IPK Tinggi, Haruskah?

Alhamdulillah, selama 3,5 tahun berkuliah di ITB saya banyak belajar tentang makna kompetensi mahasiswa dan kaitannya dengan nilai indeks prestasi. Banyak hal yang ajaib terjadi. Pernah saya menemukan seorang mahasiswa yang kesibukan aktivitasnya luar biasa namun dia masih bisa memiliki IPK yang tinggi (standar IPK tinggi menurut saya : IPK > 2.9). Namun saya juga pernah menemukan seorang mahasiswa yang memiliki waktu sangat banyak untuk belajar namun IPK nya tidak terlalu memuaskan. Ada pula saya temukan, seorang mahasiswa yang memiliki IQ yang standar namun dapat memiliki IPK yang lumayan tinggi karena dia bersungguh-sungguh.

Dari beberapa fenomena ini, saya mencoba membuat sebuah hipotesis sederhana : Nilai IPK tidak ditentukan oleh seberapa banyak aktivitas yang dilakukan, namun Nilai IPK ditentukan dari seberapa kesungguhan seseorang yang mengetahui kapasitas dirinya untuk mencapai nilai IPK yang dia inginkan.

Dengan mengetahui kapasitas dirinya, ia bisa mengukur seberapa besar skala kesibukan aktivitasnya sehingga dia tidak mencederai ruang privatnya sebagai seorang mahasiswa dan ruang publiknya sebagai seorang aktivis. Sebenarnya mulai dari hal inilah muncul banyak excuse atau dalih seorang aktivis.  Dan  kalau diperhatikan lebih lanjut, sebenarnya dari sini kita juga dapat mengetahui seberapa tinggi ‘kelas’ aktivisnya.

Namun sekarang timbul pertanyaan menarik. Memangnya IPK tinggi itu buat apa ya? Apakah itu mempengaruhi kesuksesan saya? Mengapa kita harus bercapek-capek untuk mendapatkan IPK yang tinggi kalau misalnya itu tidak mempengaruhi kesuksesan saya? Inilah yang mau saya bahas di tulisan saya kali ini.

Sesuai dengan definisinya, indeks prestasi adalah nilai kredit rata-rata yang merupakan satuan nilai akhir yang menggambarkan mutu penyelesaian suatu program studi. Indeks Prestasi dihitung pada setiap akhir semester. Mungkin jika dianalogikan dengan zaman SD, SMP, dan SMA, indeks prestasi itu mirip dengan raport siswa.

IPK yang tinggi pun menjadi sasaran utama mahasiswa-mahasiswa agar memiliki akses yang lebih mudah dalam berbagai hal, dari perihal melamar beasiswa, program pertukaran pelajar, lamaran kerja di perusahaan bagus, melanjutkan jenjang lanjut hingga untuk “memuaskan” diri sendiri, orang tua, calon mertua, ataupun istri.

Namun tidak dapat dielakan pula ada mahasiswa yang sulit sekali mendapatkan IPK yang tinggi. Ada yang beralasan bahwa memang kemampuan intelektualnya (IQ) telah sampai pada batas maksimalnya, ada yang beralasan karena mereka memang malas untuk belajar, dan ada pula yang beralasan untuk hanya sekedar menunaikan amanah orang tuanya sehingga dia tidak memiliki effort yang tinggi untuk belajar.

Suatu saat saya pernah menemukan anekdot lucu, bahwa nilai IPK : 1-2 itu diperuntukan untuk calon-calon wirausahawan, nilai IPK : 2-3 itu diperuntukan untuk calon-calon karyawan, dan nilai IPK : 3-4 itu diperuntukan untuk calon-calon dosen. Terlepas benar apa tidak, tapi tampaknya memang trend-nya seperti itu.

Dewasa ini, paradigma seseorang (terutama di Indonesia) untuk melanjutkan studi hingga ke perguruan tinggi adalah agar cepat lulus dan mencari kerja. Sedangkan aspek fundamental lain yakni menjadi peneliti (researcher), inventor ataupun inovator hingga entrepreneur dibidang profesinya menjadi tujuan yang langka buat  para mahasiswa. Seyogianya seorang sarjana mampu menciptakan lapangan pekerjaan sebagai bentuk kontribusi bagi perkembangan ilmu, teknologi dan ekonomi masyarakat dan bangsa. Namun, tampaknya banyak perguruan tinggi saat ini memiliki sistem akademik yang cenderung hanya menjadi institusi “penyalur kerja“. [bersambung]

3 thoughts on “IPK Tinggi, Haruskah?

  1. assalamualaikum kak..
    dibagian mana ya kak biar saya bisa liat lanjutannya …
    penasaran dengan ceritanya…
    :)Jazakallah…

  2. sepertinya benar sekali BPk….benar Bok.kebanyakan mahasiswa beralibi mengenai IPK yang kurang dengan berbagai alasan…..menurut bpk selaku saya masih di bangku kuliah apa yang perlu saya bincangkan dengan kawan2 saya BPK.terima ksasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s