Menggagas Masa Depan Pembangunan Energi Indonesia

Permasalahan energi adalah hal yang tidak ada henti-hentinya untuk diartikulasikan. Dalam tingkat individu energi selalu diperlukan dalam kehidupan manusia mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Manusia menggunakannya untuk memasak, transportasi, bekerja, residensial, dan lain-lainnya.

Dalam tingkat negara pun energi menjadi permasalahan yang sangat pelik. Permasalahan konflik negara Timur Tengah oleh negara Barat yang berkedok pemberantasan terorisme pun tak lepas dari konspirasi pengusaan sumber energinya.

Dalam konteks Ke-Indonesia-an, negara kita pun harus bersiap-siap menghadapi juga hal tersebut. Jangan sampai malapetaka yang dikisahkan John Perkins tentang korporatokrasi negara adidaya memporakporandakan kehidupan bangsa Indonesia terulang lagi.

Berbicara tentang pembangunan energi Indonesia adalah hal yang sangat kompleks. Pembicaraannya harus dimulai dari kegiatan hulu energi untuk mencari dan menentukan besarnya semua sumber daya energi Indonesia dan bagaimana cara mengambilnya, hingga kegiatan hilir untuk mengkonversi sumber daya energi tersebut menjadi bahan bakar maupun listrik. Berbagai peluang dan hambatan kini harus dianalisis dengan baik sehingga akselerasi penetrasi kebutuhan energi Indonesia dapat semakin meningkat secara terpadu dan efektif.

Di dalam bukunya yang berjudul Kekuatan Daya Saing Indonesia, Profesor Zuhal mengatakan bahwa proses hulu energi Indonesia mengalami dilema yang sangat besar. Kita masih bergantung pada energi fosil minyak, gas, dan batu bara.

Bisa dibayangkan sumber daya minyak kita tercatat 87 miliar barel tetapi total cadangan yang siap dimanfaatkan pada tahun 2003 hanya 9 miliar barel. Bila tingkat produksi 500 juta barel per tahun cadangan itu sudah akan terkuras habis dalam tempo 18 tahun saja.

Dengan tingkat produksi 3.0 TSCF gas alam kita bisa bertahan lebih kurang 61 tahun. Cadangan batu bara kita lumayan besar dan bila diproduksi 130 juta ton per tahun dapat bertahan selama 147 tahun ke depan.

Dari sini kita dapat berhipotesis bahwa gas alam dan batu bara dapat bertahan lama. Namun, dengan produksi yang kian turun tiap tahunnya kebutuhan ekspor yang tidak bergeming. Kebutuhan domestik yang terus merangkak naik. Perlu ada upaya yang cepat dan tepat untuk menanggulangi permasalahan hulu energi ini.

Jika menilik pada Data Indonesian Energy Outlook tahun 2002 sebenarnya telah terpapar dengan jelas bahwa pengembangan energi terbarukan masih mencapai angka 7% dibandingkan minyak sebesar 55%, gas sebesar 23%, dan batu bara sebesar 15%. Sangat terlihat bahwa energi terbarukan masih dipandang sebelah mata oleh Pemerintah Indonesia.

Seharusnya sudah saatnya pemerintah membuka mata untuk melakukan diversifikasi energi yaitu dengan menurunkan penggunaan energi fosil dan mendongkrak penggunaan energi terbarukan. Beberapa alternatif energi terbarukan potensial Indonesia adalah geothermal, arus laut, bio diesel, bio etanol, dan bio butanol.

Keseimbangan pasokan dalam negeri dan ekspor luar negeri pun tidak boleh luput dari rencana pemerintah. Pemerintah harus merancang sebuah intensifikasi survei dan eksplorasi sumber daya energi diseluruh wilayah Indonesia yang selama ini belum terjangkau. Selain itu pemerintah harus menggalakan konversi produksi dan penggunaan energi seefisien mungkin, sehingga diharapkan nantinya dapat menunjang neraca pembayaran tanpa mengundang defisit keuangan.

Proses hulu hingga hilir energi merupakan sebuah proses yang tidak bisa mengalami proses diskretisasi. Artinya, selain menggagas pembangunan hulu energi Indonesia, kita juga harus menggagas pembangunan hilir energi Indonesia. Sudah kita ketahui bersama bahwa Indonesia mengalami terus menerus krisis pasokan listrik sehingga menyebabkan sering macetnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang banyak berbasis pada sektor industri dan pertanian.

Jika hal ini terus dibiarkan hal ini akan menjadi kontradiktif dengan pernyataan pemerintah pada National Summit beberapa bulan lalu, yang mengatakan bahwa ketahanan energi merupakan isu utama yang akan diprioritaskan. Patut kita apresisasi bahwa beberapa bulan ini realisasi pembangunan PLN 10.000 MW akhirnya bisa terwujud.

Jika hal ini dapat berjalan lancar bangsa Indonesia dapat sedikit bernapas lega karena hal tersebut akan memenuhi pasokan listrik dalam negeri dalam beberapa tahun kedepan. Namun, kita tidak bisa menghentikan langkah sampai di sana. Perlu ada upaya untuk menggiatkan pembangunan pembangkit tenaga listrik lainnya yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia.

Dari sekian banyak pembangkit tenaga listrik potensial Indonesia, sebenarnya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) memiliki prospek yang cerah untuk dikembangkan di Indonesia. Terlepas dari berbagai hambatan dan sikap skeptis dari berbagai kalangan, sebenarnya sejak kurang lebih 33 tahun yang lalu telah dilakukan Nuclear Power Planning Study yang dilakukan oleh Batan/PLN dengan IAEA/Wina yang menghasilkan sebuah angin segar bagi proses pengembangan PLTN di Indonesia.

Prospeknya sudah bagus. Tinggal beberapa sikap profesionalitas pemerintah yang ditingkatkan terutama dalam masalah sosial, lingkungan, dan pembuangan limbah yang terintegrasi dengan baik.

Proses pembangunan energi tidak semudah membalik telapak tangan. Dia adalah proses yang panjang dan memerlukan kontinuitas serta pemikiran yang integratif. Dengan langkah yang cepat dan tepat maka saya yakin bahwa masa depan energi Indonesia memiliki titik terang. Tinggal masalah waktu.

***

Tulisan ini dimuat di detik.com dan indonesiaenergywatch.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s