Dari Krisis Menuju Sebuah Peluang (Sebuah Refleksi 64 Tahun Indonesia Merdeka)

Rasanya perlu membaca banyak buku bertema Indonesia ketika kita mau membahas tema ke-Indonesia-an. Bagaimana tidak? Ada berpuluh-puluh atau bahkan beratus-ratus buku yang telah terbit di negeri kita ini dan membahas Indonesia yang multi-perspektif. Di satu sisi perspektif, Anda akan mendapatkan seorang penulis yang begitu rincinya membahas tentang perspektif peluang Indonesia untuk menjadi sebuah negara yang maju dan bahkan menjadi negara adidaya. Namun di sisi perspektif lainnya, mungkin Anda akan mendapatkan pula seorang penulis yang begitu getolnya membahas tentang tantangan atau dalam bahasa kasarnya lagi : ancaman yang Indonesia hadapi di depan sana.

Sebenarnya semua buku-buku itu bagus bahkan cenderung untuk menguatkan. Adanya peluang, ancaman, dan tantangan yang dihadapkan pada negeri kita ini, sebenarnya itu jugalah yang membentuk Indonesia secara seutuhnya. Jika kita coba analogikan Indonesia sebagai seorang manusia, maka manusia baru dikatakan hidup seutuhnya, ketika manusia telah memiliki peluang, ancaman dan tantangan didalam hidupnya. Komponen itu semualah yang membuat seorang manusia itu bisa maju atau juga bisa membuat manusia itu gagal.

Alhamdulillah, kini negeri kita telah bertambah lagi umurnya : 64 tahun. Enam puluh empat tahun mencoba berdikari (berdiri diatas kaki sendiri) melepaskan diri dari kungkungan dan belenggu pihak asing.  Selayaknya sebuah negeri yang berulang tahun, tentunya ada banyak cara untuk mengisi kemerdekaan ini. Mulai dari acara ritual ceremonial oleh jajaran pemerintah hingga jajaran siswa hingga perlombaan-perlombaan seperti lomba panjat pinang hingga lomba makan kerupuk turut meramaikan hiruk pikuk kemerdekaan kita setiap tahunnya.

Sekarang mari kita melihat lebih dalam lagi tentang Indonesia. Ada beberapa fakta menarik yang harus Anda ketahui sebagai seorang bangsa Indonesia.

  1. Indonesia adalah Negara Keempat terpadat didunia dengan jumlah penduduk 250.000.000 jiwa penduduk.
  2. Indonesia memiliki 316 suku ragam kebangsaan dan 670 dialektika ragam kebahasaan
  3. Tidak diperbolehkan seorang warga Indonesia untuk tidak beragama.
  4. Indonesia memiliki 400 gunung api, 150 diantaranya aktif, yang merepresentasikan 75% semua gunung api yang aktif di planet ini.
  5. Indonesia memiliki garis pantai terluas didunia
  6. Indonesia memiliki 17.508 pulau, yang menjadikan Indonesia menjadi Negara kepulauan terbesar didunia.
  7. Indonesia memiliki 25% terumbu karang yang ada di dunia
  8. Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia
  9. Indonesia memiliki 3500 jenis ikan, dari 4500 jenis ikan di dunia
  10. Indonesia memiliki kekayaan bawah laut terbesar di dunia
  11. Indonesia memiliki kekayaan alam global (air+tanah+air) terbesar kedua di dunia setelah Brazil

Paparan diatas saya dapatkan dari berbagai sumber. Sebelas hal diatas adalah beberapa fakta dari sekian banyak fakta yang dimiliki Indonesia. Berangkat dari sini, fakta inilah yang akan menjadi sebuah peluang atau sebuah ancaman negara kita untuk terus melangkah kedepan.

Saya jadi teringat kembali kutipan kalimat Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, dalam suatu kali kesempatan beliau berpidato yang saya lupa waktunya. Beliau mengatakan “Setiap masalah ada jalan keluar, setiap konflik ada solusinya, dan setiap krisis mengandung peluang”. Mungkin bisa jadi ini menjadi kutipan setiap crisis leader yang ada di dunia ini, baik ia yang memimpin sebuah organisasi maupun ia yang memimpin sebuah negara. Pada prinsipnya sama, mereka hadir dalam sebuah krisis dalam sebuah komunitas dan mereka memiliki paradigma “bahwa segala krisis memiliki peluang”.

Berlebihan sekali ketika kita beranggapan bahwa segala fakta yang di miliki Indonesia adalah ancaman. Setidaknya pasti ada satu, dua, tiga, atau banyak peluang yang dimiliki Indonesia. Memang tidak banyak orang yang dapat melihatnya. Hanya mereka yang menjadi seorang crisis leader saja yang mampu melihat peluang-peluang itu.

Mari kita ambil sebuah contoh. Sebuah fakta bahwa Indonesia memiliki jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Bagi beberapa leader biasa mungkin ini adalah sebuah ancaman terbesar sebuah bangsa yang harus dihadapi. Mereka beranggapan semakin banyak jumlah penduduk maka semakin banyak pula orang yang harus diurusi oleh sebuah negara. Mereka selalu melihat Indonesia dari sisi energi negatifnya. Mereka sebenarnya mempunyai solusi, namun biasanya kurang memberdayakan sumber daya yang ada.

Berbeda dengan seorang crisis leader. Mereka tahu bahwa jumlah penduduk terbesar adalah sebuah hal yang notabene. Namun mereka mampu melihat sebuah celah peluang dibalik fakta itu. Mereka beranggapan bahwa semakin besar jumlah penduduk, maka semakin besar pula peluang mendapatkan orang-orang cerdas yang akan menjadi pembangun Indonesia di masa depan. Lee Hsien Loong, Perdana Menteri Singapura, pernah mengatakan bahwa dibalik kesuksesan Negara Singapura, ada 4000 orang dalam 2.000.000 penduduk Singapura yang telah menjadi pilar pembangunan Negara Singapura. Kalau Singapura saja punya 4000 orang cerdas yang membangun negaranya, berarti peluang orang-orang cerdas Indonesia pasti lebih besar.

Jika dipikir-pikir, 64 tahun adalah umur yang tak terlalu tua seperti Mesir dan India ataupun umur yang tak terlalu muda seperti negara Palestina dan Kosovo. Maka tidaklah salah kalau ada beberapa pakar yang memprediksikan bahwa Indonesia akan termasuk kedalam salah satu N-11, the next eleven,  yaitu negara-negara yang diprediksi akan menjadi kekuatan inti dan akan menyaingi G-7 dalam ekonomi global dalam 50 tahun mendatang. (N-11 termasuk Bangladesh, Filipina, Indonesia, Iran, Korea, Meksiko, Mesir, Nigeria, Pakistan, Turki,dan Vietnam).

Mungkin ada yang tertawa-tawa sambil mengatakan “Gak mungkin!”, “Sudahlah, menyerah saja kita!” atau kata-kata penciut hati bangsa ini. Mungkin ada juga yang diam-diam menunggu bengong dan menonton apa yang akan terjadi pada Indonesia selanjutnya. Atau mungkin ada yang telah bergerak dalam bidang kompetensinya dan mereka termasuk kedalam crisis leader-crisis leader dambaan negeri pertiwi ini. Saya tidak mau menafikan, bahwa ketiga kelompok ini pasti ada dan terus ada hingga peluang Indonesia ini terwujud.

Barangkali saya memang terlalu muda untuk menuliskan hal yang besar ini.  Namun jika saya membaca sejarah tokoh besar Indonesia, saya selalu melihat ada benang merah di balik kisah mereka. Bahwasanya mereka pun memulai jejak langkahnya waktu mereka muda. Dengan gerak kontribusi yang nyata lewat berbagai ranah kemahasiswaan (baca : kepemudaan), kita dapat mengasah insting krisis kita untuk menjadi seorang crisis leader. Disinilah mula awal kita bergesekan dengan berbagai permasalahan bangsa, disinilah kita belajar untuk menjadi bijak, dan disinilah kita berpijar untuk mencari inspirasi. Meminjam istilah visi dari abang saya, Ridwansyah Yusuf Achmad, Presiden KM ITB 2009 : Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum, rasanya bukanlah hal mustahil untuk diwujudkan selama masih ada banyak inkubasi crisis leader yang ditempa dalam masa keemasan mahasiswa ini.

Terlalu dini untuk menyerah, terlalu dini pula untuk pasrah. Mari kita sambut 64 tahun kemerdekaan ini dengan semangat pemuda! Sebuah semangat  yang ingin berlari yang tak pernah mau berhenti.

Sungguh begitu indah, kawan…
Lihat, dan telusurilah…
Kau akan lelah membilang-bilang
Apalagi,
Selain kami ingin
agar ketika bangsa ini terbangun esok hari..
Ia sedang tidak lagi bermimpi…

kutipan puisi

5575_1093468463367_1426221228_234345_2920184_n

Tertulis pada tanggal 17 Agustus 2009 oleh tinta mimpi besarku yang bangga menjadi bangsa Indonesia ini.

“Selamat ulang tahun ke-64…Negeriku”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s