Staccato Berpikir Pemimpin

Pada dasarnya setiap manusia diberikan sebuah anugerah untuk berpikir tanpa ada batas. Pikiran kita -dalam hal ini disebut otak- memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menganalisis setiap fenomena yang terjadi di semesta alam maupun dunia manusia. Dalam suatu titik fenomena alam tertentu, setiap manusia mungkin dapat memiliki persepsi dan pemaknaan yang berbeda-beda. Ada manusia yang mungkin mempersepsi suatu hal secara positif, dan tidak menutup kemungkinan pula ada manusia yang mempersepsi suatu hal secara negatif.

Mungkin perbedaan pemahaman dan kadar keilmuanlah yang menyebabkan hal ini dapat terjadi. Namun sebagai seorang manusia yang baik, seharusnya setiap manusia harus melakukan proses staccato dalam alam pemikirannya secara berkala, sambil mencoba menambah kadar keilmuannya dengan membaca literatur-literatur baru dan melakukan beberapa pendekatan empirik berdasar pada pengalaman dirinya. Staccato, adalah istilah yang sedikit saya pinjam dari istilah bidang permusikan yang artinya melakukan pemberhentian sejenak.

Berbicara tentang pemimpin, seperti apa yang dikatakan oleh John C. Maxwell,  rasanya kita tidak dapat melepaskannya dari pembicaraan yang berkisar tentang alam berpikir hingga perilaku dia untuk dapat melakukan sebuah tindakan persuasif untuk mempengaruhi pikiran orang lain untuk bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pemimpin tersebut. Perilaku akan berkorelasi pada kekuatan emosional pemimpin, dan alam berpikir akan berkorelasi pada kekuatan intelektual pemimpin. Dan kekuatan spiritual akan berkorelasi pada muara antara perilaku dan alam berpikirnya.

Setiap pemimpin yang baik harus memiliki alam pemikiran yang luas untuk dapat membawa perubahan pada organisasi yang dia pimpin. Dia mampu menghubungkan untaian mata rantai cara berpikirnya secara berurutan, guna membentuk ikatan rantai pemikiran fundamental hingga praktikal yang kokoh dan kuat untuk diimplementasikan didalam kehidupan organisasinya.

Setidaknya ada tiga urutan cara berpikir yang harus dikuasai seorang pemimpin ketika ia memimpin organisasinya : cara berpikir filosofi, cara berpikir visi, dan cara berpikir strategi. Semuanya terurut dari hal yang bersifat mendasar hingga mendetail. Setiap langkah cara berpikir ini harus berjalan secara paralel serta diselangi dengan staccato untuk melihat realita yang ada agar dapat berjalan secara efektif dan efisien.

Cara Berpikir Filosofi

Sebelum berbicara tentang apa dan bagaimana sesuatu itu harus dilaksanakan, filosofi menjadi pondasi dasar cara berpikir setiap seorang pemimpin. Filosofi adalah sifat dasar eksistensi, manusia, dan hubungan manusia dengan eksistensinya itu sendiri. Jadi pada tahap staccato ini, seorang pemimpin belajar suatu hal paling mendasar yang membuat dapat manusia itu bergerak mengikuti kemauan pemimpinnya, tanpa kehilangan eksistensinya.

Mudahnya adalah dengan contoh seperti ini. Seorang pemimpin bukanlah sebuah robot yang hanya tahu apa dan bagaimana sesuatu itu dapat dilaksanakan dengan baik dan profesional, namun ia tidak mengetahui alasan mengapa hal itu harus dilaksanakan. Ia hanya faham bahwa apa yang dia lakukan telah dilakukan generasi pemimpin sebelum mereka, dan mereka dituntut harus bisa melebih apa yang telah ditorehkan oleh sejarah pendahulunya.

Seandainya saja benar-benar terjadi, dapat kita bayangkan bahwa pemimpin yang bersangkutan mungkin sangat kompeten didalam bidangnya, namun sayangnya ia tidak akan pernah memiliki pengikut karena dia tidak dapat menjelaskan ‘filosofi mengapa mereka harus bergerak’ kepada calon pengikutnya.

Cara Berpikir Visi

Cara berpikir visi adalah turunan dari cara berpikir filosofi. Kalau kata filosofi berpasangan dengan kata tanya “mengapa”, maka kata visi dapat kita pasangkan dengan kata tanya “apa”. Setelah pemimpin mengetahui cara untuk mengajak orang lain lewat cara berpikir filosofi, maka dalam tahap staccato ini pemimpin harus bisa menggambarkan hal apa yang dia cita-citakan terhadap organisasi yang dia pimpin saat ini.

Cara berpikir visi yang baik harus bersifat logis, sistematis, attainable, realistis, dan memiliki batas waktu. Selama pemimpin itu mampu mengimplementasikan 5 kata kunci ini dengan baik, maka visi yang nantinya dicanangkan akan lebih mudah untuk diterima oleh para pengikutnya. Ketidakmampuan seorang pemimpin membuat visi yang baik akan menyebabkan kekacauan didalam organisasi tempat pemimpin itu berada.

Cara Berpikir Strategi

Tidak jauh berbeda dengan dua cara berpikir sebelumnya, staccato cara berpikir strategi mampu dipadankan dengan kata tanya “bagaimana”. Strategi adalah arah dan ruang lingkup yang dibawa oleh seorang pemimpin untuk mencapi apa yang dicita-citakan dengan sumber daya yang ada serta lingkungan yang menantang. Ketika berbicara tentang cara berpikir strategi, maka kita berbicara tentang rencana kerja dan program yang dibuat pemimpin untuk merealisasikan visi yang ia rencanakan pada cara berpikir visi.

Dengan cara berpikir strategi, segala sumber daya dapat diberdayakan secara optimal untuk mendapatkan hasil dalam waktu yang relatif dan singkat. Namun sebaliknya, perlu diperhatikan ketika terjadi kesalahan pemilihan strategi maka bisa dipastikan organisasi yang dibawa oleh pemimpin itu akan mendapatkan permulaan salah hingga kejatuhan. Untuk itu, perlu evaluasi strategi dilakukan secara berkala untuk dapat mengukur parameter keberhasilan visi yang telah dibuat.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s