Menakar Kekuatan Energi Alternatif Indonesia : Anugerah atau Kutukan

Perbincangan topik energi bukanlah hal yang baru lagi untuk diperdengungkan. Topik ini sebenarnya telah diangkat oleh berbagai pihak sejak lama. Bahkan sejak terjadinya gejala pemanasan global di era tahun 1900-an. Tetapi keramaian topik ini baru mencapai puncaknya, ketika Al Gore mulai gencar berbicara tentang perubahan iklim didalam filmnya The Unconvenient Truth, yang mengantarkannya menjadi pemenang nobel perdamaian di tahun 2007 silam.  Berbagai negara pemakai energi dengan  jumlah yang sangat besar mulai geger dan resah, hingga akhirnya mereka bersepakat mengadakan sebuah konferensi perubahan iklim internasional, bertempat di Bali Indonesia ditahun itu pula. Ada banyak resolusi telah tercipta, yang pada intinya mengarah pada kebijakan pengurangan konsumsi energi konvensional dan pengembangan sumber daya energi terbarukan. Semua telah terangkum lengkap didalam “Bali Road Map”.

Baik dan buruknya resolusi ini, tetap saja berimbas pada Indonesia. Karena tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia merupakan salah satu paru-paru dunia disamping hutan amazon yang ada di Brazil. Jadi selain termasuk sebagai negara konsumen energi terbesar didunia, Indonesia harus melestarikan hutan hujan tropisnya. Padahal telah kita ketahui bersama, penggunaan energi fosil sangat berpotensi untuk mencemari lingkungan itu sendiri. Berdasarkan kenyataan bahwa sampai saat ini Indonesia masih bergantung pada penggunaan energi fosil, rasanya perlu diadakan beberapa terobosan kebijakan-kebijakan baru yang memacu pertumbuhan energi alternatif di negeri ini agar lebih terakselerasi memenuhi kebutuhan pasokan energi didalam negeri dan turut berpartisipasi aktif menurunkan emisi rumah kaca.

Memang tidak salah kalau Indonesia memang kaya sumber daya alam yang berpotensi menjadi sumber energi. Mulai dari minyak, gas, coal bed methane, batu bara, geotermal, dan arus laut semuanya hadir mengisi daratan dan lautan Indonesia. Jadi sewajarnya pemerintah Indonesia tidak perlu khawatir kalaulah memang harus melakukan transendensi pemikiran untuk mengembangkan sumber daya energi alternatif yang lebih bersifat sustainable dan ramah lingkungan. Maka diharapkan pemerintah di era kepemimpinan saat ini harus lebih berani untuk mengambil sebuah langkah baru untuk mengembangkan sumber daya energi alternatif ini.

Sebenarnya Indonesia memiliki banyak sumber daya energi alternatif. Namun berdasarkan tingkat kekonomisan dan keterjangkauan teknologinya, ada dua sumber daya energi alternatif yang potensial dikembangkan di Indonesia, yaitu geothermal dan arus laut. Mengapa demikian? Geothermal (panas bumi) menjadi pilihan sumber daya alternatif baik karena uap panas yang digunakan untuk memutar generator dapat diinjeksikan lagi kedalam tanah sehingga tidak terjadi pembuangan residu ke lingkungan sekitar. Arus laut juga menjadi pilihan sumber daya alternatif yang baik karena generator dapat diputar secara otomatis akibat aliran arus di lautan lepas.

Dua pilihan sumber energi alternatif ini diperkuat dengan letak Indonesia yang sangat strategis secara geografis. Masuknya Indonesia ke dalam Ring Of Fire dunia menyebabkan banyaknya gunung api yang terbentuk disepanjang Pulau Sumatra bagian barat, Pulau Jawa bagian selatan, dan Pulau Sulawesi bagian utara. Secara tidak langsung, hal ini menyebabkan  potensi geothermal Indonesia menjadi sangat besar pula. Hal ini telah terbukti dengan tercatatnya potensi geothermal Indonesia mencapai 13.550 MWe oleh berbagai pakar energi pada tahun 2004.

Selain itu, pemerintah juga tidak bisa memandang sebelah mata potensi energi yang berasal dari arus laut Indonesia. Indonesia memiliki banyak pulau dan selat, sehingga sangat memungkinkan arus laut akibat interaksi Bumi-Bulan-Matahari mengalami percepatan saat melewati selat-selat tersebut. Energi ini juga mempunyai intensitas energi kinetik yang besar dibandingkan dengan energi terbarukan yang lain. Hal ini disebabkan densitas air laut 830 kali lipat densitas udara sehingga dengan kapasitas yang sama, turbin arus laut akan jauh lebih kecil dibandingkan dengan turbin angin. Namun sayangnya belum ada satu pun pakar yang memprediksi seberapa besar potensi energi dari sumber daya alternatif ini.

Kini yang jadi pertanyaan besarnya adalah mengapa kedua sumber daya ini belum berkembang hingga sekarang? Hingga kini penggunaan APBN khususnya di bidang energi masih berfokus pada pengelolaan dan konsumsi minyak dan gas Indonesia. Tampaknya jatah pengembangan sumber daya alternatif belum menjadi prioritas pemerintah. Seharusnya, mulai sekarang pemerintah Indonesia, khususnya Departemen ESDM dan Komisi VII DPR, mulai melakukan manuver kebijakan-kebijakan baru terkait dengan pengembangan sumber daya alternatif ini. Hal yang bisa dilakukan adalah melakukan pengurangan dan efisiensi energi berbahan bakar fosil, penambahan budget APBN untuk pengembangan teknologi sumber energi alternatif, serta melakukan perombakan regulasi baru dengan meningkatkan nilai keekonomisan harga listrik yang dihasilkan sumber energi alternatif guna menarik simpati para investor asing agar mau menginvestasikan dananya untuk pengembangan sumber energi alternatif di Indonesia.

Ada pepatah lama mengatakan, “Pemimpin Baru Selalu Membawa Semangat Baru”.  Mungkin kata pepatah ini mampu dipadankan dengan keberjalanan ESDM di bawah tampuk komando Bapak Darwin Zahedi Shaleh, selaku Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia yang baru. Terlepas dari keraguan berbagai pihak atas kapabilitas beliau, semoga saja beliau mampu memberikan sebuah perubahan yang lebih baik untuk mengembangkan sumber daya energi alternatif baru.

Ryan Alfian Noor

Penulis adalah Mahasiswa Teknik Perminyakan ITB angkatan 2006

2 thoughts on “Menakar Kekuatan Energi Alternatif Indonesia : Anugerah atau Kutukan

  1. memang sudah saat nya kita berfikir untuk mengembangkan energi alternatif kedepannya,karena tidakbisa dipungkiri bahwa energi fosil adalah unrenewable. tapi untuk menuju ke arah sana di perlukan teknologi dan riset yang tinggi dan SDM yang berkualitas it’s mean high cost. maka perlu ada suatu plan yang intergrated untuk mewujudkan itu, menurut saya yang crucial untuk mengatasi ini adalah pertama Mengkapitalisasi Mineral atau oil capture, then transform to better live national. sehingga nantinya Indonesia bisa seperti German for example. yang kedua adalah perlunya ada yg mengatur mengenai Kebijakan Mineral in Indonesia karena di Indonesia belum ada yang membuat Kebijakan mineral dari hulu-hilir,sedangkan German bisa maju karena mereka memilikinya.

  2. eh iya 1 lagi judulnya kurang tepat tuh..ada anugrah dan kutukan kok g dibahas kekuatan energi alternatifnya anugrahnya sebelah mana n kutukannya dimananya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s