Pengembangan Komunal Masyarakat Pesisir Pantai

Beberapa minggu ada seorang teman mengajak diskusi berkaitan dengan ke-Indonesia-an. Diskusi berlangsung dengan hangat, sampai pada satu pertanyaan yang benar-benar kompleks bagi saya. Pertanyaannya adalah seperti ini.

Pertanyaan:

kamu berasal dari kawasan metropolis, sedang jalan-jalan ke daerah sub-urban..eh..nyasar ke slumps area..disana kondisinya benar2 tidak layak untuk ukuranmu yang terbiasa dengan kehidupan metropolis. taraf pendidikannya rendah sekali, banyak juga yang buta huruf. para anak mudanya bisa di hitung dengan jari. praktis hanya orang tua dan kaum lansia yang tinggal di daerah itu. penghasilan penduduk berasal dari melaut dan itu pun kondisinya pas-pasan. penduduknya makan 1x sehari, itu kamu tahu setelah kamu numpang makan di salah satu rumah penduduk di sana. bisa di bilang kawasan ini adalah hinterland.secara ekonomi dinilai kurang menguntungkan. kondisi geografis dan demografisnya juga sama sekali tidak memiliki peluang ekonomis.

so? apa yang kamu lakukan dengan statusmu sebagai mahasiswa dan juga seseorang yang memiliki impian untuk menjadi menteri negara ini??

***

Yang pertama saya sangat tertohok karena dijejali pertanyaan sekompleks itu. Kemudian mencoba berpikir selama berminggu-minggu dan mencari berbagai referensi dari google, mulai dari tindakan nyata masyarakat di Sumatra Barat yang berhasil mengembangkan ekonomi kelautan lewat kekayaan terumbu karangnya, hingga masyarakat pesisir kota Bengkulu yang berhasil mengembangkan diversifikasi kegiatan keekonomiaannya hingga dapat menularkannya ke kota-kota lainnya. Beberapa referensi dari Departemen Kelautan dan Perikanan Indonesia dari zaman tampuk kekuasaan Rokhmin Dahuri hingga Fadel Muhammad, maka tercetuslah ide pengembangan komunal masyarakat yang berlangsung secara integral. Inilah jawaban saya kepada teman saya yang bertanya tadi. Saya mencoba untuk menggeneralisasi permasalahan, menjadi permasalahan umum yang terjadi pada sebagian besar komunitas masyarakat pesisir pantai Indonesia.

Jawab :

Inilah tahapan yang akan saya lakukan adalah Pengembangan Komunal Masyarakat. Dalam melakukan pengembangan komunal (community development) sebuah masyarakat, diperlukan tinjauan dari aspek yang holistik untuk memparameterisasi keberhasilan pengembangan yang dilakukan. Adapun aspek yang akan saya tinjau adalah sebagai berikut:

  1. Aspek ekonomi
  2. Aspek sosial
  3. Aspek kebudayaan

Jika ketiga aspek ini mampu dikembangkan dengan baik, maka saya yakin pengembangan komunal sebuah masyarakat –terutama perdesaan disekitar pesisir- akan berhasil dengan baik. Sebenarnya masih ada beberapa aspek yang mempengaruhi keberhasilan sebuah Pengembangan komunal masyarakat pesisir, tapi untuk saat ini hanya tiga aspek ini saja yang akan saya bahas, karena  masih sempitnya wawasan saya yang notabene seorang (calon) Petroleum Engineer yang bercita-cita menjadi seorang menteri.

Mari kita tinjau satu-persatu dari aspek yang telah saya sebutkan diatas.

1. Aspek Ekonomi

Telah diketahui bersama bahwa desa yang saya tempati termasuk kedalam desa dengan pendapatan daerah yang sangat rendah. Hal ini tercermin dalam keseharian penduduk disana yang hanya makan sehari sekali dan pengembangan ekonomi kelautan sampai pada tingkat rumah tangga saja. Maka tentu saja perlu adanya penggiatan kegiatan ekonomi dengan berbasiskan sumber daya yang ada. Menurut Rokhmin Dahuri, Mentri Kelautan dan Perikanan tahun 2004 mengatakan bahwa setiap daerah pesisir pantai memiliki potensi perikanan yang cukup baik untuk dikembangkan. Jadi tidak benar bahwa kondisi geografis dan demografis daerah pesisir sama sekali tidak memiliki peluang ekonomis. Hal ini dibuktikan dengan potensi lestari sumberdaya ikan (SDI) laut Indonesia sekitar 6,4 juta ton per tahun atau 7,5 persen dari total potensi lestari ikan laut dunia. Saat ini, tingkat pemanfaatannya baru 4,4 juta ton. Potensi ini tersebar hamper diseluruh daerah pinggir laut Indonesia.

Untuk itu, saya menyarankan dibangunnya sebuah koperasi/bank perkreditan rakyat yang bersumber dari APBD daerah setempat tersebut, guna memfasilitasi serta memberikan penyuluhan pada masyarakat desa tersebut untuk dapat mandiri secara ekonomi. Hal ini akan dilakukan dalam jangka panjang, namun dengan pengawasan dan pelaporan yang baik dari pemerintah desa tersebut setiap tahun sekali. Ada dua keuntungan yang dapat kita dapatkan disini, pertama adalah keadaan ekonomi mereka akan membaik dan secara otomatis juga meningkatkan pendapatan daerah tersebut, kedua adalah penggiatan kegiatan ekonomi justru ini akan mampu menarik perhatian pemuda-pemuda dari desa/tempat lain agar mau bermigrasi ke daerah itu untuk mencari penghidupan yang layak. Dengan demikian, jumlah pemuda yang ada di daerah tersebut dapat diatasi.

Pengembangan tidak berakhir sampai disana. Selanjutnya, saya akan melakukan peningkatan teknologi kegiatan pesisir tersebut.  Banyak hasil teknologi yang telah di hasilkan oleh mahasiswa dari berbagai institut teknik maupun universitas di Indonesia, termasuk teknologi peisisir, namun hanya berakhir diatas kertas dan tidak bernilai ekonomis. Maka dari itu, saya akan melakukan koordinasi sedini mungkin dengan Menteri Riset dan Teknologi Indonesia agar beliau beserta jajaran pemerintah yang ada di departemennya melakukan sinergisasi antara mahasiswa, masyarakat pesisir dan industri yang berkaitan dengan dunia pesisir dalam rangka peningkatan teknologi kegiatan pesisir. Harapan saya adalah nantinya banyak dari karya teknologi itu terimplementasikan secara nyata untuk masyarakat daerah peisisir.

2. Aspek sosial

Kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir sering timbul konflik-konflik yang digolongkan menjadi empat jenis konflik. Pertama, konflik kelas, yaitu antarkelas sosial nelayan dalam memperebutkan wilayah penangkapan, seperti konflik nelayan skala besar di sekitar perairan pesisir yang sebenarnya diperuntukan bagi nelayan tradisional. Kedua, konflik orientasi yang terjadi antar nelayan yang memiliki perbedaan orientasi (jangka pendek dan panjang) dalam pemanfaatan sumber daya, seperti konflik horizontal antara nelayan yang menggunakan bom dengan nelayan lain yang alat tangkapnya ramah lingkungan. Ketiga, konflik agraria akibat perebutan fishing ground. Konflik ini dapat terjadi pada nelayan antarkelas maupun nelayan dalam kelas sosial yang sama.

Bahkan dapat juga terjadi antara nelayan dengan pihak bukan nelayan, seperti konflik dengan para penambang pasir dan industri pariwisata. Keempat, konflik primordial, yang menyudutkan sistem pemerintahan otonomi dan desentralisasi kelautan. Konflik identitas tersebut tidak bersifat murni, melainkan tercampur dengan konflik kelas maupun konflik orientasi yang sebenarnya kerap terjadi sebelum diterapkannya otonomi daerah.

Maka dalam hal ini, saya akan melakukan restrukturisasi sosial dengan melibatkan pen-samarata-an strata sosial dikalangan masyarakat tersebut. Hal yang paling saya prioritaskan adalah pembentukan pemerintahan yang bersih, adil,  demokratis serta produktif menghasilkan kebijakan-kebijakan yang strategis dan efektif. Masyarakat dari segala level, pemerintah, serta industri yang hadir disana harus duduk bersama membuat sebuah peraturan-peraturan yang dapat mengayomi kepentingan utama mereka tanpa harus mengorbankan salah satu elemen masyarakat tersebut. Diharapkan dengan terakomodasinya semua kepentingan tersebut, masalah seperti kesenjangan sosial atau gap sosial antar elemen masyarakat tidak terjadi lagi.

3. Aspek kebudayaan

Sebenarnya untuk membangun kebudayaan masyarakat pesisir tidak harus selalu dipersepsikan pada jenis pekerjaan tertentu. Artinya jika membicarakan wilayah pesisir tidak semata-mata harus dihubungkan dengan kegiatan nelayan (kelautan) saja. Pembagian wilayah pesisir dengan perbukitan/pegunungan disekitar pantai itu merupakan konsep kewilayahan. Wilayah pesisir dan laut merupakan tatanan ekosistem yang memiliki hubungan sangat erat dengan daerah lahan atas (upland), baik melalui aliran air sungai, air permukaan (run off) maupun air tanah (ground water) serta kegiatan manusia. Keterkaitan tesebut menyebabkan terbentuknya kompleksitas dan kerentanan diwilayah pesisir.

Disini saya melihat peluang adanya berbagai mata pencaharian yang muncul. Maksudnya disini adalah diversifikasi pekerjaan. Banyak penduduk diluar hinterland tersebut yang bekerja disektor perdagangan, perindustrian, pemerintah, jasa konstruksi, transportasi dan lain-lain. Terutama didaerah kota yang telah berada di dataran tinggi daerah tersebut. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan wilayah pesisir daerah tersebut dapat melakukan kerja sama yang baik antar-stakeholder, baik yang berada diwilayah pesisir itu sendiri maupun yang berada didaerah diluar daerah tersebut.

Hal yang paling saya prioritaskan adalah pembangunan infrastruktur jalan dan komunikasi untuk memacu mobilitas antar daerah disekitar wilayah pesisir itu. Setelah arus ekonomi laut telah terekspansi ke daerah lain, maka hal selanjutnya yang akan saya lakukan adalah penggiatan kegiatan ekspor hasil kelautan wilayah tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s