Idealisme Dalam Perspektif Kehidupan Pasca Kampus

Dalam buku Kamus Besar Bahasa Indonesia, telah gamblang disebutkan bahwa idealisme (idealism) adalah sebuah bentuk penjelmaan norma-norma dasar yang bersifat luhur, dalam prinsip-prinsip dasar yang dipegang seorang manusia. Dari sini, sudahlah jelas bahwa idealisme tidak terikat dengan oleh variabel waktu. Alih-alih ia menjelma menjadi keabadian dalam pribadi hidup manusia, yang tak lekang oleh waktu. Idealisme lah yang membedakan antara mana yang hitam dan mana yang putih.

Idealisme sebenarnya telah terbentuk secara kontinu sejak kita kecil. Orang tua mengajarkan kita untuk “ini”, orang tua kita mengajarkan untuk “itu”, mereka mengarahkan pola hidup kita agar sesuai dengan yang mereka inginkan agar kita dapat menjadi seorang manusia yang baik (becoming a right human). Seiring dengan waktu, kita tumbuh menjadi manusia remaja dan  akhirnya pola hidup ini akan kita bawa dalam dunia sosial kita. Baik itu di sekolah kita, pada lingkungan sanak-saudara kita, atau bahkan lingkungan teman bermain kita.

Disana, nilai-nilai dasar pola kehidupan kita mulai dibenturkan pada realita-realita sosial yang terkadang tidak sejalan dengan pemikiran kita. Disana pula, lunturnya idealisme juga mungkin tidak dapat terhindarkan lagi. Ada manusia yang mampu bertahan mempertahankan idealismenya sehingga ia disebut dengan manusia “idealis”, namun ada pula manusia yang akhirnya terbawa arus lingkungannya sehingga pada akhirnya mengantarkan ia menjadi seorang manusia “realistis”. Hal ini adalah nyata dan benar. Banyak manusia yang pada awalnya memiliki idealisme yang sangat tinggi, namun dalam sekejap saja ia gugur dan menyebabkan ia menjadi seorang manusia realistis.

Ketika berbicara tentang dunia kemahasiswaan, tak dapat dielakkan lagi bahwa sebuah kata “idealisme” sewajarnya harus melekat didalam diri seorang mahasiswa. Apa pasalnya? Dunia kampus adalah dunia yang penuh dengan nuansa pendewasaan diri. Disana mereka belajar membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mereka mematangkan emosi mereka, mereka mengasah keahlian mereka, dan mereka melakukan proses pendewasaan disana. Idealisme menjadi sebuah hal yang paling penting merasuk kedalam jiwa seorang mahasiswa sehingga menyebabkan mereka menjadi seorang “mahasiswa” dalam arti sebenarnya.

Melirik pada fungsi, peran, dan posisi mahasiswa Indonesia yang sangat strategis, dalam tataran hubungannya secara vertikal pada pemerintah dan hubungannya secara horizontal pada rakyat, idealisme merupakan harga mati dan sebuah nilai yang sangat dipertaruhkan. Bisa kita bayangkan bersama ketika aparatur hukum telah bobrok, pemerintahan telah bertindak semena-mena, rakyat tertindas dan terlantar, maka mahasiswa haruslah menjadi agen perubahan di lini terdepan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Mahasiswa harus melawan semua hal yang memang tidak sesuai dengan idealisme yang mereka pegang dan mereka yakini.

Dunia mahasiswa memang penuh dengan kisah dan romantikanya. Tetapi pernahkah timbul pertanyaan didalam benak kita semua ,bahwa bisakah idealisme seorang mahasiswa dipertahankan dalam dunia pasca kampus? Negeri ini telah banyak menghasilkan generasi-generasi yang memiliki nilai intelektualitas yang tinggi. Tokoh-tokoh tua seperti Akbar Tandjung, Abu Rizal Bakrie, Megawati Sukarno Putri, Muhammad Yusuf Kalla, Harmoko, Arifin Panigoro, Suharto, dan sederet nama lainnya telah mewarnai dunia belantara politik Indonesia. Ada sebagian dari mereka yang sampai detik ini masih memiliki idealisme yang sangat membara, sehingga ada beberapa torehan prestasi yang mereka ciptakan untuk perkembangan negeri ini. Namun ada pula sebagian dari mereka kehilangan idealisme, sehingga ada yang menciptakan “prestasi” korupsi mengeruk kekayaan bangsa ini untuk kepentingan dirinya sendiri.

Dari sini kita bisa banyak belajar, perlu ada upaya keras untuk mempertahankan idealisme kita sebagai manusia yang idealis. Pelajaran tidak hanya berakhir disana. Saat ini pun proses pengguguran dan pelemahan idealisme manusia idealis semakin meraja lela. Banyak para alumni-alumni mahasiswa yang kini terjerat pada pola pikir yang instan untuk memperkaya dirinya. Tidak usah lah lagi kita heran ketika melihat fenomena terbelinya idealisme  dengan sesebuah onggok uang. Ada yang rela menggadaikan idealismenya untuk kepentingan oknum tertentu, padahal dia tahu bahwa dia akan menghancurkan negaranya sendiri. Mau jadi apa negara ini jika semua manusia idealis nya terbeli oleh sebuah kekayaan duniawi yang akan punah itu. Apalagi jika ditambah dengan tantangan krisis moral dan finansial global yang dapat dengan mudahnya menggilas kemerdekaan negara kita kapanpun oknum tertentu itu mau.

Masa depan negeri ini ada ditangan para pemuda-pemudi Indonesia. Merekalah yang mengisi pos-pos penting dan strategis dimasa depan kelak. Merekalah yang menentukan arah dan gerak negeri kita ini. Merekalah yang membuat bangsa kita menjadi besar atau bangsa kita menjadi kecil. Meminjam istilah dari Pak Habibie, Bangsa SuperPower hanya bisa dibentuk oleh bangsa yang memiliki IPTEK yang tinggi dan IMTAK yang luhur. Mari, kita (baca: pemuda-pemudi) persiapkan diri kita, jiwa kita, intelektualitas kita serta idealisme kita semua untuk menjadi manusia yang idealis dan membangun masa depan negara dan bangsa kita.[]

***

Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater

Salam Ganesa

Ryan Alfian Noor

One thought on “Idealisme Dalam Perspektif Kehidupan Pasca Kampus

  1. Enggak segalanya buruk dengan realisme…realisme adalah opposite dari idelisme…dan di dalam realisme lah terbentuk idealisme….easy to understood, didalam realisme ada idealisme. So, didalam diri setiap “manusia realis” ada juga “hati idealis” we called it “heart” meaning nurani..nurani tercipta dari keberadaan keyakinan dan keyakinan lebih dekat pada Tuhan..direstrukturkan dalam hal yang di sebut “agama”…

    semua orang memiliki hak untuk menjadi realis atau idealis…surely nobody’s perfect…tidak ada seorang manusia itu menjadi realis tulen ataupun idealis tulen..karena hidup penuh dengan kompromi-kompromi…kompromi waktu, kompromi finansial..

    idealisme yang paling lekat dan terpisahkan adalah idealisme dengan Tuhan (agama)…hal ini menjadikan seseorang berpegang teguh pada keyakinan “natural” yang dia miliki….we also called as the true idealism..

    so..bener juga..diperlukan manusia-manusia idealis untuk mereform kondisi negara ini…tapi bukan manusia idealis yang saklek yang dibutuhkan..melainkan idealisme yang memiliki struktur kelembaman jaman…ingat…hidup adalah benturan sosial…^^v

    youth is the agent of change..
    so…jadilah pemuda2 yang bisa meng-combine kondisi2 dan saluran2 yang ada…bukan saklek pada satu saluran…

    pemuda2 yang menjadi agen perubahan adalah pemuda yang pandai melihat peluang..(upz…bukan “peluang” dalam arti minor ya??)

    so..just lets fight with the faith…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s