Bagaimana dengan Ramadhanmu?

Jika dipandang dalam kacamata epistemologis, bulan ramadhan sebenarnya hanya sebuah siklus semesta yang terus-menerus berulang tiap tahunnya. Akibatnya, bagi orang yang berpikir skeptis pada umumnya, ramadhan tak ubahnya hanya sebagai ritual puasa tahunan saja bagi umat islam. Akan halnya dalam lingkar umat islam sendiri. Tidak jarang kita temukan segolongan orang yang menganggap ramadhan hanyalah sebuah ajang untuk berpuasa (saja) tanpa ada embel-embel apapun. Jadi bisa diibaratkan dengan kata-kata sederhana, mereka hanya mendapatkan lapar dan hausnya saja selama berpuasa.

Saya begitu iri dengan orang-orang yang begitu merindukan ramadhan. Mereka mempersiapkan ramadhan mereka jauh berbulan-bulan sebelumnya. Ada yang satu bulan sebelumnya, dua bulan sebelumnya, bahkan tiga bulan sebelumnya. Saya juga begitu kagum dengan mereka yang begitu getolnya memaknai detik-detik ramadhan tiap harinya. Mereka tidak mau ada satu momen apapun yang terlewatkan. Dan yang paling membuat saya harus mengacungi jempol adalah orang-orang yang setelah ramadhan tetap istiqamah menjalankan apa yang menjadi kesehariannya selama bulan ramadhan. Barangkali merekalah yang pantas disebut orang-orang yang bertakwa seperti persis disebutkan Allah dalam penggalan ayatnya yang berbunyi,  la’allakum tattaqun.

Bagaimana dengan ramadhanmu? Tentu pertanyaan ini sentral bukan pada Anda saja, tetapi ditujukan untuk diri saya sendiri juga. Ada berapa banyak waktu dalam satu hari berpuasa, saya gunakan untuk melakukan ibadah yang bersifat mahdah? Ada berapa banyak lembaran mushaf Qur’an yang telah terbaca dan terenungi dalam keseharian saya? Ada berapa kali saya menyempatkan diri untuk mendengarkan ceramah ramadhan di masjid tempat saya berpijak shalat? Dan masih ada lagi lembaran panjang pertanyaan yang masih bisa dipertanyakan. Tetapi yang menjadi pokok permasalahan yang paling penting adalah sudahkah saya menjadikan momentum ramadhan kali ini menjadi momentum terbaik dalam hidup saya? Inilah yang harus dijawab.

Dari apa yang pernah saya dengar dari beberapa dosen dan ustadz, saya berkesimpulan bahwa seorang muslim perlu memiliki kemampuan berpikir jangka panjang. Yang saya maksud jangka panjang disini bukan hanya terbatas pada apa yang disebut dengan “dunia” saja, tetapi yang saya maksud disini jauh lebih agung yaitu “akhirat”. Adanya peringatan dari Al Qur’an tentang indahnya surga dan pedihnya neraka (yang mungkin seringkali kita baca di mushaf kita masing-masing, namun terkadang tidak sadar) adalah sebuah pemantik bagi kita semua untuk berpikir jangka panjang, bahwa apa yang kita lakukan hari ini akan berdampak pada kehidupan kita di alam yang akan datang.

Dari sinilah dapat dimunculkan parameterisasi pendirian seorang muslim, apakah dia berpendirian kuat ataukah lemah. Pendirian seorang manusia memang tidak akan pernah bisa diukur dan dilihat karena bersifat abstrak dalam satu waktu. Tetapi yang namanya pendirian, selalu dapat diuji ketahanannya lewat tempaan cobaan kesusahan dan semilir ujian kenikmatan selama masa hidupnya. Barangkali ada orang-orang yang berkurang kadar keimanannya ketika dia dilanda kesusahan, dan tidak menutup kemungkinan pula ada orang-orang yang berkurang kadar keimanannya ketika dia diberi sebuah kenikmatan. Dua tindakan yang dapat menyelamatkan manusia dari segala ujian hidupnya: syukur dan sabar. Syukur dan sabar jika dipupuk dengan kemampuan berpikir jangka panjang akan menumbuhkan sebuah pendirian seperti pohon yang akarnya menghujam ketanah dan batangnya menuju langit. Kokoh dan kuat, begitulah dia.

Baiklah, kita kembali pada pokok permasalahan awal kita (baca: ramadhan). Agaknya, kita (setidaknya saya sendiri yang penuh dengan kekurangan ini) mulai dapat menemukan jawaban mengapa ada orang yang sebegitu getolnya memaknai ramadhan dirinya. Rupa-rupanya, mereka sadar benar bahwa mereka tak tahu kapan mereka akan dicabut nyawanya, sehingga mereka berusaha sebaik-baiknya dan sekuat-kuatnya melakukan amalan ibadah yang dapat mereka lakukan daripada tahun-tahun sebelumnya. Ah, indah sekali jika kita (ya kalau Anda tidak mau, saya sendiri deh) bisa seperti mereka yang mencintai ramadhan mereka.

One thought on “Bagaimana dengan Ramadhanmu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s