Rahasia Ruang Tidur Kita

“Sekarang bayangkanlah, Anda membuka daun pintu kamar seseorang dan mulai memasukinya. Anda cukup terkejut dengan pemandangan sekitar Anda. Dipojok sana, Anda melihat sebuah tempat tidur yang terbalut dengan bed cover yang rapi, dengan bantal dan guling yang tertata secara rapi. Kemudian Anda menolehkan pandangan Anda kesisi yang lain. Anda melihat buku-buku yang tersusun rapi diatas rak dan terurut ukurannya, dari besar ke kecil. Kemudian, pandangan Anda kembali beralih. Kini Anda dihadapkan pada sebuah lemari pakaian yang terbuka. Disana Anda melihat tumpukan pakaian yang tersetrika dengan rapi dan harum. Sekarang saya ingin bertanya, kira-kira bisakah Anda memperkirakan bagaimana karakter si penghuni kamar tersebut sekalipun Anda belum pernah bertemu atau kenal dengan orang tersebut?”

Percaya tidak kalau seandainya saya bisa menebak seperti apa Anda, karakter Anda, sikap Anda, ketika saya diizinkan untuk melihat keadaan kamar Anda? Faktanya, hampir sebagian besar manusia dimuka bumi ini mampu memberikan sebuah persepsi atau intuisi untuk menebak karakter seseorang hanya dengan melihat keadaan kamarnya atau kantornya. Bersih atau kotor, rapi atau berhamburan, harum atau bau, semua mengarah pada penentuan karakteristik seorang penghuninya.

Pada awalnya ini sulit dijelaskan secara Ilmiah. Secara logis, seharusnya seorang manusia baru bisa mengenal manusia lainnya setelah mengalami interaksi beberapa kali. Setelah mengenal, barulah bisa mengenai karakter mereka.  Intinya seperti ini, semakin lama kita bersama orang yang kita kenal, makin banyak pula informasi yang kita himpun, yang membuat kesimpulan kita semakin matang. Sampai saat itu tiba, barulah kita bisa men-judge karakter seseorang. Namun anehnya kadang-kadang kita bisa menentukan karakter seseorang hanya dengan melihat-lihat isi kamarnya. Mengapa demikian?

Di dalam bukunya yang berjudul Blink, Malcolm Gladwell bercerita tentang kegiatan seorang psikolog, Samuel Gosling, yang melakukan penelitian untuk mengukur keefektifan penilaian terhadap kepribadian seseorang. Gosling memulai eksperimennya dengan melakukan penelitian kepribadian terhadap delapan puluh mahasiswanya. Untuk ini, ia menggunakan yang disebut Big Five Inventory, sebuah angket panjang sangat terkenal yang mengukur orang pada lima dimensi:

  1. Extraversion, Apakah Anda senang bergaul atau menyendiri? Senang menarik perhatian orang atau lebih suka diam?
  2. Agreebleness, Apakah Anda lebih muda percaya atau mudah curiga? Senang membantu atau enggan bekerja sama?
  3. Conscientiousness, Apakah Anda orang yang tertib atau urakan? Punya disiplin diri atau mudah dipengaruhi?
  4. Emotional stability, Apakah Anda mudah cemas atau tenang? Merasa tidak aman atau percaya diri?
  5. Opennes to new experiences, Apakah Anda adalah orang yang kreatif atau praktis? Mandiri atau terikat pada himpunan?

Selanjutnya Gosling meminta teman dekat kedelapan puluh mahasiswa itu mengisi angket yang sama. Ketika teman-teman kita menilai kita berdasarkan metode di atas, Gosling ingin tahu, seberapa dekat mereka dengan kebenaran penilaian karakternya? Jawabnya tidak mengejutkan, adalah bahwa teman-teman kita dapat bercerita tentang kita secara cukup akurat.

Mereka mempunyai cuplikan tebal dalam pengalaman bersama kita, dan itu diterjemahkan dalam pemahaman yang sesungguhnya tentang kita. Selanjutnya Gosling mengulang proses itu, namun ia tidak menggunakan teman dekat lagi. Ia menggunakan orang yang benar-benar asing, yang belum pernah dikenal oleh mahasiswa itu. Yang mereka periksa adalah kamar asrama para mahasiswa. Gosling memberikan sebuah clipboard kemudian menyuruh mereka melihat-lihat kamar seorang mahasiswa selama lima belas menit dan menjawab sejumlah pertanyaan sangat mendasar tentang penghuni kamar itu.

Bagaimana hasil kerja mereka? Walaupun penilaian akurat terhadap dimensi Extraversion and Agreeableness. Hal ini masihlah wajar. Akan tetapi untuk tiga poin berikutnya dalam the Big Five, orang asing yang membawa Clipboard lebih unggul. Mereka lebih akurat dalam mengukur conscientiousness, dan mereka jauh lebih akurat dalam memprediksi kemantapan emosi maupun keterbukaan terhadap pengalaman baru. Maka, kalau ditimbang-timbang, orang-orang asing itu terhitung memberikan hasil yang lebih baik. Yang disiratkan dari cerita ini adalah bawah orang yang belum pernah bertemu kita sekalipun dan hanya diberikan waktu selama beberapa menit memikirkan kita tidak mustahil memberikan pemahaman lebih baik tentang kita dibanding orang yang telah mengenal kita selama bertahun-tahun. Inilah yang disebut oleh Malcolm sebagai cuplikan tipis. Cuplikan tipis (thin slicing) merujuk pada kemampuan bawah sadar kita untuk memahami cepat dan menemukan pola dalam situasi dan perilaku berdasarkan waktu yang sangat singkat.

Akhirnya Gosling menyimpulkan bahwa setidaknya kamar tidur seseorang memberikan tiga macam petunjuk tentang kepribadian pemiliknya. Yang pertama adalah jatidiri yang diharapkan (identity claims), yakni sebuah ekspresi yang sengaja ditampakkan pada dunia untuk menunjukan siapa diri kita. Misalnya ada orang yang menaruh piagam penghargaan kepada dirinya yang ditempel di dinding kamarnya. Selanjutnya adalah ciri dasar pelaku (behavioral residue), yang didefinisikan sebagai petunjuk tidak sengaja tentang perilaku asli seseorang. Misalnya cucian kotor dilantai atau paket CD yang tertata rapi pada tempatnya. Dan yang terakhir adalah pengatur pemikiran (thought and feeling regulators), yakni perubahan-perubahan yang kita sengaja terhadap kamar kita untuk mempengaruhi perasaan dan pikiran kita sewaktu berada disana. Misalnya ditandai dengan adanya dekorasi tertentu yang menghiasi kamar kita, pengharum ruangan, atau warna cat.

Maka kembali pada cuplikan saya diawal tulisan ini, tidak heran kita dapat mengetahui aspek-aspek tertentu kepribadian pemilik kamar itu cukup hanya dengan melihat bagaimana keadaan kamarnya. Mari sekarang kita berkaca pada kamar diri sendiri dan nilailah secara objektif. Jika Anda terlalu sibuk dan tidak sempat menganalisis diri Anda, maka berhentilah sejenak dan lihatlah ruang tidur Anda! Gunakan kemampuan berpikir tanpa berpikir : “Blink” yang Anda miliki. Perhatikan dengan seksama, hingga nanti Anda akan tahu bahwa ruang tidur Anda memiliki rahasia. Temukan sendiri rahasianya.[]

One thought on “Rahasia Ruang Tidur Kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s