Kekuatan Fokus

Setelah membaca setengah buku Outliers karangan Malcolm Gladwell, saya ingin sekali menulis artikel ini. Tulisan ini saya beri judul “Kekuatan Fokus”. Namun sebelum memulainya, saya ingin mengawali tulisan saya ini, dengan beberapa pertanyaan klasik yang mungkin sudah Anda tahu kebanyakan.

  • Pernahkah Anda tahu alasan mengapa hanya sedikit dari sekian banyak mahasiswa Indonesia yang memiliki puncak prestasi Internasional?
  • Pernahkah Anda tahu alasan mengapa banyak sekali mahasiswa MIT, Harvard, Cambridge, dan Universitas sekelasnya yang mampu memiliki puncak prestasi Internasional?
  • Kenalkah Anda dengan Nama Mark Zuckerberg, Bill Gates, Bill Joy, Steve Jobs, Robert OpenHeimmer, Sofwan Al Banna, Hasan Al Banna, Thariq Ramadhan, yang telah mengukir prestasi dunia mereka sejak duduk di bangku kuliah –bahkan beberapa dari mereka ada yang men-DO-kan diri mereka sendiri-?

Baiklah, ayo kita mulai sekarang. Waktu SD saya pernah belajar fisika tentang bab lensa. Masih terkenang dialam pikiran saya, waktu itu saya diajarkan bahwa sinar matahari yang dilewatkan pada sebuah lensa (waktu itu memakai LUP) akan dapat membakar kapas dan kertas. Ternyata rahasianya cukup sederhana. Sesuai dengan hukum alamnya, lensa itu hanya cukup mem”fokus”kan cahaya matahari yang melewatinya, sehingga terjadi akumulasi energi cahaya yang sangat besar kemudian diterima kapas atau kertas itu sebagai energi panas yang akhirnya mampu membakarnya. Sederhana bukan?

Mari kita analogikan konsep fokus lensa ini terhadap konsep fokus manusia. Kebanyakan dari manusia-manusia yang berhasil -bahkan sangat berhasil- di dunia ini karena memulai rangkaian hidupnya dengan sebuah fokus kerja. Fokus kerja mereka tidak dibangun dalam proses yang instan. Mereka telah membangunnya sejak lama, sehingga mampu menghasilkan sesuatu yang sangat luar biasa. Sama seperti konsep fokus lensa, ketika manusia mampu memfokuskan benak pikirannya terhadap sesuatu yang dicita-citakannya, maka akan terjadi sebuah akumulasi energi yang sangat luar biasa yang dapat menghasilkan suatu prestasi-prestasi yang jauh lebih dari yang dapat kita bayangkan.

Contoh mudahnya seperti ini. Jika Anda seorang siswa, pasti Anda semua pernah merasakan yang namanya ujian, ulangan, atau sejenisnya kan? apa yang Anda lakukan ketika menghadapi hari-hari menuju hal itu? saya rasa, kita semua kita pasti memiliki jawaban yang sama: belajar dengan keras dan cerdas. Suatu saat mungkin Anda lupa bahwa Anda sebenarnya kekurangan waktu tidur. Suatu saat mungkin Anda lupa bahwa Anda tidak mandi dalam satu hari itu. Dan mungkin juga, Anda bisa-bisa lupa bahwa sebenarnya Anda lupa untuk makan siang dan malam. Kekuatan fokus (yang belum terasah dengan baik) pada ujian membuat Anda melupakan segalanya. Sadar atau tidak, sebenarnya kini hanya ada satu kata didalam pikiran Anda yaitu fokus, fokus dan fokus. Mengapa Anda mampu melakukannya? Jawabannya adalah karena Anda telah memusatkan energi Anda pada satu tujuan dan Anda tidak ingin berpaling darinya. Dan ketika hari ujian itu tiba, maka Anda akan rasakan sendiri hikmah dari ke-fokus-an Anda. Anda dapat mengerjakan soal-soal dengan mudah dan mengerti karena Anda mengerti dan faham benar tentang masalah yang ada di kertas ujian itu.

Itu baru bagian yang sangat kecil dari kekuatan fokus dalam kehidupan kita sehari-hari. Sekarang, coba Anda bayangkan ketika kekuatan fokus ini mampu diaplikasikan dalam ruang lingkup yang lebih besar. Misalnya ketika Anda ingin meraih impian-impian Anda atau mencapai apa yang Anda inginkan. Maka tak salah ketika Soekarno hadir sebagai presiden pertama Republik Indonesia, karena beliau memfokuskan dirinya menjadi seorang pemimpin kharismatik dan orator ulung, serta mendirikan Partai Nasional Indonesia-nya. Maka tak salah ketika Muhammad Syahrir dijuluki sebagai seorang manusia “terpintar” Indonesia pada zamannya waktu itu. Maka tidak salah pula ketika Arifin Panigoro mampu menjadi seorang founding father dibangunnya perusahaan energi raksasa Indonesia yang dia beri nama MEDCO. Maka tak salah pula orang-orang yang saya sebutkan pada pertanyaan awal yang mengawali tulisan ini menjadi yang Mengapa mereka bisa melampaui manusia-manusia kebanyakan. Meminjam istilah Malcolm Gladwell didalam bukunya, mengapa mereka dapat menjadi outliers? Satu dari sekian banyak faktor, yang pasti mereka fokus pada masing-masing bidang yang mereka tekuni.

Sekarang mari kita berbicara pada dunia kita, dunia mahasiswa. Sudahkah kita fokus pada fungsi, peran dan posisi kita sebagai mahasiswa, atau lebih khususnya lagi saya tekankan pada “Mahasiswa Indonesia”. Mengapa saya membedakannya? karena sejarah kemahasiswaan Indonesia telah memberikan sebuah nuansa keunikan mahasiswa Indonesia dibanding sebagian besar mahasiswa dunia. Selain fungsinya sebagai manusia penuntut ilmu, mahasiswa Indonesia memiliki peran sebagai jembatan penghubung antara rakyat dan pemerintahnya, serta memiliki posisi pengawas gerak-gerik pemerintah. Akhirnya, dari sinilah bermula keorganisasian mahasiswa Indonesia yang memiliki unsur pendidikan politik. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya disajikan organisasi ekstrakulikuler berbasis hobi atau keprofesian saja didalam kampusnya.

Bagaimana cara mengukur kekuatan fokus kita dalam konteks dunia kampus? Jawaban ini tidak dapat dijawab dengan kuantitatif, namun dapat dijawab dengan kualitatif. Intensitas kekuatan fokus Anda dapat dinilai dari seberapa besar kontribusi yang telah Anda berikan untuk kampus Anda sebagai seorang akademisi, dan seberapa besar kontribusi yang telah Anda berikan pada organisasi yang Anda geluti. Tidak sedikit realita yang kita temukan, banyak mahasiswa yang aktif di banyak organisasi kemahasiswaan seperti Badan Eksekutif Mahasiswa, Unit Kegiatan Mahasiswa, atau Himpunan Jurusan, namun ia mengalami masalah dengan  nilai akademiknya. Tidak sedikit pula kita temukan, banyak pula mahasiswa Indonesia yang begitu getol dengan akademiknya secara kontinu bahkan dapat menuai prestasi keprofesiannya, namun melupakan pengembangan soft skillnya untuk mengikuti organisasi kemahasiswaan. Saya tidak ingin menghakimi hal itu salah atau benar. Itu semua pilihan. Namun jika saya boleh mengutip dan menggubah sedikit visi PPSDMS Nurul Fikri, seharusnya mahasiswa Indonesia yang ideal itu adalah mahasiswa yang memiliki jiwa spiritual yang komprehensif, integritas dan kredibilitas yang tinggi, berkepribadian matang, moderat, serta peduli terhadap bangsa dan negaranya. Artinya, sebagai mahasiswa kita memiliki dua fokus kerja yang saya sebut dengan Fokus Akademisi dan Fokus Aktivis.

Ketidakfokusan ini menyebabkan performa dan kancah mahasiswa Indonesia kurang terlihat dalam pergelutan dunia internasional. Sebenarnya ada, tapi masih sedikit. Terkadang mereka tidak bisa melakukan fokus akademisi sehingga dia tidak mampu berprestasi secara nyata di dunia kampusnya. Tapi terkadang mereka juga tidak bisa fokus aktivis sehingga kontribusi dia di organisasinya tidak terlihat. Bagaimanakah kunci dari semua permasalahan ini? Sebenarnya hal ini dapat diatasi jika seandainya Anda mampu 100% mengerjakan apa yang memang harus Anda kerjakan waktu itu. Pembahasan tentang 100% ini telah saya bahas pada tulisan saya yang lalu (silakan baca).

Sampai disini, mungkin akan timbul pertanyaan: Bisakah saya berfokus pada salah satu dari dua fokus tadi? sebenarnya, saya akan menjawabnya bisa. Tapi dengan sangat menyesal, saya harus memberitahukan kepada Anda bahwa pilihan Anda tadi akan berimbas pada kehidupan pasca kampus Anda. Anda akan mengalami disosilaisasi dengan rekan-rekan Anda nanti atau bisa jadi Anda malah kurang mahir dengan core competence di bidang Anda sendiri. Dengan perbedaan sistem pendidikan yang kita punya, sumber daya manusia Indonesia masih harus bekerja jauh lebih keras untuk mampu bersaing dan membangun negerinya sendiri ini.

Sebagai penutup dari tulisan ini, saya suka sekali mengutip pernyataan Malcolm Gladwell didalam bukunya Outliers yang berbunyi sebagai berikut:

“Dan yang lebih penting, orang-orang yang berada di puncak tidak hanya berlatih keras atau lebih keras dari orang lain. Mereka berlatih sangat jauh lebih keras.”

Baiklah, bekerja keras. Bekerja keras yang dibarengi dengan kekuatan fokus akan menciptakan sesuatu yang luar biasa, yang tidak akan pernah dapat bayangkan. Percayalah. Saya akan membuktikannya sebentar lagi.[]

One thought on “Kekuatan Fokus

  1. Keren!! Nyaris sama dengan artikel yang pernah aku dapat dari blog seseorang di luar sana (tapi kayaknya sudah gak ada lagi blognya) tentang resep untuk menjadi kelas dunia dalam bidang apapun. Hehe, karena kemampuan menulisku belum sekelas Ryan, jadi bisanya masih translating atau resuming. Ga papa kan? Monggo, di-ceklick.
    http://drtsurayya.wordpress.com/2009/08/11/resep-untuk-menjadi-kelas-dunia-world-class-dalam-bidang-apapun/
    Oya, kayaknya harus baca juga nih karangan Gladwell satu ini, Outliers.
    Sebelumnya aku pernah baca bukunya M. Gmadwell, tapi yang berjudul Tipping Point (belum selesai) dan Blink! Keduanya aku referensikan. Terutama Blink!, yang membahas tentang dasar-dasar firasat sesaat. Keren pol pokoknya!
    ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s