Jangan Lagi Tambal Sulam Listrik

Permasalahan persediaan jumlah daya listrik Indonesia merupakan hal yang tak asing lagi untuk diartikulasikan sebabnya. Pangkal permasalahannya sebenarnya sederhana, yaitu kuantitas penambahan energi listrik yang tak seimbang dengan pertambahan penduduk dan industri Indonesia yang meningkat setiap tahunnya. Namun sayang, ujung solusi permasalahan ini tidak sebanding dengan pangkal permasalahan tadi. Walhasil, pemadaman listrik di beberapa daerah di Indonesia dalam jangka waktu tertentu pun tidak dapat terhindarkan lagi, untuk menambal kekurangan energi listrik di daerah Indonesia lainnya.

Hingga detik ini, Negara kita masih suka menggunakan prinsip “tambal sulam listrik”. Maksudnya adalah kekurangan daya listrik di suatu tempat, diatasi sementara dengan menutupi sementara kekurangan tersebut dengan mengambil jatah daya listrik ditempat lain. Pemadaman bergilir pun tidak dapat dihindarkan. Hal ini menjadi sebuah pil pahit yang harus ditelan oleh seluruh penduduk Indonesia. Bukan hanya sampai disitu, beberapa industri Indonesia yang memerlukan pasokan listrik besar pun harus tertatih-tatih menghadapi cara seperti ini.

Secara sosio-geografis, sebenarnya konsumsi daya listrik diserap paling banyak pada sistem interkoneksi Jawa-Bali dibandingkan dengan sistem koneksi pulau-pulau lainnya. Hal ini terjadi karena jumlah penduduk dan konsentrasi kegiatan ekonomi dan industri maih terpusat di Jawa. Tidak tanggung-tanggung, lebih 80 persen konsumsi tadi habis di pulau Jawa, dan itu pun masih ditambah pula dengan praktek tambal sulam listrik. Hal ini sangat kontradiktif dengan beredarnya fakta saat ini yang menyatakan bahwa Pulau Jawa sangat kaya dengan sumber energi listrik yang murah. Baik dari segi pengangkutan maupun efesiensi energinya.

Sebut saja sumber listrik terbesar yang dimiliki Indonesia satu ini. Karena banyaknya sebaran gunung berapi aktif di Indonesia, membuat negeri ini kaya akan potensi akan energi geotermal, terutama di Pulau Jawa. Potensi energi panas buminya diperkirakan sekitar 28.000 MW oleh pihak ESDM. Potensi yang begitu besar seharusnya dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk memenuhi pemenuhan energi listriknya yaitu sekitar 10.000 MW yang ditargetkan oleh negara. Memang sangat ironis Indonesia sebagai negara dengan potensi geothermal terbesar masih menganut pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dan bahan bakar fosil. Belum lagi ditambah dengan sumber listrik alternatif Pulau Jawa lainnya seperti gas alam, Coal Bed Methane (CBM), arus laut, dan batu bara  yang berpotensi menjadi sistem energi listrik baru dan murah di Indonesia.

Memperhatikan aspek-aspek tekno-ekonomi terkait dengan sistem energi baru tadi, sasaran, dan kebijakan energi, terutama kebijakan diversifikasi dan dampak lingkungan khususnya di Jawa-Bali yang telah terintegrasi dengan transmisi-interkoneksi, maka seharusnya pemerintah mendahulukan dan mengoptimumkan penggunaan potensi sumber listrik yang ada ditempat itu. Dengan langkah ini, diharapkan ketergantungan pemakaian minyak di masa depan sudah dapat teratasi. Dan tambal sulam listrik pun tidak akan terjadi lagi karena melimpahnya dan murahnya sumber listrik.

Lantas bagaimana nasib pasokan listrik di berbagai pulau Indonesia lainnya? Masalah persediaan listrik mereka pun tidak jauh berbeda dari yang terjadi di Pulau Jawa. Prinsip tambal sulam listrik merupakan kosakata yang tidak asing lagi dirasakan oleh penduduknya. Solusi yang harus dilakukan pemerintah adalah melakukan pembangunan pembangkit listrik alternatif pengganti mesin diesel sesuai dengan kapasitas dan kemampuan daerahnya. Kalimantan memiliki potensi batu bara sebagai tenaga uap, Sumatra memiliki potensi gas alam sebagai tenaga gas nya, Papua memiliki potensi arus laut sebagai tenaga mikro hidronya, dan pulau-pulau lainnya sesuai dengan karakternya.

Kini yang menjadi pertanyaan terakhir adalah berani dan mampukah pemerintah melakukan gebrakan kemandirian energi dan listrik ini? Bisa jadi investasinya besar  dan reformasi birokrasinya pun bisa dikatakan sulit. Namun yang harus kita yakini adalah hal ini akan berdampak sistemik lebih besar lagi dimasa yang akan datang. Tambal sulam listrik tidak akan terjadi lagi, anak cucu kita tidak akan lagi kekurangan pasokan listrik, pun roda gerak industri Indonesia akan semakin lancar untuk memajukan perekonomian Indonesia.[]

Oleh:

Ryan Alfian Noor

Mahasiswa Teknik Perminyakan 2006

Mentri Koordinator 1 Kabinet KM ITB

Institut Teknologi Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s