Marketisasi Syiar Dakwah Kampus

“Barangsiapa mengajak kepada hidayah (petunjuk), maka ia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang-orang yang mengikuti (melaksanakan) ajakannya tersebut tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.”

Hadits Rasul yang diriwayatkan oleh H.R. Abu Hurairah

Kegiatan Syiar Kampus bisa dianalogikan dengan kegiatan jual dan beli, dimana penjualnya adalah kader dakwah, pembelinya adalah mahasiswa umum, dan produk yang dijual adalah islam itu sendiri. Bedanya, kalau jual-beli dalam konteks keduniaan kita mendapatkan untung jika barang kita laku, dan rugi jika barang kita tidak laku atau terjual dibawah harga modal. Sedangkan dakwah tidaklah begitu, dalam memperjuangkan dakwah tidak ada istilah untung atau rugi. Selama niat kita lurus untuk memperjuangkan agama Allah, maka Allah pasti akan memberikan balasan sesuai dengan porsi keikhlasan dan kesungguhan si penjual (baca: kader dakwah) tersebut.

Lantas mungkin akan timbul pertanyaan disini, apakah dakwah dapat sedemikian mudahnya dikaitkan dengan proses kegiatan jual beli? Tentu tidaklah begitu. Tetapi yang saya fahami, dalam kehidupan dunia tentu kita mengenal dua hukum Allah yang berlaku dalam kehidupan manusia, yaitu hukum qauniyah dan hukum qauliyah. Hukum qauniyah berkenaan dengan hukum alam, hukum gravitasi, hukum kekekalan energi dan hukum-hukum lainnya. Sedangkan hukum qauliyah berkenaan dengan hukum Tuhan atas semesta alam dan tidak bisa diganggu gugat lagi. Kematian, jodoh, rezeki, bencana adalah sedikit dari ketentuan hukum qauliyah.

Hukum qauliyah dan hukum qauniyah selalu bertautan. Misalnya seperti ini, bisa jadi manusia mengetahui bagaimana proses terjadinya sebuah gempa bumi, namun hingga detik ini belum ada manusia yang mampu memastikan secara eksak, kapan waktu real terjadinya gempa tadi. Disini hukum qauliyahnya adalah waktu terjadinya gempa, dan hukum qauniyahnya adalah ilmu geofisika yang dipelajari manusia yang kemudian dibentuk teori dan hukumnya.

Begitu pula di zaman rasul. Bukankah tidak serta merta rasul beserta para sahabatnya mendapatkan kemenangan dakwah melawan kaum kafir quraisy dengan berbekal senjata berupa doa saja. Saat itu rasul mempersiapkan strateginya dengan matang, mempersiapkan kualitas pakaian perang, dan mempertajam semua pedang. Dan rasul pun pernah terluka, patah giginya, kehilangan sanak saudara, bahkan para sahabat yang dicintainya.

Ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dari semua perang tadi, bahkan hal ini dibahas secara analitis lagi didalam buku Manhaj Haraki yang ditulis Syaikh Munir Muhammad Al-Ghadban. Tapi mari kita lihat pesan tersirat dari kisah perang tadi. Rasulullah percaya sekali bahwa kemenangan dakwah adalah sebuah kepastian. Namun waktu itu, tepatnya saat perang badar, rasul tetap mempersiapkan kebutuhan perangnya dengan baik kendati beliau telah berdoa kepada Allah seraya mengangkat tangan setinggi-tingginya tanda kesungguhan beliau.

Inilah implementasi hukum qauliyah dan hukum qauniyah yang telah dicontohkan oleh teladan kita semua, nabi Muhammad SAW. Bagaimana pertautan hukum qauliyah telah dijalankan beliau dengan berdoa bersungguh-sungguh pada Allah dipadukan dengan hukum qauniyahnya dengan mempersiapkan hal taktis dan strategis dari perang itu sendiri.

Jadi dengan logika intelektual dan emosional tidaklah cukup, sisi spiritual perlu menyelubunginya. Logika tanpa emosi dan spiritual akan menjadi orientalis, emosi tanpa logika dan spiritual akan menjadi protelaris, dan spiritual tanpa logika dan emosi akan menjadi fundamentalis.

Sekarang mari kita kembali pada dunia kita, yaitu dunia dakwah kampus. Dunia kampus merupakan miniatur kehidupan bangsa, karena didalamnya penuh dengan nuansa masalah yang  nantinya menjadi cikal bakal masalah di kehidupan bangsa. Lingkungan kampus pun merupakan lingkungan yang heterogen, karena terdiri dari berbagai stakeholder yang berbeda latar belakang, ras, pemikiran dan agama. Tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi para kalangan kader ADK, untuk menempa kreativitas dan ruhiyah-nya menjalani misi dakwah kampusnya.

Kader ADK akan dihadapkan dengan lingkungan yang terdiri dari berbagai macam karakter orang, ada yang antipati, namun ada pula yang empati terhadap dakwah. Orang-orang tadi tidak dapat disalahkan, karena memang mungkin latar belakang mereka-lah yang membuat mereka menjadi demikian. Mereka juga akan berhadapan dengan berbagai pemikiran ideologi yang berkembang di kampus, sehingga beberapa mahasiswa akan cenderung berpikir kritis terhadap semua hal termasuk dakwah. Artinya, mereka pun harus mengasah wawasan mereka sebagai seorang agen hidayah Allah.

Untuk itu lahirlah sebuah usaha untuk membuat sebuah langkah taktis dan strategis untuk menunjang kegiatan syiar dakwah kampus. Dan dari sinilah muncullah ide, untuk membuat sebuah marketisasi syiar dakwah kampus dengan mencoba mengaitkan ilmu marketing pada umumnya untuk di adopsi pada dunia dakwah kampus. Pendekatan Marketisasi syiar mensistemasi dan memunculkan tips atau kiat kegiatan syiar kampus.

Jadi dakwah bukan lagi sekedar memakai cara konservatif dengan pengajian didalam masjid –walau masih relevan dan cocok untuk dilakukan sekarang dan terbukti ampuh-, tapi sekarang kader ADK harus mengekspansi dan merambah cara lain dengan terus mendekati pembeli (baca: objek dakwah/mahasiswa umum) lewat cara-cara marketing syiar dari ilmu marketing yang berkembang saat ini.

Perlu diingat, produk yang dijual dalam dunia dakwah kampus adalah gagasan islam. Secara substansi, produk ini tidak boleh diganggu gugat karena bersifat ideologis dan murni. Jadi, yang boleh di utak-utik adalah metode bagaimana cara atau metode memasarkan produk itu sesuai dengan koridor-koridor yang sesuai dengan etika dan ajaran islam. Ibaratnya seperti ini, pantaskah kita ingin membantu keuangan orang lain, dari hasil mencuri? Membantu keuangan orang lain adalah hal yang baik, namun perbuatan mencuri adalah perbuatan dosa didalam islam. Sama seperti kegiatan syiar kampus. Pantaskah kita mengajak orang lain pada islam, namun kita menggunakan cara-cara tercela atau haram? Tentu tidak bukan? Mungkin secara qauniyah sudah benar prosesnya, namun salah secara qauliyah.

Kegiatan mengajak mahasiswa umum pada islam bukanlah hal yang mudah, tapi juga bukan hal yang sulit. Pertanyaan mengapa hingga saat ini dakwah di suatu kampus tidak berkembang atau stagnan, sebenarnya bisa dijawab dengan evaluasi dini terkait dengan hukum qauliyah dan hukum qauniyah yang telah dijalankan kampus tersebut.

Bisa jadi, hukum qauliyah telah baik. Para kadernya telah memiliki karakter muslim yang baik, tidak melakukan perbuatan maksiat, atau tetap menjaga amalan hariannya. Namun secara hukum qauniyahnya masih salah, mereka cenderung tidak belajar bagaimana cara mengorganisasi dan  memarketing dakwah dengan baik, sehingga dakwah serasa hambar dan tidak inklusif di kampus. Maka pantaslah dakwah kampus tersebut belum bisa berkembang dengan baik.

Sebaliknya, bisa jadi hukum qauniyahnya telah baik. Para kadernya memiliki kreativitas tinggi dalam ide kegiatan syiar di kampusnya, professional dalam setiap pekerjaannya, dan mudah bergaul dengan teman sekitarnya. Namun secara hukum qauliyahnya fatal. Kader-kadernya meninggalkan shalat 5 waktu, amalannya tidak terjaga, dan tergelincir berkali-kali pada perbuatan maksiat. Akibatnya, maka pantas pulalah dakwah kampus ini belum bisa berjalan dengan baik.

Jika boleh merujuk kembali pada salah satu tujuan dakwah kampus tentang pembentukan paradigma alumni kampus yang memiliki keberpihakan terhadap islam, tidaklah terlalu sulit seperti dakwah-dakwah yang dilakukan ulama kita di zaman kolonialisme dan orde baru, atau bahkan pada zaman rasul dulu yang tidak hanya mengorbankan harta, namun juga harus bersimbah darah.

Tantangan mereka untuk membuka jalan dakwah secara terbuka telah selesai, kini giliran kita untuk memulai, atau setidaknya melanjutkan perjuangan mereka untuk membuat semakin banyaknya orang-orang berafiliasi terhadap islam, khususnya di dunia kampus. Bisakah kita? []

To be continued…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s