Cahaya Anak Jalanan

Hal ini terjadi H-2 (sabtu) sebelum kepulanganku ke kota Balikpapan. Saat itu aku sedang dalam perjalanan pulang menuju asrama, setelah berlelah-lelah mencari pesanan sang mama tercinta di Pasar Kembang kota Bandung. Fiuh, setelah berbuka puasa di pinggiran Mall yang ada dipasar itu, kucoba arungi persimpangan alun-alun menuju Jalan Dago.

Perjalanan itu nampaknya sama seperti biasanya. Situasi menjadi berubah, ketika aku melihat sebuah pemandangan di suatu persimpangan lampu merah dekat jalan Dago. Mungkin pemandangan itu sudah biasa bagi aku dan pengendara motor atau mobil lainnya, tapi sekali lagi malam itu berbeda dari biasanya.

Beberapa anak jalanan mencoba menjajakan semacam alat cobek yang terbuat dari batu yang entah apa namanya. Saat lampu merah menyala, mereka menyebar merata ke kiri-kanan seolah mereka telah terkoordinasi dengan baik, mencoba menawarkan barang tadi kepada pengendara yang sepertinya berfokus pada menunggu lampu hijau menyala, dan pergi melanjutkan perjalanan menuju tujuan mereka.

Aku menepi ke bagian pinggir jalan sebentar.  Aku mencoba melihat dan memperhatikan keadaan sekitar pemandangan barusan. Terlihat ada sebagian pengendara yang mungkin iba, memberikan beberapa kepingan rupiah kepada anak-anak jalanan tadi tanpa berharap menukarnya dengan alat cobek tadi. Tetapi tidak sedikit juga, aku melihat pasangan muda-mudi yang bercekikik ria menunggu lampu merah tanpa menghiraukan kehadiran anak-anak jalanan tadi.

Begitulah siklusnya. Saat lampu merah menyala mereka menyebar dan saat lampu hijau mereka kembali ke tepi jalan -pos- mereka bersandang mengumpulkan uang yang tadi mereka kumpulkan. Sepintas, aku melihat raut senyuman manis dibibir mereka. Senyuman kebahagiaan mereka, yang memancarkan cahaya hangat bagi siapapun yang peka terhadap sesama. Mereka memang tampak kucel, tapi entah mengapa aku seolah-olah tersedot kedalam dunia mereka, dan melihat mereka tampak gagah dan cantik dengan baju usangnya.

Aku melihat kaki mereka bersetubuh dengan aspal secara langsung. Aku tidak bisa bayangkan berapa banyak bakteri, virus, atau sumber-sumber penyakit yang mungkin sudah lengket di kaki mereka. Tapi aku mungkin bisa sedikit faham, “boro-boro sempat memikirkan kesehatan mereka, memikirkan apa yang dimakan untuk buka puasa hari ini saja sudah susah”.

Baiklah, tetes air mataku coba ku bendung agar tak terlihat seorang pun atau bahkan oleh kawanan semut yang berjajar di dekat tempat aku memarkir motorku. Aku tahu betul, bahwa walaupun aku memberikan mereka beberapa lembar uang yang aku punya, aku rasa itu hanya memberikan solusi pendek bagi mereka. Belum lagi, kalau mungkin seluruh kota Bandung dikumpulkan, maka aku bisa memberikan mereka apa? aku saja masih mahasiswa yang belum memiliki kekayaan seperti konglomerat-konglomerat di kota metropolitan sana. Bisa apa aku ini?

Sebenarnya ada beberapa pertanyaan yang bercokol di pikiranku.

Belum cukupkah pasal-pasal negara ini yang bisa melindungi hak mereka?

Belum cukupkah komisi nasional yang bisa menaungi hidup mereka?

Belum cukupkah organisasi-organisasi kemasyarakatan yang bisa menyalurkan bantuannya untuk masa depan mereka?

Tidakkah mereka-mereka yang kaya disana mau menyumbangkan sedikit rupiahnya kepada mereka yang terlantar dijalan ini?

Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang mengganggu syaraf otak kananku.

Ah, rasanya aku sudah terlalu lama disana. Saatnya aku pulang. Aku banyak mendapat pelajaran hari ini dari mereka, para anak jalanan. Aku memang tidak pernah berinteraksi apalagi kenal dengan mereka. Tapi dengan cahaya yang mereka pancarkan, aku dapat merasakan bara semangat mereka menjalani hidup ini. Cahayanya seolah bercerita, bahwa mereka tetap mau melakukan yang terbaik dalam kehidupan mereka.

Sambil pulang, aku teringat pada lagu D’ Massive yang berjudul Jangan Menyerah. Liriknya bagus. Rasanya menggambarkan apa yang aku rasakan malam itu. Malam ketika aku merasakan hangatnya cahaya anak jalanan.

Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik

3 thoughts on “Cahaya Anak Jalanan

  1. hmmmm…..
    bener juga….
    belajar lah apa yg bisa dipelajari sekarang..segerakan lulus, setelah itu jalani jalan yang harus dijalani untuk memperbaiki kondisi…sambil terus membuka mata, telinga, hati dan fikiran…

  2. seandainya semua orang tidak rakus dengan harta insyaallah gak ada yang namanya anak jalanan,,,,,
    ya………..kt hanya bisa berdoa smoga parakoruptor mendapat hidayah biar undang2 tidak hanya omong kosong bagai gentong tak berisi……abis… hak anak jalanan di enbat juga cihhhhhhhhh…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s