Menjadi Aktivis Masa Kini

Bung Karno, Bung Hatta, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, Ki Hadjar Dewantoro, Sutomo, Wahidin Sudirohusodo, Tjipto Mangunkusumo, Sjamsurijal, dan sederet nama aktivis lainnya, merupakan orang-orang yang senantiasa kreatif dalam mencari terobosan dalam menyiasati keadaan. Di tengah-tengah impitan pihak imperialis dan kolonialis, mereka sangat aktif memanfaatkan kesempatan untuk menjadikan bangsa ini merdeka, berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain.

Setiap masa memiliki nuansa permasalahannya sendiri. Lingkungan eksternal yang senantiasa berubah. Barangkali apa-apa yang dilakukan aktivis terdahulu tidak lagi cocok dengan realitas saat ini, mengingat permasalahan yang semakin kompleks dan teknologi semakin maju. Orang-orang yang hidup masa kini tetapi masih memakai cara berpikir masa lalu bisa-bisa akan terkena dampak yang diistilahkan oleh Alvin Tofler dengan nama “future shock”.

Menjadi aktivis pada zaman yang “musuh bersama”-nya sangat abstrak saat ini, memang butuh kreatifitas ekstra. Adanya kemampuan pihak suprastruktur (pemerintah) untuk menggeser-geser isu negara dengan cepat dan cantik, membuat para aktivis terkadang kelimpungan menghadapinya. Hal ini dilanjutkan dengan belum ditemukannya format baku gerakan aktivis pasca reformasi ini. Jika dulu para aktivis dapat melakukan terobosan gerakannya lewat momentum kemerdekaan, untuk mengusir para pemodal asing, untuk menggulingkan kediktatoran seorang pemimpin.Bisa jadi memang kita belum menemukan momentumnya, sehingga seakan kita terpecah dalam terobosan gerakan masing-masing “wadah” aktivis. Lantas bagaimana menyikapi hiruk-pikuk permasalahan era zaman kita? Apakah kita akan diam?

Kalau kita ingin biasa-biasa saja, maka janganlah membuat terobosan-terobosan apa-apa. Silakan statis dan monoton saja. Tetapi kalau suara kita mau didengar, kiprah kita mempengaruhi banyak orang dalam skala yang luas, sehingga kita “bukan aktivis biasa”, maka berbuatlah sesuatu. Manfaatkan media apapun secara positif karena kekuatan media adalah sangat luar biasa.

Sebagai contoh, kisah gugatan hukum Prita oleh sebuah Rumah Sakit Internasional di Indonesia tentu masih melekat kuat dibenak kita. Prita yang merasa dirugikan digugat hukum oleh pihak rumah sakit. Lewat opini yang dia lontarkan di media maya surat elektronik, Prita memantik dukungan masyarakat Indonesia lewat gerakannya yang bertajuk “gerakan koin peduli Prita”.

Akan halnya dengan kisah Jojo dan Sinta. Siapa kini yang tidak tahu mereka? Dua wanita yang merekam lipsync “Keong Racun” mendadak melontarkan keduanya sebagai orang-orang yang bahkan lebih popular ketimbang peserta kontes idol atau pencarian bakat yang terlembaga. Ternyata, hal sederhana yang tampil apik di media dapat menyebabkan dampak sistemik yang tak sekedar isapan jempol belaka.

Bang Alfan Alfian (Dosen Fisip UN) pernah mengatakan dalam salah satu tulisannya, bahwa jangan pernah terjebak, karena kita tidak suka substansinya, menyalahkan alatnya. Kalau kita tidak suka musik, jangan salahkan peralatan musiknya. Kalau Anda tidak suka konten-konten negatif situs-situs di internet, jangan salahkan internetnya. Manfaatkan saja “alat-alat” itu untuk kepentingan yang lebih positif.

Penggunaan media yang optimal harus diimbangi dengan “isi” yang mau hendak kita bawa. Bentuknya bisa tuangan pemikiran orisinalitas kita dalam bentuk tulisan atau bisa pula berupa penyuaraan opini lewat gerakan-gerakan inovatif atau karya yang telah dilakukan. Kalau tulisan atau gerakan yang kita lagi-lagi, biasa-biasa saja, tentu akan sulit dilirik media dan barangkali masyarakat pun sudah lelah melihat hal berulang dan terkesan itu-itu saja. Memang konten lewat kajian intelektual yang mendalam itu penting, tetapi metode atau cara penyampaian juga tak kalah pentingnya.

Adalah sebuah kebenaran bahwa bukan tugas aktivis saja untuk menyodorkan konsep-konsep finalnya dalam sebuah aksi, tetapi aksi apa pun juga memerlukan situasi medan yang dihadapi. Jadi, adalah sebaiknya aktivis jika mereka setidak-tidaknya mempunyai gambaran yang menyeluruh mengenai masalah-masalah pokok yang dihadapi negaranya. Tanpa big picture yang demikian itu, kita hanya akan kehilangan orientasi dan akhirnya hanya sekedar bertindak sebagai pemberi reaksi-reaksi spontan yang tidak akan berdampak fundamental dalam masyarakat.

Buat apa kita melakukan aksi berkarya? Buat apa kita melakukan aksi turun ke jalan? Buat apa ada aksi mengabdi masyarakat? Buat apa aksi melatih jiwa kewirausahaan kita? Pertanyaan-pertanyaan ini hanya bisa didapatkan ketika kita dapat menemukan titik temu intelektualitas kita dengan realitas masyarakat. Intelektualitas tanpa menyentuh sisi realitas hanya menjadi kajian belaka, dan realitas tanpa disentuh intelektualitas hanya akan menjadi permasalahan tak akan kunjung usai.

Oleh:

Ryan Alfian Noor

Mentri Koordinator Bidang 1 Kabinet KM ITB 2009-2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s