Makna Kebahagiaan

All happy families resemble one another, each unhappy family is unhappy in its own way. (Leo Tolstoy, “Anna Karerina“)

***

Kebahagiaan. Seperti kata Tal Ben-Sharar, pakar tentang kebahagiaan dari Harvard University, adalah “the ultimate currency.” Makridakis, Hogarth, dan Gaba sewaktu menyusun buku “Dance of Chance” memberikan kuisioner ke lebih dari 750 mahasiswa dan dosen dengan pertanyaan berikut, “Anggaplah ada jin yang bisa mengabulkan 1 permintaan, permintaan apa yang akan Anda ajukan?” Apakah permintaan yang muncul di tempat teratas? Bila Anda menebak “KEBAHAGIAAN”, Anda tidak salah: 64% responden memilih kebahagiaan. Urutan kedua sampai keempat – kesehatan, kemakmuran, dan sukses – sebenarnya bisa juga dilihat sebagai sarana menuju tujuan akhir, kebahagiaan.

Obsesi kita terhadap kebahagiaan tidaklah sulit untuk ditebak. Hampir semua yang kita lakukan adalah demi tujuan akhir tersebut. Coba jawab pertanyaan mudah berikut ini, “Apa yang Anda lakukan saat ini?” Anda sudah menjawab? Bagus. Lalu dari jawaban Anda tadi, tanyakanlah lagi, “Mengapa Anda melakukan hal tersebut” Untuk mendapatkan uang? Untuk kenaikan gaji? Agar kelihatan lebih menarik? Agar sehat? Apa pun jawaban Anda, tanyakan lagi “Mengapa Anda ingin mendapatkan uang/kenaikan gaji/kesehatan/tampil lebih cantik/dsb ?” Sudah tahu jawabannya? Tanyakan lagi terus pertanyaan di atas. Boleh bertaruh, dalam hampir semua kasus, jawaban atas pertanyaan berantai tersebut akan tiba di jawaban pamungkas “Agar saya bisa mendapatkan kepuasan hidup atau dengan kata lain: kebahagiaan.

Obsesi kita terhadap kebahagiaan juga melahirkan ratusan bahkan ribuan buku yang membahas tentang cara-cara menjadi bahagia; atau setidaknya menjadi sukses (dengan asumsi kesuksesan akan melahirkan kebahagiaan; sebuah asumsi akan coba kita uji dan bahas pada artikel berikutnya). Walau kebanyakan buku-buku tersebut ditulis dengan niat baik penulisnya, tidak ada salahnya Anda berhati-hati menerapkan saran-saran yang mereka ajukan karena kebanyakan buku tersebut tidak didasarkan atas kesimpulan yang kokoh. Kita tentu tidak usah meragukan para penulis tersebut adalah orang-orang bahagia yang berniat baik menyebarkan “rahasia” kebahagiaan mereka kepada orang lain. Namun sering apa yang bekerja dengan baik untuk penulis tersebut, tidaklah selalu sesuai dengan kondisi kita. Kesimpulan yang ditarik dari satu contoh (dari diri si penulis tersebut atau beberapa contoh keberhasilan individu lain yang dicomot dari buku lain) bukanlah konklusi yang kuat. Kesimpulan yang kuat harus ditarik dari ratusan sampel yang representatif dan tak tercemar data atau proses analisis yang bias (seperti survivorship atau confirmation bias). Kadang para penulis tersebut sering mengaburkan antara “sebab” dan “akibat”. Sebagai contoh: Apakah sukses melahirkan kebahagiaan? Atau kebahagiaan yang menyebabkan kesuksesan? Atau antara kebahagiaan dan kesehatan. Mana yang sebab, mana yang akibat?

Bhutan dan Jepang sama-sama merupakan masyarakat Buddhis. Tak perlu didebat lagi: Jepang jauh lebih makmur dari Bhutan. Namun dalam survei kebahagiaan internasional, Bhutan secara konsisten menempati urutan atas (bukan teratas, tetapi cukup atas), sementara Jepang menempati urutan bawah. Ambil juga Cina dan Hong Kong yang memiliki budaya dan tradisi yang relatif sama. Hong Kong jelas lebih makmur dari Cina, dan memiliki sistem politik yang lebih bebas. Namun dalam indeks kebahagiaan, kedua negara tersebut menempati posisi yang relatif sama. Survei yang dilakukan Ed Diener dan Martin Seligman juga memberikan perspektif lain: Tidak ada perbedaan signifikan dalam hal kepuasan hidup antara para milyuner yang masuk daftar orang-orang terkaya versi Fortune dengan suku Inuit yang tinggal di Greenland atau suku nomaden Maasai yang tinggal di Kenya dan Tanzania. Bayangkan, satu kelompok memiliki kekayaan berlimpah yang bisa membeli apa pun yang mereka inginkan; dan kelompok lain hanyalah suku yang memiliki harta apa adanya. Tetapi tingkat kebahagiaan mereka relatif sama! Malah kepuasan hidup suku Inuit dan Maasai masih lebih tinggi dari penduduk Swedia yang termasuk negara makmur.

Bila Anda menyimpulkan dari paragraf di atas bahwa uang tidak bisa memberi kebahagiaan, jangan menarik kesimpulan terlalu cepat. Ingat: kita harus belajar berpikir dengan lebih kritis. Swiss dan Denmark, dua negara maju secara konsisten tetap menempati urutan teratas dalam survei kebahagiaan internasional; sementara penduduk di negara seperti Irak atau penduduk miskin yang sehari-hari harus mengais sampah untuk mencari sesuap nasi masih menempati posisi yang jauh nun di bawah.

Maka perspektif kebahagiaan memanglah sederhana, namun kompleks dijelaskan dalam bahasa manusia. Ia menjelma didalam diri manusia, menjadikan raganya sehat, berpikir jernih, dan jiwanya tentram. Dua kata kunci memaknai kebahagiaan secara hakiki : Bersyukur dalam kenikmatan dan bersabar dalam kesusahan. Semoga Anda dapat menjadi orang yang berbahagia. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s