Kesempatan Kedua

Kita tidak akan bisa menentukan tempat dan waktu kelahiran dan kematian kita. Tuhan dengan segala kuasa dan kehendak-Nya mampu menaruh posisi dan mengeser-geser waktu dunia kita. Sebagai seorang manusia, cukuplah kita menerima sebagai karakter-karakter yang siap ditaruh di koordinat papan catur yang di inginkan-Nya.

Maka sudahlah sebuah takdir, jika kita pernah menemukan seorang bayi yang lahir di lingkungan yang kumuh dan penuh dengan para penjahat. Mungkin kita pun juga pernah menemukan seorang bayi yang lahir dilingkungan yang baik dimana harta bergelimang limpah disekitarnya. Mereka hidup dalam waktu yang sama, namun memiliki posisi yang berbeda. Dalam perspektif ekonomi dan sosial, tentu saja dapat kita simpulkan bahwa bayi yang satu memiliki level yang sangat paradoks terhadap bayi yang lainnya.

Detik-detik terus berdentang, waktu telah memberikan pemaknaan dan pendidikan bagi mereka. Dimulai dari cara berpikir, sikap, hingga karakter telah diasuh dengan lengkap oleh lingkungan tempat mereka berada. Mereka dewasa sesuai dengan representasi dari posisi dilingkungan mereka sendiri. Namun kenyataan didunia memang seperti membuat sebuah teh, kadang  bisa manis dan kadang bisa pahit bergantung dari si pembuatnya sendiri. Semua bisa berubah setelah mereka dewasa, ada beberapa dari mereka yang menjadi “penerus” generasi sebelumnya, dan tidak menutup kemungkinan pula ada dari mereka yang menjadi “pengganti” generasi sebelumnya. Semua bergantung pada kesempatan hidup yang mereka punyai.

Percaya atau tidak, setiap manusia memiliki sebuah kesempatan untuk memilih jalan hidupnya. Boleh jadi Tuhan telah menentukan waktu dan posisi di dunia ini, namun Dia tidak menghalangi kita untuk memilih jalan kita sendiri.  Definisi jalan yang kita bicarakan disini sangatlah banyak. Dalam kitab suci, disebutkan bahwa ada dua jalan yang dapat dipilih manusia : jalan ketakwaan dan jalan kekufuran. Dalam dunia sosial-keprofesian, pun telah disebutkan bahwa manusia dibebaskan untuk memilih dalam ranah yang akan ia geluti : Public Sector (Goverment Legislators, Civil Servants, etc), Private Sector (Employee, Doctor, Lawyer, etc), dan Third Sector (NGO, Social Activist, etc). Sebenarnya masih banyak opsi jalan yang dapat ditawarkan, namun sekarang saya tidak ingin berfokus pada hal itu.

Berbicara mengenai kesempatan, manusia memiliki daya untuk memilih kesempatan yang akan dia ambil. Jadi sebuah kesempatan baru akan tereksekusi ketika ia telah memutuskan bahwa ia akan mengambil kesempatan itu. Jadi seorang dokter tidaklah akan menjadi seorang dokter sampai dia memang telah memutuskan bahwa ia akan mengambil kesempatan sebagai seorang dokter. Setelah itu, barulah ia melaksanakan berbagai upaya untuk meraih cita-cita yang telah diputuskan itu. Dia mengambil fakultas kedokteran, belajar anatomi tubuh, fisiologi tubuh, sistem indra, dan ilmu-ilmu lainnya yang menunjang core-competence nya sebagai seorang dokter dimasa depan. Begitupun seorang koruptor. Seorang koruptor tidaklah akan menjadi seorang koruptor sampai dia telah memutuskan bahwa ia akan menjadi seorang koruptor. Setelah ia memutuskan, barulah ia melakukan berbagai intrik picik dan liciknya dalam memanipulasi data dan publik untuk meraup apa yang diinginkannya. Dari kedua contoh yang kontradiktif ini, telah kita dapati bahwa takdir manusia itu baru benar-benar menjadi takdir setelah ia memutuskan untuk menelusuri jejak-jejak takdir itu. Dalam bahasa sederhananya seperti ini  : jika manusia itu bersungguh-sungguh, pasti dia akan mendapatkannya.

Sampai disini, terlebih dahulu saya ingin mengulang kata-kata seorang filsuf terkenal yang bernama Aris Toteles, “kita adalah apa yang kita perbuat”. Jadi, keadaan kita hari ini merupakan hasil keputusan-keputusan pengambilan dan eksekusi kesempatan yang kita lakukan dimasa lampau. Barangkali ada yang menjadi seorang yang sukses ataupun gagal, tapi kita harus berbesar hati bahwa memang inilah kita hari ini. Roda kehidupan  yang terus berjalan tanpa teriring dengan sebuah transformasi diri, maka kita sendiri yang akan tergilas oleh tantangan-tantangan baru didepan sana. Inilah saatnya mengenal kesempatan kedua.

Ini bukan berkaitan lirik lagu cinta, namun maknanya lebih besar dari itu. Setiap manusia memiliki kesempatan kedua didalam hidupnya. Kesempatan ini dapat digunakan setiap manusia untuk berubah menjadi lebih baik. Tidak peduli bagaimana keadaan kita saat ini, apakah sebagai seorang pecandu narkoba, sebagai pencuri, sebagai koruptor, atau identitas-identitas negatif lainnya yang mungkin melekat pada sebagian kita, Tuhan masih memberikan kesempatan kedua pada kita semua selama masa waktu kita. Tuhan tidak pernah bosan untuk menunggu kita untuk berubah walaupun Dia tetap memberikan kebebasan kita untuk memilih. Maka tidak akan kata terlambat untuk berubah selama kita masih bernapas.

Jadi, marilah kita sikapi perjalanan fasa-fasa hidup yang terjadi ini dengan bijak. Mungkin pernah suatu saat kita lunglai dan menyebabkan kita berlari menjauh dari mimpi kita. Atau pernah suatu saat kita jatuh karena tersandung batu-batu hambatan saat kita berlari menuju impian kita. Maka berhentilah sejenak! Berikan sedikit waktu pada pikiran kita, untuk bertafakur pada kejadian sekitar.

Sesaat setelah pikiran kita kembali sadar dan jernih, maka gunakanlah kesempatan kedua kita untuk kembali pada jalur yang benar jika kita salah jalan, dan kembali bangkit dari jatuh ketika kita tersandung oleh batu hambatan disekitar jalan kita tadi. Memang butuh waktu yang tidak sedikit untuk kembali jalan yang benar. Tapi saya tidak menemukan jawaban yang lebih baik dari itu ketimbang harus menghabiskan waktu untuk bersedih karena berlari pada jalan yang salah atau mengasihani diri sendiri sehabis jatuh. Lebih baik kita melakukan perubahan menjadi lebih baik walaupun sedikit, karena sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.[]

**

Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

**

(Tulisan ini merupakan hasil tadabbur ayat 53 Surah Az-Zumar semalam suntuk)

2 thoughts on “Kesempatan Kedua

  1. “Jadi, marilah kita sikapi perjalanan fasa-fasa hidup yang terjadi ini dengan bijak. Mungkin pernah suatu saat kita lunglai dan menyebabkan kita berlari menjauh dari mimpi kita. Atau pernah suatu saat kita jatuh karena tersandung batu-batu hambatan saat kita berlari menuju impian kita. Maka berhentilah sejenak! Berikan sedikit waktu pada pikiran kita, untuk bertafakur pada kejadian sekitar.

    Sesaat setelah pikiran kita kembali sadar dan jernih, maka gunakanlah kesempatan kedua kita untuk kembali pada jalur yang benar jika kita salah jalan, dan kembali bangkit dari jatuh ketika kita tersandung oleh batu hambatan disekitar jalan kita tadi. Memang butuh waktu yang tidak sedikit untuk kembali jalan yang benar. Tapi saya tidak menemukan jawaban yang lebih baik dari itu ketimbang harus menghabiskan waktu untuk bersedih karena berlari pada jalan yang salah atau mengasihani diri sendiri sehabis jatuh. Lebih baik kita melakukan perubahan menjadi lebih baik walaupun sedikit, karena sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.”

    Perlu waktu lama untuk memahaminya dalam keadaan tidak normal…but all of it, ten kyu…it mean much..bro..^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s