Jejak Dakwah Kampus Di Era Cucu Mushala

“Li kulli marhalatin ahdafuha, li kulli marhalatin rijaluha (dalam setiap tahapan da’wah memiliki tujuan dan rijalnya masing-masing)”

Dakwah adalah perjalanan yang berkelit, begitu kata Syekh Musthafa Masyhur. Didalamnya ada tabiat-tabiat jalan dakwah yang selalu melekat didalamnya. Beliau melanjutkan tuturan katanya, “jalan dakwah tidak ditaburi bunga-bunga harum, tetapi merupakan jalan yang sukar. Sebab, antara yang haq dan bathil ada pertentangan nyata. Dakwah memerlukan kesabaran dan ketekunan memikul beban berat. Dakwah memerlukan kemurahan hati, pemberian dan pengorbanan tanpa mengharapkan hasil yang segera, tanpa putus asa dan putus harapan.” Demikianlah titah penulis buku fiqih dakwah itu.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apakah seberat itukah memanggul amanah dakwah? Sebenarnya ini adalah pertanyaan yang tidak perlu dijawab dengan kata karena alih-alih harus dijawab dengan pembuktian amal. Rasul beserta sahabatnya telah bercerita lewat kisah hidup mereka, bahwa tidak sembarang orang yang dapat memanggul amanah dakwah ini. Harus orang yang kuat jika ditempa cobaan dan memiliki spirit perjuangan yang tidak pernah mati. Tidak saja melalui air mata, darah pun harus mereka berani korbankan untuk menggapai kemenangan sebuah dakwah. Mereka telah membuat sebuah pondasi transformasi peradaban di bumi Allah, sekaligus menancapkan sebuah petunjuk jalan baru untuk mengekspansi dakwah islam hingga ke negeri-negeri seberang, termasuk Indonesia.

Jika kita mau menilik sejarah dunia dakwah di Indonesia, kita akan dihadapkan pada sebuah eskalasi-eskalasi pergerakan yang menunjukan betapa dinamisnya dakwah di negeri ini. Perjalanan dakwah di Indonesia sebenarnya hampir mirip dengan napak tilas dakwah Rasulullah. Ada masa dakwah sembunyi-sembunyi dan ada pula masa dakwah terang-terangannya. Dalam masa pasca kemerdekaan, masa sembunyi-sembunyi dimulai ketika era orde baru sedang berada pada posisi puncaknya. Tidak ada kata menyerah bagi seorang da’i. Permulaan dakwah di Indonesia diwarnai dengan pembangunan basis internal dari tubuh dakwah Indonesia itu sendiri. Adanya kekangan dari pemerintah, membuat para pioner dakwah harus menyebarkan islam secara berhati-hati. Namun seiring berjalannya waktu, orde baru akhirnya mencapai titik kulminasi.

Tepat pada tanggal 21 Mei 1998, gerbang era reformasi dibuka selebar-lebarnya. Dan titik terang kehidupan bangsa yang lebih baik dan bermartabat telah mulai terlihat. Tak ayal lagi, kegerahan dakwah sembunyi-sembunyi akhirnya terbayar dengan angin segar dimulainya dakwah terang-terangan. Dakwah kini kian terbuka dan semakin diterima masyarakat sekitar. Dan spektrum objek dakwah pun semakin menjamah seluruh kalangan. Kalau dulunya lebih berpusat pada masyarakat biasa, kini dakwah telah melebarkan sayapnya hingga ke sekolah dan kampus, tempat dimana para calon insan akademis berada.

Sampai disini, saya ingin mengulang sedikit beberapa istilah dari Arya Sandhiyudha didalam bukunya yang berjudul Renovasi Dakwah Kampus. Beliau telah membagi beberapa era dakwah kampus berdasarkan wilayah kerjanyanya. Terhitung sejak tahun 80-an menitik berakan pada aktivitas kaderisasi dan perapihan struktur. Makanya tidak salah jika menyebutkan era “engkong” sebagai penjejak sejarah dakwah kampus dititik tekan aktivitas gerakan waktu itu. Kemudian era itu terbarukan menjadi era “abi-ummi” dimana telah terjadi penambahan kuantitas kader dakwah seiring lahirnya seorang murobbi dan murobbiyah teladan di era sebelumnya. Tidak berselang lama setelah era tadi dan bersamaan dengan terbukanya gerbang reformasi, lahir kembali sebuah era baru yang disebut dengan era “anak mushala”. Hal ini ditandai dengan terbuka lebarnya keran beraktivitas dikampus. Pada era ini lahir formal lembaga dakwah kampus di sebagian besar kampus Indonesia.

Kalau dihitung-hitung, sebenarnya telah banyak petunjuk jalan dakwah yang telah dibuat pada era engkong, abi, umi, anak mushala. Kita sedikit termudahkan meniti jalan dakwah ini dan tidak tersandung lagi pada masalah-masalah lalu yang lalu. Mereka mengantarkan kita pada sebuah era baru dimana era ini memiliki tantangan yang lebih besar lagi dibandingkan era-era dakwah kampus sebelumnya. Era “cucu mushala”, demikian Bang Arya menyebutnya. Mulai dari era ini, disadari atau tidak, kita telah dihadapkan banyak tantangan jalan dakwah yang jauh berliku, sehingga mau tidak mau kita harus menjejakinya dengan perubahan mental dan perilaku pada level individualitas an komunal yang lebih baik lagi. Disinilah era cucu-cucu mushala untuk melanjutkan petunjuk jalan yang telah disisakan oleh para pendahulu dakwah kampus kita semua.

Dengan dinamika dan turbulensi masalah yang semakin kompleks, lahirnya berbagai gerakan kontemporer kepemudaan yang semakin bermacam-macam, era manual bertransisi menjadi era digital, penggunaan internet, penggeliatan wacana globalisasi, perkembangan ilmu manajemen modern, liberalisme, hedonisme, yang seolah menjadi peluang sekaligus ancaman di jalan dakwah ini, membuat setiap cucu mushala harus pandai-pandai untuk memposisikan dirinya secara cerdas dan cermat. Salah menjejak kaki, bisa berbahaya.

Makanya, tidak heran jika fenomena bergugurannya beberapa cucu mushala di jalan dakwah, tak ubahnya sering diakibatkan dari ketidakhati-hatian dan kuatnya integritas mereka sendiri sebagai kader dakwah, dalam bersinggungan hidup dengan tantangan dakwah masa kini. Kadang-kadang penyikapan terhadap perkembangan teknologi, masuknya budaya barat tanpa adalagi filter yang baik, tantangan akademik kampus yang semakin berat dalam kancah tumbuh kembangnya pendidikan dunia, adanya kesalahan niat dalam memulai aktivitas gerakan, membuat kader dakwah kampus perlahan-lahan memperlambat atau dengan sengaja menyendat-nyendatkan aktivitas dakwahnya sehingga secara tidak sadar akan membuat gejala sistemik yang tiak baik dalam aktivitas dakwah kampus secara keseluruhan.

Namun tidak sedikit pula, ada kader dakwah kampus yang dengan perkembangan teknologi ini, ternyata mampu mengoptimalkannya sebagai sarana syiar dakwah yang lebih efektif kepada teman-teman kampusnya yang suka ber-online setiap harinya. Dalam hal ini, saya senang menyebut mereka dengan istilah kader dakwah digital. Masuknya ilmu manajemen dan beberapa budaya luar yang baik pun sebenarnya bisa membuat seorang dakwah bisa lebih produktif lagi aktivitas dakwahnya. Kadang-kadang budaya respect with time, people, and rules (menghargai waktu, orang, dan aturan), budaya  bekerja keras, budaya evaluasi dan apresiasi, budaya untuk selalu berinovasi dan progresif, budaya disiplin, dan budaya positif luar lainnya, tampaknya masih sering diacuhkan oleh sebagian besar kader dakwah kampus di Indonesia. Padahal sudah jelas budaya positif tersebut juga merupakan bagian dari budaya islam, dan jelas-jelas pasti akan mendukung semakin profesionalnya seorang kader dakwah kampus, yang pada titik hilirnya akan bersambut pada syiar dakwah kampus yang lebih efektif. Ada lagi fakta lainnya. Beberapa kader dakwah kampus Indonesia telah membuktikan bahwa tantangan akademik bukanlah menjadi momok yang harus dijadikan ancaman atau ditakuti. Ada sekian banyak dari mereka, yang dalam kesibukannya sebagai aktivis dakwah, ternyata memiliki catatan segudang prestasi akademik dalam perannya sebagai seorang insan akademis. Dalam kehidupannya sehari-hari, dia telah memberikan syiar islam yang baik melalui keteladanan yang dimilikinya.

Inilah era dakwah kampus sang cucu mushala. Mereka ditantang pada zaman dimana pergerakan sang musuh dakwah telah bertransformasi dari perang fisik menjadi perang pemikiran yang kadang tidak disadari oleh mereka sendiri. Perang pemikiran ini membuat tumpul intelektualitas dan kreativitas seorang pemuda, memandulkan keprofesionalannya dalam bekerja, dan yang lebih parah lagi adalah mengubur mati jiwa dan semangat bergeraknya. Disatu sisi, mereka tetap hidup ditengah hiruk-pikuk permasalahan di kampus dan bangsa, namun disisi lainnya mereka juga dihadapkan dengan perang pemikiran yang kadang dapat menjadi kenikmatan fatamorgana yang dapat menggugurkan mereka di jalan dakwah ini. Hal ini persis sekali dengan dua pilihan yang telah Hasan Al Banna tuliskan dalam risalah dakwahnya: generasi pembangun atau generasi penikmat.

Saat ini, kader dakwah LDK tidak hanya dituntut untuk memiliki pemahaman dan filosofi dasar gerak LDK saja. Kini mereka juga dituntut untuk selalu mengembangkan wawasannya, efisien menggunakan waktunya, dan dapat selalu menata baik urusannya. Saya meyakini, semakin besar diameter wilayah kerja dakwah LDK, akan semakin besar pula kesiapan mental, fisik, dan spiritual seorang kader dakwah. Ketidakseimbangan antara transformasi wilayah kerja dan kesiapan kader akan menyebabkan citra dan akar syiar dakwah yang bobrok secara perlahan-lahan. Sama seperti organisasi lainnya yang akan tergilas dengan perkembangan zaman karena tidak mengubah karakter geraknya.

Lantas, bagaimana cara menjejak syiar dakwah kampus di era cucu mushala saat ini? Adanya berbagai renovasi, inovasi, dan rekayasa LDK yang semakin membaik dewasa ini, rasanya tidak salah jika saya katakan jika jejak-jejak syiar saat ini harus berpacu pada pemahaman bagaimana rekonstruksi bangunan syiar yang diiringi dengan keprofesionalan, kreativitas, dan emosionalitas dari kader dakwah itu sendiri. Inklusivisme syiar islam untuk diterima dengan bijak oleh masa kampus, semakin banyaknya jebolan kampus yang memiliki afiliasi terhadap keislaman dengan core competence yang baik untuk membangun Indonesia, dan semakin terakselerasinya pembentukan masyarakat madani Indonesia, adalah tujuan dakwah kampus yang pasti akan tercapai jika kita bisa menjejakkan dakwah kampus dengan baik.

Teringat dengan kata Ali Bin Abi Thalib bahwa pihak jahat yang terorganisasi akan dapat mengalahkan pihak kebaikan yang tidak terorganisasi, maka dakwah kampus yang notabene adalah organisasi yang baik, mau tidak mau harus terus memperbaiki dirinya terus-menerus mengimbangi bahkan melampaui permasalahan yang ada di level kampusnya. Yang saya maksud ‘organisasi’ disini adalah bukan hanya sistemnya yang terus mengalami perbaikan, namun kader-kadernya pun harus senantiasa pula mengikuti perkembangan itu dengan meningkatkan kapasitas diri mereka.

Untuk itu, segala transformasi aktivitas lembaga dakwah kampus baik itu aktivitas ‘ilmiy (akademik profesi), nukhbawi (kaderisasi), syi’ar (seruan), siyasi’ (politik) dakwah kampus harus dijiwai dengan pengorganisasian baik. Dalam hal ini, ritmik emosional, profesionalitas, dan kreativitas kader dakwah yang menjadi cucu mushala saat ini, harus diusahakan seoptimal mungkin dapat berkembang sebaik mungkin.

Transformasi syiar dapat dilakukan dengan mengevaluasi dan memperbaharui system syiar LDK dengan marketing, urgensi media nyata dan maya, dan metode cara mempengaruhi orang lain. Transformasi kaderisasi dapat dilakukan dengan perbaikan sistem perekrutan kader, dinamisasi acara internal LDK, pembuatan rencana strategis kaderisasi berjenjang dalam satu periode kemahasiswaan di kampus. Transformasi Ilmy lebih menekankan pada sebuah mekanisme memahamkan aktivis ADK akan fungsi, peran dan posisinya sebagai mahasiswa secara utuh. Dan terakhir transformasi siyasi, adalah sebuah transformasi untuk mengintegratifkan pemahaman seluruh stake-holder dakwah kampus akan wilayah kerja dan eskalasi rencana dakwah kampus.

Dalam ranah sosiologi Aktivis LDK, tentu saja pemahaman islam yang baik pasti akan menjadi sebuah credo sakral atau landasan pemikiran aktivis LDK dalam beraktivitas. Ritmik keprofesionalan Aktivis LDK lebih difokuskan pada kemampuan manajerial dan mengorganisasikan sebuah konsep gerakan. Ritmik kreativitas berpacu pada teroptimalisasikannya pemikiran aktivis LDK dalam melahirkan sebuah metode brilian dalam memaksimalkan penggunaan media. Dan terakhir ritmik emosional lebih berpaku kepada kemampuan seorang aktivis LDK untuk mengajak objek dakwahnya.

Saya percaya, ketika sebuah LDK dapat mentransformasikan sistem syiarnya, kaderisasinya, keilmuannya, dan siyasi-nya dengan baik. Serta melakukan bioritmik antara keprofesionalan, kreativitas, dan emosionalitas aktivis LDK secara simultan dan bersungguh-sungguh, bukanlah tidak mungkin harapan untuk merealisasikan tujuan dakwah kampus bisa dicapai dalam waktu yang relatif lebih cepat karena kita telah menjalankan sunatullah dari Allah SWT. Hal ini didasari pada keyakinan saya terhadap surah Muhammad ayat 7:

Wahai orang-orang beriman! Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Jika dulu era ‘engkong’ dakwah kampus, era ‘abi-ummi’ dakwah kampus, era ‘anak mushala’ dakwah kampus telah memberikan banyak memberikan pembelajaran dan inspirasi buat era kita saat ini, kini saatnya era kita mempersiapkan diri untuk mempersiapkan pembelajaran dan menjadi inspirasi kembali bagi era “cicit mushala” yang akan datang.

One thought on “Jejak Dakwah Kampus Di Era Cucu Mushala

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s