Change We Need!

“It’s not the events of our lives  that shape us, but our beliefs as to  what those events mean”.

-Anthony Robbins-

Acapkali terasa bagi kita semua, bahwa berubah adalah sebuah hal yang paling tidak disukai dalam rona kehidupan. Kita senang dengan sebuah gerakan, kegiatan, atau perihal yang dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi sebuah titik bernama status quo. Percaya atau tidak, seorang lelaki yang notabene telah bekerja dan memiliki penghasilan yang tetap dari sebuah perusahaan akan sulit menerima perubahan ketika ditawarkan kepadanya untuk menjadi seorang wirausaha. Akan halnya juga dengan seorang wanita. Mereka yang telah terbiasa pada hobi pemarahnya akan menentang perubahan ketika disuguhkan kepadanya untuk menjadi seorang yang kalem. Tidak usah meng-crosscheck-nya kepada orang lain, silakan bertanya pada diri kita sendiri benar apa tidak pernyataan saya barusan.

Setidaknya ada empat mitos yang dipercaya kebanyakan orang yang addict terhadap sebuah stagnansi. Yang pertama adalah sebuah algoritma berpikir yang bertitah bahwa perubahan membuka gerbang ketidakpastian. Memang benar, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi setelah kita berubah. Akan jadi baik kah kehidupan kita? atau jadi memburuk kah kejadian kita? tidak pernah ada yang tahu. Hal ini sangat kontradiktif dengan sebuah status quo yang selalu menyajikan sesuatu yang sudah pasti karena pekerjaan yang telah kita lakukan berulang-ulang.

Mitos kedua adalah sebuah keyakinan yang bertutur bahwa kita sulit untuk berubah kalau lingkungan tidak berubah. Memang tidak salah jika dikatakan bahwa segala tingkah laku kita secara tidak langsung dipengaruhi oleh lingkungan sekitar kita. Jadi bukan tidak mungkin akan muncul sebuah hipotesis yang sejalan dengan mitos kedua tadi.

Lalu, mitos ketiga adalah target perubahan yang ditetapkan adalah hal yang berat. Kalaupun seseorang sudah berniat untuk melompati sebuah tangga perubahan, maka salah satu agenda yang harus dilakukan adalah menaiki tangga pembuatan target. Tidak sedikit manusia yang mampu merangkai kata indah sebuah target, namun terhempas dalam ejawantah dalam dunia nyatanya. Hal ini membuat mereka urung, dan kembali pada zona nyamannya di masa lampau. Mitos terakhir adalah diperlukan waktu yang lama untuk berubah. Dengan kata lain, banyak orang beranggapan bahwa perubahan adalah sebuah fungsi waktu. Semakin besar perubahan yang ingin dicapai, maka semakin lama pula waktu yang kita bayar untuk meniti hal itu.

Mari kita sedikit buang cara berpikir picik kita menuju sebuah paradigma rasionalitas-spiritual yang lebih tinggi. Sebenarnya mau kita berubah atau tidak, dunia memang tidak pasti. Tidak percaya? Kehidupan telah mengajarkan pada kita bahwa hidup bagaikan sebuah titik dalam sebuah roda, kadangkala dibawah dan diatas. Banyak orang bernyaman-nyaman di status quo-nya, namun tidak disangka, angin semilir itu menjadi sebuah badai yang menimpa diri karena turbulensi masalah disekitarnya. Karyawan di PHK, DO seorang mahasiswa,  Kehidupan yang tadinya begitu menyenangkan, dapat berubah ampas yang menyedihkan. Ada pula kisah lainnya. Beberapa orang yang tadinya terjebak pada status quo masa kelam hidupnya, dapat berbuah sebuah menjadi kesejukan karena pengaruh lingkungan disekitarnya pula.

Jika ditelisik lebih dalam, sebenarnya gagal atau tidaknya seseorang baru dapat diketahui setelah suatu perbuatan menuju cita-cita telah dilaksanakan. Artinya kita tidak akan pernah tahu apakah kita akan sukses atau gagal sebelum kita memulai langkah menuju cita-cita kita. Sama pula dengan proses perubahan. Memang perubahan penuh dengan muatan ketidakpastian, bisa jadi akan menjadi puncak kesuksesan atau bisa juga menjadi jurang kegagalan. Tetapi yang  saya percaya, kita pasti gagal jika kita tidak berubah. Jika kita tidak merubah perilaku jelek kita, celoteh mulut buruk kita, sikap sinis kita, atau perilaku tidak terpuji kita lainnya, maka kita akan tergilas oleh perubahan zaman dan bertekuk lutut pada kompetitor disekitar kita.

Ada sebuah premis yang mengatakan bahwa lingkungan akan berpengaruh pada kehidupan kita. Bagi orang-orang yang percaya pada premis tadi, mereka menyerahkan raga dan jiwanya pada pengaruh lingkungan bak sebuah boneka pupet yang dikendalikan oleh empunya. Mereka merelakan pribadinya mengalir seperti aliran air yang ada di sungai yang entah dimana ujung kehidupan mereka bersanding. Premis ini membuat seseorang tidak memiliki percaya diri dan mengeksiskan dirinya di lingkungan sosialnya. Mereka diam seribu bahasa dan wajah tanpa aram temaram. Padahal fakta membuktikan lingkungan hanya akan berubah jika kita berubah. Dengan melakukan perubahan, secara otomatis tubuh kita akan berusaha mencari lingkungan yang sesuai dengan apa yang ingin kita ubah. Dengan demikian, semua akan berubah secara bertahap.

Lantas bagaimanakah cara berubah? Dari berbagai referensi yang ada, setidaknya ada tiga langkah mudah yang dapat dilakukan seseorang agar dapat melakukan perubahan yang lebih baik. Yang pertama adalah menaikan standar Anda. Setiap manusia pasti memiliki sebuah standar didalam hidupnya. Entah sebuah nilai, gaji, cita-cita, dan hal pribadi lainnya ada standarnya. Jika berbicara tentang standar, maka ingat-ingatlah sebuah kata dari Jim Collins: Good is the enemy Great (Baik adalah musuh dari Keagungan). Banyak orang yang terjebak pada status nyamannya saat ini dan tidak sadar sebenarnya hal itu akan menumpulkan daya juangnya untuk mencapai sebuah status keagungan. Inilah yang membedakan seorang manusia sukses yang memiliki perbedaan jauh diatas orang-orang standar lainnya. Mereka berani melakukan perubahan dengan membuat standar yang jauh lebih tinggi daripada orang kebanyakan.

Langkah kedua yang harus dilakukan adalah membunuh segala keyakinan yang membatasi. Keyakinan merupakan motor penggerak perubahan dalam kehidupan manusia. Semakin besar keyakinan seorang manusia, maka akan semakin tahan lama pula daya juangnya. Sebaliknya pula, semakin kecil keyakinan seorang manusia, maka akan semakin rapuh pula daya tahannya. Keyakinan mampu membangun dan menghancurkan. Keyakinan membuat orang biasa mampu melakukan hal luar biasa hebat, sebaliknya, keyakinan yang membatasi (limiting beliefs) dapat melumpuhkan orang yang paling berbakat sekalipun. Tidak salah jika Conan Doyle menguatkannya dalam novel Sherlock Holmes-nya dengan mengatakan: when you have eliminated the impossible, whatever remains, however improbable, must be the truth?

Dan terakhir, langkah yang harus dilakukan adalah mengubah strategi hidup Anda. Melakukan perubahan dengan strategi yang selalu sama adalah kesia-siaan. Hanya orang gila saja yang mengharapkan hasil yang berbeda dari strategi yang sama. Untuk itu, buatlah berbagai macam strategi yang efektif dan efesien untuk mencapai perubahan yang Anda inginkan. “You must always sharpening the saw” begitu kata Stephen Covey dalam buku 7th Habits for Effective People. Mungkin saat ini Anda adalah orang yang beruntung karena merasa nyaman dengan status yang Anda miliki saat ini. Atau mungkin pula saat ini Anda sedang berada pada jurang kegagalan terbesar dalam hidup Anda. Jangan pernah berhenti untuk melakukan perubahan.

Setiap pagi di Afrika …

Seekor Gazelle bangun.

Dia tahu dia harus lari mendahului Singa yang paling cepat, atau dia akan dimangsa.

Seekor Singa bangun.

Dia sadar dia harus mampu menyusul Gazelle yang paling lambat, atau dia akan kelaparan.

Walaupun Anda bukan Gazelle maupun Singa, TERUSLAH BERLARI atau Anda jadi mangsa.

*

Ryan Alfian Noor

Seorang Pecinta Perubahan Menuju Keagungan



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s