Kemelut Dampak Sistemik Globalisasi Pada Indonesia

Hernando de Soto, seorang pemikir ekonomi dunia asal Peru pernah menegaskan bahwa sejak proses globalisasi mulai berlangsung, kondisi kehidupan di hampir semua negara terkesan meningkat, apalagi jika diukur dengan indikator-indikator lebih luas. Namun, seringkali pula peningkatan itu hanya ada dalam hitung-hitungan di atas kertas. Negara-negara maju dan kuat memang bisa meraih keuntungan, tapi tidak negara-negara berkembang dan miskin.

Pengalaman sudah membuktikan sejak proses globalisasi bergulir muncul pula isu-isu seperti perdagangan global yang tidak fair, juga sistem keuangan global yang labil yang menelorkan krisis. Dalam kondisi tersebut, negara-negara berkembang dan miskin berulang kali terjebak jeratan utang yang justru jadi beban. Belum lagi bermunculan rezim hak properti intelektual, yang malah menghabisi akses masyarakat miskin untuk mendapat obat-obatan dengan harga terjangkau.

Dalam proses globalisasi, seharusnya uang mengalir dari negara kaya ke negara miskin. Tapi, dalam beberapa tahun terakhir, yang terjadi justru sebaliknya. Sementara negara-negara kaya memiliki kemampuan untuk menahan risiko fluktuasi kurs dan suku bunga, negara-negara berkembang dan miskin menanggung beban fluktuasi tadi.

Mari berkaca pada isu perjanjian AFTA yang kini menjadi dampak sistemik globalisasi, pada sektor ekonomi Indonesia. Sebenarnya AFTA merupakan peluang bagi negara ASEAN untuk berkompetisi secara fair memasarkan produk hasil negerinya. Namun dengan kehadiran Cina yang turut meramaikan perjanjian ini, menjadikan semua bangsa di ASEAN menjadi was-was, termasuk negara Indonesia.

Dengan kemampuan Cina menghasilkan produk yang sangat murah, Ekonom Indonesia benar-benar khawatir kalau produk dalam negeri ini tidak mampu bersaing dengan negara itu. Hal ini diperkuat lagi dengan adanya fakta, banyak industri pengrajin Indonesia yang bangkrut akibat tidak mampu bersaing dengan produk Cina. Padahal itu terjadi jauh sebelum AFTA diberlakukan.

Mari beralih pada sektor kehidupan yang lain. Jika tadi Hernando lebih berfokus dampak sistemik globalisasi sektor fiskal, maka Marshall Mc Luhan, seorang penulis buku Understanding Media, lebih berfokus pada dampak sistemik globalisasi pada sektor budaya. Dia mengatakan, bahwa kini semakin nyata saja imbas teknologi komunikasi pada berbagai sektor kehidupan.

Media massa global seperti CNN, MTV, CNBC, HBO, BBC, ESPN, dan lain-lain, telah menjangkau dan menembus yuridiksi berbagai negara. Setidaknya informasi itu sering dimaknai di dalamnya mengandung kebudayaan, maka terjadilah penyebaran budaya global. Media massa berperan sebagai kekuatan trend setter untuk isu-isu global, baik persoalan politik seperti HAM, lingkungan hidup, maupun terorisme internasional, hingga ke persoalan budaya dan gaya hidup.

Dampak sistemik ini telah kini telah sampai di Indonesia. Ada dampak positif dan ada dampak negatif. Dampak positifnya adalah semakin mudahnya kita mengakses berita internasional dalam real-time saat informasi itu baru didapatkan. Namun disisi lain, dampak negatif pun tak dapat dielakkan juga. Tampaknya telah terjadi pergeseran nilai-nilai norma kesopanan yang dahulu kita pegang teguh sebagai identitas negara kita. Saat ini banyak beredar film Indonesia berkedok komedi atau horor, namun sebenarnya lebih banyak menonjolkan adegan vulgar yang mengikuti budaya hidup orang barat.

Sebenarnya masih banyak lagi dampak sistemik globalisasi yang mempengaruhi sendi-sendi kehidupan bernegara kita. Namun yang terpenting adalah bukanlah mendaftar efek sistemik apa saja yang telah didapatkan Indonesia. Yang terpenting adalah kini sudah saatnya rakyat dan pemerintah Indonesia sadar, bahwa saat ini bukanlah lagi waktu untuk bersantai-santai dan memperlambat gerak pembangunan. Kalau ini terus dibiarkan, maka negara kita akan tergilas oleh dampak sistemik itu sendiri.

Dengan adanya arus globalisasi dunia ini, Indonesia dihadapkan pada hanya dua pilihan saja : memilih hal ini sebagai sebuah peluang atau sebagai sebuah hambatan. Peluang berarti setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk memanfaatkan situasi ini dalam menghidupi kehidupannya dengan baik, sedangkan tantangan berarti setiap orang diberi kesempatan untuk berkompetisi dan menunjukkan kemampuannya. Sudah saatnya Indonesia melakukan akselerasi pembangunan disegala sektor menghadapi tantangan era globalisasi yang sudah hadir di depan mata.

Proses globalisasi ini membuat dunia menjadi kian sempit seperti persis yang dikatakan Thomas L. Friedman didalam bukunya yang berjudul  The World is Flat. Jadi janganlah heran, jika kita dapat menemukan dengan mudah berbagai produk luar negeri yang beredar di seantero negeri kita.

Disamping itu, globalisasi pun telah membuat seakan negara satu dan lainnya kehilangan batas-batas jelas teritorialnya serta berujung pada hilangnya status “negara–bangsa”, yang sama persis seperti ramalan Profesor Kenichi Ohmae didalam bukunya yang berjudul The End of Nation State.

Proffesor Kenichi Ohmae telah mewanti-wanti sejak lama kepada semua negara yang ada di dunia bahwa ada empat “I” yang akan membawa dampak sistemik globalisasi ini. Keempat “I” tersebut adalah Industri, Investasi, Individualisme, dan Informasi. Jadi sudah seharusnya Indonesia mulai berancang-ancang terhadap empat “I” ini.

Sudahkan industri kreatif Indonesia dikembangkan secara optimal? Sudahkah penanaman investasi di berbagai sektor Indonesia telah dimaksimalkan? Sudahkah ada penanggulangan efek individualisme sebagai efek kesenjangan si kaya dan si miskin di Indonesia di lakukan? Dan sudahkah sektor informasi di maksimalkan hingga sampai di pelosok desa terpencil Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan milik pemerintah saja, tapi milik semua bangsa Indonesia. Mari kita saling bahu-membahu untuk menciptakan sebuah peluang di era globalisasi ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s