Titik Terang Pemberantasan Korupsi Negara Indonesia

Sebenarnya Mochtar Lubis telah mengingatkan kepada bangsa kita sejak lama, bahwa manusia Indonesia itu memiliki ciri-ciri berjiwa feodal, hipokrit, boros, dan enggan bertanggung jawab. Kita boleh percaya atau tidak, namun realita bangsa ini telah menjawabnya dengan tegas, bahwa bangsa kita masih belum berubah. Dari dulu hingga sekarang, bangsa Indonesia masih memiliki ciri yang sama seperti argumentasi penulis buku ‘Manusia Indonesia’ tadi.

Pembangunan Indonesia di sektor politik, ekonomi, hukum, sosial, dan sektor-sektor lainnya tidak diiringi dengan reformasi ciri manusia Indonesia yang telah membudaya tersebut. Maka tidak heran terjadi kesimpangsiuran perilaku manusia Indonesia yang berada diluar norma dan etika yang telah dipegang oleh bangsa timur kita. Dari sinilah tumbuh tunas-tunas perilaku tindak korupsi yang merajalela dalam segala sektor di Indonesia.

Dengan bertambahnya pengaruh bangsa lain dengan tajuk globalisasi, tindakan korupsi di Indonesia berkembang dan menjadi sebuah sistem yang sistemik dan berpola. Layaknya seperti gunung es yang semakin mengerucut ke permukaan, sistem koruptif ini telah terbentuk dengan baik sehingga kalaupun ada kasus korupsi yang terkuak, maka itu baru permukaan puncaknya saja. Perlu kerja yang sangat keras dan cerdas untuk menggerogoti sistem koruptif yang tersistem sejak lama ini hingga ke akar-akarnya.

Kini, korupsi telah menjadi hal yang akrab dalam keseharian kita semua. Korupsi bukanlah hal melangit yang hanya terjadi pada tingkat pemerintahan saja. Tetapi korupsi pun merupakan hal membumi yang terjadi di lingkungan sekolah, kampus, dan masyarakat kita. Bedanya, di tataran vertikal, sistem koruptif elit pemerintahan terekayasa dengan baik sehingga tindakan korupsi dapat dimainkan dengan ‘cantik’ tanpa diketahui masyarakat. Sedang ditataran horizontal masih berada dalam taraf sedang-sedang saja, dalam artian tidak terlalu sistematis, sehingga mudah dideteksi dengan cepat oleh masyarakat sekitar dan segera di tindak. Maka tidak salah jika pemberantasan masalah korupsi di tataran pemerintahan sangat sulit, bukan hanya karena faktor manusianya, namun juga ditambah dengan sistem koruptifnya yang sangat rapi.

Pemberantasan korupsi di Indonesia telah dilakukan sejak orde lama, orde baru, reformasi, dan bahkan hingga ini. Walaupun terjadi pasang-surut dalam perjalanannya, titik-titik terang pemberantasan korupsi di Indonesia semakin terlihat. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai peraturan perundang-udangan yang terus di perbaharui, sejalan dengan evaluasi keberjalanannya. Selain itu, dibentuk pula sebuah komite yang independen yang fokus pada pencegahan, penyelidikan, dan penuntutan tindakan korupsi di Indonesia, bernama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Jika ditilik lebih lanjut tentang titik terang pemberantasan korupsi ini, ternyata kinerja KPK mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun sejak didirikannya. Kendati demikian, KPK tidak akan pernah bisa optimal tanpa peran serta masyarakat untuk melaporkannya. Masyarakat ini terdiri dari para pelaku di berbagai sektor, baik disektor publik, swasta, dan ketiga, pelaku LSM, aktivis mahasiswa, dan media. Semua harus berjalan secara komprehensif dan berelaborasi menanggulangi permasalahan ini.

Semua elemen dan stakeholder yang terkait didalamnya harus bersatu, karena bukan hanya sistem koruptif yang tertata rapi yang harus dihadapi, namun juga budaya bangsa Indonesia yang menjadi titik akar permasalahannya. Dengan adanya progresivitas semua hal tadi, bukanlah hal yang tidak mungkin titik-titik terang ini terus membesar membentuk sebuah celah cahaya harapan untuk membangun Indonesia yang bebas dari korupsi.

Sistem yang koruptif tersebut hanya bisa direduksi dengan tindak deteksi dan aksi stakeholder yang terkait. Tindak deteksi dapat dilakukan dengan pengoptimalan jejaring intelejen dan penggunaan teknologi untuk mencegah tindakan korupsi. Tindak aksi dapat dilakukan dengan tindakan represif serta rehabilitasi pada mafia hukum, politik, ekonomi, dan lainnya.

Budaya bangsa kita yang seperti disebutkan oleh Mochtar Lubis diawal tulisan ini pun, sebenarnya bisa kita ubah, jika kita mau merenung tentang sejarah negeri kita sendiri. Tampaknya kisah bangkitnya negeri Jepang sepertinya cocok untuk dijadikan pelajaran buat bangsa Indonesia. Jepang yang waktu itu telah di bumihanguskan oleh Amerika, memiliki tugas untuk membangun puing-puing negaranya kembali menjadi sebuah negara. Bangsa Jepang mengetahui sekali bahwa mereka harus menanamkan budaya bekerja keras dan disiplin kalau mereka mau maju. Dengan credo ’bushido’ yang mereka miliki, mereka berusaha membangun identitas dan integritas diri mereka sebagai bangsa yang mau menjadi lebih baik. Walhasil, kini Jepang termasuk kedalam salah satu negara industri yang sangat disegani bangsa lainnya.

Falsafah bangsa kita seperti kebersamaan, kekeluargaan, gotong royong, tolong menolong, tenggang rasa/tepa selira serta ramah-tamah ini, seharusnya menjadi motor utama gerak kita untuk dapat berubah menjadi bangsa yang lebih baik dan bermartabat dimata seantero dunia ini. Memang tidak sebentar prosesnya, namun ini hanyalah masalah waktu.

Akhirnya, jangan sampai kita malu pada bangsa kita sendiri, seperti persis dengan apa yang telah disampaikan Taufiq Ismail didalam puisinya yang berjudul Malu Aku Jadi Orang Indonesia: Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata, dan kubenamkan topi baret di kepala, malu aku jadi orang Indonesia.[]

.

*hasil (iseng) penulisan resume dari mata kuliah Tindakan Anti Korupsi ITB dari tiga kali pertemuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s