Ryan Apa Adanya [1]

Tahun 2006 adalah masa yang menyenangkan oleh Ryan. Tahun disaat Ryan mendapatkan tantangan mandiri di sebuah kota yang dipenuhi dengan kembang dan semilir angin sejuknya. “KOTA BANDUNG”, orang-orang disana mengatakannya. Tahun ini adalah momentum Ryan untuk pertama kalinya memakai jas almamater ITB.

“Kini aku sudah menjadi mahasiswa!!”, begitulah pekik didalam pikirannya.

Hari ini dia akan berkumpul bersama kawan-kawannya disebuah gedung Sasana Budaya Ganesa untuk dilantik secara resmi menjadi seorang salah satu civitas akademik institut terbaik bangsanya.

Waktu itu, Ryan masih ingat bahwa ia merupakan salah satu pemuda Kalimantan yang beruntung yang dapat duduk di Sabuga ITB bersama pemuda-pemuda lainnya. Ada perasaan membuncah didalam hatinya. Ada rasa senang karena dapat masuk fakultas idamannya, dan juga ada rasa sedih karena harus meninggalkan orang tuanya di Pulau seberang sana. Disana, Ryan melihat banyak tingkah laku calon teman-temannya. Di sela-sela ngantuknya mendengarkan Bapak Joko Santoso – sang Rektor ITB – sedang berpidato, dia coba melirik ke segala penjuru yang dapat dijangkau matanya.

Di satu sudut, Ryan melihat pasangan muda-mudi yang sedang asyik bercengkrama seolah ruangan besar sabuga ini hanya milik mereka berdua. Seandainya waktu Itu Ryan bisa berteriak, mungkin dia akan meneriakkan,

“Woi, Kalau pacaran jangan disini dong!”

namun sayang niat itu dia urungkan mengingat status dia yang hanya seorang mahasiswa diantara ribuan mahasiswa lainnya. Di sudut yang lain, ada orang yang sedang tertidur pulas tersandar lunglai diatas bangkunya. Dan di sudut terakhir dia lihat, ada juga ternyata bisa konsentrasi selama 2 jam  penuh memperhatikan pak Joko berkoar-koar.

Beberapa saat kemudian, ada selembar kertas berwarna merah yang disebar ke seluruh mahasiswa baru di sabuga. Entah dari mana asalnya. Dan surat itu akhirnya lewat juga di depan Ryan. Entahlah apa itu, tapi yang pasti kertas merah itu mengalihkan dunianya.

“Wah ternyata sebuah surat dari rektorat!”, itu jelas hatinya.

Apakah itu kabar baik atau bukan, Ryan belum tahu. Namun yang pasti itulah surat rektorat yang pertama dia dapatkan.

Bukan kepalang Ryan keheranan, ternyata surat itu berisikan larangan untuk mengikuti OSKM yang diadakan KM ITB. Isi surat itu tidak habis sampai disitu. Ryan melanjutkan lagi bacaannya. Walhasil, ditutuplah surat itu dengan adanya ancaman DO.

“Apaan ini! Drop Out! “

“Gila aja kalau aku yang baru beberapa menit lalu dilantik menjadi mahasiswa baru disini, langsung di DO gara-gara acara kayak ginian”, begitu koar didalam jiwanya.

Karena terbiasa tegas didalam dirinya, akhirnya Ryan memutuskan bahwa dia tidak akan ikut OSKM. Dia mungkin tidak faham bahwa OSKM akan mengubah diri dan karakternya menjadi lebih baik, tapi dia tahu benar kata “DO” bukanlah kata yang pantas disematkan dalam sederet sejarah hidup yang telah dia buat.

**

Beberapa menit kemudian berakhirlah acara itu. Ryan bergegas untuk keluar ruangan bersama teman-temannya yang lain.

“Hmph, hmph, hmph”

Ryan coba berdesak-desakan untuk keluar dari salah satu dari tiga pintu yang ada didalam Sabuga. Akhirnya langit biru diluar gedung Sabuga sudah terlihat. Ryan segera bergegas keluar untuk menampung sebanyak-banyaknya oksigen yang bisa dia hirup.

“Segar sekali rasanya kota Bandung ini!”, puas batinnya.

Sayang, kepuasan itu berlangsung hanya selama 2 detik pertama saat ia masih memandang langit. Saat ia mencoba mendaratkan pandangannya ke lapangan parkir, bulu kuduknya serasa bergidik. Ada sekumpulan orang-orang memakai jas almamater hijau berlambang gajah duduk. Ternyata mereka adalah panitia OSKM ITB 2006. Ada yang berambut gondrong, botak, dan afro membawa bermacam-macam bendera. Ada bendera yang bertuliskan “Keluarga Mahasiswa ITB” yang melingkar dalam logo Ganesa. Ada bendera-bendera lain yang bertuliskan PATRA, HMT, HME, HMIF, dan beberapa lainnya yang dia tidak kenal. Mereka semua tampak menjadi pagar di sisi kiri dan kanan ruas jalan seolah mencoba melindungi dan membimbing semua mahasiswa baru pada sebuah tempat. Beberapa saat kemudian, berlarilah seorang pria membawa pengeras suara yang naik disebuah podium yang terbuat dari kayu.

ITB”, serunya. Suaranya seolah menggelegar membelah langit.

ITB, ITB, ITB”, balas sahutan menyambar dari kawanan sekitarnya.

“Mari kita nyanyikan sebuah lagu untuk menyambut kawan-kawan mahasiswa kita yang baru keluar dari gedung Sabuga”, lelaki di podium itu berteriak-teriak layaknya orator ulung.

Dan kawanan disekitarnya mulai mendendangkan sebuah lagu. Sebuah lagu yang asing di telinga Ryan. Sebuah lagu yang pertama kali dia dengar saat menginjakan kakinya di ITB. Lagunya sederhana, namun sarat makna akan makna kebangsaan dan kemahasiswaan.

Kampusku, rumahku
Kampusku, negeriku
Kampusku, kebebasanku
Kampusku, wahana kami

Di sana kami dibina
Menjadi manusia dewasa
Namun kini apa yang terjadi
Ditindas semena-mena

Berjuta rakyat menanti tanganmu
Mereka lapar dan bau keringat
Kusampaikan salam-salam perjuangan
Kami semua cinta cinta Indonesia

Kaumku mahasiswa
Di mana kini kau berada?
Belenggu di sisi kirimu
Penjara di sisi kananmu

Berjuta rakyat menanti tanganmu
Mereka lapar dan bau keringat
Kusampaikan salam-salam perjuangan
Kami semua cinta cinta Indonesia
Kusampaikan salam-salam perjuangan
Kami semua cinta cinta Indonesia

Bersamaan dengan selesainya lagu itu, sampai pula-lah Ryan pada ujung pagar manusia itu. Kini Ryan sampai di pinggir jalan raya. Dalam diamnya, dia sedikit bertanya, “Apa aku ikut saja acara ini!”. Entah itu adalah sebuah idealisme atau bukan, tetapi yang pasti itu muncul begitu saja terlebih setelah mendengarkan lagu tadi. Namun otak rasionalnya berkata lain.

“Kamu ingin di ‘DO’ Ryan?”

Otak rasionalnya menghantui dan menyelimuti pikirannya. Jika ibarat perang, mungkin saat ini Ryan mengalami perang batin. Perang antara rasionalisme dan idealismenya. Tampaknya idealisme Ryan harus kalah kali ini. Ryan telah memastikan bahwa dia tidak akan pernah ikut OSKm. Mulai hari itu. Dan tentu saja juga di hari-hari berikutnya. Maafkan Ryan, KM ITB.

One thought on “Ryan Apa Adanya [1]

  1. semoga apa yg kamu cita-citakan menjadi kenyataan. wajah mu yg menunjukkan ketulusan, semoga membawa mu pada kebahagiaan yg hakiki. saya suka semua tulisan km.
    salam persahabatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s