Organisasi Pembelajaran

Saya yakin kata ”organisasi” adalah sebuah kata yang tidak asing lagi bagi beberapa kalangan, terutama kalangan manusia yang telah memasuki masa transisinya menjadi manusia paripurna. Organisasi ini bisa menjelma menjadi sebuah organisasi kesiswaan, organisasi kemahasiswaan, lembaga swadaya masyarakat, karang taruna, atau bahkan perusahaan.

Organisasi menjadi sebuah wadah yang penting untuk memenuhi kebutuhan level 3 manusia, kebutuhan untuk diterima dilingkungan masyarakat, sebagaimana tepat dikatakan dalam teori Abraham Maslow. Namun yang menarik dan sekaligus menjadi pertanyaan adalah sudahkah organisasi mencapai hakikatnya sebagai sebuah “organisasi”? Gampangnya seperti ini. Apakah kita telah merasakan manfaat dari organisasi yang kita ikuti? Apakah tubuh kita tergerak secara ikhlas berkontribusi pada organisasi yang kita ikuti? Atau kita hanya sekedar menjadi sebuah robot yang hanya menuruti atasan Anda?

Berdasarkan pada dinamika dan romantika aspek kehidupan manusia yang cepat dan tidak terduga, organisasi harus cepat membaca situasi serta mengenali kondisi terbaru untuk segera beradaptasi terhadap segala perubahan itu. Dan satu-satunya kunci untuk dapat melaksanakannya adalah dengan menjadi sebuah organisasi pembelajar (learning organization). Menjadi sebuah organisasi pembelajar memungkin orang-orang yang terlibat didalamnya untuk dapat terus-menerus mengembangkan kapasitasnya guna menciptakan hasil yang benar-benar mereka inginkan, di mana pola-pola berpikir baru dan berkembang dipupuk, di mana aspirasi kelompok diberi kebebasan, dan di mana orang-orang secara terus-menerus belajar mempelajari (learning to learn) sesuatu secara bersama.

Sangat perlu diapresiasi jika organisasi kita telah berada pada posisi demikian, namun jika belum, perlu ada upaya pemahaman kembali pada semua individu yang berada di Traditional Organization tersebut, seraya mentransformasinya menjadi sebuah The Truly Learning Organization. Organisasi mestilah menjadi suatu wadah pembelajaran bagi manusia yang terlibat didalamnya, sehingga hasil pembelajaran tersebut mampu menjadi sebuah batu loncatan seorang individu untuk berkontribusi lebih untuk organisasinya, atau paling minimal berguna dalam level dirinya sendiri. Hal ini penting sekali untuk diperhatikan bagi kita sebagai anggota organisasi atau pengurus organisasi, apalagi sebagai pemimpin yang ada didalamnya.

Sebuah organisasi telah sukses mencapai hakikatnya ketika organisasi itu telah mampu memberikan sebuah pembelajaran pada entitas yang berada didalamnya, bukan hanya sekedar terjadi sebuah pencapaian visi organisasi. Merujuk pada sebuah buku karangan Peter Senge yang berjudul Fifth Dicipline, setidaknya ada lima disiplin yang harus dimiliki organisasi pembelajar: systems thinking, personal mastery, mental models, shared vision and team learning.

Yang pertama adalah System Thinking (berpikir sistemik). Berpikir sistemik adalah sebuah kemampuan untuk dapat memandang tidak hanya hubungan sebab akibat secara linier alih-alih juga termasuk hubungan interrelationshipnya dan juga memahami proses suatu perubahan, bukan hanya sekedar snapshot. Dalam kehidupan organisasi tradisional, kerap kita memandang suatu hal hanya dari satu sudut pandang saja, dan hanya mempertimbangkan sebab-akibat secara linear, tidak melihat the big picture.

Selanjutnya adalah Personal Mastery (kemampuan personal). Organisasi pembelajar hanya bisa terjadi jika terdapat pembelajaran individual dari anggota-anggota organisasi di dalamnya. Sementara itu, learning hanya bisa terjadi seandainya disiplin dalam ‘personal mastery’ terpenuhi. Melalui personal mastery yang baik, maka seseorang akan selalu dalam fase learning yang kontinu. Hal ini disebabkan karena mereka faham yang mereka kerjakan, dan mau meng-upgrade dirinya, sehingga tensi selalu tercipta, dan tensi tersebut memicu untuk proses learning secara kontinu.

Yang ketiga adalah Mental Models (refleksi diri). Refleksi diri adalah asumsi, generalisasi atau gambaran yang terpatri dalam diri untuk  bercermin dan sinambung memperjelas pengaruh kita pada tindakan yang kita ambil pada organisasi tempat kita berada. dalam dirinya, terdapat kemauan untuk belajar, menyampaikan pemikirannya secara terbuka, serta memberikan ruang untuk menerima pemikiran dari orang lain. Dengan model

Berikutnya adalah Shared Vision (Visi yang mendarah daging). ketika terdapat sebuah visi orisinil telah terbangun, maka individu organisasi akan berkembang dan belajar, bukan karena mereka diperintah, melainkan karena mereka menginginkannya. Hanya saja, sayangnya banyak pemimpin yang lalai untuk menerjemahkan visi mereka menjadi suatu shared vision yang powerful bagi organisasinya. Hal ini hanya bisa terjadi jika gambaran masa depan yang menjadi visinya dapat dipaparkan dengan jelas serta mendapat dukungan dengan serangkaian prinsip dan prosedur yang akan membantu anggota organisasi dalam memahami bagaimana pencapaian visi tersebut.

Dan yang terakhir adalah Team Learning (Pembelajaran Tim). Disiplin ini, dimulai dengan suatu dialog, dimana anggota tim bersedia untuk menunda asumsi yang dimilikinya, serta melakukan proses penggalian pikiran mereka bersama. Disiplin ini juga mengharuskan anggota tim untuk menguasai bagaimana cara melakukan dialog dan diskusi, dua pembicaraan yang umumnya dilakukan tim. Dialog merupakan suatu proses dimana terdapat eksplorasi sebebas mungkin terhadap suatu hal, di mana masing-masing pihak saling mendengarkan, serta menahan asumsi masing-masing. Sementara, dalam diskusi disampaikan pandangan dari tiap orang, namun tujuannya adalah mencari pendapat yang terbaik dalam rangka pengambilan keputusan.

Demikianlah kelima disiplin dari organisasi pembelajar. Khazanah intelektual yang termaktub dalam sebuah organisasi belumlah cukup membuat organisasi tersebut mencapai hakikatnya sebagai organisasi pembelajar. Banyak organisasi terjerembab pada banyaknya ide-ide brilian yang berujung hanya pada tataran wacana, dan nol pada tahap impelementasinya. Namun tidak sedikit pula organisasi yang sangat getir bergerak tetapi rapuh pada pondasi dasar mereka bergerak. Makanya, perlu ada proses penyeimbangan pemahaman dan gerakan suatu organisasi lewat pembelajaran yang baik.

One thought on “Organisasi Pembelajaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s