Faktor “X”

-Sebuah cuplikan tulisan pendek yang menginspirasi saya, yang terkutip dari buku terbaru Rhenald Kasali berjudul Myelin, tentang sebuah mobilisasi intangibles menjadi kekuatan perubahan-

Setiap orang adalah pribadi yang unik. Anda semua memiliki potensi dan bakat yang berbeda-beda. Ada di antara Anda yang mempunyai bakat memimpin, membuat lagu yang indah, memasak makanan yang enak, menulis puisi, berpidato, melucu, berolahraga, menyembuhkan orang, dan sebagainya. Kita berbeda-beda.

Kita juga belum tentu mengenali bakat kita masing-masing. Atau kalaupun bakat kita tampak, kadang kita tidak menyadarinya atau mengakuinya. Bakat-bakat itu ada yang tersembul keluar seperti buah yang menggantung di pohon, namun sebagian besar tersimpan jauh di lubuk hati seperti bongkahan emas yang terkubur dalam perut bumi. Kecuali manusia menggalinya, ia tidak dapat ditemukan.

Demikian pula faktor “X” itu. Ia melekat pada diri kita masing-masing dan baru menjadi faktor “X” jika bakat itu berhasil menemukan “pintu” itu akan tercermin pada apa yang Anda dapatkan. Sikap itu adalah sebuah pilihan. Pilihan itu sendiri bermacam-macam,

  • Ada yang mendiamkan saja. Ia adalah orang yang percaya diri dengan bakatnya dan membiarkan pintu untuk menemukan dirinya. Kalau ia beruntung bisa saja dia berhasil. Namun faktanya, sedikit sekali orang yang sukses menggunakan cara ini.
  • Mengirim sinyal positif. Orang ini sepertinya diam dan menunggu pintu mendatanginya, namun sesungguhnya ia tidak diam. Ia mengirimkan sinyal agar pintu itu bergerak menghampirinya. Dengan kata lain, ia mengetuk pintu itu dengan bahasa tubuhnya, entah dengan penampilan yang menarik, suara yang khas, dan sebagainya.
  • Mencari pintu, mengetuk pintu. Seperti Susan Boyle, masa muda orang ini kurang beruntung. Dia sadar bahwa pintu tidak akan terbuka kecuali mereka mendatangi dan mengetuk-ngetuknya. Karena itu mereka mendatangi sebuah pintu. Pintu itu mungkin hanya dibuka separuh oleh pemiliki atau penghuninya. Bisa jadi pemilik pintu itu tidak welcome. Mereka harus pergi mencari pintu lainnya, terus mencari dan mengetuk. Namun begitu berhasil menemukan dan berada di dalam ruang, sikap mereka berbeda-beda:
    • Ada yang sudah merasa nyaman dengan berada di ruang tunggu. Ia tidak mengerti bahwa ia hanya diterima di ruang itu saja. Ruang itu terlalu kecil, namun ia sudah merasa betah.
    • Ada yang segera menyadari bahwa ruang itu hanya sekedar ruang tunggu. Jika pintu utama tidak dibuka, ia harus segera keluar untuk mencari pintu lain yang menyambutnya dengan hangat dan di dalamnya tersimpan pintu-pintu yang boleh ia ketuk dan mengizinkan dia masuk.

Demikianlah, hidup adalah pilihan. Ada demikian banyak pilihan yang tersedia. Masalahnya, apakah kita mau mendatangi pilihan-pilihan itu, mengetuknya, dan mengambil pilihan yang terbaik?

Dengan demikian faktor “X” tidak lain adalah sesuatu yang harus kita cari dan miliki. Ia akan menemani siapa saja yang ingin berubah menjadi lebih baik. Orang yang tidak ingin berubah juga memiliki faktor “X”, namun itu hanyalah “X” kecil yang berarti sebuah kenyamanan. Mereka yang sudah merasa nyaman dengan kondisi sekarang tentu saja tidak akan mengalami kemajuan.

Untuk mengalami kemajuan, seorang harus berani berselancar pada gelombang ketidaknyamanan. Untuk itu diperlukan spirit of Entrepreneurship. Entrepreneurs adalah orang yang merasa hidupnya kurang nyaman dengan kondisi sekarang. Ia merasa terancam, miskin atau kurang bermakna. Karena itu ia terus berlari untuk mengejar kenyamanan baru. Ia bergerak, berpikir, mengetuk pintu, mengambil resiko, mencari produk, membuat, membangun usaha, mendatangi pelanggan, dan seterusnya. Kalau toh dia diam atau menikmati warisan pendahulu, ia bisa hidup nyaman. Tetapi ia ingin masa depan perusahaannya lebih baik. Menurutnya, daripada hidup susah nanti, lebih baik sulit sekarang. Ia tidak memilih hidup nyaman dengan “X” kecil warisan, melainkan membentuk “X” besar.

Lambat laun “X” yang dikejar itu akan membesar dan melekat pada diri Anda dan orang-orang kepercayaan Anda. Seperti benih tanaman, ia dapat tumbuh menjadi keahlian, kepercayaan, magnet, dan , tentu saja rezeki. Karena melekat, ia tidak dapat dirampas dari diri Anda.

Faktor “X” yang melekat pada diri manusia itu adalah benda yang tidak berwujud, namun dapat dirasakan. Awalnya ia tidak -atau kecil sekali- berada pada diri Anda. Namun jika Anda tekun, ia akan terus tumbuh karena dia hidup. Dan karena dia hidup, dia bisa mati. Ia akan hidup jika Anda menjaga kepercayaan, menumbuhkan kreativitas dan keahlian, serta memberi banyak oksigen dari lingkungan yang bersih. Ia akan mati jika Anda main-main dengan kepercayaan, arogan, menentang pembaharuan, dan membiarkan penuaan itu terjadi.

“X” yang besar ada di tangan orang dewasa, yaitu orang atau perusahaan yang sudah memiliki kepercayaan. Sedangkan “X” kecil berada pada diri kita masing-masing. Bentuk “X” pun bermacam-macam. Ia bisa berasal dari diri Anda sendiri, orang lain, lembaga lain, dan sebagainya. Dari manapun sumbernya. Ia bisa tumbuh besar atau sebaliknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s