Gagasan menuju Satu Dalam Kemandirian

*Oleh : Ryan Alfian Noor TM 06

Majelis Wali Amanat merupakan organ tertinggi institut yang memberikan arah bagi pengelolaan institut. Peran MWA bersama 3 pilar lain, yaitu Majelis Guru Besar, Senat Akademik, dan Rektor memiliki peran penting untuk menjaga keberjalanan institut dalam arah yang disepakati bersama. Olah karena itu, jatah satu kursi wakil mahasiswa dalam MWA, merupakan posisi strategis dan menguntungkan apabila mampu dikelola dan didukung dengan infrastruktur memadai menuju kemandirian ITB.

ITB BHMN kini telah melewati masa sembilan tahunnya. Jika lima tahun pertamanya, diwarnai dengan berbagai perubahan-perubahan terkait dengan struktur akademik, pendanaan, dan arah pengembangan. Empat tahun terakhir, sebagai tahun kelima, menjadi waktu yang krusial, karena berbagai kebijakan-kebijakan yang telah dikeluarkan selama empat tahun sebelumnya, mulai diimplementasikan tahun kelima.

Kini ITB semakin matang melakukan proses transformasi secara menyeluruh. Jajaran rektorat juga berganti dengan pemilu Rektor pada tahun 2009 yang lalu, seiring dengan pergantian kepengurusan MWA pada tahun 2010 ini. Hal ini merupakan awal yang baik untuk membangun satu kesatuan MWA ITB menuju kemandirian ITB.

Berawal dari banyaknya pekerjaan rumah yang telah diselesaikan beberapa pada MWA WM masa sebelumnya, mulai dari pengawasan serius atas beberapa transisi kebijakan ITB agar tetap berpihak pada eksistensi gerakan mahasiswa hingga terus membangun sense keberadaan MWA WM ITB di dunia kemahasiswaan ITB, agar apa yang dibawa oleh MWA WM ITB itu benar-benar merupakan satu kesatuan aspirasi dari mahasiswa ITB. Maka lahirlah lima misi yang akan saya bawa sebagai MWA WM ITB yang terpapar sebagai berikut :

1. Membentuk soliditas dan kompetensi tim MWA WM ITB

Hal pertama yang penting untuk dilakukan adalah membangun tim MWA WM ITB yang baik adalah dengan membentuk soliditas dan kompetensinya. Tentu saja upaya ini tidak hanya berpihak pada kualitas, namun juga difokuskan terhadap kuantitas yang dijalankan secara simultan.

Kualitas yang baik ditunjukan dengan adanya penurunan nilai, bekal, evaluasi dan keberlanjutan tugas dari para tim MWA WM ITB periode sebelumnya. Hal ini akan meningkatkan efektivitas dan efesiensi pembentukan soliditas dan kompetensi dari tim MWA WM ITB itu sendiri. Untuk itu, diperlukan jalinan silahturami yang baik antara tim MWA WM ITB yang baru dan yang lama supaya terjadi kontinuitas dan kesatuan gerakan.

Kuantitas yang baik ditunjukan dengan adanya penambahan jumlah partisipan yang ingin bergabung dengan MWA WM ITB itu sendiri, sesuai dengan proporsi jumlah sumber daya manusia yang memang diperlukan. Telah menjadi evaluasi bagi keberjalanan tim MWA WM ITB dua tahun kebelakang, jumlah partisipannya masih belum optimal untuk memaksimalkan kerja tim MWA WM ITB untuk mengkaji isu dan menyaring berbagai aspirasi dari mahasiswa. Untuk itu, diperlukan gebrakan-gebrakan baru untuk meningkatkan minat dari mahasiswa untuk bergabung dengan tim MWA WM ITB.

2. Mencerdaskan dan melakukan penarikan aspirasi secara masif pada masa kampus terkait dengan isu yang akan dibawa tim MWA ITB

Adanya isu  penentuan kebijakan ITB hanya akan menjadi bahan yang ‘melangit’ di dunia MWA ITB ketika tidak ada atau minimnya pencerdasan dan penarikan aspirasi dari MWA WM ITB. Padahal seharusnya MWA WM ITB-lah haruslah melakukan hal demikian untuk mengakomodasi kepentingan mahasiswa yang tetap berada pada jalur paradigma kemasyarakatan. Untuk itulah, MWA WM ITB beserta timnya harus melakukan pencerdasan dan melakukan penarikan aspirasi secara masif pada masa kampus agar keberadaan MWA WM ITB benar-benar terasa kebermanfaatan dan keberadaannya.

Pencerdasan hanya dapat dilakukan dengan komunikasi yang masif antara tim MWA WM ITB dengan mahasiswa melalui simpul organisasi kemahasiswaan yang ada di ITB yang dalam hal ini disebut dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing.

Pengalaman beberapa tahun kebelakang, metode “menunggu bola” telah dinilai kurang efektif untuk melakukan pencerdasan. Untuk itu diperlukan metode baru untuk melakukan pencerdasan dengan metode “menjemput bola”. Metode ini dapat dilaksanakan dengan adanya tatap muka secara langsung dari pihak MWA WM ITB sendiri dengan pihak simpul organisasi kemahasiswaan ITB baik secara formal maupun informal secara periodik dan pengoptimalan update informasi terbaru dari MWA ITB melalui literasi dalam media cetak maupun media maya yang ada di ITB.

Penarikan aspirasi mahasiswa yang aspiratif hanya bisa dilaksanakan ketika mahasiswa yang bersangkutan sudah merasakan ‘kedekatan’ tim MWA WM ITB disekitar mereka. Belajar dari buku Tipping Point karangan Malcolm Gladwell, perlu diciptakan suatu momentum kritis untuk menciptakan epidemi sosial terhadap mahasiswa ITB agar lebih melek untuk memberikan aspirasinya terhadap isu kebijakan yang dibawa oleh tim MWA ITB.

3. Meningkatkan bargaining position MWA WM ITB dalam penentuan dan advokasi kebijakan ITB

MWA WM ITB harus bisa menaikkan bargain position di mata MWA ITB dengan membawa aspirasi mahasiswa dengan kelengkapan dan kevalidan data. Dengan adanya bargaining position (daya tawar) yang cukup tinggi dari MWA WM ITB, diharapkan MWA ITB bisa lebih memperhitungkan keberadaan perwakilan mahasiswa di tingkat MWA ITB untuk menentukan kebijakan-kebijakannya. Terlepas dari segala kekurangannya, kepengurusan MWA WM ITB beberapa tahun sebelumnya telah memberikan bargaining position yang cukup tinggi di MWA ITB, sehingga kepengurusan MWA WM ITB di periode selanjutnya harus mempertahankan dan lebih meningkatkannya. Untuk itu diperlukan pengkajian isu yang mendalam disertai dengan keilmiahan data yang mendukungnya.

Tidak berakhir sampai di level penentuan kebijakan, tidak menutup kemungkinan ada pula kebijakan yang telah ada untuk di advokasi. Sesuai definisinya, advokasi adalah usaha untuk mempengaruhi kebijakan publik melalui bermacam-macam bentuk komunikasi persuasif. Bisa jadi, ada beberapa kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada mahasiswa dan masyarakat. Disinilah peran tim MWA WM ITB yang bersatu dengan para mahasiswa untuk mengkritisi dan memberikan usulan solusi yang dapat dijadikan bahan pertimbangan MWA ITB untuk menganalisis kembali kebijakan tersebut untuk kemudian diamandemen.

4. Sinergisasi dengan seluruh elemen kampus ITB

Setiap elemen kampus ITB memiliki potensi yang sangat besar dan saling komplementer untuk dapat disinergisasikan. Namun terkadang tidak ada jembatan penghubung antara subjek pembuat kebijakan dan objek pembuat kebijakan sehingga potensi ini masih belum terlihat. Disinilah peran MWA WM ITB untuk menjembatani kebutuhan para subjek pembuat kebijakan yang dalam hal ini adalah MWA ITB dan objek pembuat kebijakan yang dalam hal ini adalah mahasiswa.

Selain memberikan bargaining position yang tinggi, MWA WM ITB harus bisa memberikan tawaran-tawaran konkret yang terkait dengan pemetaan potensi mahasiswa untuk melangkahkan kaki menuju visi ITB yang mandiri bersama. Untuk itu, MWA WM ITB dan Kabinet KM ITB harus melakukan komunikasi yang kuat antar elemen ITB yang diparalelkan dengan pemahaman dan rasa saling percaya satu sama lain.

5. Membangun hubungan MWA WM antar Kampus Indonesia

Menjadi sebuah keniscayaan, bahwa MWA WM di seluruh kampus di Indonesia memiliki benang merah tugas yang sama, yaitu menjadi pembawa aspirasi mahasiswa di tingkat MWA kampusnya. Saat ini, telah ada tujuh kampus yang telah memiliki status sebagai BHMN yaitu UI, UGM, ITB, IPB, UPI, USU, dan Unair, namun belum pernah ada suatu hubungan formal yang dibangun antar tim MWA WM tersebut guna saling bertukar informasi, sarana diskusi yang efektif, serta menjadi cikal bakal penyamaan sikap tertentu oleh MWA WM seluruh Indonesia terkait dengan kebijakan pemerintah yang terkait dengan dimensi institusi pendidikan.

Sebagai tim MWA WM yang ‘dituakan’ oleh berbagai kampus BHMN seluruh Indonesia, tim MWA WM ITB memiliki peluang untuk menginisiasi terbentuknya wahana berkumpulnya para MWA WM ITB dalam satu tempat untuk saling berelaborasi dan bertukar pikiran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s