Menghapus Kosa Kata “Malas” dari Memori Otak Anda

Sesekali adalah wajar kalau kita merasa malas melaksanakan sesuatu yang sebenarnya telah biasa kita lakukan. Namun menjadi tidak wajar kalau kita terus bermalas-malasan pada sesuatu yang seharusnya kita lakukan. Produktivitas menurun, progresivitas melamban, dan kontribusi memudar. Rasa malas adalah musuh besar bagi orang-orang yang bermimpi besar didalam hidupnya. Mereka sangat jijik ketika melihat dirinya menjadi seorang yang “lenje”, “lemot” atau istilah lainnya yang mirip seperti itu.

Mari kita telisik peristiwa ini lebih dalam. Sebenarnya karakter diri kita dibentuk oleh dua hal : kekuatan pikiran dan kebiasaan.

Kekuatan pikiran merupakan sumber dari segala gerakan-gerakan tubuh Anda. Apa-apa (selanjutnya saya menyebut dengan istilah : “kata”) yang ada di otak Anda akan terimplementasikan dalam perbuatan Anda. Misalnya begini, ketika Anda ingin berjalan menuju suatu tempat maka pertama-tama otak akan memproyeksikan kata “membaca” dengan neuron-neuronnya dan menyalurkannya pada otot-otot tangan dan mata Anda untuk membaca. Uniknya, semakin Anda sering mengulang kata-kata ini didalam otak Anda semakin lama respon Anda akan semakin cepat. Pernahkah Anda membuka halaman beberapa buku dengan cepat sekali tanpa harus berpikir lagi? Selamat! Anda telah berhasil menggunakan satu dari sekian banyak kekuatan pikiran dalam hal-hal kecil dalam hidup Anda.

Satu lagi yang mempengaruhi karakter adalah kebiasaan. Kebiasaan merupakan hasil dari akumulasi perulangan perbuatan kita sehari-hari. Kebiasaan membantu seorang manusia mengerjakan sesuatu secara lebih efektif dan efisien. Sampai disini, telah kita ketahui bersama bahwa seseorang yang mampu mengembangkan kebiasaannya dengan baik kebanyakan menjadi sukses. Bahkan Stephen R. Covey sampai-sampai membuat buku yang berjudul 7 kebiasaan efektif untuk manusia yang ingin mencapai kesuksesaan yang luar biasa. Pada intinya, kebiasaan baik akan menghasilkan banyak hal positif dan kebiasaan negatif menghasilkan banyak hal negatif.

Namun izinkan saya untuk menyentil diri Anda dengan pertanyaan ini : Apakah Anda -yang notabene mungkin telah mengasah kekuatan pikiran otak dan kebiasaan Anda dengan baik- pernah merasa malas ditengah kesibukan Anda sepanjang hari? Fakta membuktikan bahwa walaupun kita telah mengasah kekuatan pikiran dan kebiasaan kita dengan baik, tetap saja rasa malas itu akan tetap muncul di waktu-waktu tertentu. Ia datang tanpa dijemput, dan muncul begitu saja mengikis produktivitas Anda, merusak progresivitas Anda, dan mengurangi kontribusi Anda.

Menurut saya, penting sekali menanggulangi permasalahan ini, karena hampir sebagian besar bangsa kita  mengalami permasalahan seperti ini. Mulai dari sektor publik hingga sektor privat terjangkit penyakit “malas”. Saya tidak dapat membayangkan, ketika nanti tidak akan ada lagi orang yang bermimpi besar yang lahir karena didalam otaknya telah tertempel kata “malas” pada otaknya.

Sebenarnya dalam buku manajemen dan ergonomis telah banyak meluncurkan banyak solusi-solusi untuk mengatasi rasa malas ini. Namun karena terlalu teoritis dan sistemik, saya tidak akan membahasnya disini. Saya ingin menyederhanakan solusi permasalahan ini dengan beberapa cara sederhana yang terbukti ampuh mengatasi permasalahan malas didalam hidup saya.

Yang pertama adalah sibukkanlah diri Anda pada hal yang bersifat produktif. Dengan sibuk, Anda akan menyadari betapa pentingnya harga sebuah waktu luang. Anda tidak akan lagi membuang waktu luang Anda untuk bermalas-malasan karena Anda tahu bahwa pekerjaan Anda menumpuk dibelakang sana. Ukurlah dengan baik batas kemampuan Anda, karena ketika Anda telah mencapai batas kemampuan Anda maka berhentilah sejenak, dan berilah reward pada diri Anda sebagai ganjaran kerja keras selama itu. Indikator batas kemampuan Anda dapat dilihat dari tidak seimbangnya antara effort (kerja) yang Anda berikan terhadap impact (hasil) yang anda terima, disana telah terjadi ineffective dan inefficient lagi.

Yang kedua adalah jangan pernah sekalipun biarkan Anda memberikan kesempatan untuk bermalas-malasan. Cara ini cocok sekali dilakukan ketika Anda sedang membangun sebuah kebiasaan tertentu. Contohnya seperti ini, Anda adalah seseorang yang ingin membiasakan diri untuk lari pagi pada hari-hari tertentu. Namun karena spare waktu yang Anda miliki adalah banyak, mungkin terkadang ada sebuah keinginan untuk menundanya dihari esok. “Ah, besok saja. Saya sedang malas hari ini”, mungkin itu yang ada di benak Anda saat itu. kalau memang terjadi hal demikian, segera cut (potong) lintasan pikiran itu dan segera lakukan apa yang telah Anda rencanakan. Dengan memotong lintasan pikiran itu, secara otomatis tidak akan membiarkan otak Anda memberikan stimulus rasa malas pada tubuh Anda. Dengan segera melakukannya, Anda akan menyadari bahwa sebenarnya hal itu mudah untuk dilakukan. Biasanya setelah itu, akan muncul komitmen kuat untuk konsisten melakukan apa yang Anda inginkan.

Yang terakhir dan tak kalah pentingnya adalah lingkungan pilihan Anda. Jika Anda berkumpul terlalu lama dengan orang-orang malas maka Anda pun akan ikut malas-malasan. Jika kita dekat dengan seorang penjual parfum, maka kita akan kecipratan harumnya pula, dan jika kita dekat dengan seorang pandai besi, maka kita akan kecipratan aroma besi itu pula. Jadi tak dapat dielakkan bahwa lingkungan mempengaruhi diri kita. Sekuat apapun kebiasaan baik yang ada pada diri Anda, kalau Anda terjun pada lingkungan yang melawan kebiasaan diri Anda maka lambat laun Anda pun akan larut pada kebiasaan-kebiasaan lingkungan itu. Memang tidak sekaligus, namun perlahan tapi pasti kosa kata “malas” akan mulai bertengger didalam pikiran Anda dan mulai melunturkan kebiasaan-kebiasaan baik didalam diri Anda.  Untuk itu perlu adanya penyeimbangan lingkungan yang baik dan lingkungan yang buruk. Agar kita mampu melakukan kontrol terhadap diri kita dengan baik.[]

2 thoughts on “Menghapus Kosa Kata “Malas” dari Memori Otak Anda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s