Pelajaran Dari Dua Kisah Manusia

Saat ini, pikiran saya tercelup pada memori lembaran sejarah manusia yang lebih lampau lagi. Ibarat buku, memori otak saya sedang membuka kembali bab ingatannya pada api sejarah-sejarah kehidupan pemuda yang telah mengguncang dunia. Sebenarnya ada banyak pemuda yang berkelibat di otak saya. Namun dengan metode ‘blink’ yang saya bisa saya gunakan, saya mulai mereduksi jumlah pemuda-pemuda itu tadi hingga menjadi dua orang saja. Dari kisahnya nantilah saya mendapatkan beberapa pelajaran yang penting, setidaknya untuk saat ini.

Yang pertama adalah Alexander Yang Agung. Namanya tentunya familiar dengan orang-orang pengagum sejarah kerajaan-kerajaan kuno Eropa. Atau jika Anda pernah membaca buku “100 orang yang berpengaruh di dunia”, pasti Anda akan mendapatinya di urutan 50-an kebawah, saya lupa pastinya. Alexander adalah pemimpin mahakerajaan Makedonia yang menguasai tiga benua sekaligus, Asia, Afrika dan Eropa pada umur 20 tahun selama kepemimpinannya dalam waktu 13 tahun.

Selidik punya selidik, ternyata di balik besarnya kharismatik Alexander ini, ada seorang guru yang berperan besar dalam me-mentoring dia agar dapat menjadi seseorang dengan keahlian pengetahuan dan filosofi yang mumpuni. Siapakah nama guru tersebut? Saya yakin semua pasti tahu Aristoteles. Dialah yang menjadi sutradara kesuksesan dari aktor Alexander yang Agung tersebut.

Alexander meninggalkan banyak karya-karyanya untuk menjadi pelajaran masa diepan bagi pemuda-pemuda dunia. Suatu saat pernah Alexander berjalan di sebuah daerah di dataran gurun di mesir dan terpaku pada keindahan kota itu. Alexander jatuh cinta dengan daerah perkotaan itu dia abadikan menjadi kota yang hampir mirip dengan namanya, Alexandria. Hingga kini, kota Alexandria masih tetap kokoh berdiri dan menjadi sumber inspirasi bagi pemuda-pemuda dunia.

Saya tidak habis pikir, kok bisa-bisanya pemuda yang seumuran saya itu menjadi seorang raja yang memimpin imperium dunia, sedangkan saya, hingga detik ini belum menjadi manusia apa-apa, bahkan hanya temangu dalam rekreasi intelektual di depan laptop dan mencoba berdansa lewat jari yang menyentuh tuts keyboard-nya. Langka sekali populasi pemuda dengan karakter seperti ini di muka bumi.

Lain lagi dengan cerita Alexander, orang kedua yang saya soroti adalah seorang pemuda yang berasal dari dinasti dataran Cina atau Tiongkok. Namanya adalah Pu Yi. Siapakah dia? Beberapa dari Anda pasti tidak tahu siapa dirinya. Untuk mengetahui informasinya, Anda perlu mencari informasi orang yang bernama ‘Pu Yi’ di google atau search engine semacamnya.

Tapi kali ini, saya akan berbaik hati memberitahu Anda siapakah dirinya. Pu Yi adalah Kaisar pada zaman dinasti Qing China sebelum kelompok revolusioner Sun Yat Sen melancarkan revolusi pada abad ke-18 dan sekaligus menjadi raja terakhir era kekaisaran Tiongkok yang telah bercokol lebih 2000 tahun lamanya.

Pu Yi menjadi seorang kaisar pada umur 2 tahun 10 bulan. Saya ulangi sekali lagi ya, 2 tahun 10 bulan. Fantastis bukan? Seorang ‘anak kecil’ menjadi raja yang harus mengurusi rakyat yang jumlahnya paling banyak dimuka bumi ini. Saat menjadi raja, dia diberi gelar Xuan Tong oleh jajaran istananya. Pu Yi menjalankan kehidupan masa kanak-kanaknya dengan tidak menyenangkan. Sebagai seorang kaisar, Pu Yi diberlakukan layaknya seorang Dewa. Ketika kaisar lewat, semua rakyatnya diharuskan untuk menunduk hingga selesai lewat dan tidak diperbolehkan sama sekali melihat dirinya.

Dapat dibayangkan, bagaimana kepemimpinan dinasti dipegang oleh seorang kaisar yang berumur dua tahun. Kekaisaran langsung melemah dan taji kepemimpinan Pu Yi tidak terlihat sama sekali. Pu Yi tumbuh menjadi seorang kaisar pemuda yang hidup dalam suasana kemewahan tanpa adanya transfer ilmu pengetahuan dan kepemimpinan dari seorang guru. Dalam masa mudanya, ia sempat menikahi dua orang perempuan dan menjadi pecandu opium.

Sayang sekali, dengan kemegakuasaan dinasti Qing yang mencapai hampir di seantero dataran China tidak sama sekali terkelola dengan baik oleh Pu Yi. Dalam masa kepemimpinannya tidak terlihat sebuah karya yang berarti, alih-alih para kaum pemberontak semakin bergelora untuk bangkit meruntuhkan kedigdayaan dinasti tersebut.

Walhasil, Pu Yi mati dalam keadaan keterasingan dan nir-karya. Satu-satunya prestasi yang dia catatkan dalam sejarah kehidupan manusia di bumi ini hanyalah menjadi kaisar terakhir dari dinasti Qing. Tidak kurang dan tidak lebih. Itupun tidak mungkin dia dapatkan kalau saja dinasti di China tidak menggunakan Merit System (Sistem Keturunan) untuk meregenerasikan pemimpin kerajaannya.

Kalau berkaca pada kisah Pu Yi, rasanya cerita ini lebih realistis jika dikaitkan dengan kehidupan pemuda-pemuda dunia masa kini. Kalau kisah Alexander itu langka, maka kisah Pu Yi ini terlalu epidemik.  Betapa banyak pemuda yang lahir dari seorang pejabat publik, politisi, atau pengusaha, yang larut dalam kemewahannya sehingga dia lupa dengan potensi dirinya yang besar untuk mencetak sejarah dunia dimasa hidupnya. Mereka terlalu terlena pada keadaan, sehingga lupa pada teori siklus peradaban Ibnu Khaldun, dimana ada masa keemasan pasti ada masa keruntuhan.

Mari kita belajar dari dua kisah tadi, kisah Alexander dan Pu Yi. Mereka telah menjadi pelajaran praktis bagi pemuda-pemuda yang hidup setelahnya. Sejarah mereka mencoba berbisik pada telinga kita bahwa kebanyakan pemuda saat ini adalah cupu, cemen, mental kuli, dan pengekor. Mereka (mungkin juga termasuk saya) lupa membaca buku sejarah bahwa ternyata seorang manusia yang pernah menjadi pemimpin besar dimasa mudanya. Berapa banyak manusia yang tidak menghasilkan karya apa-apa dimasa mudanya. Waktu mereka habis untuk melakukan kegiatan yang sia-sia dan tidak mengefektifkan waktunya.

Kisah Alexander dan kisah Pu Yi tadi, akhirnya menjawab pertanyaan saya selama ini, apakah memang seorang pemimpin itu dilahirkan (trait leadership)? Ternyata tidak. Memang harus diakui bahwa Alexander dan Pu Yi adalah notabene anak raja, sehingga diri mereka sangat berpeluang menjadi seorang pemimpin pengganti ayah mereka. Namun dalam keberjalanan proses pendewasaannya, kedua pemuda ini mendapati jalan yang berbeda. Ada yang mengambil jalan seorang pemimpin dan ada seorang lagi yang mengambil jalan pimpinan. Silogisme inilah yang memantapkan keyakinan saya bahwa kepemimpinan itu memang bisa diproses (process leadership).

Tidak sedikit dari pemimpin yang ada di suatu negeri lahir dari orang sederhana, bahkan dari orang yang tidak pernah kita kenal dalam orang-orang ternama negerinya, namun dari rahim ibunya lahir seorang manusia-manusia pemimpin bagi negaranya, walau tidak di dalam masa mudanya.

Dan dari dua kisah tadi pula, saya semakin faham arti pentingnya pendidikan. Tidak akan ada kepemimpinan tanpa adanya proses pendidikan. Maka tidak bisa dipungkiri lagi bahwa peran orang tua dan guru sangat penting untuk membentuk seorang manusia menjadi pemimpin sejak kecil. Maka jangan pernah bermain-main dengan waktu kehidupan. Kedewasaan tidak diukur dari umur. Namun kedewasaan diukur saat kita sudah baliq atau bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

.

02-04-2010

tertulis di bus menuju Bandara Sukarno Hatta, saat menjemput ibunda tercinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s