Mengapa Aku Tidak Optimal Dalam Bekerja?

Saya ingin membuka tulisan ini dengan sebuah dua kata mutiara yang saya pikir telah kebanyakan Anda ketahui. Kata mutiara pertama adalah “Important Matter of First Impression” dan kata mutiara yang kedua adalah “Save the Best for the Last”. Atau dalam bahasa Indonesianya, “Kesan pertama begitu penting” dan “Simpan yang terbaik untuk di akhir”. Mungkin Anda pernah mendengar dua kata ini dalam suatu iklan produk sebuah parfum atau sebuah strategi sebuah acara dan pekerjaan agar menjadi menarik. Tetapi terlepas dari itu semua, dua kata mutiara ini menjadi hal yang sangat penting dibahas karena sering sekali meracuni paradigma kebanyakan manusia dalam melaksanakan pekerjaannya.

Secara alur proses kerja, kedua kata mutiara ini meruncing pada sebuah kesimpulan bahwa “awal” dan “akhir” pekerjaan merupakan hal terpenting yang menjadi faktor kesuksesan pekerjaan kita. Perihal bagaimana cara mengemas awal pekerjaan kita semantap-mantapnya dan bagaimana cara kita menutup akhir kita sebaik-baiknya merupakan momok utama keberhasilan pekerjaan yang kita hasilkan. Padahal kalau mau ditelisik lebih lanjut, sebenarnya awal yang mantap sampai akhir yang baik, harus didukung dengan proses yang bagus juga. Jadi sebenarnya, alur pekerjaan yang baik itu lebih cocok untuk di tuliskan seperti ini : “Awal yang mantap”, “Proses yang bagus”, “Akhir yang baik”.

Saya tidak meragukan bahwa setiap manusia memiliki kemampuan untuk memulai pekerjaannya dengan awal yang mantap. Banyak manusia yang begitu bersemangat ketika memulai pekerjaannya sehingga menghasilkan capaian-capaian yang tidak seperti biasanya seperti manusia yang telah bekerja lama, mereka bekerja dengan semangat membara seolah semua pekerjaan mereka ingin mereka habiskan di satu waktu. Dilain pihak, banyak pula manusia yang pertama kali kuliah disuatu kampus memiliki semangat kuliah yang luar biasa seolah semua buku kuliahnya ingin mereka lahap di satu waktu. Sebenarnya masih banyak contoh-contoh lainnya yang hampir mirip dengan kedua kasus tadi. Namun anehnya, kinerja mereka menurun seiring dengan berjalannya waktu, lamanya berinteraksi dengan lingkungan sekitar, dan bertabrakan dengan realita yang ada. Yang tadinya standar pekerjaannya level “high quality” kini hanya menjadi sekedar “intermediate quality” atau bahkan hanya berakhir pada “low quality”. Percaya atau tidak itulah yang terjadi pada beberapa sektor kehidupan.

Pun, saya juga tidak menafikan setiap manusia juga memiliki kemampuan untuk mengakhiri pekerjaannya dengan akhir yang baik. Banyak presenter yang memulai presentasinya dengan amburadul, tidak jelas apa yang dipresentasikannya, namun ia berhasil menutupi presentasinya dengan akhir yang baik. Banyak pula mahasiswa yang pada awalnya bermain-main diawal masa kuliahnya, namun berhasil membayar atau mencuci nilainya di akhir masa kuliahnya. Sayang sekali, entah ini menjadi sebuah doktrin atau semacam stigma bahwa setiap pekerjaan yang tidak optimal sebaiknya di perbaiki pada sesaat sebelum pekerjaan itu selesai. Hal ini terus membudaya seolah menjadi sebuah rentetan sebuah algoritma, yang membenarkan beberapa pernyataan ajimumpung dalam berbagai sektor kehidupan.

Dalam salah satu bab bukunya yang berjudul Outliers, Malcolm Gladwell telah menulis banyak pentingnya sebuah proses yang disebut dengan “THE 10.000 HOURS RULE”. Untuk lebih jelasnya saya mengutip pernyataan situs wikipedia  seperti dibawah ini :

Gladwell claims that greatness requires enormous time, using the source of The Beatles’ musical talents and Gates’ computer savvy as examples. The Beatles performed live in Hamburg, Germany over 1,200 times from 1960 to 1964, amassing more than 10,000 hours of playing time, therefore meeting the 10,000-Hour Rule. Gladwell asserts that all of the time The Beatles spent performing shaped their talent, “so by the time they returned to England from Hamburg, Germany, ‘they sounded like no one else. It was the making of them.'” Gates met the 10,000-Hour Rule when he gained access to a high school computer in 1968 at the age of 13, and spent 10,000 hours programming on it.

In Outliers, Gladwell interviews Gates, who says that unique access to a computer at a time when they were not commonplace helped him succeed. Without that access, Gladwell states that Gates would still be “a highly intelligent, driven, charming person and a successful professional”, but that he might not be worth US$50 billion.Gladwell explains that reaching the 10,000-Hour Rule, which he considers the key to success in any field, is simply a matter of practicing a specific task that can be accomplished with 20 hours of work a week for 10 years. He also notes that he himself took exactly 10 years to meet the 10,000-Hour Rule, during his brief tenure at The American Spectator and his more recent job at The Washington Post.

Ternyata optimalisasi kerja ditentukan oleh kerja keras dan sedikit saja pengaruh “awal” dan “akhir” yang baik. Awal yang mantap belumlah cukup membuat pekerjaan optimal, sama seperti dengan akhir yang baik. Seorang dengan penuh talenta tak akan menjadi sukses tanpa proses bekerja keras. Sementara seseorang dengan talenta terbatas bisa menjadi seorang yang luar biasa karena proses yang dilakukannya. Pernah saya bertanya pada salah satu sahabat saya (waktu saya masih tingkat 1 ITB) yang notabene pernah menjadi juara olimpiade kimia internasional, “kira-kira berapa lama waktu yang perlu dia persiapkan untuk menjadi seorang juara olimpiade?” dan dia menjawabnya dengan enteng, bahwa dia sudah memulai prosesnya sejak SMP. Kalau boleh berasumsi, jika ia memulainya dari kelas 1 SMP dan setiap harinya memakan waktu 5 jam untuk belajar, jadi waktu proses yang terhitung adalah 5 jam x 365 hari x 6 tahun atau sama dengan 10.950 jam. Luar biasa bukan prosesnya?

Ah, saya tidak mau bertanya pada orang lain. Kadang-kadang saya sendiri sering mengeluhkan mengapa pekerjaan saya tidak bisa optimal hingga kini, saya sering mengeluh dengan pekerjaan yang saya hasilkan. Bukankah dalam sejarah peradaban juga telah disebutkan bahwa Nabi Nuh yang tidak pernah mengeluh untuk mendakwahkan islam pada kaumnya selama 950 tahun? Padahal aku yang baru berumur 21 tahun ini sudah sering mengeluh dengan pekerjaanku. Belum lagi jika dikaitkan dengan Kaidah 10.000 Jam-nya Malcolm Gladwell. Tampaknya saya masih harus berusaha lebih baik lagi untuk meraih 10.000 jam kerja saya. Sebagai akhir tulisan, ada sebuah kutipan bagus dari sebuah buku yang berbunyi sebagai berikut :

“Dan yang lebih penting, orang-orang yang berada di puncak tidak hanya berlatih keras atau lebih keras dari orang lain. Mereka berlatih sangat jauh lebih keras.”

Saya ucapkan selamat beraktivitas : Tentu saja dengan keceriaan yang dinaungi dengan kerja keras untuk mengoptimalkan pekerjaan Anda.[]

4 thoughts on “Mengapa Aku Tidak Optimal Dalam Bekerja?

  1. iyah bener juga ya, itu udah jadi paradigma yang meluas dikalangan masyarakat, termasuk mahasiswa…yah saya juga ngerasa kayak gitu soalnya,,hohoho…oke2, makasih banyak postnya bos, Insya Allah akan coba diterapkan untuk menjadi insan yang lebih baik

  2. kak punten di copy ya, cukup menjadi solusi bagi saya dan beberapa teman lain yang selama ini sering mengeluhkan hasil namun tidak mengoptimalkan proses yang dijalani.. jazakallah kak

  3. aq berterimakasih banyak kepada kakak
    setidaknya aq tersadar dari tidurq
    bahwa selama ini aq terlalu banyak bermimpi
    mimpi mendapat hasil yang sempurna
    mimpi mendapat nilai yang memuaskan
    aq terlalu banyak tidur dalam sadarq
    makasih ea kak…semoga aq bisa memulai sekarang
    dari hal yang kecil..
    semangat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s