Tinggal Menunggu Waktu

4 tahun sudah berlalu, dan beban kuliah akademikku sebenarnya sudah habis (bahkan sudah 150 sks, dan sekarang tinggal TA). Jadi, saat ini waktuku banyak dihabiskan untuk beraktivitas di dunia kemahasiswaan terutama di sekretariat KM atau Ruang LK di Campus Center ITB, koridor masjid Salman atau Al Ukhuwah, dan sudut perpustakaan atau toko buku. Sesekali,  aku juga menjadwalkan khusus untuk kursus Bahasa Inggris, berolahraga dan atau travelling ke tempat-tempat baru di Pulau Jawa ini.

Di dalam dunia kemahasiswaaan, aku tidak hanya berdiam di kampus saja. Sesekali aku harus meninggalkan kampus untuk pergi ke Serang, Subang, Semarang, Surabaya, Bali, Balikpapan, Banjarmasin, dan beberapa kota lainnya untuk membawa sebuah misi-misi tertentu yang unik dan tentu saja sangat menantang. Lain lagi suasana di koridor masjid. Bagiku, koridor masjid merupakan tempat yang paling apik untuk membaca mushaf Al Qur’an, membaca buku, mencuri-curi suara ceramah didalam masjid, dan istirahat sejenak ketika peluh penat memuncak. Pun juga dengan sudut ruang baca favoritku. Melihat, meraba, dan membaca buku genre kesukaanku (komik, majalah,  manajemen, pengembangan diri, dan politik) merupakan sebuah hal yang sangat mengasyikan, dan bahkan kadangkala aku sendiri tidak sadar bahwa satu hariku habis untuk membaca buku.

Dilain sisi, sebenarnya ada sebuah tantangan tersendiri ketika aku harus beraktivitas di dunia kemahasiswaan. Disana aku berkenalan dengan pertentangan dialektika, filosofis, ideologis, dan bahkan sampai menyentuh hal taktis yang jauh lebih rumit dari pengalaman yang pernah aku geluti sebelumnya. Semua hal tadi terkadang membuat kepala menjadi panas dan capek urat saraf. Untunglah, pergi ke masjid merupakan solusi yang paling jitu untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan duniawi, termasuk dunia kemahasiswaan. Tidak ada yang lebih menyejukan selain koridor masjid. Suasananya selalu tenang dan dipenuhi oleh orang-orang yang raut wajahnya bercahaya. Dan jika masih tersisa waktu kosong lagi, biasanya aku bersegera menuju ke toko buku terdekat untuk melakukan “ritual” menambah asupan wawasan ke otak.

Hingga detik aku menuliskan tulisan ini, tiga puluh enam kawan sejurusanku telah menjadi sarjana teknik di bulan juli ini. Ada rasa iri ketika  ikut merasakan kegirangan mereka, saat melihat mereka lulus ujian komprehensif, saat menonton aksi presentasi sidang Tugas Akhir mereka, dan tentunya aku juga sangat iri melihat kesibukan mereka mempersiapkan kedatangan sanak saudara untuk mengikuti prosesi wisuda mereka yang akan berlangsung tidak lama lagi. Namun, kadang aku juga merasa bersyukur bahwa aku masih diberikan kesempatan untuk menempa di kampusku beberapa waktu lagi untuk mempersiapkan diriku lebih matang, disaat kawan-kawanku mulai kebingungan mencari pekerjaan, mempersiapkan dunia pasca kampusnya, dan tidak jarang juga sebagian dari mereka membanting setir menjadi seorang wirausahawan dan wirausahawati muda.

Hingga detik ini pula, aku telah menyaksikan beberapa kawanku yang pulang setelah menginjakan kakinya di negeri sakura, di tanah paman sam, di koridor masjid turki, di daratan china, atau diseberang jalan  menara eifel untuk menunaikan amanah mereka masing-masing. Ada yang memang mendapatkan beasiswa, ada yang memang dikirim program studinya untuk pergi keluar negeri, ada yang mengikuti Summer School, dan ada pula yang sekedar jalan-jalan dan cuci mata. Untuk hal ini, sebenarnya aku tidak terlalu iri karena toh pada akhirnya, aku memang tidak merencanakan pergi keluar negeri sekarang, sebelum aku memulai dunia pasca kampusku. Dan aku tidak mau sendiri, aku akan mengajak istriku pula menyertaiku saat pergi bekerja maupun berekreasi.

Dan yang membuatku paling iri adalah  kepada kawan-kawanku yang telah menjadi seorang Hafidzul Qur’an di masa kuliahnya (dibanding dengan diriku yang lamban sekali…), kepada mereka yang telah mendirikan dan membangun perusahaan miliknya sendiri sehingga ia bertekad hidup independen tanpa hidup menjadi bawahan (walau kadang paradigma ini tidak aku setujui…), dan kepada mereka yang telah memberikan kontribusi lebihnya untuk manusia disekitarnya, dengan menjadi kolumnis, penulis buku, menjadi pembicara di berbagai tempat, menjadi akademisi yang mengerjakan sebuah penelitian besar, menjadi inovator benda-benda baru yang berguna bagi kehidupan masyarakat, menjadi aktivis yang memperjuangkan idealismenya, dan kepada mereka yang tidak menyia-nyiakan masa mudanya untuk hal yang tidak berguna.

Wah ternyata 4 tahun sudah, tidak terasa sama sekali. Rasanya aku masih ingat waktu tak terlupakan itu, ketika aku menyematkan pertama kali jas almamater ITB bersama 3000 mahasiswa lainnya, ketika menyuarakan ‘salam ganesa’ untuk pertama kalinya, ketika mengenal apa arti ‘suka’ pada seseorang, ketika mengenal kawan-kawan Gamais, Patra, Kabinet Keluarga Mahasiswa yang memiliki keunikan tersendiri yang melengkapi hidupku sebagai seorang mahasiswa. Kini, aku tinggal menunggu waktu kampusku usai. Pasti akan kugunakan sisa waktu ini untuk melakukan hal terbaik yang bisa kulakukan. Sembari demikian, aku juga tidak ingin ketinggalan untuk mempersiapkan waktu baruku di dunia pasca kampus yang baru dan penuh dengan hal-hal baru. Pasti kamu juga begitu bukan?

6 thoughts on “Tinggal Menunggu Waktu

  1. tetep semangat akhi, allah akan senantiasa bersama orang-orang yang sabar. semoga a[papun yang terjadi merupakan sesuatu yang baik untuk kita. ya, mungkin antum masih di butuhkan di kampus untuk mencari kader-kader penerus LDK. ALLAHU AKBAR…..

  2. Bener lho yan. 4 tahun itu gak kerasa banget. banget banget. Eniwey, tiap orang sudah punya visi masing-masing. Saya juga ngiri ngeliat kamu yang aktivis banget, hehe. Sukses terus bergelut di dunia kemahasiswaan!

  3. saya juga dulu seperti itu, saya terlambat 1 semester dibanding temen2 seangkatan saya, tapi subhanalloh memang Alloh itu sudah mempunyai rencana yang indah, lebih indah dari apa yang saya rencanakan. 3 bulan setelah di wisuda saya diterima kerja di laboratorium forensik di bali, dimana temen2 saya yang lulus duluan malah masih bekerja keras mencari pekerjaan. meskipun harus berpisah dari orangtua yang berada di bandung tapi saya yakin bahwa ada sesuatu yang indah yang sudah alloh rencanakan kembali untuk saya, alasan mengapa Alloh mengirim saya ke bali. dan saya sekarang sedang berjuang mengatasi homesick karena dari TK samapi kuliah saya habiskan di bandung dan selalu dekat dengan keluarga.
    Semangat!!!!! yakinlah rencana Alloh lebih indah dari apa yang kita rencanakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s