaya, seakan-akan hal itu bersumber dari kegembiraan dihati mereka itu sendiri. Pakaian mereka terdiri atas kain-kain sutra yang halus sebagai balasan atas kesabaran mereka.

Dan disekeliling mereka terdapat banyak pelayan muda yang nampak seperti mutiara yang bertaburan. Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal. Serta tampak pula pada lengan mereka sebuah gelang yang terbuat dari perak. Mereka sibuk menyuguhkan sebuah bejana perak dan piala yang bening kepada para manusia-manusia tadi. Bejana itu berisi air sejenis jahe yang diambil dari mata air salsabil tadi dan rasanya sangat nikmat dan menghangatkan.

Manusia-manusia itu masih asyik berdiskusi diatas dipan mewahnya masing-masing. Dibawah hamparan permadani yang sangat indah dan empuk, mereka bercerita tentang kisah kehidupan mereka masing-masing saat mereka masih hidup di alam dunia. Diskusi mereka selalu hangat dan tidak pernah lepas dari lafaz ucapan syukur, syukur, dan syukur kepada Allah.

Mungkin saat itulah Allah telah membuktikan janjinya, bahwa Dia untuk mempertemukan kembali sekelompok muslim yang saling mencintai karenaNya. Ternyata mereka sudah mengenal antara satu dengan yang lainnya. Hal itu bisa dilihat dari kehangatan suasana yang dibangun mereka, suasana hangat, canda, suka dan duka yang benar-benar sama ketika mereka sibuk berjuang dijalan Allah, ketika mereka hidup di dunia dulu.

Ada banyak kisah didalam pertemuan itu, Mulai kisah suka maupun duka mereka semua terbuka di sana. Jika satu dari mereka sedang bercerita maka yang lainnya diam mendengarkan. Dan jika orang itu telah selesai bercerita, mereka selalu mengucapkan lafaz tasbih kepada Allah dan kemudian seorang lainnya bercerita kembali kisah perjuangannya di dunia.

Tiba-tiba suasana disana menjadi hening. Gemerisik mereka terhenti. Seketika itu pula suara deru aliran sungainya terdengar, kicauan burungnya makin nian terdengar, dan bahkan suara daun-daun surga yang jatuh pada serakan dibawahnya pun ikut terdengar. Sesosok manusia lagi tiba-tiba datang menghampiri mereka dengan wajah tersenyum. Pakaiannya kurang lebih sama seperti mereka, namun senyumannya membuat semua manusia-manusia disana menjadi lebih bahagia lagi. Entah mengapa bisa begitu, padahal mereka tidak mengenal siapa sesosok manusia itu.

Segeralah orang itu mengucapkan salam penghuni surga “Assalamualaykum warrahmatullahi wabarakatuh”. Suara itu tampak mendayu-dayu di sekelompok manusia tadi. Suara orang itu sangat lembut dan agak berbeda. Entah mengapa, mereka merasa bahwa ini adalah suara dari manusia agung, seorang pria yang sangat mereka sangat rindukan dan ingin mereka temui saat mereka hidup di dunia lalu. Tapi sayang mereka tidak bisa mengira-ngira siapa sebenarnya pria itu. Serempak mereka menjawab salam tadi, dengan balasan penghuni surga kembali “Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh”.

Manusia tadi segera mendekati sekelompok manusia tadi dan merapatkan pipi kirinya ke pipi kanan salah satu dari sekelompok manusia dan setelah itu sebaliknya. Pipi kanannya ke pipi kiri ke salah satu dari sekelompok manusia tadi. Setelah itu ia lakukan hal yang sama kembali secara terus menerus hingga semua sekelompok manusia tadi dapat merasakan sentuhan suci pipi manusia agung itu.

Suasana kembali menjadi sunyi. Salah seorang dari kelompok tadi akhirnya memecah suasana keheningan itu. “Siapakah dirimu wahai pria?”. Dan pria itu pun menjawab “Aku adalah Muhammad Bin Abdullah, aku sudah sangat merindukan kalian semua……umatku”.

One thought on “Reuni Surga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s