Menggugat Ikonografi Kepemudaan Indonesia

Mari kita belajar dari sejarah. Kisah-kisah perubahan besar dunia kebanyakan dilakukan oleh seorang pemuda. Kisah Alexander Yang Agung misalnya, telah mengajarkan pada para pemuda, bahwa umur tidak membatasi kemampuan untuk menguasai dunia. Buktinya, dia mampu menguasai tiga benua sekaligus, Asia, Afrika dan Eropa pada umur 20 tahun selama kepemimpinannya dalam waktu 13 tahun.

Lain lagi dengan kisah Muhammad Al Fatih melawan sang penguasa Konstantinopel saat itu, Constantine XI Paleologus. Al Fatih diangkat menjadi seorang sultan pada umur 21 tahun. Dan dalam waktu beberapa minggu, akhirnya Konstantinopel jatuh ketangan Islam dan Al Fatih dijuluki dengan nama The Conqueror.

Atau dilingkungan negara ini, tentu kita ingat tokoh kemerdekaan kita, Sukarno. Beliau telah menginisiasi karir politiknya pada umur 20 tahun dengan mendirikan partai yang bernama Partai Nasional Indonesia. Dan walhasil, inilah yang menjadi cikal-bakal keberhasilan beliau menjadi presiden pertama republik ini.

Sebenarnya masih banyak lagi kisah-kisah pemuda diseantero dunia yang pernah menggemparkan dunia ini. Semua kisah itu membuat sebuah perwatakan tokoh-tokoh pemuda secara simbolik. Inilah yang disebut sebagai proses ikonografi kepemudaan. Berbagai masalah pelik bangsa mereka, membuat mereka harus menempa keras dirinya untuk berkontribusi.

Namun yang menjadi pertanyaan menarik adalah mengapa ikonografi pemuda masa sekarang sangat berbeda jauh dengan ikonografi pemuda di masa yang lalu? Mengapa pemuda masa lalu dapat memikirkan perubahan negara dan dunia, dan pemuda saat ini hanya membatasi pikirannya pada perubahan diri sendiri? Sebenarnya Ibnu Khaldun telah menjawab pertanyaan ini lewat teori siklus peradabannya.

Ia menjelaskan bahwa adanya siklus peradaban akan memunculkan tiga generasi, yaitu generasi pembangun, generasi penikmat, dan generasi yang tidak memiliki hubungan emosional dengan negaranya. Jika suatu bangsa sudah sampai pada generasi ketiga ini, maka keruntuhan negara sudah di ambang pintu, dan menurut Ibnu Khaldun tiap proses ini berlangsung sekitar satu abad. Dan kemudian siklus ini akan kembali berulang.

Hal ini relevan dengan kata-kata Hasan Al Banna didalam buku risalah pergerakannya. Pemuda, kata beliau, dapat dibagi dalam dua golongan. Ada pemuda tumbuh dalam suasana bangsa yang keras dan bergejolak. Bangsa ini berjuang semampunya untuk mengembalikan nilai-nilai agung yang hilang. Mereka dinobatkan oleh bangsanya sebagai generasi pembangun.

Ada juga di antara pemuda lainnya yang tumbuh dalam situasi bangsa yang dingin dan tenang. Sehingga pemuda yang tumbuh  dalam suasana ini aktifitasnya lebih banyak tertuju kepada dirinya sendiri daripada untuk rakyatnya. Inilah yang disebut dengan generasi penikmat dan bukan tidak mungkin pula akan menjadi cikal bakal generasi yang tidak memiliki hubungan emosional lagi pada negaranya.

Jika diambil benang merahnya, sebenarnya ikonografi kepemudaan Indonesia sebagai generasi pembangun rasanya tidaklah relevan lagi. Hampir sebagian besar, generasi pemuda Indonesia saat ini terkapar pada ikonografi sebagai generasi penikmat.

Betapa tidak, saat ini banyak pemuda Indonesia yang terbuai dengan hasil yang telah diperjuangkan oleh generasi pemuda terdahulu sebagai generasi pembangun. Mereka berfokus pada dirinya sendiri dan akhirnya hidupnya pun habis untuk kepentingan individualnya. Kepekaan dan kekritisan mereka kian memudar tergilas oleh tantangan zaman.

Adanya proses pendidikan formal yang tidak komprehensif dan asimiliasi budaya eksternal antar negara membuat permasalahan ikonografi kepemudaan Indonesia semakin sistemik. Dalam pendidikan keluarga, penekanan pada pendidikan yang bersifat formal disekolah dan menomorsatukan kemampuan matematika, sehingga membentuk aksioma bahwa kemampuan seorang individu dinilai dari gelar dan kecerdasan intelejensianya. Hal ini sangat berbeda dengan pendidikan terdahulu, yang menekankan pada pengembangan karakter dan filosofi, tanpa melupakan kemampuan matematika.

Belum lagi pertukaran budaya negatif luar tanpa filter yang kuat. Budaya ini bisa masuk lewat mana saja, baik lewat media massa, media audiovisual, atau media maya. Semua budaya ini mengendap dan memerangi pikiran, dan akhirnya mengepidemik menjadi karakter kuat pemuda untuk mengikuti budaya tersebut, persis dikatakan Malcolm Gladwell sebagai tipping point. Walhasil, sebagian besar karakter pemuda ini mentransendensi ikonografi pemuda Indonesia menjadi buruk.

Semua hal tadi memperkedil peran pemuda pada peran-perannya sebagai seorang cadangan masa depan, penjaga nilai-nilai luhur, dan agen perubahan. Buktinya, proses gerontokrasi masih menjamur di Indonesia. Gerontokrasi adalah  pengendalian dan penguasaan masyarakatnya dikendalikan oleh orang tua. Dalam gerontokrasi, orang tua adalah subjek sementara orang muda adalah objek, begitu Eep Saefulloh Fatah mengatakannya.

Makanya tidak heran kalau pemuda dahulu berpikir dan berjiwa besar dalam memandang kehidupan, sedangkan pemuda saat ini lebih senang memikirkan dirinya sendiri? Ada upaya penggerogotan peran pemuda dalam pembangunan bangsa Indonesia. Mungkin efeknya tidak dirasakan sekarang, tetapi pasti akan menjadi efek domino di masa depan.

Bukan tidak mungkin, generasi yang tidak memiliki hubungan emosional terhadap negara ini akan tercipta kalau kita tidak cegah sedini mungkin. Bukan oleh orang tua kita, bukan saudara kita, tetapi diri kita sendiri sebagai seorang pemuda.

Mengutip sedikit perkataan Ali Bin Abi Thalib, Laisal fataa man yaquulu hadza abii, walaakinal fataa man yaquulu ha anaa dza (Bukanlah seorang pemuda yang mengatakan ‘Ini Bapakku’, tetapi yang dikatakan pemuda adalah mereka yang mengatakan ‘Inilah Aku’), rasanya telah menjadi jawaban singkat yang penuh lautan makna untuk menyelesaikan gugatan ini. Jadilah sebenar-benarnya seorang pemuda, yang merdeka dan independen serta terbalut dalam nilai-nilai agung agama dan kebangsaan.

Mari kita menggugat! Untuk mengembalikan identitas kita sebagai seorang generasi pembangun bangsa.

3 thoughts on “Menggugat Ikonografi Kepemudaan Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s