Berjuta Rakyat Menanti Tanganmu

Jika muncul sebuah pertanyaan, adakah sejumlah kelompok yang dapat melakukan mobilitas aktif secara vertikal sebagai pengkritisi pemerintah dan sekaligus pula melakukan mobilitas aktif secara horisontal untuk bermanfaat langsung bagi masyarakat? Maka jawabnya adalah ada. Kelompok ini tak lain dan tak bukan adalah mahasiswa.

Sebagai contoh, misalnya didalam satu waktu, mahasiswa bisa melakukan aksi demonstrasi untuk melakukan tekanan terhadap suatu kebijakan di negara ini jika tidak pro terhadap kesejahteraan rakyat, tapi di saat yang sama, mahasiswa juga dihadapkan dengan kompetensinya untuk menyelesaikan permasalahan itu sesuai dengan porsi mereka, sehingga sudah tentu mereka pun memiliki tanggung jawab untuk melakukannya.

Mengapa mahasiswa? Satu ihwal utama alasan ini adalah pergerakan mahasiswa bersifat independen. Mereka menjadi pressure group pemerintah karena murni untuk memperjuangkan idealisme mereka, sebagai wujud sikapnya atas persoalan bangsa tanpa ada kontaminasi muatan politis manapun. Pun demikian dengan gerakan mahasiswa untuk turun langsung ke masyarakat. Semua hal itu suci mereka lakukan sebagai manifesto dari implementasi salah satu unsur tridharma perguruan tinggi yaitu pengabdian masyarakat.

Pada hakikatnya, kedua gerakan ini harus bergerak secara selaras, serasi, dan seimbang. Artinya, memaksimalkan satu gerakan saja tidaklah cukup. Gerakan vertikal dan horizontal haruslah dipadukan secara maksimal, agar mendapatkan hasil yang optimal. Kajian isu bersifat ilmiah dan pendekatan masyarakat bersifat kultural. Hal inilah yang membuat gerakan mahasiswa hingga era pra-reformasi terbukti ampuh, karena mahasiswa memang benar-benar bergerak dan menyatu dengan masyarakat.

Negara kita tercinta, Republik Indonesia, hari ini menghadapi berbagai persoalan dalam setiap isu dan dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara. Permasalahan internal negeri kita seperti energi, pangan, pendidikan, kemiskinan, lingkungan, kesehatan, kriminalitas, dan sebagainya tentu menjadi bahan yang harus didengarkan setiap harinya, termasuk oleh mahasiswa dan masyarakat.

Namun hari ini pula, kita juga harus mendengar bahwa kepercayaan masyarakat kepada mahasiswa semakin pudar. Pasalnya adalah gerakan mahasiswa yang mengatasnamakan rakyat seringkali kontradiktif dengan aksi yang terjadi di lapangan. Faktanya, kebanyakan mereka (baca: mahasiswa) memang turun ke jalan, tetapi rakyat alih-alih merasa sama sekali tidak terwakilkan. Makanya tidak jarang gerakan mahasiswa saat ini banyak terpatahkan dan menjadi kerdil karena kurang didukung rakyat.

Pergerakan vertikal mahasiswa terkadang tidak didampingi oleh darma baktinya untuk mengimplemetasikan ilmunya secara horizontal di dunia masyarakat. Sehingga logika pergerakan mahasiswa yang selalu merangkul dan mencerahkan masyarakat kini telah luluh lantak dan tergantikan oleh sebuah menara gading yang memisahkan antara mahasiswa dan masyarakat. Padahal rakyat benar-benar merindukan dan menanti uluran tangan mahasiswa untuk bergerak bersama mereka.

Untuk itulah, saya dan kawan-kawan mahasiswa ITB lainnya yang telah diamanahkan sebagai koordinator isu pergerakan pengabdian masyarakat Indonesia, kembali merangkul kampus-kampus lainnya untuk kembali menggiatkan aksi pengabdian masyarakat dalam satu wadah aliansi Gerakan Mahasiswa Pengabdi Masyarakat (GMPMI). Dan respon dari kampus dan masyarakat pun sangat baik.

Setidaknya ada dua manfaat yang akan didapatkan ketika mahasiswa langsung terjun untuk melakukan kegiatan pengabdian masyarakat. Yang pertama, kegiatan ini dapat dipastikan akan mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada mahasiswa. Mahasiswa tidak serta-merta langsung turun ke jalan, namun mereka telah benar-benar melihat, mendengar, dan meresakan apa-apa yang telah terjadi di masyarakat.

Manfaat yang kedua adalah kegiatan ini dapat merangkul lebih banyak lagi mahasiswa yang terkadang fobia terhadap gerakan turun ke jalan. Sehingga gerakan mahasiswa akan terdiversifikasi dengan baik dan rapih karena dapat merangkul lebih banyak pihak lagi.

Terakhir, saya perlu mengingatkan bahwa gerakan pengabdian masyarakat bukanlah sebuah hal yang baru tetapi bukan pula hal yang usang. Gerakan ini akan selalu bersemayam mengiringi gerakan  mahasiswa untuk menyuarakan suara rakyat. Mari kita runtuhkan kembali menara gading yang telah memisahkan kita dengan masyarakat, dan marilah kita bergerak bersama rakyat. Teruslah bergerak wahai mahasiswa, karena berjuta rakyat menanti tanganmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s